
Selama beberapa minggu, masyarakat dihebohkan dengan berita kematian Mrs.Smith. Ada banyak spekulasi yang beredar namun semua itu menghilang seiring berjalannya waktu. Kehidupan pelajar di SMA International High Shool kembali normal. Para siswa dihadapkan pada ujian akhir sehingga mereka berfokus untuk lulus dengan nilai terbaik.
Samuel menjadi gila basket dan masih menghindari Stefy. Barco terus mengawasi Helen dari jauh dan memberi gadis itu ruang untuk menenangkan diri. Sementara Stefy lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Helen dan Rachel tanpa terlalu memperdulikan Nick. Hari-hari pun berjalan tanpa ada peristiwa yang berarti.
Hotel milik keluarga Pellison sempat mendapat perhatian publik terkait peristiwa yang terjadi pada keluarga Smith. Namun meski begitu, hotel tersebut tetap tidak pernah sepi pengunjung. Berhari-hari Mr.Smith mengurung diri di kamar dan hanyut dalam kesedihan. Ia menyalahkan dirinya atas semua tragedi yang telah terjadi. Di luar dugaan, Renata, putri satu-satunya, bertindak lebih dewasa. Meski tidak luput dari kesedihan, ia tahu ayahnya membutuhkan dukungan moral lebih daripada sebelumnya. Hubungan mereka yang sempat renggang pun menjadi semakin dekat dan lebih hangat sebagai keluarga.
Siang itu matahari cukup terik. Tidak heran jika pengunjung pemakaman menggunakan payung lebar untuk melindungi tubuh dari sengatan. Helen meletakkan bunga di atas nisan berwarna putih. Ia hanyut dalam kesedihan karena merindukan ibunya. Air matanya pun jatuh perlahan lalu sebuah tangan langsung menepuk bahunya.
"Your mom must be proud of you, darling. Just like me," bisik laki-laki beruban.
"Dad, i really miss mom..."
"Me too, darling. But if she look at you right now, i think she prefer to see you with your smile, not your tears, because she want you to be happy."
Helen langsung mengusap air matanya dan berusaha tersenyum.
"I'll wait you in the car so you can talk to your mom privately."
Helen mengangguk. Mr. Moreau menjauh dan membiarkan putrinya sendiri. "Mom, hari ini aku datang bersama daddy. Kami sangat merindukanmu. Jika kau lihat aku sekarang, aku sudah cukup besar bukan? Aku ingin menjadi balerina sepertimu dan akan membuatmu bangga. Meski aku harus berjuang dengan penyakitku ini, aku tahu daddy akan selalu di sisiku. Bantu aku untuk kuat, mom. Jika saat itu tiba, kita bisa bertemu..."
"Kau tidak bisa bertemu dengan mamamu secepat itu," sebuah suara memotong kalimat Helen.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku juga ingin bertemu Mrs. Moreau yang cantik. Look, bunga yang ku bawa lebih cantik, kan?" Barco menaruh bunga di atas nisan. "Aku sudah mendapat ijin dari ayahmu untuk menemuimu hari ini."
"What do you want?"
"Ikut aku ke Jerman. Ayahku punya kenalan dokter terbaik yang bisa menyembuhkan penyakitmu. Aku juga akan mengambil kuliah di sana. Lagipula, Jerman dan Prancis tidak jauh. Kau masih bisa menemui ayahmu sesering yang kau mau."
"Barco, aku tahu niatmu baik. Tapi berhentilah bersikap seperti ini. Berhentilah mengkhawatirkan aku dan berhenti bersikap seperti suami. Kau hanya membuatku terbebani dan merasa bersalah terhadap Renata."
"Kami sudah berpisah," jawab Barco tanpa ragu. "Dia menyadari bahwa sejak awal aku tidak pernah mencintainya. Kau tidak kenal Renata. Dia tidak ingin menikah dengan pria yang tidak mencintainya dan hidup seperti kedua orangtuanya. Maka, dia mencampakkanku dan memilih untuk mengakhiri pertunangan kami. Kau bisa melihat beritanya besok pagi." Helen masih mencerna semua informasi yang baru saja dia dengar. "Jangan menghindariku lagi, Helen. Kau tidak bisa secepat itu mati dan meninggalkan aku sendiri. Aku akan menggunakan segala cara untuk menghentikannya. Biarkan aku di sisimu. Ayo kita ke Jerman."
"Kau pikir aku bisa sembuh? Ini Leukemia."
"I know. Karena itu, mulai hari ini aku akan memohon keajaiban Tuhan untuk meyembuhkanmu. Aku tidak akan berhenti sampai permohonanku terkabul."
"Wah...apa kau sungguh-sungguh?" goda Helen.
