NO RELATIONSHIP IN FRIEND?

NO RELATIONSHIP IN FRIEND?
Sebelas: Back to Paris,please...


Akhirnya setelah beberapa minggu seleksi, Mrs. Kahn mengumumkan kandidat balerina yang beruntung mengikuti pertunjukan balet di tahun ini.


Seperti yang sudah diduga, Helen lolos. Stefy pun mendapatkan keberuntungan yang sama. Prosesnya sangat ketat mengingat banyak sekali siswi-siswi yang berbakat. Namun setelah mengamati dengan seksama, Mrs.Kahn yakin pilihannya sudah benar.


Stefy mendekati Helen dan memberinya pelukan selamat. Mereka sepakat akan memberikan pertunjukan yang terbaik.


"Aku akan mengundang orang tuaku dan membuat mereka bangga. Sometimes, aku merasa kecil hati karena kedua kakakku sudah menjadi orang sukses. Sedangkan aku hanya model yang belum memiliki power apapun. Jadi, pertunjukan kali ini adalah semacam pembuktian bagiku untuk mereka. Kau akan mengundang orangtuamu?"


Helen tidak langsung menjawab. "Ya, tentu saja..."


"Hei, ada masalah?" Stefy menghentikan gerakannya.


"Aku teringat almarhum mamaku. Dia juga seorang balerina. Tapi...aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk melihat wajahnya secara nyata selain yang ada di foto. Aku juga ingin dia melihatku di atas panggung. Membuatnya bangga. Kau beruntung kedua orangtuamu masih hidup."


Stefy merangkul bahu Helen lalu berkata," hei, mamamu pasti bangga jika melihatmu sekarang. Kau sangat berbakat dan hebat. Hmm...aku juga punya teman yang mamanya sudah meninggal. Sama sepertimu, dia juga kadang rindu. Jadi, aku bisa paham perasaanmu saat ini."


"Thank's. Kau memang teman yang baik. Aku beruntung mengenalmu."


Tiba-tiba Stefy menyadari sesuatu. "Hei, ku rasa ada yang ingin bicara denganmu." Helen mengikuti pandangan lawan bicaranya dan melihat seorang siswa berdiri dari luar. "Apa aku harus mengusirnya pergi?"


"Tidak apa. Aku bisa atasi dia sendiri. Dia tidak akan menyakitiku di area sekolah. Kau bisa tinggalkan kami berdua. Aku akan baik-baik saja."


Stefy tidak yakin tapi dengan tenang Helen menyuruhnya pergi. Ia pun meninggalkan ruang klub dengan berat hati.


Siswa itu masuk ke ruangan kaca dan dengan keyakinan penuh menyodorkan sekotak kue yang sejak tadi dibawanya. "Ini kue kesukaanmu,kan? Ambillah. Ini gratis."


"Berhentilah menggangguku, Barco. Apa kau sama sekali tidak memiliki kesibukan lain?" tolak Helen.


"Aku ini sangat sibuk. Aku baru selesai membersihkan kelas dan bermain anggar. Ketika melewati ruangan ini, aku melihatmu dan kebetulan aku punya kue. Jadi cepat kau terima sebelum aku berubah pikiran."


"Aku tidak lapar. Terima kasih."


"Kau tidak mau menerimanya karena tidak selera atau karena ini pemberian dariku?"


"Ku rasa aku tidak perlu menjawabnya. Cepat katakan urusanmu lalu pergi. Aku juga sibuk."


"Tidak ada yang ingin ku katakan."


"Jadi kau hanya ingin memberiku kue?Apa aku terlihat seperti pengemis kelaparan?"


"Karena kau sangat kurus. Lebih kurus dari terakhir kali aku melihatmu di Paris."


Helen terperangah. Tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Barco, sekarang kau sedang mengkhawatirkan aku? Kau masih menyukaiku?"


"Entah."


"Jadi, apakah kau ingin meracuniku dengan kue ini?" tunjuk Helen.


Barco langsung emosi."Ah, sudahlah. Kalau kau tidak ingin makan kue ini, aku juga tidak memaksamu. Seorang siswi memberikannya padaku tadi siang tapi kau tahu kan aku tidak suka manis. Tiba-tiba saja aku ingat ini kue kesukaanmu. Tiba-tiba saja, bukan direncanakan," tandasnya.


"Oh, jadi kau sekarang sedang pamer kalau kau sudah menjadi salah satu siswa poluler di sekolah?" entah kenapa Helen jadi kesal.


