The Fucking Mafia

The Fucking Mafia
18


'ting tong ting tong


'ting tong ting tong


'ting tong ting tong


'ting tong ting tong


"siapa sih?. Berisik sekali. Alexa buka pintu nya" suruh anna pada pelayan pribadi nya.


"baik nona"


Ya semenjak 3 bulan lalu aar berpamitan akan pergi dalam waktu yang lama akhirnya mereka pindah ke mansion papa aar. Anna menjadi ratu di rumah itu bahkan mertua dan adik ipar nya pun memperlakukan nya seperti ratu. Kadang anna merasa tidak enak tapi lebih tak enak lagi jika dia menolak kebaikan orang yang menyayangi nya.


"hallo kakak ipar" sapa alan di belakang anna.


"rupanya kau tamu tidak tau diri itu?. Bisakah kau langsung masuk saja tak usah belagak tamu penting kau" cibir anna.


"maaf kakak ipar" alan nyengir kuda. "oo ya dimana aar?"


"dia di ruang bawah tanah menyelesaikan program sensor nya untukku dan anak-anak ku"


"dia benar-benar akan pergi rupanya"


"ya. Kau tau sendiri jika dia tak bisa di bantah. Turunlah dia sudah menunggu mu dari tadi"


Alan hanya mengacungkan jempol nya kemudian turun ke ruang bawah tanah.


Anna lebih memilih naik ke atas untuk beristirahat. Sejak hamil anna memang malas sekali. Sedikit sedikit istirahat padahal tidak melakukan apapun.


Skip


"hei bro. Sedang apa kau?" sapa alan pada aar.


"apa mata mu buta?" tanya aar tanpa memalingkan wajah nya.


"slow man. Aar apa kau akan benar-benar pergi?"


"ya" jawab aar singkat.


"apa kau tidak takut anna kenapa-kenapa saat kau pergi?"


"tidak. Apa gunanya kau di sini jika menjaga anna pun tidak becus" uca aar sinis.


" tapi aar kali ini kau tidak pergi hanya untuk satu dua hari. Bahkan kau sendiri pun tidak tau kapan akan kembali. Lagi pula untuk apa kau menyamar menjadi anggota triad aar?"


"aku harus bertemu pimpinan mereka. Hanya dengan cara itu aku bisa menemui nya. Dia tak akan mau menemuiku secara langsung jika aku mengundang nya secara terang-terangan. Dia tidak akan suka saat tau kalau aku lah lawan yang sedang akan di hancurkannya. Kemungkinan dia akan langsung melepaskan ku"


"tapi pasti ada cara lain aar. Lihat anna dia sedang mengandung anak mu. Apa kau akan menelantarkan mereka?"


"itu tidak mungkin. Aku sudah mempersiapkan segala sesuatu nya. Bahkan hal terkecil dari kebutuhan anna dan anak-anak ku nanti. Untuk itu aku membuat sensor ini untuk mereka. Agar aku bisa melindungi mereka dari jauh"


"apa maksudmu? Apa gunanya sensor sampah itu?"


"tutup mulutmu jika kau tidak tau kegunaan mereka. Sensor ini akan mengaktifkan bom hanya sekali klik. Dan bom itu bukan sembarang bom. Bentuk nya menyerupai burung gagak jadi dia tidak akan terdeteksi tapi ledakan nya bisa menghancurkan gedung 20 lantai" jelas aar panjang lebar.


"APA?!. Kau bercanda kan aar? Mana mungkin bisa? Itu tidak mungkin"


"kenapa tidak? Kau ingin aku mengujinya?"


Alan mengangguk semangat.


Aar kemudian mengetik kode pada handphone nya. Kemudian beralik pada laptop nya. Sekedar memberitahu aar memiliki alat yang membuat nya bisa terhubung dengan seluruh kamera di dunia. Bahkan bisa menghidupkan kamera yang ingin dia lihat jangkauan nya.


"lihat lah. Ini gedung milik mr. Edgar. Kemarin dia menantangku di rapat pemegang saham. Sekarang aku akan menghancurkan nya"


'klik


Layar laptop tertutup gumpalan debu.


Dan setelah itu terpampang runtuhan gedung yang rata dengan tanah. Alan menganga melihat itu semua.


"Ah aku tidak bisa berkata-kata" alan mengangkat kedua tangan nya.


"Sensor anna sudah ku pasang saat dia tidur semalam karena alat ini baru selesai dua hari yang lalu" aar menjelaskan.


"Kau sudah bilang pada nya?"


"Hm. Sudah tapi aku tidak menjelaskan sebab kepergian ku. Juga jika nanti terjadi apa-apa dengan ku jangan cemas ataupun memberikan kabar buruk tentang ku pada anna. Cukup kau percaya saja aku akan baik-baik disana"


"Tapi bagaimana? Apa kau tak akan memberikan kabar sendiri pada anna?"


"Tidak" jawab aar singkat.


"Tapi kenapa?"


"Ini untuk keselamatan mereka. Jika aku menghubungi mereka ada kemungkinan anna melacak keberadaan ku dan akan menyusul ku saat aku disana. Kau tau 'pria' itu tidak tau aku sudah menikah"


"Kenapa kau tidak memberitahu nya?"


"Kau ini bodoh atau dungu sebenarnya? Hanya seperti ini saja tidak paham. Kalau aku memberitahu nya kau tau apa yang akan terjadi?"


Alan menggeleng.


"Tentu saja dia akan melepaskan ku dengan mudah apalagi dia tau anna sedang nengandung. Ck! Dasar bodoh. Pupuk saja sekalian kebodohan mu itu agar kau semakin bodoh"


Alan hanya mebulatkan mulut nya membentuk guruf 'O'. Sedangkan aar hanya geleng kepala frustasi.


Ceklek


"Aar ayo makan" ajak anna muncul dari pintu.


"Ya sebentar akan kubereskan dulu alat-alat ku" jawab aar sembari membereskan alat nya.


----------------------------------------------------------------------


Setelah makan diruang tengah.


"Aar" rengek anna.


"Ada apa?" sahut aar sedang sibuk dengan laptop di email nya.


"Apa kau tidak ingin ke markas?"


"Memang kenapa?" tanya aar heran.


"Ayo ke markas" ajak anna semangat.


Aar memandang anna dengan mengernyit heran. Ada apa lagi dengan istrinya ini. Semakin hari semakin aneh saja. Kemarin saja aar sudah menguras kolam renang karena rengekan anna. Dan sekarang anna merengek ingin ke markas?. Apa lagi yang dia inginkan?.


"Sayang" anna mengedip ngedipkan matanya.


"Memang ada apa dengan markas?"


"Aku ingin membuang stres. Siapa tau ada yang bisa aku lakukan disana agar stres ku hilang?"


"Mana ada hal yang bisa di lakukan dimarkas untuk melepas stres. Yang ada akan semakin stres"


"Tidak. Ada yang bisa aku lakukan disana. Itu akan membuat stres ku hilang"


"Coba kau sebutkan apa yang sebenarnya kau inginkan?" tanya aar dingin dan datar.


Anna masih diam. Aar memandang anna menyelidik semakin tajam.


"Menembak" cicit anna.


Aar membulatkan mata. Tak habis pikir istrinya ini sedang mengandung 4bulan. Dan dia ingin melepas stres dengan menembak?. Apa istrinya gila?.


"Siapa yang akan kau tembak disana anna?!" tanya aar frustasi.


"Tentu saja anak buahmu. Memang siapa lagi?!" jawab anna sewot.