
"jangan lupa rajin meminum obat anda jika anda tidak sabar untuk pulang kerumah nona"
"siap dokter. Lalu dokter berapa usia kandungan ku sekarang?"
"saya perkirakan masuk minggu ke empat nona. Untuk detailnya sebaiknya nona periksakan di dokter kandungan"
"baiklah dokter terimakasih"
"sama-sama nona. Saya undur diri semuanya"
Semua orang mengangguk menanggapi pamitan dokter.
----------------------------------------------------------------------
3 hari kemudian.
"Sayang makan dulu makan siang mu"
"Tidak mau"
"Katamu ingin pulang. Kalau makan siang mu tidak kau makan kita tidak akan pulang. Titik"
"Kenapa begitu?"
"Sayang ingat kau sedang mengandung. Ingatlah si kembar jangan seperti ini. Kasian mereka"
"Tapi aku tidak mau makan itu. Aku mau makan pizza" ucap anna cemberut.
"Baiklah. Kita akan membeli nya nanti saat perjalanan. Kamu ingin pulang kemana? Ke penthouse rumah mommy atau rumah papa?"
"Ke penthouse saja. Aku tidak mau kerumah mereka. Mereka cerewet aku tidak boleh ini tidak boleh itu tidak boleh ini dan itu. Aku bosan sangat bosan" gerutu anna.
Aar hanya terkekeh. Memang sejak anna hamil semua orang sangat cerewet padanya. Hanya sony yang selalu mendukung dan membela anna.
Entah apa yang terjadi pada adik ku itu. Mencurigakan. Pikir aar.
Ketika sedang sibuk mempersiapkan kepulangan anna. Tiba-tiba sony datang.
"Kakak ipar!" Panggil sony riang.
"Hai sony. Kamu datang?"
"Iya dong. Aku tidak boleh melewatkan satu hari tanpa kakak ipar" ucap sony bangga.
Aar sudah mulai emosi mendengar ucapan sony.
"Kenapa kau kemari? Dan mana papa?"
"Papa sudah terbang ke hongkong tadi pagi"
Saat akan menjawab perkataan sony handphone aar berdering.
"Halo ada apa alan?"
"Bos pelakunya sudah di temukan. Psikopat itu sekarang bersamaku. Apa kau bisa kemari sekarang?. Dia bilang dia hanya akan bicara padamu. Juga dia ingin memberitahukan informasi katanya"
"Baiklah. Aku akan segera kesana setelah mengantar anna pulang"
Klik.
Sambungan terputus.
"Kenapa alan meneleponmu? Dan mau kemana kau?"
"Aku akan ke markas. Orang yang membuat keributan beberapa hari yang lalu sudah ketemu"
"Aku ikut" ucap anna bersemangat.
"Tapi kamu harus istirahat anna"
"Tidak mau tau sudah kubilang aku akan ikut bersamamu kemanapun"
"Tapi disana berbahaya anna. Jangan membuat ulah. Ingat kandungan mu"
"Sudahlah kak. Biarkan kakak ipar ikut. Kakak ini kenapa" sela sony.
"Sony kenapa kamu ikut campur?"
"Apa jangan-jangan kau menyembunyikan ****** di sana?" Tanya anna curiga.
"Pemikiran apa lagi itu?" Tanya aar frustasi karena dua orang di hadapan nya itu.
Saat masih berdebat dengan dua orang di depan nya terdengar bunyi dering handphone aar lagi.
"Ada apa lagi alan?!" Bentak aar.
"Bos ada masalah besar. Kapal yang seharusnya menyelundupkan senjata daro eropa terbakar di tengah laut"
"A-APA?!"
"Benar bos. Cepatlah kemari. Ada sesuatu yang tidak beres"
"Baiklah. Tunggu aku dalam 30 menit"
Tut
"Ayo" suara aar datar dan dingin.
Anna dan sonny bergidik setelah mendengar nada bicara aar.
Aar berjalan keluar tanpa mempedulikan anna dan sonny. Aar yang mula nya membawa tas berisi baju anna kini beralih tangan ke anak buah yang menjaga di depan ruangan anna.
"Mobil sudah di bawah bos"
"Hm. Katakan pada supir kita akan ke markas a1"
"Baik bos"
Setelah itu aar anna dan sonny masuk ke dalam lift.
Anna ingin bicara pada aar tapi tidak berani. Wajah aar terlihat sangat mengerikan ketika marah.
Anna berjanji tidak akan membuat aar marah. Sebenarnya anna ingin membatalkan ikutbke markas tapi dia tidak berani menatap aar.
"Emm.. A-ar a-aku" anna tergagap.
"Ada apa?" Tanya aar dengan wajah datar dan dingin.
Sungguh anna takut dengam ekspresi yang di tunjukkan aar.
"J-jangan s-seperti i-itu. K-kau membuatku t-takut" ucap anna menunduk dan memegang ujung baju aar.
Aar menoleh. Ingin melihat wajah anna tapi anna memunduk dalam.
Aar menghela nafas kasar.
"Sudahlah jangan takut" ucap aar kemudian memeluk anna.
Anna membalas pelukan aar. Kemudian mereka keluar dari lift dan lamgsung memasuki mobel yang sudah menunggu mereka. Sonny duduk di depan. Anna dan aar duduk di belakang.
"Kemarkas a1"
"Baik bos"
"Nanti saat di markas kau harus menjaga anna. Awas kau jika anna kenapa kenapa" ancam aar pada sonny.
"Iya-iya jangan menatap ku seperti itu. Kau seperti lucifer dari neraka. Kau tau itu kak" ucap sonny.
