
Anna pov
Saat ini aku berada di kamar yang ada di jet pribadi aar. Aku masih memikirkan racun yang ada di jus ku tadi.
Aku tau racun itu. Tapi siapa yang ingin menyingkirkan ku.
Tiba-tiba pintu terbuka dari luar.
"Hey ada apa?itu sudah di urus alan kau tak perlu memikirkan nya"
"Tapi kenapa dia ingin meracuniku aar?" aku berdiri dan memeluk alan yang berdiri di depan ku.
"Aku juga tidak tau. Tapi kami menemukan chip kecil di kantong bajunya"
"Chip?"
"Ya ini chip nya" aar mengeluarkan benda kecil dari saku celana nya.
"Bagaimana bisa dia punya chip ini?"
"Memang kenapa?kau tau chip ini?"
"Ya tentu saja aku tau. Aku yang menciptakan chip ini untuk organisasi teman ku. Ini hanya di miliki oleh anggota organisasi itu"
"Organisasi apa maksud mu?"
"Kau tau teman ku yang nanti kita akan bertemu kan?dia lah pemimpin organisasi itu. Dia salah satu pemimpin mafia. Tapi dia menutupi nya dengan mendirikan organisasi perkumpulan"
"Apa?kenapa kau ikut terlibat dengan mereka?apa kau tidak sadar kau sedang bunuh diri?"
"Hey kenapa kau marah-marah? Aku sudah lama berkecimpung di dunia itu"
"Kenapa kamu harus tau dunia hitam itu?" aar mengacak rambut nya frustasi.
Tiba-tiba dia keluar dan membanting pintu dengar keras.
"Apa salah ku?. Hahh aku lelah sekali lebih baik aku istirahat dulu baru nanti bicara lagi dengan aar"
Ku baringkan badan ku di ranjang. Tak butuh waktu lama untuk ku masuk ke alam mimpi.
----------------------------------------------------------------------
Aar pov
Saat ini suasana hati ku sangat buruk. Aku begitu heran apa yang ada di dalam otak wanitaku. Sampai dia berani terjun ke dunia hitam itu.
Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Lebih baik aku menemui alan dulu di ruang tv.
"Hai bos. Bagaimana kakak ipar?ap dia baik-baik saja?"
"Hmm" aku hanya bergumam. Kemudian aku duduk di sebelah alan.
"Ada apa bos?wajah mu kelihatan sedikit panik?"
"Apa begitu kentara?"
"Tentu saja tidak. Aku bisa tau karena aku sudah dari dulu ikut dengan mu. Sekarang sebagai seorang adik aku akan mendengar kan cerita mu. Apa yang ada di pikiran mu?"
"Hmm kau memang yang terbaik" ku tepuk pelan pundak alan. "Sebenarnya aku sedang memikirkan tentang anna. Tadi anna bilang jika dia tau chip itu bahkan anna lah yang membuat chip itu untuk salah seorang pemimpin mafia dan para anggota nya. Aku tak habis pikir apa yang ada di dalam otak nya dulu saat memutuskan terjun kedunia hitam itu"
"Apa?! Jadi kakak ipar termasuk dalam organisasi itu?!"
"Ya. Tidak mungkin jika dia bukan anggota nya dia mau membuat chip itu untuk mereka semua"
"Lalu apa yang akan kita lakukan? Bagaimana bisa ini terjadi?"
"Itulah yang dari tadi membuat ku cemas. Bagaimana jika organisasi yang anna maksud adalah 'mereka' ?"
"Siapa 'mereka' yang kau maksud bos?"
"Siapa lagi jika bukan romy al. Kau kenapa tiba-tiba jadi bodoh seperti ini?"
'Tak
ku getok kepala alan dengan remot tv di sebelah ku.
"Siapa romy aar?"
Tiba-tiba anna datang. Apa yang harus ku lakukan padanya?
"Bukan siapa-siapa" jawab ku dingin kemudian meninggalkan nya dengan alan di ruang tv.
Aku masuk ke dalam kamar yang ada di jet. Berbeda dengan kamar yang di pakai anna tadi.
Ku baringkan tubuh ku. Baru saja aku memejamkan mata terdengar pilot memberi aba-aba jika jet akan mendarat.
Skip
Saat ini kami ada di dalam mobil. Aku mendiamkan anna sedari tadi.
