
Aaron pov
Ah aku lelah sekali. Aku baru saja pulang dari moscow. Ada rapat penting disana mengenai proyek besar yang sedang ku kerjakan.
Hahh bahkan aku tak bisa istirahat sedikit pun karena aku baru saja mendarat dari moscow.
Aku tak bisa istirahat barang sejenak pun karena malam ini adalah malam spesial papa. Ya malam ini adalah malam ulang tahun papa.
Aku sedang menuju ke hotel milik keluarga ku. Frederick hotels. Itu nama hotel keluarga ku.
Begitu sampai aku langsung turun dari mobil di ikuti alan di belakang ku.
"Aar apa Anna tau kalau kau adalah calon suami nya?"
"Tidak. Aku tidak memberitahunya. Aku hanya bilang 2 hari yang lalu bahwa aku akan memberikan kejutan untuknya".
"Wah semoga dia tidak jantungan saat mendapat kejutan dari mu itu" ucap Alan sambil terkekeh.
"Ya. Aku juga sudah tak sabar melihat ekspresi terkejut nya. Itu sangat menggemaskan" tanpa sadar aku tersenyum.
"Ohhh apa aku bermimpi?. Aku baru saja melihat malaikat tampan Aar. Malaikat itu tersenyum" ucap Alan saat melihat ku tersenyum.
"Ya dan malaikat di depan mu ini adalah malaikat pencabut nyawa" ucap ku tersenyum miring pada Alan.
"Ya tentu saja pencabut nyawa. Aku baru ingat bahwa kau 4jam yang lalu menghabisi 5 nyawa dengan 1 peluru bersarang di jantung nya" sinis Alan.
"Apa kau mau mencobanya?. Berani sekali kau membicarakannya di tempat umum hah?"
"Oh ya itu papa sudah datang ayo kita beri dia ucapan terlebih dahulu Aar" ucapnya mengalihkan pembicaraan sambil merangkulku menuju tempat papa berdiri.
"Hallo Aar, Alan kalian sudah sampai rupanya" papa menghampiri kami kemudian memeluk kami.
"Ya kami baru saja mendarat pa"
"Kalau begitu duduklah dahulu sembari menunggu calon istrimu"
"Papa apa calon kakak ipar mau dengan manusia batu berhati es seperti kakak?" Tanya adikku yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
"Apa maksud mu? Aku bahkan sudah memasuki nya" ucap ku bangga.
"APAA???!!!" Ucap Alan, Sony dan papa.
"Apa kau gila Aar?" Papa bertanya padaku dengan sorot mata serius.
"Tentu saja. Memang sejak kapan Aar suka bercanda pa?" Jawab ku santai.
Dan tiba-tiba papa sudah di depan ku dengan tangan kanan terulur untuk menjewer telinga kanan ku.
"Aduhhhh. Pa malu di lihat orang. Duhh lepaskan pa" pinta ku.
"Tidak. Kau pantas mendapat kan nya. Sebenar nya papa akan menghantam wajah mu tapi karena kau akan bertunangan malam ini jadi papa hanya menjewermu. Seperti mama mu dulu sering menjewer mu" tiba-tiba papa melepaskan tangan nya dan wajah nya terlihat sedih.
Alan dan Sony yang tadi terkikik geli kini berhenti.
"Sudahlah pa jangan seperti ini mama tidak akan suka jika papa seperti ini biarkan mama bahagia di sana"
"Hahhh papa hanya merindukan mama mu Aar"
Tiba-tiba saat kami masih berharu-haru ria para tamu berbisik-bisik entah ada apa kenapa mereka tiba-tiba seperti itu.
Ku sapukan pandangan ku keseluruh ruangan. Dan kalian tau apa yang menjadi pusat perhatian?. Dia lah Anna !. Calon istri ku !. Kalian tau kenapa dia menjadi pusat perhatian?. Itu karena dia memakai gaun dengan belahan kaki yang sangat tinggi !!. Aku ingin sekali mencokel mata yang melihat nya.
"Wah gaun itu cocok sekali untuk Anna. Jenna memang memiliki selera bagus seperti mama mu". Jenna adalah pemilik butik langganan mama ku dan juga sahabat mama dan papa. Tante jenna juga dari dulu mencintai papa tapi papa tetap mencintai mama sampai saat ini.
Aku ingin marah pada papa tapi aku tak sampai hati. Dia terlihat sangat menyukai Anna. Haahh menyebalkan awas saja dia nanti akan ku beri dia hukuman. Berani-berani nya dia menjadi pusat perhatian umum. Padahal dia akan menikah dan bertunangan malam ini.
"Papa akan kesana dulu dan menyambut mereka" ucap ayah begitu keluarga 'calon mertua' ku datang.
------
"Hallo sayang" sapa papa kemudian memeluk 'calon' istri ku.
"Hai uncle" dan Anna balas memeluk nya !.
