The Fucking Mafia

The Fucking Mafia
2


"Ahh.." suara ****** yang sedang memuaskan hasrat ku ketika sampai puncak. Ya aku sedang berada di kamar VIP salah satu club miliku. Aku datang setiap kali membutuhkan hiburan.


Tok. Tok. Tok. Suara pintu kamar di ketuk. Aku memicingkan mata menatap pintu yang terbuka. "Siapa yang berani mengganggu waktu bersenang-senang ku?" kata ku dalam hati.


"Ya masuk" teriakku dari dalam.


"Maaf tuan saya mengganggu" ucap Alan thompson yang tak lain adalah sahabat sekaligus assisten pribadi ku.


"Ada hal penting apa yang ingin kau sampaikan alan?sampai berani kau menganggu waktuku?" tanya ku sambil memicingkan mata menatap tak suka.


"Sekali lagi maaf Aaron. Tapi pengiriman senjata kita ke inggris di gagal kan oleh mafia dari daratan barat" jawab nya membuat ku terkejut.


Langsung ku dorong ****** di depan ku hingga tersungkur. Aku tak peduli apa yang terjadi padanya. Yang terpenting sekarang adalah siapa yang berani menghalangi jalanku.


Aku bergegas memakai pakaian kemudian pergi diikuti alan di belakang ku. Aku masuk ke dalam mobil bagian belakang bersama alan. Begitu masuk aku langsung menelfon orang kepercayaan ku yang menangani pengiriman ini.


Begitu tersambung "Apa saja kerjamu selama ini?hah?apa kau begitu bodoh hingga pengiriman ini gagal?apa kau tau berapa kerugian yang akan ku dapat?apa kau ingin kepalamu lepas dari tubuhmu?cepat cari orang yang berani menghalangi jalan ku!!" ku matikan sambungan telfon itu tanpa menunggu balasan.


Sebelum nya perkenalkan nama ku Aaron Darrel Frederick. Aku anak pertama dari dua bersaudara. Ayah ku bernama Jack Frederick. Orang no 1 di amerika. Umur ku 29 tahun. Selain CEO frederick company dan beberapa cabang yang ku pegang aku juga seorang mafia.


Tak ada yang tau kalau aku adalah seorang pemimpin mafia. Bahkan anak buah ku yang kerja di lapangan pun tak tau seperti apa wajah ku karena aku memberikan perintah lewat alan.


"Kau mau ke markas Aar?" alan membuka pembicaraan.


"Tidak aku akan ke club utama. Memang kenapa?" aku mengernyit bingung menatap ekspresi alan.


"Tidak apa. Hanya saja papa tadi menelfon ku mengatakan kita harus pulang. Ada hal penting yang ingin beliau sampaikan padamu" papar alan.


"Hahh.. Baiklah. Kita putar balik kembali ke mansion"


---------------------------------------------------------------------------


Begitu sampai di mansion aku turun dari mobil. Kemudian di sambut oleh salah satu pelayan.


"Tuan besar sudah menunggu di ruang tengah tuan" ucapnya menginterupsi ku.


"Ya. Kau boleh melanjutkan pekerjaan mu" balasku.


"Baik tuan. Saya permisi" ucap pelayan itu kemudian masuk ke dalam mansion.


---------------------------------------------------------------------------


"Hey boy. What are you doing here?" sambut adik ku.


"Hahh entahlah. Aku pun tak tau. Aku kemari hanya untuk menemui papa. Mau kemana kau dengan baju se keren itu?" tanyaku.


"Terimakasih sudah memujiku keren tap--" ucapanya terhenti.


"Hey boy. Yang ku bilang hanya bajumu bukan dirimu" aku tersenyum sinis.


"Ya ya ya terserah kakak ku yang dingin. Aku pergi dulu. Kau sudah di tunggu di ruang tengah oleh papa" ucap nya sambil ngeloyor pergi.


Aku hanya terkekeh melihat adikku ngeloyor pergi. Ya dia adikku Sonny Farrel Frederick. Bungsu di keluarga ku. Jika ada yang bertanya tanya kemana ibuku dia sudah tiada ketika melahirkan sonny. 20 tahun yang lalu ketika umurku 9 tahun.


"Hey son. Apa yang kau lakukan di situ?. Kemarilah" ajak papa padaku.


"Ada apa pa?. Kenapa kau memanggilku ke mansion?. Biasanya kau hanya telefon kenapa sekarang memanggilku kemari?" tanya ku menggebu-gebu.


Papa hanya tersenyum kemudian menghela nafas. "Baiklah son. Papa akan langsung saja ke intinya. Kau tau papa sudah tua. Dan kau pun sudah bukan anak kecil lagi. Jadi kapan kau akan membawakan menantu untukku?" tembak papa langsung padaku.


"Hahh.. Apa ini penyebab aku sampai di panggil kemari? Hanya untuk pertanyaan seputar menantu?" tanya ku dengan alis terangkat tinggi.


