The Fucking Mafia

The Fucking Mafia
19


Di kamar


Anna berbaring menyamping sambil menangis sesenggukan. Sejak hamil dia memang mudah menangis, apalagi kalau kemauan nya tidak terpenuhi seperti saat ini. Setelah tadi dia merengek pada aar dan tidak di kabulkan sekarang dia menangis di kamar sendirian.


'Ceklek


Aar masuk. Melihat dari pintu apa yang di lakukan istri nya. Ternyata seperti biasa menangis karena keinginan nya tidak terpenuhi. Aar bingung harus bagaimana. Jika anna benar akan menembak anak buahnya bisa habis semua anak buah nya. Aar cukup tau dengan melihat lemparan pisau anna tempo hari.


Kalau dia memegang pistol sudah pasti 1 peluru bersarang tepat di jantung anak buah nya.


Aar menghampiri anna di ranjang. Memeluk anna dari belakang.


"Sayang" panggil aar sembari mengelus perut buncit anna. Perut anna memang sudah buncit walaupun baru berusia 4 bulan di karenakan anna mengandung anak kembar.


Anna tidak menjawab hanya suara tangisan anna yang terdengar. Aar merasa pilu mendengar istri nya menangis tersedu-sedu.


"Hahh" aar menghembuskan nafas kasar. "Baiklah. Aku kalah lagi. Berhentilah menangis aku akan mengantarkan mu ke markas" ucap aar menyerah.


"Kau janji?" tanya anna dengan sesenggukan. Anna sudah berbalik menghadap aar.


"Ya janji. Bersiaplah ganti pakaian mu dan bersihkan wajahmu. Mata mu akan bengkak jika kau menangis lama-lama" ucap aar mengusap air mata anna.


"Kamu memang yang terbaik. Walaupun wajahmu dingin dan datar seperti tembok" ucap anna mencium aar sekilas.


"Lihat kan? Daddy kalian takkan pernah mengecewakan kalian. Daddy adalah yang terbaik. Cepatlah keluar dan kalaian kacaukan semua markas daddy kalian kikikik" anna terkikik dengan ucapannya pada kedua putra nya yang masih dalam kandungan.


"Cepatlah atau aku akan berubah pikiran" sewot aar tidak suka dengan ide istri nya yang jahil itu.


Anna berlari kecil ke arah kamar mandi dengan tertawa kencang.


"Jangan lari anna! Kau sedang hamil!" teriak aar. Tapi anna tidak mendengarkannya dan hanya di sahuti suara tawa anna.


20 menit kemudian


Aar duduk di kursi ruang tamu menunggu anna. Tak lama anna turun dengan dres navy tanpa lengan. Sangat serasi dengan aar yang menggunakan kaos polos navy.


"Ayo aar. Aku sudah siap"


"Lama sekali" gerutu aar. Anna hanya nyengir kuda.


Ting tong ting tong


Ting tong ting tong


Tiba-tiba bunyi bel terdengar.


"Alexa!" Teriak anna.


"Ya nona" sahut alexa.


"Lihat siapa yang datang. Mengganggu saja tidak tau apa kalau aku akan pergi" gerutu anna kesal.


"Baik nona"


"Duduk dulu. Habis ini kita berangkat. Tidak biasa nya ada tamu kemari" aar menarik anna duduk di bersandar pada nya.


"Biasa nya sih si alan. Dia kan suka sok penting gitu" gerutu anna masih kesal.


"Hei. Jangan cemberut gitu. Kau terlihat menggemaskan jika seperti itu. Kau tidak ingin pergi kalau terus terusan menampilkan ekspresi itu?" Bisik aar nakal.


"Dasar mesum" kemudian anna mencubit pinggang aar.


"Ouchh. Sakit sayang jangan seperti itu"


"Salah sendiri mesum!"


Saat sedang asik berdebat alexa datang.


"Maaf tuan nona. Ada tamu yang ingin bertemu dengan tuan"


"Siapa?" Tanya anna heran.


"Saya tidak tau nona. Tapi mereka dua orang perempuan" ucap alexa.


Anna menengok tajam ke arah aar. Mengisaratkan jika aar macam-macam akan habis di tangan nya. Aar biasa saja seolah-olah tidak membuat kesalahan.


"Suruh mereka masuk!" Perintah anna galak.


"Baik nona"


Dua orang itu memiliki wajah yang hampir sama. Mungkin mereka kakak beradik pikir anna.