"Helen, aku datang baik-baik tapi kau mengajakku bertengkar sekarang?"


"Just tell me what you want and go!"


"Menurutmu apa aku masih bisa hidup bahagia setelah kejadian itu? Apa kau tahu aku mengalami gangguan tidur sejak itu? Kurasa tidak. Kutandaskan sekali lagi bahwa tujuanku ke sini bukan ingin kembali padamu,Barco. Jadi kau tidak perlu buang-buang waktumu yang berharga dengan datang menemuiku seperti sekarang."


"Aku tahu," jawab Barco sembari menatap mata Helen dengan sungguh-sungguh. "Aku tahu kau sangat membenciku. Aku juga tahu kau tidak ingin bertemu denganku setelah kita berpisah. Aku tahu kau datang ke sini untuk mencari sesuatu yang menurutmu berharga. Tapi asal kau tahu, kebenaran apa pun yang kau temui tidak akan mengubah situasimu sekarang. Kau akan semakin terluka. So, please. Kembalilah ke Paris dan lupakan semua rencanamu itu sebelum kau melukai dirimu sendiri. Masa lalu biarlah berlalu. Kau harus fokus ke masa depan."


Helen tersenyum sinis. "Lucu sekali mendengar kata-kata bijak barusan. Bukankah kau sendiri yang belum bisa melupakan masa lalu sehingga kau terus bersikap peduli terhadapku sampai hari ini?" Barco bungkam seribu bahasa. "Aku harus pergi dan jangan mengikutiku." Ia meraih ranselnya dan membiarkan mantan kekasihnya itu sendirian.


...😃...


Pesawat menuju LA segera berangkat. Penumpang dihimbau untuk bersiap-siap menuju gate yang telah ditentukan. Petugas bandara segera mengatur 3 baris antrian untuk pengecekan tiket guna menghemat waktu.


Miranda memastikan tiketnya terselip dalam pasport sebelum berpamitan pada keluarganya. Ia memeluk mereka satu per satu. Mom. Dad. Daniel. Stefy juga Nick.


"Hati-hati di jalan. Jangan lupa makan dan istirahat."


"Tenang,mom. Itu tugas managerku."


"Telepon kalau sudah sampai."


"Okay,dad."


"Sorry. Tadi telat ke sini. Ada operasi mendadak. Take care, ya."


"It's okey. Kau juga jaga kesehatan. Dokter juga butuh istirahat. Kamu kan manusia, bukan robot. Kamu bisa menyembuhkan orang lain tapi tidak dirimu sendiri. Bersantailah sesekali ke tempatku. Aku bisa mengenalkanmu dengan beberapa teman wanita," goda Miranda sambil menyikut dada kakaknya. Daniel hanya tersipu.


"Kak, tahun depan jangan lupa pesananku,ya."


"Beres. Jangan lupa minta tolong orang untuk merekam pertunjukan baletmu nanti dan kirim ke aku."


Stefy langsung menunjuk pria di sebelahnya. "Itu akan jadi tugas Nick."


"Sungguh suatu kehormatan bagiku," sahut Nick pasrah.


Miranda tertawa. "Kalian berdua harus akur. Jangan bertengkar." Spontan Stefy dan Nick berpelukan.


"Aku pergi dulu. Trimakasih semuanya. Sampai jumpa lagi. Love you all." Ia memakai kacamata hitamnya. Melambai dan menjauh.


Masih memeluk Nick, Stefy menghela nafas sambil berkata," aku benci perpisahan."


"Kalian akan bertemu lagi tahun depan," hibur Nick.


"Tapi itu kan masih lama."


Daniel menyela." Aku akan mengantar mom and Dad pulang. kalian mau ikut?"


"Aku bawa mobil sendiri,kak. Biar Stefy aku antar. Kebetulan ada hal yang ingin kami bicarakan tentang tugas sekolah. Terimakasih tawarannya," tolak Nick sambil memberikan isyarat mata ke gadis itu. "Ok. Kami duluan,ya."


"Bye, Mom,Dad,kak!" Stefy melambai. Setelah mereka agak jauh, ia bertanya," seingatku kita nggak ada tugas sekolah,deh. Apa aku yang pikun?"


"Kita punya hal yang lebih penting dari itu. Kita cari tempat yang aman. Kau mau kita ke toko coklat yang biasa?" Nick segera menarik tangan Stefy setelah tawarannya dijawab dengan anggukan keras.


...😃...