
Aaron pov
"Hey..cantik..hey..bangunlah" kutepuk tepuk pelan pipi gadia cantik di sebelah ku ini.
"Ughh.." Dia hanya melenguh dan menyerukkan wajahnya ke ceruk leherku.
"Hey bangunlah. Katakan dimana alamatmu cantik" ucapku lagi.
"Aku ingin ikut dengan mu bawa aku dengan mu" ucap nya setengah sadar.
"Baiklah. Jika itu mau mu" serah ku.
Kemudian dia memeluk pinggang ku dari samping erat sekali.
15menit kemudian kami sampai di penthouse ku. Ku gendong gadis cantik ini karena sedari tadi pelukan di pinggang ku tak mau dia lepas. Entah kenapa aku merasa dia seperti tak ingin kehilangan ku.
Setelah sampai ke kamar ku baringkan dia di tempat tidur ku. Ku selimuti dia. Ku pandangi wajah cantik nya. Ku elus pipi nya. Setelah puas aku beranjak ingin membersihkan diri tapi ada yang menahan tangan ku.
"Mau kemana?" Tanya gadis itu.
"Hanya ingin membersikan diri. Ada apa?. Kau ingin sesuatu?" Tanya ku.
Dia menggeleng.
"Lalu ada apa?" Tanya ku lagi.
"Kemarilah. Tidur di sampingku" pinta nya.
Aku menaikkan alisku sebelah.
"Ayolah" dia menatap ku kemudian mengedip-ngedip kan matanya imut. Aku hanya terkekeh.
"Baiklah" ucap ku menyerah.
Setelah aku berbaring di samping nya kemudian dia memposisikan kepalanya di dada ku sambil memeluk pinggangku.
"Jangan pergi. Aku tak akan membiarkan mu pergi dari ku". Ucap nya mempererat pelukan di pinggang ku.
"Tidurlah aku disini tak akan pergi" ucapku. Ku elus elus kepalanya lembut.
Tak lama dia kembali terlelap. Aku masih bertanya-tanya dalam hati. Sebenarnya kenapa dia begitu takut aku pergi. Aku tak habis pikir. Yang ku tahu kami baru bertemu sekali.
Entahlah aku pusing memikirkannya. Mungkin besok ku tanyakan padanya saja saat dia bangun. Ku pejamkan mata ku agar cepat terlelap menyusul gadis cantik di pelukan ku.
>>>>>>>>>
Anna pov
"Ehmm.." Aku bangun dari tidur ku dengan kepala pusing. Tapi aku malas untuk membuka mata. Kurasakan guling ku bergerak naik turun teratur. Aku bingung. Sejak kapan guling bisa naik turun.
Karena penasaran aku membuka mataku. Dan......
"Aaaaaaaa..." Aku menjerit saat ku dapati bukan guling yang ku peluk melain kan seorang pria berparas bak dewa yunani.
"Hey.. Kenapa kau teriak". Ucap pria itu sambil mengucek matanya. Sungguh dia tampan sekali.
"Hey.. Kenapa melamun sekarang?tadi teriak teriak" ucap nya lagi.
"Emm.. Siapa kau?" Tanya ku kemudian mengamati wajah tampan nya. Seperti nya aku tak asing dengan wajah nya.
"Aku Aaron" jawab nya
"Aaron???" Cicit ku. Setelab sekian lama ku pandangi wajah nya sekarang aku ingat. Pria ini lah yang membuat ku gila beberapa hari ini.
"Ya. Lalu siapa kau?dari tadi malam kau memelukku erat sekali. Bahkan aku ingin mandi pun kau tak memperbolekannya" ucap nya sambil mendengus dan beranjak ke kamar mandi.
Aku masih duduk di atas kasur menunggu dia keluar. Setelah mengingat apa yang terjadi kemarin. Akhir nya aku ingat bagaimana aku bertemu dengan Aaron. Aku malu sekali sekarang. Apa yang harus ku lakukan saat dia keluar nanti.
'Ceklek
Aku menoleh ke asal suara. Aaron keluar dari kamar mandi dengan bathrobe yang sedikit terbuka di bagian dada. Ah aku menahan sesak di dada ku saat melihat nya.
"Hey.. Hati-hati air liurmu hampir menetes girl" ucap nya
"Apa??" Aku melongo mendengar ucapan nya.
"Mandilah. Dari kemarin kau tak mandi" suruh nya.
"Tapi aku tak membawa baju ganti" jawab ku.
"Baiklah" kemudian aku beranjak ke kamar mandi.
