The Fucking Mafia

The Fucking Mafia
5


Saat ini aku sedang di duduk di pinggir ranjang kamar Aar yang ku tiduri tadi malam. Aku menunggu Aar yang sedang berbicara dengan Alan dan mengurus wanita itu yang pinsan setelah berteriak tadi.


"Huh.. Kenapa lama sekali" gerutu ku.


Tak lama kemudian terdengar pintu terbuka.


"Ini baju mu. Pakai lah lalu aku akan mengantar mu pulang. Dimana rumah mu?" Tanya Aar.


"Aku tak ingin pulang. Aku ingin disini" jawab ku.


"Aku tak menerima orang asing An"


"Bukankah tadi kau bilang aku calon istrimu Aar?" Tanya ku manaik turun kan alis ku.


"Haahh bisa-bisa nya aku meladeni ucapan mu tadi. Entah aku kesurupan atau apa". Gerutu Aar kemudian memejam kan matanya dan memijit pelipis nya


"Kenapa?toh aku mau menjadi istrimu Aar" ucap ku berani.


Lalu Aar membuka mata menatap ku kemudian terdiam.


>>>>>>>


Aaron pov


Aku baru saja selesai berbicara dengan Alan. Ia datang membawa data calon istriku. Ahh aku terkejut sekali saat melihat data itu.


Kemudian aku melangkah menuju kamar ku. Tempat Anna menunggu ku. Ku buka pintu dan terlihat Anna sedang duduk di pinggir ranjang. Kulihat kemeja yang di kenakannya tersingkap memperlihatkan paha mulus nya.


Sebenarnya sejak tadi malam aku sudah tak tahan ingin melahap nya. Tapi aku tak mau melakukan hubungan dengan orang yang sedang mabuk itu kurang menantang bagi ku.


Semalam saat aku menemukannya aku sedang menuju club untuk mencari salah satu ****** tapi saat melihat Anna ku urungkan niat ku.


"Huh.. Kenapa lama sekali" gerutu Anna


"Ini baju mu. Pakai lah lalu aku akan mengantar mu pulang. Dimana rumah mu?"


Sungguh aku tak tahan lagi melihat nya dengan posisi itu.


"Aku tak ingin pulang. Aku ingin disini"


Tak taukah kau Anna sejak tadi malam kau menyiksaku kata ku dalam hati.


"Aku tak menerima orang asing An" tolakku.


"Bukankah tadi kau bilang aku calon istrimu Aar?" Tanya mya manaik turun kan alis nya.


"Haahh bisa-bisa nya aku meladeni ucapan mu tadi. Entah aku kesurupan atau apa". Gerutu ku kemudian memejam kan matanya dan memijit pelipis ku. Merasakan pusing di kepala karena menahan hasrat ku.


"Kenapa?toh aku mau menjadi istrimu Aar" ucap nya berani.


Lalu Aar membuka mata menatap nya kemudian terdiam. Aku jadi teringat apa yang ku bicarakan dengan Alan tadi.


Flashback


"APPAAA????KAKAK IPARR??APA MAKSUD SEMUA INI????"


Brukkk


Kami terkejut sekali saat melihat Marie jatuh pingsan setelah berteriak seperti itu. Alan dengan sigap membopong Marie ke sofa ruang tengah.


"Masuk lah ke kamar dulu. Aku akan bicara dengan Alan sebentar" suruh ku pada Anna


"Baiklah. Jangan lama-lama" jawab Anna.


Setelah itu aku berjalan menuju ruang tengah untuk menemui Alan.


"Ayo ke ruang kerja ku" ucap ku saat sampai ruang tengah.


Alan hanya mengekori ku di belakang.


"Sebelum aku menerima data calon istriku aku ingin bertanya padamu Alan. Apa maksud mu memanggil Anna dengan sebutan 'kakak ipar'??" Tanya ku.


"Ya karna memang Anna lah calon istrimu Aar"


"Apa??" Aku sangat terkejut saat mendengar Alan mengucapkan itu. "Aku sedang tak ingin bergurau Alan"


"Bergurau??apa maksud mu bergurau?aku mengatakan kebenaran bukan lelucon Aar. Kalau tak percaya ini data tentang calon istrimu. Baca dan lihat baik-baik aku berkata benar atau bohong" ucap Alan sembari menyerahkan amplop coklat yang sedari tadi dia pegang.


Setelah Alan menyerahkan amplop coklat itu aku langsung membuka nya. Betapa terkejutnya aku saat membaca nama Anna. Di sana tertera nama belakang sahabat papa 'Franklin' . Ya nama Anna adalah Anna Cassey Franklin.


"Pergilah Alan dan bawa Marie bersamamu" usirku.


