The Fucking Mafia

The Fucking Mafia
13


"Siapa dia aar?"


"Hanya mantan ****** peliharaan ku" ucap aar dingin.


Anna tahu aar sedang memendam emosi nya. Kemudian mereka menyalami tamu lagi.


'Dor dor


"Ahhkkk" anna menjerit saat lengan nya tiba-tiba terkena timah panas itu.


Semua orang tua langsung panik tapi tidak dengan para tamu pengantin. Jangan heran karena mereka semua tentu saja sama dengan aar. Mafia.


"Bunuh siapa saja pelakunya. Ku berikan satu perusahaan ku jika kalian bisa menangkap dalangnya !!" teriak aar lantang.


'Dor


"Aahhkkk" teriak anna lagi.


----------------------------------------------------------------------


Aar meremas rambutnya. Bisa-bisanya aar kecolongan padahal anna di sebelahnya. Begitu pikir aar.


Ya. Tadi saat resepsi anna tertembak dua kali. Satu di lengan kiri dan satu di perut.


Sekarang anna sedang di operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di perut anna.


Flashback


"Ahhkk" anna menjerit saat peluru itu bersarang di lengan kiri nya.


Aar langsung melihat istri nya. Darah sudah mengalir di lengan kiri istri nya.


Semua orang tua langsung panik tapi tidak dengan para tamu pengantin. Jangan heran karena mereka semua tentu saja sama dengan aar. Mafia.


"Bunuh siapa saja pelakunya. Ku berikan satu perusahaan ku jika kalian bisa menangkap dalangnya !!" teriak aar lantang. Begitu selesai berteriak terdengar satu tembakan lagi.


'Dor


"Aahhkkk" teriak anna lagi di belakang aar. Ternyata anna melindungi aar dari belakang. Timah panas itu mengenai perut anna.


"Jangan perbolehkan seorang pun keluar dari sini" teriak alan sudah di belakang aar.


"Bersihkan jalan untuk bos" ucap alan pada chip kecil penghubung dengan anak buahnya.


"Siap bos. Jalan sudah siap. Bos bisa membawa bos besar melewati lorong rahasia" terdengar sahutan dari seberang.


"Sebar anak buahmu jangan sampai ada tamu yang terluka"


Flashback end.


Saat ini semua tamu sedang baku tembak di gedung perayaan resepsi.


Di salah satu belakang pilar yang menyangga gedung itu ada 2 orang sedang berbincang tenang.


"Menarik juga ternyata pestanya" ucap seorang wanita.


"Nona mereka semua sudah pergi" ucap seorang pria pada wanita misterius itu.


"Bagaimana bisa?bukankah kalian sudah menembaknya?"


"Benar nona. Tapi mereka ternyata lebih pintar. Entah dari mana mereka keluar tapi mereka sudah tak berada disini"


"Ahh ya jangan lupa. Dia adalah Aaron Darrel Frederick. Tak mungkin dia tak bisa menghadapi hal sepele seperti ini. Kalau begitu aku akan pergi dan kau bereskan semua ini"


"Tak semudah itu nona. Bahkan para tamu tak ada yang panik atau berteriak. Mereka semua bahkan membawa senjata api yang jarang di miliki orang biasa"


"Apa maksudmu?!" Tanya wanita itu kaget.


"Para tamu itu bukan orang biasa nona. Hanya para orang tua yang panik. Itu pun tak histeris. Sedang mereka yang muda malah terlihat senang dengan serangan ini. Anak buahku yang masih hidup bahkan tak sampai separuh"


"Tapi bagaimana bisa?!"


"Anda harus waspada nona. Sepertinnya tuan aar bukan orang sembarangan. Saya akan membersihkan jalan untuk anda. Tapi anda harus cepat melarikan diri dari sini untuk keselamatan nyawa nona"


"Baiklah. Cepat tunjukkan jalan"


Setelah itu wanita dan pria itu pergi melalui lorong hotel menuju toilet. Sebelum sampai toilet terdapat lift. Wanita itu akan masuk lift sebelum seseorang datang menyapa nya.


"Hallo queen" sapa alan. Ya orang yang menyapa wanita misterius bernama queen adalah alan.


"H-hai al" balas queen gugup.


"Mau kemana kau?"


"Tentu saja pulang. Disini sangat berbahaya untukku"


"Benarkah" tanya alan kemudian menyeringai. "Bukankah kau yang mnciptakan suasana berbahaya ini. Apa kau tak ingin menikmatinya terlebih dahulu?"


"A-apa m-maksudmu?" Tanya queen semakin gugup.


"Jangan kau kira aku tak tau queen. Di gedung ini terdapat ccv tersembunyi juga penyadap suara tersembunyi di setiap sudut gedung" ucap alan tenang.


Tampak queen dan orang suruhannya terkejut sekali.


'Dor


Queen yang sangat terkejut jatuh terduduk di tempat nya.


"Jika kau tak bisa mendapatkan aar seharusnya kau cari pria lain. Kau pikir akan selamat setelah semua ini. Justru kau malah mengantarkan nyawamu dengan empuk pada aar" ejek alan terkekeh.


"A-apa maksud mu?" Queen bergetar mendengar penuturan alan.