"Kenapa masih memanggil uncle sekarang seharusnya kamu sudah memanggilku dengan sebutan papa"
"Emm" Anna melirik kedua orang tua nya dan mereka mengangguk.
"Ba..baiklah. Pa..pa" ucap Anna terbata-bata canggung karena biasa memanggil uncle.
"Haha kenapa gugup sekali sayang. Sudah ayo ke depan aku sudah menyiapkan meja kalian di depan panggung"
"Ya ayo aku sudah capek berdiri dari tadi. Dan lagi kau hanya menyambut calon menantumu. Tapi tidak dengan calon besan mu" cibir 'calon' mertua ku.
"Hahaha apa kau sedang cemburu dengan menantu ku ini thomas. Setidak nya malulah pada istrimu thom" papa tertawa terbahak-bahak.
"Hentikanlah kalian sungguh tak punya malu jika sudah bertemu" ucap 'calon' ibu mertua ku menengahi.
Kemudian mereka berjalan menuju meja yang sudah di sediakan.
Aku duduk agak jauh dari mereka terhalang 3 meja. Itu membuat Anna tidak menyadari keberadaan ku.
Tiba-tiba Anna berdiri dan membuat ku penasaran. Mau kemana dia? Pikirku. Ternyata Anna menuju toilet ingin buang air kecil.
Kesempatan bagus pikirku. Aku akan memberikan dia pelajaran karena berani menjadi perhatian umum yang membuat ku cemburu?mungkin.
------------
Aku mengikuti Anna sampai ke toilet. Tapi sebelum masuk aku memastikan tak ada orang terlebih dahulu. Bisa gawat jika sampai ada yang melihat ku masuk toilet wanita.
Saat aku masuk aku melihat Anna sedang bercermin menata lagi tatanan rambutnya.
Mungkin dia berpikir setidak nya dia harus tampil cantik untuk calon suaminya. Hahaha padahal aku lah calon suami nya. Aku bahkan sudah melihat iler nya saat tidur wkwk. Aku tertawa dalam hati.
Saat dia sedang asik entah memikirkan apa aku lamgsung masuk dan mengunci pintu toilet dari dalam.
Dia terkejut sekali saat melihat aku masuk.
"Sedang apa kau disini?" Tanyanya.
"Menemui mu tentu saja"
"Cih. Untuk apa?. Kau bahkan membohongi ku. Kau bilang akan memberikan kejutan yang sangat aku sukai. Tapi dari kemarin aku tak mendapat ap...mmmpp"
Aku langsung mencium bibir nya. Ku lihat membelalakan matanya. Ku ***** terus bibir nya. Tapi kurasakan dia tak ada niat untuk membalas ciuman ku.
Tak lama kemudian aku melepaskan bibir nya.
"Diamlah atau kau mau aku memasuki mu disini saat ini hm?" Tanya ku sambil mengelus pipi nya.
Dia hanya diam saja.
"Dan berani nya kau memamerkan kaki mu ini huh?"
"Memang kenapa? Apa salah nya?"
"Kau bilang apa salah nya? Ini salah nya" kuarah kan tangan ku menyusup di belahan gaun nya.
"Ahhh.. Apa yang kau lakukan Aar?" Tanya nya setengah mendesah.
Dia terkejut sekali dengan apa yang ku lakukan pada nya.
"Ohhh lepaskan Aar"
"Benarkan lipstick mu itu dan keluar lah kejutan mu sudah menunggu" kemudian aku mengecup bibir nya dan keluar.
Aku keluar dari toilet untuk acara selanjutnya. Aku keluar begitu saja karena aku tau aku tak akan bertahan jika masih di dalam toilet dengan Anna dengan gairah memuncak.
Saat aku keluar papa sudah berada di atas panggung dan memperkenalkan ku. Padahal tanpa dia perkenalkan mereka semua tentu saja sudah mengenal ku.
"Malam ini adalah malam yang sangat membahagiakan bagi keluarga ku serta keluarga 'calon' besan ku" papa menekan kan kata 'calon besan' pada kalimat nya.
Semua orang berbisik keluarga manakah yang beruntung berbesan dengan keluarga frederick.
Kemudian aku berdiri dari tempat duduk ku. Tersenyum sedikit dan menundukkan kepala sebentar.
"Ini dia calon menatuku. Malam ini anak sulungku Aaron Darrel Frederick akan bertunangan dengan Anna Cassey Franklin" suara riuh tepuk tangan menggema di seluruh ballrom.
Sepertinya dia shock mendengar kata sambutan dari papa.
Diam diam aku berjalan menuju tempat nya berdiri. Ekspresi nya sunggu menggemaskan sekali.
Saat dia masih asik melamun aku berbisik di telinga nya.
"Apa yang kau fikirkan sayang?. Ayo naik ke atas panggung para tamu sudah menunggu kita"
Dia menoleh ke arah ku dengan terkejut.