"Silahkan duduk"


Anna mempersilahkan dua orang di depan nya untuk duduk tapi dengan nada datar dan tajam menusuk. Tidak ada rau ramah sama sekali. Anna merasa akan ada masalah datang dari dua orang di hadapan nya.


"Ada perlu apa kalian mencari suami ku?" Tanya anna tanpa basa basi.


Dua perempuan itu tekejut. Anna menperhatikan dua orang itu intens. Ada yang berbeda dari satu wanita. Badan nya sedikit berisi dari satu nya. Perbedaan nya sedikit mencolok karena menggunakan pakaian longgar. Tidak seperti perempuan yang memiliki wajah yang lebih dewasa yang memakai baju ketat.


"Su-suami?" Cicit perempuan yang lebih muda.


"Ya. Suami. Ada masalah?"


"Tentu saja masalah! " jawab perempuan yang lebih dewasa itu sedikit berteriak.


"Memang apa masalah nya? Aku bahkan tidak mengenal kalian" jawab anna tak kalah sewot.


Siapa mereka berani menganggu ketenangan ku.


"Tak usah basa basi. Sebenarnya kalian ada perlu apa?" Tanya aar yang sejak tadi diam.


"Kami ingin meminta pertanggung jawaban" ucap wanita itu dengan lantang nya.


"Pertanggung jawaban untuk apa? Aku tak merasa memiliki salah apapun pada kalian" Tanya aar datar.


"nikahi adikku !!!" perintah perempuan berbaju ketat itu.


"hei tunggu dulu. apa maksudmu?. kau sedang mencoba mengukur kesabaran ku?" tanya anna tajam.


"duduklah sayang. seperti nya aku mengenal nya" pinta aar pada anna yang sudah berdiri berkacak pinggang.


"jelaskan !!!!" perintah anna pada aar.


"sepertinya kalau tidak salah aku bertemu dengan mu di salah satu club ku apa aku benar nona?"


"benar tuan" jawab perempuan berbaju longgar itu.


"lalu apa maksudmu dengan tanggung jawab menikahi mu?" tanya aar.


"adiku hamil dan itu adalah anakmu 5 bulan yang lalu" sahut wanita berbaju ketat.


"APA MAKSUDMU?! KAU INGIN MATI DI TANGANKU?!" teriak anna.


dua wanita itu terperanjat kaget dengan teriakan dan juga pertanyaan anna. 


"beraninya kalian menguji kesabaran ku. kau ingin suami ku menikahimu? langkahi dulu mayatku atau kalian mau mencoba ku kuliti hidup-hidup? sudah lama aku tak berolahraga membuat kedua tangan ku kaku" ucap anna menyeringai kejam. 


"sayang ingat twins di perutmu jangan terlalu emosi" ucap aar mencoba membujuk anna.


"ohh kau mencoba membela mereka? baiklah ku tunggu kau di markas dan lihat apa yang akan aku perbuat disana" 


setelah anna mengucapkan itu ia langsung bergegas keluar mansion dan menyuruh supir untuk mengantarkan anna ke markas.


"antar aku ke salah satu markas tuan mu" perintah anna.


"baik nyonya".


berbeda dengan anna yang pergi dalam keadaan emosi. aar masih berada di ruang tamu dan berbicara pada dua tamu nya.


"jadi bagaimana penjelasan kalian?" tanya aar tajam.


"kau sudah dengar tadi apa lagi yang harus kami jelaskan" jawab wanita berbaju ketat.


"aku tak pernah merasa menyentuh adikmu bagaimana bisa anak yang ia kandung adalah anakku?" tanya aar.


"tentu saja karena kau menidurinya tak mungkin adiku hamil dengan sendirinya"


"seingatku adik mu lah yang menggoda ku lalu dimana letak keharusan tanggung jawabku? lagi pula adikmu sudah bukan gadis saat dia meminta aku menidurinya apa kau sedang mencoba mempemainkan ku?" 


"tentu saja tidak karena itu memang anakmu" 


"buktikanlah jika bayi itu memang anakku. tapi jika kalian tidak bisa membuktikannya akan ku habisi seluruh garis keturunan keluarga kalian tanpa tersisa karena sudah membuat istriku marah padaku" ancam aar keji kemudian meninggalkan kedua tamu nya yang gemetar di ruang tamu. 


 -----------------------------------------------------------------------------