"Kau pikir aar orang biasa? Dengan mudah memaafkan orang, melepaskan mangsa yang sengaja datang, membiarkan perusak pergi dengan tenang?. Hahhh kau salah queen. Kau hanya mengantarkan nyawa. Apa lagi kau berani menggores istrinya. Habis lah kau queen" alan menyeringai.


Queen hanya menunduk diam membisu di depan tombol lift.


Alan melihat queen sedikit bingung mungkin dengan ucapan nya.


Setelah beberapa saat alan sebal menunggu orang yang berubah seperti patung. Jadi aar memutuskan untuk membawa queen. Wanita ****** ini harus di pelajaran pikir alan.


Saat tengah berjalan menuju kamar alan menghubungi aar.


"Bos aku sudah menemukan nya ternyata dia queen salah satu mantan ****** mu"


"Apa?! ****** itu berani mengusikku. Dimana kau?!"


"Tenang bos. Aku akan bersenang-senang sedikit dengan nya. Boleh kan?"


"Hahh. Bisa-bisa nya kau seperti ini. Dia hampir membunuh istri ku. Kau tahu?!"


"Sekali ini saja aar. Ya?"


"Tapi kenapa harus dia?! Arghh kau kenapa bertingkah di saat seperti ini hah?!"


"Ku anggap kau menyetujui nya. Sampai nanti"


'Klik


Skip


Di tempat lain aar masih gusar menunggu ruang operasi pintu nya terbuka. Dia berjalan mondar mandir. Sudah 2 jam aar mondar mandir sedari tadi tidak mau duduk.


"Sebenarnya apa yang mereka lakukan membuat ku menunggu selama ini. Apa mereka mau aku menutup rumah sakit ini karena tak becus mengeluarkan peluru?" Tanya aar emosi.


Semua yang berada di sana hanya geleng kepala. Tak ada yang menangisi anna bahkan mommy anna sekalipun.


Sebagai orang nomor 2 di amerika dan memiliki putri semata wayang bukan hal baru lagi jika anna terluka.


Dulu saat anna masih sma dia pulang dengan kaki tertembak. Mommy anna melihat itu langsung menangis histeris. Anna tidak suka mommy nya menangis juga tidak suka jika dia di tangisi.


Tanpa bicara dia meninggalkan mommy nya yang sedang memangis dan masuk kamar kemudian menguncinya. Tak membiarkan siapapun masuk.


Mommy anna panik kemudian memghubungi daddy nya. Setelah daddy anna pulang barulah pintu kamar anna dibuka dengan kaki sudah di balut perban. Ternyata anna mengeluarkan peluru itu sendiri.


Tapi anna mengatakan akan mendiami orang tuanya selama satu minggu karena mommy nya telah menangisinya seperti orang lemah. Begitu kata anna.


Sejak saat itu mommy anna tidak pernah menumpahkan air matanya.


"Tenanglah nak. Anna adalah wanita kuat dia tak akan susah menangani luka sepele itu" tenang mommy pada aar.


"Kenapa mommy bilang begitu. Bahkan mommy tak panik sedikit pun. Aar saja sudah seperti di ambang kematian"


Mommy terkekeh "mommy panik hanya saja mommy tidak memperlihatkannya. Juga untuk pemberitahuan saja. Nanti kalau anna sudah bangun kamu jangan menunjukkan wajah panik atau sedih. Atau kamu akan tau sendiri akibatnya nak" senyum mommy jahil.


Papa dan juga daddy hanya menahan senyum melihat mommy menjahili aar. Sungguh tidak pernah berubah pikir mereka.


Saat aar masih heran dengan perkataan ibu mertua nya tiba-tiba dokter keluar.


"Bisa bicara dengan suami dari nona anna?"


Aar langsung menghampiri dokter.


"Ya saya suaminya dok. Bagaimana kondisi istri saya?"


"Istri anda baik-baik saja. Itu semua berkat kalian yang cepat membawa nya kemari. Terlambat sedikit saja mungkin mereka semua tidak akan bisa selamat"


"Apa maksud dokter?" Tanya mommy anna penasaran.


Semua orang heran. Sebab mereka hanya membawa anna saat kemari. Lalu siapa 'mereka' yang dokter itu maksud?.


"Apa kalian tidak tau?"


"Tau apa? Jangan bertele-tele dokter!" Sentak aar.


"Sabar nak. Kita dengarkan dokter bicara terlebih dahulu"


"Tolong dokter berbicara secara jelas. Kami masih di rundung perasaan khawatir jangan menambah beban kami dengan penasaran perkataan dokter" ucap papa aar menengahi.


"Jadi kalian benar-benar tidak tau. Sebenarnya operasi mengeluarkan peluru tidak akan selama ini jika tidak hambatan. Karena hanya dua peluru yang bersarang di badan nona anna. Hanya saja peluru yang berada di perut nona posisi nya sangat berbahaya. Karena posisi peluru dan janin nona anna sangat dekat. Salah sedikit saja akan berakibat fatal. Beruntung kami bisa mengeluarkan peluru itu tanpa melukai janin nona anna"


Semua orang terdiam mendengar penjelasan dokter.


"Maksud dokter anna hamil?" Tanya aar memastikan.


"Benar tuan. Dan seperti nya janin nona anna kembar"


"A-APA?!K-KEMBAR??!" teriak semua orang yang ada disana. Antara kaget,bahagia, dan terharu.


----------------------------------------------------------------------