
Daniel Jackson dan kedua orangtuanya memasuki pintu masuk aula ketika Nick menyambut mereka dan menggiring mereka ke ruang teater, dimana pertunjukan balet akan dipentaskan. Para orangtua murid sudah berdatangan dan saling membaur dengan tamu yang lain. Di kursi yang telah ditentukan, ia menuntun keluarga Jackson duduk di baris yang sama dengan keluarganya, Mr. dan Mrs. Handerson, termasuk sang kakak, Louis Handerson. Mereka pun bersalaman dan saling menyapa satu sama lain.
"Nick, dimana adikku?" bisik Daniel.
"Dia sedang bersiap-siap di belakang panggung. Kau ingin melihatnya?"
"Ya, tentu. Jika kau tidak kebaratan menemaniku."
"Ok. This way," Nick menunjuk jalan menuju belakang panggung. Mereka berpapasan dengan Sam yang baru saja muncul dari arah sebaliknya. Daniel mengatakan orangtuanya sudah datang dan Sam langsung menuju ke kursi penonton.
Sementara itu, Stefy dan Helen masih tegang karena beberapa menit lagi pertunjukan akan dimulai.
"We can do it !" Stefy berkata pada Helen sambil berpegangan. "Oh, jantungku...rasanya seperti mau copot."
"Rileks. Tarik nafas lalu buang pelan-pelan," sambung Helen.
"Wow, you looks adorable !" puji Daniel. Membuat kedua balerina itu menoleh.
"Kak, i'm so nervous."
"That's why i'm here. Look what i've got. Chocolate ! Makanlah dan kau akan merasa lebih baik." Daniel mengeluarkan Chocolate candy dari sakunya. Adiknya pun langsung mengambil 2 buah lalu membaginya kepada Helen. "Oh, apa dia temanmu?"
Stefy sadar. Ia pun memperkenalkan Helen kepada kakak tertuanya. "Ya, dia Helen yang akan main bersamaku. Helen, ini kakak laki-laki dan kakak tertuaku, Daniel."
Helen menerima uluran tangan Daniel dengan senyum ramah. Stefy langsung menarik Nick ke sudut lalu berbisik,"apa kau menangkap orang yang mencurigakan? Kau tahu, aku tidak bisa berhenti memikirkan peristiwa menakutkan yang akan terjadi pada Helen. Ini membuatku stres dan terbebani."
"Stefy, semua akan baik-baik saja. Trust me. Sambil mengambil video pertunjukanmu, aku bisa mengawasi sekeliling. Menarilah dan berhenti memikirkan hal-hal buruk yang belum terjadi. Kau pasti bisa," bisik Nick.
Di lain sisi, Daniel yang berbicara santai dengan Helen mulai bertanya,"Well, apa aku bisa mengatakan kepada mereka bahwa kita sudah saling kenal? Bahwa kau adalah salah satu pasienku."
"Kenapa dokter bertanya begitu?"
"Karena dari ekspresimu sekarang, kau seolah ingin mengatakan bahwa 'jangan katakan apapun kepada mereka,dokter'. Apa aku salah?" Daniel tersenyum dan mencoba mencairkan suasana.
"Jadi, sekarang dokter juga bisa membaca pikiran dari raut wajah?"
"Well, tidak selalu tapi kebanyakan tebakanku tidak pernah meleset. Mungkin karena aku banyak bertemu pasien dengan banyak kepribadian. Tenang, mengenai penyakitmu, itu akan menjadi rahasia kita saja. Kau bisa percaya padaku. Dan, jika kau mau, kau bisa datang ke RS untuk mulai melakukan pemeriksaan penunjang. Lebih cepat lebih baik. Kondisimu saat ini cukup bagus."
"Thank's, dokter. I'll call you later."
Nick mengajak Daniel pergi ketika mendengar pengumuman bagi seluruh hadirin agar menempati kursinya masing-masing karena acara akan segera dimulai. Sekilas matanya melirik Barco di barisan kiri panggung yang duduk sederet dengan orangtua dan juga keluarga Smith. Sementara orang-orang yang ia sewa duduk dan berdiri di posisi paling strategis untuk mengawasi.
