
Saat ini aar dan anna sedang duduk berhadapan di ruang tamu kamar hotel mereka.
Anna duduk dengan posisi tegak dan melipat tangan di depan dada menatap aar tajam. Sedangkan aar duduk di depan anna dengan santai yang di buat-buat dan di tutupi wajah datar nya.
"Sekarang kau ingin menjelaskan terlebih dahulu atau ingin ku hajar terlebih dahulu?"
Tanya anna sinis menatap tajam ke manik hitam aar.
"Sayang dia hanya mantan pacar ku. Aku tidak ada apa-apa dengan nya. Sungguh" jelas aar.
Tapi sepertinya itu kurang bagi anna.
"Lalu apa tujuan kalian bertemu tanpa ada nya aku?"
"Itu karena aku sedang marah padamu. Sebenarnya dari awal aku ingin mengajakmu tapi kau membuat ku marah terlebih dahulu jadi aku membatalkan niat ku"
"Coba jelaskan sebab kau marah padaku?"
"Sebab nya karena kau masuk ke dalam dunia hitam itu anna"
"Memang nya kenapa? Apa masalah nya?"
"Kau akan menyesal jika mengetahui semuanya sayang. Sebelum terlambat keluarlah dari organisasi itu. Kumohon. Setelah itu aku akan menjelaskan semuanya"
"Tidak bisa. Apa hakmu seenaknya meminta ku keluar dari organisasi itu?"
"Kau bertanya apa hak ku? Apa kau lupa bahwa aku calon suami mu? Apa aku lerlu mengingatkan lagi? Lihatlah cincin di jari manismu itu bukti hak ku padamu"
"Kau baru calon suami ku aar belum menjadi suami ku" anna menjawab denngan enteng tak memikirkan ulang perkataan nya.
"Apa maksud mu kau tak menghargai aku sebagai calon suami mu? Apa karna kita di jodohkan? Jadi kau tak mau menghargai aku? Jawab anna ! " aar emosi dengan penuturan anna.
"Bukan itu maksud ku aar. Aku--"
Ucapan anna terpotong saat suara dingin aar terdengar.
"Diamlah. Apa gunanya aku bicara padamu jika kau tak menghargaiku? Sekarang terserah padamu apapun yang akan kau lakukan aku tak akan mencampuri urusan mu dan juga sebaiknya kita batalkan saja pernikahan kita--" aar berdiri berniat meninggalkan ruang tamu.
Tapi anna menarik tangan kanan aar.
"Tidak. Aku tidak akan membiarkan mu mebatalkan pernikahan kita. Kenapa kau jadi seperti ini aar. Ini hanya masalah sepele" ucap anna kemudian memeluk aar.
"Bukan. Ini bukan masalah sepele jika kau tau semuanya. Jika kau tak ingin membatalkan pernikahan ini hanya ada satu cara" aar menggantung kalimat nya.
"Apa?aku akan melakukan nya asal kau tidak membatalkan pernikahan kita" bujuk anna.
"Keluar dari organisasi itu dan kita akan menikah atau kau tetap di sana dan kita batal menikah. Hanya itu pilihan mu. Aku tidak akan memberimu kesempatan kedua. Ini yang pertama dan terakhir. Waktumu hanya sampai besok pagi" tegas aar kemudian melepaskan pelukan anna dan keluar dari kamar hotel.
Sedangkan anna jatuh terduduk tidak tau apa yang harus di lakukannya. Dia sudah lama masuk dalam organisasi itu dan sekarang aar dengan enteng nya meminta nya keluar dari organisasi itu.
Awal nya anna sedang di culik dia kalah jumlah dan akhirnya pimpinan organisasi itu menolong nya. Dan mengharuskan anna masuk ke dalam organisasi itu untuk menjadi anggota.
Di organisasi itu anna berperan sebagai tim pembunuh. Dia penembak jarak jauh. Jadi pistol sudah jadi makanan nya sehari-hari.
Kini ia harus pergi meninggalkan itu semua?. Itu tidak mungkin. Apa yang harus dia katakan pada rekan-rekan nya.
"Kenapa tiba-tiba kamu berubah aar?" tanya anna pada diri sendiri. Anna meremas dada nya yang terasa sedikit sesak.
Anna bukanlah wanita yang mudah menangis. Bahkan kapan anna terakhir menangis pun anna sendiri tidak tau.
Setelah sesak di dada sedikit berkurang anna berdiri dan masuk ke kamar. Dia akan tidur siapa tau besok pagi dia sudah memiliki jawaban yang akan di berikan pada aar.