"Kauu-------"
'Cup
Ku kecup bibir nya. Membuat nya semakin mematung. Ahaha sungguh aku gemas sekali padanya.
"Simpan dulu keterkejutan mu. Nanti aku akan jelaskan setelah acara ini selesai sayang"
Dia tak menjawab hanya diam saja tapi mengikuti langkah ku menuju panggung.
Kami melakukan tukar cincin dan lain sebagainya.
Acara selesai 3 jam kemudian. Saat ini hanya ada keluarga ku dan keluarga Anna.
Kami sedang membicarakan acara peenikahan yang akan di adakan 1 minggu lagi.
"Ayo sayang. Kita keluar" ajak ku pada Anna.
"Kita akan kemana?"
"Ke kamar mungkin?"
"Bisakah kau buang pikiran kotor mu itu?"
"Baiklah. Kita hanya akan ke taman sayang"
"Aar aku teringat sesuatu. Boleh kah ku tanyakan?"
"Ya tentu saja"
"Kenapa wajah mu datar sekali tersenyum pun kau terlihat kejam dan kau juga sangat dingin walaupun melakukan hal romantis?"
"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Tidak apa-apa. Hanya saja aku merasa sedikit takut sejak kemarin tapi aku tahan. Sekarang karena aku calon istrimu maka dari itu aku berani bertanya padamu. Apa kau marah padaku?"
"Tidak. Aku tidak akan marah karena hal sepele seperti itu. Dan juga kau harus terbiasa dengan sifat ku yang seperti ini. Sejak kecil aku memang sudah seperti ini. Bahkan papa dan mama pun heran aku ini meniru sifat siapa" jawab ku kemudian memeluk nya.
"Aku akan menerima semua yang ada padamu Aar" kemudian di membalas pelukan ku.
Skip
Hari ini hari libur ku. Aku ingin bersantai bersama Anna maka dari itu aku menyuruh Alan untuk menjemput Anna dan mengantar nye ke penthouse ku.
1 jam setelah aku menyuruh Alan kemudian Anna sampai. Aku di ruang tv saat Anna sampai.
"Hey sayang sudah sampai ternyata" sapa ku saat Anna berdiri di depan ku.
Kutarik dia agar duduk di pangkuan ku.
'Cup
Ku kecup bibir nya dia hanya menggeleng kan kepala.
"Dasar mesum" ucap nya sambil mendorong wajah ku.
"Kenapa? Aku hanya mesum dengan calon istri ku"
Saat aku sedang berdua dengan Anna tiba-tina terdengar bunyi bel penthouse ku.
"Apa kau memiliki janji atau tamu yang akan berkunjung Aar?" Tanya Anna sambil menyisir rambut ku dengan jari jari tangan nya.
"Tidak ada. Jika aku memiliki janji aku tak akan menyuruh Alan menjemput mu"
"Lalu siapa?sebaik nya aku lihat dulu"
"Tidak. Kita lihat bersama" kemudian ku rengkuh dia dari samping dan berjalan beriringan.
Saat ku buka pintu ternyata ada petugas pengirim paket. Aku mengernyit heran.
Kemudian ku tanda tangan di bukti nya. Aku masuk kembali bersama Anna.
Saat di buka tenyata lembaran foto. Aku terkejut saat melihat foto itu.
Ternyata itu foto saat aku di ranjang bersama Marie. Kemudian ku lirik Anna. Kulihat dia biasa saja.
"Siapa yang mengirim foto ini Aar. Dan apa maksud nya?. Apa ****** itu berpikir setelah melihat nya aku akan melepaskan mu? Jangan bermimpi" ucap Anna menyeringai.
"Aku kurang tau sayang. Apa kau tak cemburu?"
"Aku? Cemburu? Bahkan walau aku melihat mu bersetubuh dengan nya langsung aku tak akan cemburu sama sekali"
"Kenapa begitu? Apa kau rela milikmu di bagi dengan orang lain?" Tanya ku geram
"Kenapa tak rela? Jika memang kau milik ku kau takkan mau dengan nya. Dan jika memang itu terjadi aku hanya perlu mebalas nya dengan pria lain. Apa susah nya?" Jawab Anna enteng tanpa mempedulikan ku yang sudah terbakar emosi.
Ku angkat tubuh nya seperti mengangkat karung beras. Dia berteriak.
"Aaahhkk...Aar apa yang kau lakukan?"
"Menghukum mu. Berani nya kau berpikir bersetubuh dengan pria lain saat aku berada di depan mu"
"Aku hanya berkata seandainya Aar"
"Aku tak peduli Anna. Kau harus ku ikat di gudang"
"A..a..apa?? Di ikat?? Di gudang??"
Kuluhat wajahnya pucat pasi. Rasakan apa yang akan ku lakukan padamu wahai 'calon istriku' ucap ku dalam hati kemudian menyeringai kejam.
---------------------------++++++++++------------------------