
Keesokan harinya Nick sudah bersiap naik ke panggung ketika adik kelasnya selesai menyelesaikan pertandingan anggar dengan SMA Ora. Sekolah yang juga cukup populer. Ia menyiapkan mental dan yakin akan memenangkan pertandingan kali ini seperti yang sudah-sudah.
"Meski kali ini bukan aku lawan terberatmu, kau tidak bisa meremehkan David. Trust me, kau tidak akan menang dengan mudah."Barco muncul tiba-tiba dengan seragam anggarnya.
"Terimakasih atas peringatanmu tapi aku yakin aku bisa mengatasinya," jawab Nick masa bodoh.
"Pleasure of mine. Sungguh membosankan jika melihat musuhmu kalah dengan mudah, bukan?"
"Don't worry. Daripada mencemaskan aku, lebih baik kau pikirkan bagaimana caranya agar tunanganmu itu tidak perlu bertemu dengan Helen di tempat yang sama. Ku dengar dia akan hadir dan duduk di bangku utama. Semoga hatimu tidak goyah dan membuat kesalahan. Wanita pencemburu itu sangat menakutkan. Trust me." Nick menepuk bahu Barco sebelum pergi.
Sementara itu, Stefy menyeruput Ice chocolate dan membagi camilannya pada Sam. Helen dan Rachel duduk di belakangnya. Suasana hening seketika saat 2 pemain anggar memasuki ruangan.
"Kau ingin bertaruh siapa yang menang?" tanya Sam. Matanya tetap fokus ke depan.
"Tanpa bertaruh aku tetap menjagokan Nick. Dia tidak pernah mengecewakan," sahut Stefy yang langsung dibenarkan Rachel.
"Tapi kabarnya lawan yang ini juga tidak biasa. Dia juga sudah tingkat Pro, sama seperti Barco."
"Oh, really? So, kita akan melihat tontonan yang lebih seru kali ini. Let's look and see. Nick pasti akan lebih bersemangat mengalahkan anak itu."
"Are you sure?" Sam melihat mata Stefy yang tak bergeming. Gadis itu mengangguk yakin. Meski perasaan aneh langsung menjalari Sam, ia langsung menampiknya dan merangkul bahu kekasihnya itu.
Penonton semakin banyak yang datang ketika pertandingan berjalan sekitar beberapa menit. Fans fanatik Nick langsung memberikan suport. Namun tim pendukung lawan juga tak kalah heboh. Diantara mereka, ada satu gadis berseragam yang cukup menonjol dan menarik perhatian Stefy. Membuatnya mencolek Rachel di kursi belakang."Siswi itu kelihatan tak asing. Apa kau ingat siapa dia?"
Si mungil Rachel langsung mengikuti pandangan sahabatnya itu. Setelah mengamati beberapa saat, ia menunduk untuk berbisik. "Namanya Renata. Tunangannya Barco. Mereka satu sekolah sebelum Barco pindah ke sini. Tahun sebelumnya, Renata memang tidak terlalu open ke publik tapi belakangan, dari gosip yang ku dengar, setelah resmi bertunangan dengan Barco, dia sudah tidak segan menunjukkan dirinya ke media. Ku rasa mereka berdua cocok. Orangtua Renata juga pengusaha sukses. Kau pasti kenal keluarga Smith,bukan?"
Stefy mengangguk paham. Dia memang sudah dengar tentang pertunangan Barco tapi dengan siapa orangnya, dia kurang memperhatikan. Lagipula dia tidak tertarik. Tanpa sadar, matanya melirik Helen tapi sepertinya kehadiran Renata tidak mempengaruhi gadis itu."Semoga tidak ada keributan..." gumamnya. Sorakan penonton membuyarkan perhatiannya. Nick baru saja menjatuhkan lawannya dengan susah payah. Senyuman pun terukir.
Setelah Nick, pemain berikutnya pun masuk disertai sorakan membahana. Kali ini Barco tampil membawa fans yang tidak kalah heboh. Dari SMA lawan dan juga dari SMA kandang. Meski kali ini ia harus bertanding untuk International High School.
...😃...