"Yes son. Kau tau papa sudah beberapa kali bermimpi bertemu dengan mama mu" ucap nya memberitahuku.


"Apa?? Bahkan mama tak pernah mendatangiku walau hanya dalam mimpi. Apa mama hanya mengingat papa di sana? Tak mengingatku?" tanya ku dengan nada dingin.


"Bukan begitu son. Dia datang dalam mimpi papa untuk mempertanyakan apa papa sudah berhasil mendidik, merawat, membesarkan kau dan adik mu" ucap papa menjelaskan.


Aku hanya diam menyimak apa yang papa katakan. Aku sedikit kasihan padanya.


"Papa menjawab "ya aku sudah membesarkan mereka dengan baik. Apa kau meragukan ku?" tanya papa pada mama mu kemudian mama mengangguk mengiyakan pertanyaan papa " kau harus melihat anak laki laki mu menikahi seorang wanita jika kau ingin di katakan berhasik membesarkan anak" begitulah jawaban mama mu son" aku hanya diam memandang papa yang berkaca-kaca menahan tangis.


"Bagaimana son?" tanya papa menyadarkan ku dari lamunan.


"Apa yang papa inginkan aku akan menuruti nya" balas ku.


"Benarkah?" tanya nya berbinar.


"Ya. Cari saja menantu seperti apa yang papa mau aku akan menikahinya tanpa menolak" jawab ku kemudian berdiri.


"Baiklah son. Aku akan melamarkan putri sahabat papa yaitu uncle thom" ucap papa menepuk bahu ku.


"Ya terserah papa. Aku hanya akan menerima beres. Aku pergi dulu karena ada sedikit masalah dengan perusahaan" pamitku.


"Baiklah. Hati hati di jalan. Dan satu lagi kau tak lupa bahwa satu minggu lagi papa akan ulang tahun yang ke 55 kan son?" tanya papa mengingatkan ku.


"Tentu saja pa. Mana mungkin aku lupa itu. Papa ingin hadiah apa dariku?" tawar ku pada papa.


"Cepatlah menikah dengan gadis yang akan papa lamar untukmu son" jawab papa sambil tersenyum pada ku.


"Ya tentu saja. Itu bukan masalah pa. Kalau begitu aku pergi sekarang" kemudian ku peluk papa.


"Hati hati son. Kau sebentar lagi akan menikah" ucap nya sambil tersenyum menggoda ku.


Aku hanya menjawab dengan kekehan.


---------------------------------------------------------------------------


"Apa yang papa bicarakan padamu Aar?" todong alan ketika aku mendaratkan bokong ku di kursi penumpang.


"Tak bisakah kau menunggu ku duduk dulu?. Aku bahkan baru mendaratkan bokongku" balasku sinis.


"Sudahlah jangan sinis begitu itu bahkan tak mempengaruhiku. Sebaik nya kau katakan saja apa yang kalian bicarakan" todong nya lagi.


"Haahh.. Kau ini kenapa ingin tau sekali urusan orang. Apa kau tak punya urusan sendiri?. Kenapa selalu ingin tahu urusan ku?" tanyaku.


"Ayo lah Aar. Jangan basa basi. Tinggal jawab saja apa susah nya sih?" tanya nya kekeh ingin tau.


"Tebak lah sendiri alan" jawab ku kemudian terkekeh.


"Sial kau Aar. Aku bisa mati penasaran kau tau" ucap nya lagi.


"Arahkan ke club utama. Aku butuh hiburan karena tadi ada gangguan saat aku bersenang-senang" sindir ku pada alan.


Kulihat alan sedang mendengus dan melirik ku tajam. Aku hanya terkekeh.


---------------------------------------------------------------------------


"Aahhh lebih keras lagi Aar" desah ****** de bawahku.


Kupercepat hentakan ku pada bagian intim nya.


"Aaahhhhh" jeritku ketika sampai puncak. Ku gulingkan tubuhku di samping ****** yang memuaskan ku. Sudah 30 menit kami berbaring.


"Berpakaian lah kemudian keluar. Panggilkan Alan kemari" ucap ku menginterupsi ****** itu.


"Baiklah" ucap nya pasrah.


Tak berapa lama Alan masuk.


"Cari tahu tentang anak gadis Thomas Franklin" ucap ku langsung mendapat tatapan bingung dari Alan.


"Memang kenapa dengan anak gadis nya?" tanya Alan menaikkan satu alisnya.


"Dia calon kakak iparmu" balasku kemudian masuk ke kamar mandi.


Alan masih memproses ucapan ku saat ku tinggal masuk ke kamar mandi. Kemudian terdengar teriakan dari luar


"APPAA??KAKAK IPAR??APA BERARTI KAU AKAN MENIKAH AAR???"


---------------------------------------------------------------------------