20 menit kemudian aku keluar dengan menggunakan bathrobe. Aku berjalan menuju walk in closet untuk mengambil salah satu kemeja Aaron. Entah kenapa pilihan ku jatuh pada kemeja berwarna navy milik Aaron.
Setelah memakai kemeja Aar tanpa bh tapi tetap memakai cd aku keluar dari kamar Aar. Ku turuni tangga yang menuju ke bawah.
Saat sampai di tangga terakhir tiba-tiba terdengar lengkingan suara
"Kemarilah. Sarapan dulu asisten ku sebentar lagi akam datang membawakan pakaian untuk mu" ucap Aar padaku.
"Apa tak ada orang lain yang tinggal disini Aar?" Tanya ku setelah mengamati sepinya penthouse ini.
"Tak ada. Hanya aku yang tinggal disini. Kadang ada tukang bersih-bersih datang 2 hari sekali. Memang kenapa?" Tanya nya.
"Tak apa hanya penasaran saja" jawab ku sambil mengoleskan selai coklat ke atas roti yang tadi ku ambil.
"Jadi. Siapa namamu? Dan apa yang terjadi padamu tadi malam?" Tanyanya.
"Kau bisa memanggil ku Anna. Dan sebenarnya aku tak apa hanya saja aku sedang dalam masalah yang tak ku tahu jalan keluar nya"
"Ohh begitu rupanya"
Kemudian kami makan dalam diam. Setelah 15 menit kami selesai sarapan. Saat kami berdiri dari tempat duduk.
"Morning sayang apa kau semalam tidur nyenyak?" Tiba-tiba datang seorang wanita yang suaranya melengking sedang memeluk Aar dari samping.
Entah kenapa aku tak suka melihat itu. Kulihat Aar tak melepaskan tangan wanita itu yang semakin membuat ku panas.
"Hmm ya" jawab Aar sedikit bergumam.
"Apa kau mau menemani ku jalan-jalan Aar" tanya wanita itu lagi.
Sungguh aku tak tau apa yang terjadi padaku tapi yang ku tau aku tak suka Aar bersama wanita lain.
"Tak bisa Aar akan pergi dengan ku" sergah ku cepat.
Aar dan wanita itu menoleh padaku. Sepertinya tadi wanita itu tak mengetahui keberadaan ku karena terlalu fokus pada Aar.
"Siapa kau?" Tanya wanita itu.
"Aku??" Tunjuk ku pada diriku sendiri kemudian wanita itu mengangguk. "Aku calon istri Aar. Memang kenapa?" Jawab ku asal.
"Hahahaha" dia tertawa menggelegar "Tak mungkin apa yang kau maksud dengan calon istri Aar?" Dia tersenyum geli.
"Apa yang lucu?kalau kau tak percaya maka tanyakan lah pada Aar sendiri apa yang ku katakan ini benar atau salah" jawab ku menantang. Entah aku dapat keberanian dari mana mengarang cerita seperti itu.
"Apa itu benar Aar?" Tanya wanita itu pada Aar.
"Ya. Itu benar" jawab Aar enteng yang membuat ku terkejut sekali. Kemudian di melepaskan tangan nya yang di peluk wanita itu dan menghampiriku.
Dia menarik pinggang ku dan memelukku kemudian mengecup bibirku.
"Dia memang calon istri ku. Undangan pernikahan kami akan segera jadi tunggulah sebentar lagi" ucap Aar yang semakin membuat ku bingung.
"Kau pasti bohong ! Tak mungkin ! INI SEMUA TAK MUNGKIIN AAR" teriak wanita itu.
"Hey Marie kenapa kau teriak-teriak seperti di hutan. Kau tau suaramu itu sampai terdengar ke luar penthouse" omel pria tampan yang tiba-tiba muncul di belakang kami.
"Diam kau Alan. Aku tak butuh komentar mu itu". Jawab wanita yang di panggil Marie oleh pria yang di panggil Alan.
"Kalau tak ingin ki beri komentar kau juga diam lah suara mu itu tak merdu sama sekali" jawab Alan sinis.
"Sudahlah itu tak penting. Sekarang ada yang lebih penting. Apa benar Aar akan menikah dengan ****** itu" tunjuk marie padaku.
Apa??aku tak salah dengar??dia menyebut ku ******??WTF??
"Hey berkacalah sebelum kau mengataiku ******" semburku.
"Ohh.. Kakak ipar" sapa Alan tiba-tiba pada ku.
"Ya hai" ku sapa balik Alan.
"APPAAA????KAKAK IPARR??APA MAKSUD SEMUA INI????"
---------