"Berani kau mengataiku awas saja kau nanti akan ku cincang dan akan ku berikan dagingmu itu untuk makanan anjing di markas"
Anna hanya menggeleng kepala. Kenapa mereka tidak pernah akur. Kemarin saat anna masih di rumah sakit aar dan sonny selalu berdebat jika bersama. Entah apa yang ada di pikiran mereka.
Bagaimana aar tidak luluh jika anna menggunakan jurus itu.
"Baiklah-baiklah kau menang" ucap aar menghela nafas.
"Terimakasih kakak ipar. Kau memang yang terbaik"
"Tapi ini tidak gratis sonny"
"Kakak ipar mau apa? Bilang saja akan ku cari kan"
"Nanti saja jika kita sudah pulang. Kau hatus menuruti perkataan ku"
"Siap bos"
Setelah itu mereka diam dalam sisa perjalanan.
Skip.
Mereka tiba di toko roti pinggiran kota.
Sonny dan anna bingung. Bukan kah mereka akan ke markas? Tanya mereka dalam hati. Lalu apa yang akan dilakukan aar disini.
Apa aar akan membelikan roti anak buahnya?. Anna dan sonny saling melempar pandangan.
Saat mereka asik melempar pandangan. Aar sudah turun dari mobil.
"Ayo turun. Seberapa lama lagi kalian akan duduk dan memasang tampang bodoh itu?"
Anna dan sonny kemudian terasadar. Mereka turun dari mobil.
"Apa yang akan kita lakukan disini kak?" Tanya sonny.
"Tentu saja membeli roti. Kau ini bodoh sekali son" jawab anna cepat.
"Tapi tadi kakak bilang akan ke markas. Tidak mungkin kan kakak akan membelikan anak buah nya roti??"
"Sudahlah ayo masuk. Jangan berisik di depan toko"
Kemudian mereka masuk. Begitu masuk semua karyawan menyambut mereka.
"Selamat datang tuan"
"Ya. Kebetulan kalian lengkap dan tidak ada yang libur. Perkenalkan dia anna istri ku dan dia adikku sonny"
"Salam kenal nyonya dan tuan muda"
"Iya" jawab anna dan sonny serempak.
Anna mengalihkan pandangan keseluruh ruangan. Dia mengamati roti yang ada di lemari di sisi ruangan.

Anna merasa air liur nya akan menetes saat melihat roti yang di pajang itu.
Anna mencengkeram lengan kiri aar.
"Emm aar"
"Ya. ada apa?"
"Emm apa kau mau membelikan roti itu?"
Ucap anna menunjuk roti yang dia inginkan.

"Ambilah yang mana pun" ucap aar.
"Benarkah?"
"Ya. Biar mereka ambilkan. Sebelum itu kita harus turum dulu. Aku akan melihat siapa biang kerok yang membuat kekacauan di markas itu"
"Turun kemana?" Tanya anna bingung. Aar menuntun anna ke sisi rak berisi roti.
Jika kalian ingin tau sonny sedang apa. Jawaban nya dia sedang menggoda karyawan kakak nya. Tebar pesona dan rayuan gombal receh.
"Sonny kau kemari atau harus ku suruh mereka menyeretmu kemari?"
"Iya-iya aku kesana"
Sonny menghampiri kakak nya yang berada di sisi lemari roti.
Setelah itu aar menaruh telapak tangan nya disisi tembok dan lemari itu bergeser.
Anna dan aar hanya melongo. Ternyat di belakang lemari itu ada dua lift. Satu lift berwarna hitam dan merah.
"Kita naik yang merah saja kak" ucap sonny semangat dan memencet tombol lift. Tapi sedetik kumudian sonny berteriak kesakitan.
"Aaaaaarrrrgghhhhh" teriak sonny keras.
Plak
Aar memukul kepala sonny dari belakang.
"Kenapa kau ceroboh sekali. Lift ini memiliki sensor yang akan mendeteksi tuan nya. Yang hitam khusus anak buah dan yang merah khusus untukku. Aku belum memasukkan sensor detak jantung dan sidik jari mu jadi kau akan tersetrum dengan listrik tegangan tinggi. Kau ini bodoh sekali" ucap aar panjang lebar memarahi sonny.
Sonny hanya menunduk di marahi aar.
"Kemari" ucap aar.
Anna dan sonny mendekat. Aar menekan tombol merah berada disisi tombol lift. Kemudian muncul layar kecil aar memasukkan kode entah apa kode nya.
Setelah itu keluar tiruan tangan menggantikan layar kecil tadi. Anna dan sonny terkejut.
"Tempatkan telapak tangan itu tepat di jantung kalian agar dia menyimpan detak jantung kalian"
Setelah itu anna dan sonny melakukan apa yang aar suruh.
Setelah selesai aar menekan tombol lift. Lift terbuka dan mereka masuk.
Skip
Sekarang anna aar dan sonny sudah berada di ruang bawah tanah.
Sungguh anna dan sonny nyaris jantungan melihat kondisi ruangan itu. Darah dimana-mana. Seperti habis terkena banjir darah atau malah sunami?.
Alan muncul dari sisi ruangan yang lain.
"Bos kau sudah sampai"
"Dimana dia?"
"Di ruang eksekusi bos"
Aar berjalan menuju ruang eksekusi dengan menggandeng anna dan di ikuti alan dan sonny.
Begitu sampai di depan ruang eksekusi aar menekan tombol sensor jantung. Dan pintu terbuka menampakkan seorang pria yang tinggi nya hampir sama dengan aar tapi masih tinggi aar.
Perawakan tinggi gagah itu tidak terlihat wajah nya. Karena posisi nya membelakangi mereka.
"Tunjukkan wajah mu" ucap aar.
"K-KAU?" teriak aar kaget
Berbeda dengan aar yang berteriak kaget anna malah mengagumi sosok tampan di depan nya itu.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------