Di tempat lain. Aar sedang di dalam mobil menuju salah satu club di sana. Dia sudah menghubungi alan ternyata alan sedang di club jadi aar menyusul.
Aar berhenti di lampu merah. Tiba-tiba ada yang menembak ke arah mobil nya. Entah siapa. Yang jelas aar sedikit waspada karena tidak membawa topeng nya.
Perlu di ketahui bahwa aar selalu mengenakan topeng saat melaksanakan peran nya sebagai pimpinan mafia.
Maka dari itu tidak ada yang mengetahui identitas nya. Aar juga selalu menggunakan lensa kontak atau soflens jadi warna mata aar yang asli hanya sedikit yang tau.
Itu untuk mencegah kecurigaan orang saat dia menjadi orang biasa lagi.
Kemungkinan musuh aar sudah mengetahui keberadaan aar saat ini maka dari itu dia di serang sekarang.
Saat dia masih mencari sesuatu untuk menutupi wajah nya. Ada yang berjalan ke arah mobilnya sambil menodongkan pistol.
"Cepat cari tau lokasi ku dan kemarilah dengan anak buahmu. Aku sedang di kepung"
"Tapi bos bagaimana bisa mereka mengepung mu? Mereka bahkan tidak tau identitas mu saat kau menjadi orang biasa"
"Entahlah aku tidak tau. Yang pasti saat ini salah satu dari mereka sedang berjalan kearah ku"
"Kami sedang di perjalanan bos tunggu sebentar lagi. Ini hanya memakan waktu kurang dari lima menit"
"Baiklah ku tunggu. Juga jangan lupa topeng ku"
"Siap bos. Aku sudah membawanya. Tapi kau membawa pistol kan bos?"
"Tentu saja tidak bodoh. Aku hanya mengenakan boxer dan kaos bagaimaba bisa aku membawa pistol"
"ASTAGA !! Kau bercanda kan bos kau tidak sedang serius kan?!"
"Tentu saja aku serius. Jika aku sidah memegang pistol untuk apa aku berdiam diri di dalam mobil"
"Asta---"
'Tok tok tok
Saat alan akan menjawab aar mematikan telepon nya begitu pintu mobil nya di ketuk.
"Keluar" aar terkejut mendengar itu.
Bukan karena dia mendengar di perintah. Tapi suara itu. Dia mengenali suara perempuan itu.
Saat dia memastikan nya seperti nya benar jika itu dia. Baru saja dia memperingatinya tadi. Ternyata dia lebih memilih mereka dari pada dia pikir aar. Coba lihatlah dia.
'Berani nya kau menodongkan pistol mu ke arah ku anna?' batin aar.
"Apa kau tak dengar jika aku menyuruh mu keluar?!"
"Hahh kau akan menyesal anna" gumam aar saat dia akan membuka pintu mobil nya.
Ya wanita itu anna. Ternyata anna lebih memilih organisasi itu dri pada menikah dengan nya.
Begitu pintu mobil di buka aar tak langsung keluar melainkan dia berdiam diri dahulu. Sampai suara itu terdengar lagi.
"Apa kau seorang miss universe sampai keluar dari mobil saja lambat?"
Begitu aar mendengar itu amarah yang sedari tadi dia tahan memuncak. Tangan nya terkepal erat.
Aar langsung keluar dari mobil. Tapi membelakangi anna dengan menutup pintu mobil.
Kemudian aar berbalik ke arah anna.
Tadi saat aar menelfon alan mengatakan bahwa dia menggunakan boxer hanya gurauan. Tapi kalau pistol dia benar-benar melupakan nya. Karena pertengkaran nya dengan anna tadi.
Kini aar sudah berhadapan dengan anna. Anna mematung. Terkejut sekali jika target nya kali ini adalah calon suami nya sendiri.
"K-kau?. Ti-tidak mungkin" anna berjalan mundur.
"Kau tau sekarang?"
"I-ini t-tidak mung--"
Aar mengeluarkan ponsel nya. Kemudian men-dial nomor papa nya.
Terdengar sahutan di seberang sana.
"Hallo aar. Ada apa?. Dimana kamu sekarang nak?"
"Hallo papa. Aku ingin mengatakan sesuatu yang penting. Aku sedang ada urusan bisnis di china"
"Pulanglah nak. Lusa kau akan menikah. Kenapa masih melakukan perjalan jauh. Apa anna bersamamu?"
"Itulah yang ingin aku bahas papa. Ya. Anna bersamaku. Di depanku. Aku ingin pernikahan ku di batalkan pa"
"Apa?!!!. Apa kau bercanda?!"
----------------------------------------------------------------------