"Serius." Barco memeluk Helen erat. "Apa kau masih ingat saat kita bertemu di pesta Mr. Robert setelah sekian lama tak jumpa? Hal pertama yang ingin kulakukan adalah ini. Memelukmu erat-erat sepuasnya. Waktu itu aku berpikir ayahku terlibat dalam pembunuhan ibumu dan rasa bersalah membuatku menahannya. Sekarang, semuanya sudah jelas. Jadi, aku bisa melakukannya setiap hari hahaha"
"Setiap hari?"
"Yeps, setiap hari. I miss you, baby..." bisik Barco lembut.
...😃...
Stefy menarik nafas lalu berpikir. Sudah cukup lama ia mengalami perang dingin dengan Nick. Lebih lama dibanding sebelumnya. Tapi rasa kesalnya belum hilang. Ia kecewa terhadap apa yang telah Nick lakukan. Meski beberapa hari yang lalu Sam mulai melunak dan menyapanya di sekolah, namun hal itu tidak mengubah keadaan membaik seperti semula. Ya, semua sudah berubah dan percuma untuk disesali.
"Should i call Nick?" pikir Stefy sembari menatap layar ponselnya. Namun niat itu langsung ditepisnya cepat-cepat. Sampai bunyi bel membuyarkan semuanya. Ia menatap monitor cctv untuk memeriksa siapa tamunya. Tubuhnya tidak bergeming. Ia membiarkan bel itu ditekan untuk kedua kalinya sampai orang itu mengetuk pintu.
"Stefy! I know you there. Just open the door because i don't have much time. Atau...kau ingin aku mendobrak pintu ini dan membuat keributan?"
Stefy menggigit bibir lalu menjawab, "What do you want?"
"Let's talk!"
Butuh beberapa menit sampai akhirnya pintu terbuka. Nick langsung masuk dengan paksa sebelum penghuni rumah berubah pikiran.
"Apa yang ingin kau katakan? Ada hal yang harus ku kerjakan. Jadi cepatlah katakan dan pergi dari sini."
"i'm sorry." Nick memandang mata Stefy dan melanjutkan," look, aku tidak ingin bertengkar lagi. Bisakah kau melupakan kesalahanku? Kita berteman sejak kecil. Hanya kau yang bisa kudatangi saat kondisiku sedang kacau."
"I can't. I need more time to thinking about this. This is so...hey, are you drunk?" Bau alkohol yang sangat tajam tercium dari tubuh Nick.
"It's not the first time you know about this." Nick hendak menghampiri sofa sebelum lengannya ditarik. Namun, karena hilang keseimbangan, tubuhnya justru mendorong Stefy ke tembok. Mata mereka beradu sampai akhirnya bibir mereka bersentuhan. Tidak ada perlawanan. Nick pun semakin berani menaruh tangannya di tengkuk gadis itu. Sesaat ia pun mengatur nafasnya dan berbisik," Kau ingin memukulku, kan? Atau ingin melanjutkannya di tempat lain?"
Stefy tersentak lalu mendorong Nick cepat-cepat. Ia sadar telah membuat kesalahan untuk sekian kalinya. "Pergilah,Nick. Aku perlu waktu untuk menenangkan diriku. Aku tidak ingin persahabatan kita hancur. Aku tidak ingin kehilangan kau. Aku masih bingung dengan apa yang kurasakan ini."
"You love me, Stefy. I love you and i knew you love me too."
"Excuse me?! Apa kupingku sedikit bermasalah? Apa aku baru dengar sesuatu hal yang gila? Dari mana kau dapat kesimpulan itu, Nick? Unbelieveable..."
" But i know its true."
"What ?" Stefy menatap lawan bicaranya. " Look, aku tahu kau memang memenuhi kriteria cowok cool, smart, berbakat, lucu, dan bukan orang susah. But, you're my bestfriend dan aku tidak pernah memandangmu sebagai calon boyfriend."
"Why not ?"
"Because..." Stefany yang sering dipanggil Stefy mencoba menenangkan diri sambil menarik nafas dalam. "...because you're my bestfriend and i knew if i fall in love with you...it's mean disaster. You got it? Oh, i think i need to drink something."
Nick meraih lengan kecil Stefy dengan kuat lalu berbisik di telinga gadis itu. "Listen to me. Silakan saja jika ingin menyanggah apa yang kau rasakan but you know me so well, Jack. Di dunia ini, orang yang tidak bisa kau bohongi adalah aku. Aku tidak bodoh. Aku mengenalmu lebih dari yang kau tahu." Nick menarik dagu Stefy lebih dekat ke arahnya sehingga mata mereka beradu. "Besok aku akan ke Ausie. Kemungkinan kau tidak akan melihatku selama 6 bulan. Tiketmu juga sudah siap. Jika memang kau tidak memiliki perasaan terhadapku, datanglah ke bandara dan katakan dengan mata yang berani ini. Atau...kau datang sebagai kekasihku dan kita akan pergi bersama. Pesawatku berangkat jam 10 am. Don't be late."
"I won't be there," jawab Stefy sambil menepis tangan Nick.
"You will see, baby..."
...😃...