
"Excuse me?! Apa kupingku sedikit bermasalah? Apa aku baru dengar sesuatu hal yang gila? Dari mana kau dapat kesimpulan itu, Nick? Unbelieveable..."
" But i know its true."
" What ?" Stefany terperangah. " Look, aku tahu kau memang memenuhi kriteria cowok cool, smart, berbakat, lucu, dan bukan orang susah. But, you're my bestfriend dan aku tidak pernah memandang kamu sebagai calon boyfriend."
"Why not ?"
"Because..." Stefany yang sering dipanggil Stefy mencoba menenangkan diri sambil menarik nafas dalam. "...because you're my bestfriend and i knew if i fall in love with you...it's mean disaster. You got it? Oh, i think i need to drink something." Mulai mengipasi wajahnya dengan tangan karen merasa suhu tubuhnya meningkat.
Sebelum berbalik, Nick meraih lengan Stefy dengan kuat lalu berbisik di telinga gadis itu. "Listen to me. Silakan saja jika ingin menyanggah apa yang kau rasakan but i know you so well. Di dunia ini, orang yang tidak bisa kau bohongi adalah aku. Aku bukan cowok bodoh. Aku mengenalmu lebih dari yang kau tahu." Kali ini Nick menarik dagu Stefy lebih dekat ke arahnya sehingga mata mereka beradu. "Besok aku akan ke Ausie. Mungkin kau tidak akan melihatku selama 6 bulan. Aku menyiapkan tiket untukmu. Jika memang kau tidak memiliki perasaan terhadapku, datanglah ke bandara dan katakan dengan mata yang berani ini. Atau...kau bisa datang sebagai kekasihku dan kita akan pergi bersama. Pesawatku berangkat jam 10 am. Don't be late."
"I won't be there," jawab Stefy sambil menepis tangan Nick.
"You will see, bab**y..."
1 year ago...
Pintu lift terbuka ketika laki-laki tinggi berkulit putih sedang memasang dasi. Matanya yang tajam menatap gadis belia yang baru saja masuk sambil menekan tombol down. "New hair? looks good, Jack."
"Stop calling me Jack," gadis berlesung pipit itu melebarkan matanya dengan sikap jutek. Cuma satu orang yang selalu membuat mood baiknya hilang di pagi hari. Orang itu adalah teman semasa kecilnya di Ausie yang juga sama-sama pindah ke jakarta karena pekerjaan orangtua. Entah itu takdir atau kutukan, mereka juga bersekolah di sekolah yang sama, kelas yang sama, dan tempat tinggal yang sama. Dan entah mengapa, keduanya justru semakin akrab dan mereka pun menjadi teman baik. Walau sedikit mengesalkan untuk diakui, Stefy merasa Nicholas adalah teman paling menjengkelkan yang paling mengerti dirinya. Well, pertemanan itu memang tidak selalu mulus dan kadang pertengkaran justru membuat hubungan semakin dekat, isn't?
"What will you do this evening, Jack?" Seolah tidak menghiraukan protes yang diterimanya, Nick tetap memanggil Stefy seperti yang dia inginkan. Seolah itu rutinitas hariannya yang tidak boleh dilewatkan. " Kau dapat undangan dari kedutaan? Pagi ini daddy membicarakannya saat sarapan." Selesai dengan dasinya, Nick meraih permen karet dari saku kemeja dan mulai mengunyah.
"Yeah...Mom juga cerita tadi sebelum aku turun. Dress code black and white. Cukup menarik." Tiba-tiba melirik sesuatu. "Oh, aku baru lihat jammu, Nick. Dari Swiss?" Stefy berdecak kagum. "Gadis mana yang memberimu kado semahal itu? Wait, mungkin harganya bisa 150 juta or more. Looks expensive. She must be rich. From Monica, si model seksi itu or si penyanyi awet muda Kelly?" kejar Stefy makin penasaran. "...or Sabrina yang terlibat skandal denganmu saat ini? "
"You must be shock when i tell u the truth," jawab Nick santai. Membuat dahi Stefy semakin berkerut. Sampai di lobby apartment pun Nick belum ingin menjawab.