Acara dimulai dengan sambutan dari kepala sekolah dan tamu istimewa, yaitu gubernur Ryan Smith. Kemudian dilanjutkan dengan pementasan musik oleh para pemain orkestra dan yang terakhir adalah pertunjukan balet, sebagai acara puncak.
Seluruh acara berjalan dengan baik sesuai harapan. Stefy dan Helen menunjukan kemampuan mereka di depan ratusan hadirin yang terpukau. Helen juga tidak kalah bagus. Banyak orang terhanyut oleh lantunan lagu klasik yang ia mainkan.
Bunyi tepuk tangan memenuhi ruang teater. Seusai pementasan, seluruh pemain berdiri di atas panggung. Memberi hormat kepada para hadirin. Beberapa menit setelah acara selesai pun, orang-orang ramai menyambut para balerina. Ada juga yang minta foto bersama, memberikan bunga, dan pelukan. Di momen itulah, Helen mendapat ucapan selamat dari sang gubernur beserta keluarga. Mereka pun bercakap-cakap.
"Helen. Helen Moreau."
Jawaban Helen membuat Mr. dan Mrs. Smith saling pandang.
Mrs. Smith buru-buru memastikan lagi," apakah ayahmu adalah
Mr. Moreau yang bekerja di kedutaan Prancis?" Helen membenarkan.
"Apakah beliau hadir malam ini?" kali ini Mr.Smith mengambil alih pertanyaan karena melihat muka istrinya yang langsung pucat pasi.
"Beliau tidak bisa hadir malam ini."
"Oh...sayang sekali," lanjut Mr. Smith.
"Mr. Smith, daddy mencari anda dan ingin membicarakan sesuatu yang penting. Sepertinya serius." Barco muncul mencairkan situasi yang tiba-tiba menegang.
"Oh,iya. Saya akan menemui beliau. Thank's, Barco." Mr.Smith pamit meninggalkan ketiga wanita itu.
Barco langsung meminta seseorang mengantar Mrs.Smith berkeliling bersama Renata, tunangannya. Sementara itu, ia menarik Helen ke sudut lalu berbisik berbisik dengan tegas," aku sudah berulang kali menyuruhmu untuk meninggalkan Indonesia. Menjauhlah dari keluarga Smith sebelum kau terluka. Atau kau sengaja membahayakan dirimu sendiri dan ingin mati konyol?"
Helen langsung menangkisnya. "Aku pun juga sudah memperingatkanmu untuk tidak mencampuri urusanku. Apa pun yang terjadi padaku nanti, aku sudah siap menanggungnya."
"Apa maksudmu? Siap menanggungnya? Kau ingin mati konyol?" Barco melotot.
"Mungkin."
"Dengar,ya. Aku tahu kadang kau keras kepala tapi untuk kali ini, sebaiknya kau berhenti berurusan dengan keluarga Smith."
"Apa yang kau ketahui tentang mereka? Apa dugaanku selama ini benar? Mereka yang membunuh..."
"Ssstttt...jangan bahas hal ini lagi!"
"Aku tidak bisa diam. Kau tidak tahu bagaimana perasaanku selama ini."
"Lalu apa kau tahu apa yang sekarang ku rasakan?"
Helen diam. Bukannya ia tidak tahu arti pandangan pria itu sekarang. Hanya saja, ia tidak bisa berhenti. Ia harus tahu kebenaran yang selama ini disembunyikan ayahnya. "Jangan menatapku seperti itu. Aku merasa tidak nyaman. Lebih baik kau temani tunanganmu. Jangan mengkhawatirkan gadis lain. Hubungan kita sudah berakhir."
Barco tersenyum pahit. "Kali ini aku akan pergi tapi kau harus tahu, mataku terus mengawasimu. Jadi, jangan bertindak bodoh. Tidak hanya kau yang akan terluka. Orang lain juga akan menerima akibat perbuatanmu. Ku harap kau paham maksud baikku."
Ia melepaskan cengkramannya dan pergi tanpa menoleh.
Helen menatap punggung Barco dari jauh. Kenangannya kembali ke masa lalu. "Dulu, kenapa kau meninggalkan aku sendirian jika pada akhirnya kau seperti ini?"
...😃...