Helen baru selesai mengambil kaleng minuman di Vending machine saat seseorang menghalangi langkahnya menuju kantin. Sebenarnya dia ingin cepat-cepat mengambil jatah makan siangnya karena perutnya sudah mulai keroncongan.
"Apa kau tidak ingin mengucapkan selamat kepadaku?"
"Congratulation."
"Hei...apa bisa kau mengucapkannya dengan lebih tulus?"
"Ck, sebenarnya apa maumu? Jangan halangi jalanku, Barco. Aku sangat lapar. Jadi jangan memancing emosiku sekarang." Helen mengambil langkah maju tapi tangannya langsung dicekal. "What do you want?" Hampir saja ia berteriak karena kesal dan menepis genggaman pria itu."Kau mau aku memberimu selamat karena menang bertanding hari ini dan menghampirimu dengan senyuman? Bukankah sudah ada orang lain yang melakukannya?"
"What do you mean?"
"Jangan pura-pura bodoh. Kau tahu maksudku."
Barco berpikir dan mulai paham apa yang dimaksud. "Ohhh...kalau yang kau maksud itu Renata, aku tidak mengundangnya sama sekali. Dia datang mewakili tim sekolahnya. Bukan salahku."
"Of course. Kau tidak pernah salah dan tidak ada yang salah kalau dia datang ke mari. Toh, dia berhak menemani tunangannya bertanding."
"Hei, apa kau marah? Sorry, aku tidak memikirkan perasaanmu hari ini," ucapnya lembut. "Baiklah. Kau boleh pergi sekarang. Kelihatannya kau benar-benar akan memakanku. Aku hanya ingin memastikan sesuatu tapi sudah kudapatkan jawabannya." Dengan langkah ringan Barco menyusuri lorong dan turun ke lantai bawah untuk mengganti seragamnya.
...😃...
Persiapan untuk pertunjukan balet hampir selesai. Mereka yang ambil bagian sedang melakukan gladi resik di atas panggung diawasi oleh Mrs.Kahn. Rachel didaulat untuk mengiringi pementasan dengan musik klasik.
Di atas panggung, ketika semua orang sedang istirahat, Stefy merebahkan dirinya lalu menatap langit-langit. Rachel yang masih duduk di kursi piano tidak terlalu memperhatikan apa yang sahabatnya itu lakukan.
"Rachel, apa kau gugup?" Stefy meregangkan seluruh tubuhnya yang mulai kaku lalu duduk bersila.
"Yeah...sedikit."
"Tenang, hampir semuanya sempurna. Kau hanya perlu rileks dan...dimana Helen? Apa dia sudah pergi?" Rachel baru menyadari Helen tidak ada.
"Dia bilang ada urusan. Entah ke mana dia pergi. Semoga baik-baik saja."
Rachel berhenti."Apa terjadi sesuatu padanya?"
"Entahlah. Aku hanya sedikit khawatir soal dia dan Barco. Kau kan tahu kemarin Renata muncul di pertandingan. Semoga dia tidak terguncang dan tak mempengaruhi pertunjukannya malam ini. Ah, kenapa Barco harus pindah ke sini sie?"
"Tenang, Stef. Kelihatannya Helen baik-baik saja."
Tiba-tiba ponsel Stefy bergetar. Setelah mengangkat beberapa saat, ia pun bergegas pergi. " Nick memintaku datang ke perpus. Sampai nanti malam,ya." Ia cepat-cepat meraih ranselnya dan menghilang.
Dengan langkah cepat Stefy menuju ruang perpustakaan. Ia masuk melewati meja petugas lalu menyusuri rak-rak besar berisi buku-buku dari segala bidang. Ketika ia berbelok ke kiri di ujung, sebuah tangan menutup mulutnya lalu menariknya ke dinding. Orang itu memberikan isyarat dengan telunjuk.
"Aku menemukan sesuatu yang luar biasa,"bisik Nick. Ia membuka sebuah buku besar berisi data dan foto siswa/i almamater. Telunjuknya mengarah ke satu foto.
"Ini foto wanita yang pernah kau tunjukkan padaku beberapa hari yang lalu, bukan? Carolina Moreau," bisik Stefy kemudian.