Dia bergelayut di lengan kiri ku. Menyenderkan kepala nya di pundak ku.
"Aar aku mengantuk" adunya padaku.
Aku hanya diam tak menanggapi. Kulihat alan melirik padaku. Aku hanya menatap nya sekilas. Kemudian memainkan ponsel ku.
Tiba-tiba ponsel ku berbunyi pertanda panggilan masuk.
"Ya. Ada apa?"
"Baiklah tunggu aku 30 menit lagi"
Ku putus panggilan itu sepihak.
"Siapa?" tanya anna dengan nata terpejam.
"Bukan urusan mu. Berhenti di depan"
Saat mobil berhenti aku menarik lengan kiri ku yang sedari tadi di gelayuti oleh anna kemudian keluar dan menutup pintu mobil dengan keras.
Tak ku pedulikan teriakan anna dari dalam mobil.
Aku menelpon anak buahku untuk menjemputku. Tak sampai 15 menit anak buah ku tiba.
Begitu aku masuk anak buah ku langsung bertanya.
"Apakah kita akan mampir dahulu ke hotel atau langsung bertemu dengan nona carol bos?"
"Langsung temui ****** itu. Aku sudah muak dengan segala gangguan nya"
"Baik bos"
Kami langsung menuju salah satu restoran tempat janjian ku dengan carol.
Carol adalah mantan calon tunangan ku. Dulu saat dia masih pacar ku dan saat kami memutuskan akan bertunangan tiba-tiba dia pergi meninggalkan ku untuk pria lain.
Dan sekarang dia selalu mengusik ku. Akan ku bereskan dia malam ini. Aku sungguh terlalu baik akhir-akhir ini.
Tak butuh waktu lama. Akhirnya kami sampai.
Aku langsung menuju ke ruang vvip yang ada di sana. Begitu aku masuk carol langsung menyambutku.
"Kau sudah datang? Ku menunggumu dari tadi. Kenapa lama sekali? Ayo duduk kau pasti capek"
"Kenapa buru-buru sekali? Kau tak ingin makan dulu?"
"Tak perlu basa-basi. Katakan apa maumu?"
"Hahh. Kau selalu tak sabaran aar. Sebenar nya beberapa waktu lalu aku mendengar bahwa kau bertunangan. Apa itu benar?"
"Ya. Lalu apa masalah nya?"
"Kau bertanya apa masalah nya?. Masalah nya adalah siapa wanita yang berani mengambil posisiku?"
"Posisimu? Hei mengacalah! Apa kau tak mau berbicara seperti itu setelah semua yang kau lakukan padaku? Apa priamu kehabisan uang sehingga kau mengemis lagi padaku?" aku berdiri dan menggebrak meja.
"Aar maaf kan aku. Aku dulu di jebak aar" carol berdiri dan memelukku dari samping.
"Dijebak??hahh kebohongan apa lagi yang kau katakan? Apa kau kira aku akan percaya? Jangan harap"
"Aar tolong maafkan aku dan ayo kita kembali lagi seperti dulu"
"Lepaskan tangan mu dari tubuh calon suami ku ******"
'Deg
Suara itu. Aku menengok ke arah suara. Anna apa yang dilakukan nya disini. Awas saja kau alan akan ku beri kau pelajaran nanti.
"Hei ******. Apa kau tak dengar yang ku katakan?" tanya anna lalu mendekat ke arah kami.
"Siapa dia aar?" tanya carol tanpa melepaskan pelukan nya padaku.
"Apa kau tuli? Bukankah aku sudah bilang jika aar adalah calon suami ku?"
"Hehh jangan bermimpi. Aar adalah calon suami ku. Kau jangan mengada-ada"
"Kau yang bermimpi. Lepaskan tangan busukmu itu sekarang atau aku yang harus melepas tangan mu dari tubuhmu?"
"Coba saja jika kau berani aku akan membunuh mu"
Aku hanya membiarkan mereka. Aku ingin lihat apa yang akan dilakukan anna pada carol.
"Kau menantangku ******? Baiklah jika itu maumu"
Anna maju dengan gerakan cepat dia menjambak rambut sebahu milik carol.
"Ahhkkk apa yang kau lakukan ******?" teriak carol.
"Bukankah tadi aku sudah berbaik hati memintamu melepaskan pelukan mu. Tapi kau malah meminta bantuan ku. Rasakan ini"
Anna menampar pipi carol kanan kiri. Kemudian dia melempar carol ke lantai.