" Nick, there's no secret between us, remember?"
" Aku juga tidak ingin merahasiakan ini."
" So, kenapa kau bersikap misterius tanpa ingin memberitahuku siapa yang memberimu jam itu. Apa dia terlalu terkenal? Terlalu penting? Terlalu kaya?"
" Terlalu terkenal, terlalu penting, dan terlalu kaya di keluarga Handerson."
Stefy semakin sulit menebak. " I don't understand. She must be rich woman."
"Yes, because she used my dad's money."
"Jack, it's not funny," desis Nick.
"Stop calling me Jack!" Stefy ikut mendesis. Mengesalkan ketika mendengar nama kecilmu dijadikan bahan ejekan. Waktu kecil ia memang suka tokoh bajak laut dan memiliki imajinasi tertentu tapi setelah dewasa, hal itu sudah tidak menarik lagi. Tapi Nick selalu mengolok-oloknya dan itu membuatnya emosi.
"Just for one week, sebelum ku musiumkan jam ini ke lemari. Jadi, stop bulling me,"
"Alright..."
Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan dua murid SMA tersebut sebelum akhirnya meluncur ke jalan padat kendaraan yang sesuai dengan ciri kota metropolitan. Ketika Nick memandang ke luar jendela mobil, ia teringat sesuatu. "Hey, apa Rachel akan tampil malam ini? Aku dengar tuan rumah mengundang beberapa pianis muda. Sepertinya dia sangat menyukai musik, terutama musik klasik."
"Well, Rachel belum cerita tapi mungkin nanti aku tanya dia. Oh, wait. I got text from my baby!" Stefy langsung sibuk mengetik kalimat di ponselnya. Sesekali tersenyum lalu berpikir. Tersenyum lagi lalu berpikir lagi untuk membalas. "Sam kemarin menang lomba basket nasional. Sayangnya, aku nggak bisa lihat langsung karena ikut keluarga ke Jepang. Aku sedikit merasa bersalah. Jadi, aku takut salah ngomong. Ohhh.. sudah dua minggu nggak ketemu. Pasti dia makin ganteng, makin tinggi, dan makin..."
"Nggak usah khawatir, dia pasti lega kamu nggak datang karena dia bebas tebar pesona ke cewek- cewek lain," potong Nick puas.
Stefy langsung tersenyum sinis. "Kelihatannya kamu lebih ngerti Sam daripada aku, ya."
"Trust me. I know a guy."
" Nggak semua cowok kayak kamu, Nick, yang sukanya mainin perasaan cewek sampai desperate. Sam itu gantleman. That's why, aku sama dia awet sampai hampir tiga tahun ini. Nggak kayak kamu yang sebulan putus dan bikin gosip di mana-mana."
"Itu bukan mauku. Mereka yang mau. Aku nggak pernah janjikan apapun ke mereka. Kalau cewek-cewek itu terlalu berharap, itu juga bukan salahku. Itu salah kalian, kaum hawa yang sukanya nonton drama princes sampai nggak bisa bedakan mana khayalan dan realita," Nick membuat pembelaan. " Serba salah memang terlalu baik."
"Kamu itu terlalu jahat, bukan terlalu baik. Kaum hawa tidak akan berharap kalau cowoknya juga tidak memberi harapan."
"So, do you love Sam?" Nick menatap Stefy serius.
"Why you ask me like that? Of course." Kali ini Stefy menantang.
" Jadi, kau mencintai Sam tapi akan putuskan dia setelah lulus dari sekolah? Seperti rencanamu sebelumnya. You told me that before. Do u remember?" bisik Nick.
Stefy membuang muka. " Just end this conversation, please."
"See? Kau tidak lebih buruk dariku, honey. We're devil. That's why we become bestfriend. So, don't judge me like u did," Nick mengakhiri kalimatnya dengan penuh kemenangan.
...😃...