"Ia siswi International High School. dia satu kelas dengan dua siswa ini..." Nick menunjuk foto 2 siswa. "Pertama bernama Andre Pellison dan kedua bernama Ryan Smith. "Kau bisa paham hubungan mereka?"
"Tunggu..." Stefy mencerna informasi yang ia dapatkan. "Dari kedua nama ini, apakah mereka..."
" Ayah Barco dan Renata. Mereka berteman," jawab Nick akhirnya.
"Kau yakin mereka orang yang sama?"
"Aku sudah memastikannya. Look, orangtua kita juga bersekolah di sini tapi mustahil aku bertanya pada Dad. Dia akan curiga. Jadi, aku menelpon salah seorang teman Dad lalu bertanya padanya. Orang itu membenarkan bahwa Carolina-Andre-dan Ryan, mereka berteman. Mereka juga satu kelas. Lalu, kabar tentang skandal itu juga benar. Tapi media menutupinya. Faktanya, Carolina dan Ryan sudah berpacaran sejak SMA. Mereka bertemu lagi di satu pesta yang diadakan oleh kedutaan Prancis, dimana Carolina tampil sebagai balerina sedangkan Ryan sudah menjadi tokoh politik yang berpengaruh. Sayangnya, mereka berdua sudah sama-sama menikah." Stefy masih mendengarkan. "Sampai kabar tentang skandal itu muncul,Carolina akhirnya pindah ke Paris hingga melahirkan Helen. Setelah itu...beberapa hari setelah melahirkan, Carolina ditemukan tewas di hotel."
"Apa waktu itu polisi mencurigai adanya pembunuhan?" Tiba-tiba hal itu terlintas di pikiran Stefy. Ia menggenggam lengan Nick kuat. "Bulu kudukku berdiri. Firasatku mengatakan ini bukan sesuatu yang baik. Jika Carolina meninggal di hotel keluarga Pellison, pasti ayah Barco juga tahu. Dia pasti memberitahukan hal itu pada temannya, Ryan. Apa mungkin mereka berdua bekerjasama membunuh Carolina untuk menutupi skandal?"
"Hey, jangan membuat kesimpulan terlalu dini. Belum tentu hal buruk terjadi. Dari keterangan petugas hotel waktu itu, nama Ryan Smith tidak ada di daftar tamu. Waktu kejadian terjadi, Ryan berada di Swis karena tugas. Jadi, dia punya alibi."
"Bisa saja dia menyuruh pembunuh bayaran,kan? Dia bisa gunakan uang dan kekuasaan. Hal itu sering muncul di film-film."
Nick tertawa kecil lalu mengacak-acak rambut gadis berlesung pipit itu. "Ini akibatnya jika kau terlalu banyak nonton film. Imajinasimu berkembang terlalu jauh."
"Ck, setidaknya bisa membuatku lebih waspada. Tapi...ada hal lain yang ku khawatirkan. Kau tahu kan malam ini semua orangtua murid diundang untuk menyaksikan pertunjukan balet dan musik klasik? Jika itu terjadi, artinya...Helen akan bertemu dengan orang-orang yang dulu dekat dengan almarhum Carolina."
"Ya, kau benar. Panitia bilang akan mengundang gubernur juga. Artinya, Ryan Smith akan hadir dan bertemu dengan Helen secara langsung." Nick dan Stefy berpandangan.
"Apa sesuatu yang buruk akan terjadi pada Helen? Apa yang harus kita lakukan? Memperingatkan Helen tentang ini?"
Nick menggeleng. "No. Kita tidak tahu apakah Helen mengetahui informasi ini. Jadi, lebih baik kita diam sambil mengawasi keadaan. Aku akan minta managerku menyewa beberapa orang untuk mengawasi Helen dari jauh, supaya dia aman. Hal yang harus kau lakukan adalah bersikap biasa seperti tidak terjadi apa-apa. Okey?"
"Lalu kau sendiri?"
"Aku juga akan mengawasi dari jauh. Jika terjadi hal yang tidak diinginkan , aku punya rencana lain."
Lagi-lagi Stefy meremas lengan Nick dengan kuat."Nick,promise. Jangan melakukan hal konyol yang akan membahayakan nyawamu. Orang yang kau hadapi bukan orang sembarangan."
"Promise."
...😃...