"Kau ingin pergi sekarang atau mau membalas menjambak dan menamparku ******?" tantang anna pada carol.
Aku sedikit terkejut anna yang lembut saat bersama ku bisa seberingas singa betina.
Aku melihat mereka tanpa ada niat melerai.
Kulihat carol sudah berdiri di depan anna. Dia mengangkat tangan kanan nya berniat menampar anna.
'Plak
Tapi anna mendahului menampar carol.
"Pergilah sebelum aku membunuh mu"
"Hahh sombong sekali kau"
"Jangan banyak bicara. Pergilah selagi aku masih berbaik hati"
Kulihat anna menaikkan dress nya sampai ke paha. Apa yang dilakukan anna? Apa dia berniat menggodaku?
Tiba-tiba pikiran ngawurku hilang saat aku melihat pisau yang anna selipkan di paha kanan nya.
Kuperhatikan seperti nya aku mengenal pisau itu. Itu seperti pisau ku.
Pisauku? Aku terkejut saat menyadarinya.
Aku berdiri menghampiri anna
"Anna buang pisau itu" bisikku di telinga nya.
"Lepaskan tangan mu" jawab anna dingin. Dia melirikku seperti berkata 'tunggulah giliranmu'. Aku menelan ludah.
"Apa kalian berniat pamer kemesraan di depan ku?" tanya carol.
Ohh sungguh kesalahan mu sendiri carol jika kau mati hari ini. Anna melepaskan pelukan ku.
Dia melangkah ke arah carol yang berdiri menantang. Tanpa aba-aba anna menendang perut carol dengan kaki kanan nya.
"Anna.." aku berteriak memanggil nama anna.
Tapi anna tak mempedulikan nya. Anna berjongkok di depan wajah carol yang sedari tadi menguji kesabaran anna.
Anna mencengkeram rahang carol. Anna mendekatkan pisau di tangan nya ke pipi carol.
"A-apa yang akan kau lakukan?" tanya carol mulai gemetaran.
"Kau ingin aku bagaimana? Mengulitimu dulu atau langsung membunuhmu? Sejujur nya aku lebih suka mengulitimu agar aku hisa dengar jeritan kesakitan mu"
Aku terkejut mendengar jeritan carol saat anna menggoreskan pisau itu ke pipi kiri carol. Aku tak habis pikir dengan anna.
"Sayang lepaskan dia. Ayo kita kembali ke hotel" bujukku.
"Kau berani membela dia di depan ku"
"Ahhhkkk" jerit carol saat anna menggores kembali pipi kanan carol.
"Baiklah aku cukup berbaik hati malam ini aku kan melepaskan mu. Tapi kalau kau berani menantangku lagi aku tidak akan segan-segan membunuhmu dengan sekali tembakan di kepalamu"
"Alan bereskan dia bawa dia ke rumah sakit dan jangan sampai berita ini tercium oleh pihak luar"
"Baik bos. Kau bisa menyerahkan segalanya padaku"
"Hmm cepat bereskan jangan ada jejak apapun"
"Diamlah dan ikuti aku aar. Kau terlalu banyak memberi perintah" anna menyahut dengan dingin tanpa melihat ku. Kulihat dia sedang menyeka pisau yang ternoda darah carol.
"Apa kau akan berdiri terus disana seperti orang bodoh?" tanya anna dengan suara semakin dingin.
Kurasakan ada yang menepuk pundak ku saat ku tengok ternyata alan.
"Ikutlah bos. Jika kau tidak ingin anak buah mu habis di tangan kakak ipar. Tadi saat kami tak ada yang memberi tau keberadaan mu kakak ipar sudah membunuh 5orang dengan lubang di kepala mereka" bisik alan.
"A-apa?kau bercanda kan?"
"Tidak bos bahkan supir yang menjemput kita tadi dan supir yang mengantarmu kesini sudah mati"
"Diam dan urus saja ****** itu alan. Jangan ikut campur dan kau aar apa kau tuli? Apa kau perlu memotong telingamu atau kaki mu agar kau tak bisa kemana-mana lagi? Cepat pergi dari sini atau aku akan membunuh semua anak buahmu"
'Glek
Aku dan alan menelan ludah.
----------------------------------------------------------------------