Alan tak mengatakan apa-apa dia langsung pergi begitu saja.


Flashback end


"Hey.. Kenapa melamun"


"Tak apa. Cepatlah ganti baju lalu akan ku antar kau pulang"


"Aku tak mau pulang Aar !" Teriak Anna.


Sungguh aku terkejut mendengar nya berteriak.


"Aku tak akan pulang Aar. Aku tak akan membiarkan ****** itu menemui mu kalau aku pulang sama saja aku kalah". Ucap Anna


"Kenapa kau berpikir seperti itu?"


"Entahlah yang ku tau aku tak akan membiarkan orang lain menyentuhmu tanpa ijinku" ucap nya tak terbantah kan.


"cepatlah ganti baju sebelum kau menyesal" ucap ku dengan masih menahan hasrat ku.


"aku tak akan meyesal"


Ohh itu pilihan mu Anna aku sudah memperingatkan mu ucap ku dalam hati.


"baiklah jika itu mau mu"


Langsung ku tarik tangan nya ke arah ku. Ku peluk pinggang nya dan ku cium bibir nya. Mula-mula dia kaget tapi kemudian dia membuka mulut nya membiarkan ku mempermainkan mulut nya.


Setelah ku rasa dia kehabisan nafas ku lepas ciuman kami.


"Tak akan. Aku akan menggoda mu hingga kau gila Aar" ucap Anna kemudian dia mencium ku terlebih dahulu.


Aku tak habis pikir akan bertemu dengan wanita agresif sepertinya. Tapi aku sangat menyukai nya. Ku ladeni permainan nya.


Tangan ku tak tinggal diam. Ku angkat kemeja  yang di kenakan Anna. Ku usap punggung nya. Aku sedikit terbelalak saat mengetahui dia tak memakai bh di balik kemeja navy ku yang di pakainya.


Sungguh aku berpikir sepertinya dia sudah mempersiapkan diri untuk menggoda ku. Aku sudah tak bisa menahan nya lagi. Ku bopong dia dan ku baringkan di kasur.


Ku lepas ciuman kami. Ku turun kan ciuman ku ke lehernya. Ku gigit kecil lehernya dan dia melenguh. Sedikit ku cecap kulit leher nya hingga timbul bercak merah. Ku ulangi benerapa kali di sisi kanan kiri lehernya.


Ku buka satu persatu kancing kemeja itu. Hingga menyembul lah dua gundukan itu.


Begitu menggiurkan hingga rasanya air liur ku ingin menetes.


Cup...cup...cup


Ku buat banyak bercak merah di bagian dadanya.


"Ohh.. Aar. Please"


Dia menggesekkan bagian bawah tubuhnya dengan bagian bawah tubuh ku. Membuat sesuatu di bawah sana mengeras.


"Apa sayang?" Tanya ku sambil memainkan puncak dadanya dan tangan ku turun untuk menggoda **** ***** di bawah sana. Yang sudah sangat basah.


"Please Aar. Oohh"


Lenguh Anna saat aku menyelipkan jariku dari sela cd yang di gunakan nya.


"Emhh Aar. Ohh"


Ku selipkan jari ku di antara lembah basah itu. Sambil memainkan puncak dadanya bergantian.


"Ohh "


Kemudian mengalir lah cairan bening itu di sela bagian intim nya.


"Apa kau menyukai nya sayang?" Tanya ku


"Heemm" jawab Anna hanya bergumam.


Ku kecup bibir nya yang sedikit basah. Kemudian aku melepaskan semua yang ada di tubuh nya.


Ah lihat lah ada bidadari tergolek di ranjang ku. Sungguh indah sekali. Aku sudah semakin keras.


"Aar apa yang kau lihat?" Tanya Anna malu-malu.


"Aku hanya melihat bidadari telanjang" jawab ku menggoda nya.


Kucium lagi dia dengan tangan ku berjalan kemana mana. Dia melenguh mendesah dengan indah nya.


Setelah beberapa lama kurasa dia sudah siap. Aku mulai menekan milikku ke **** ***** milik nya.


Kami melewati pagi ini dengan panas. Entah apa yang merasuki ku. Aku memasuki Anna sampai tak terhitung lagi. Setelah selesai dengan pergulatan kami tidur sambil berpelukan erat. Seakan ada yang akan memisah kan kami.


------


Anna pov


Aku menggeliat kan badan ku yang terasa remuk redam setelah Aar memasuki ku hingga tak terhitung lagi. Dia begitu keras dan liar.


Aku melepaskan diri dari pelukan Aar. Menarik selimut untuk menutupi kepolosan ku. Tapi saat aku berdiri


Bruukk "Aww" pekik ku.


Aar Terbangun dari tidur nya saat mendengar ku memekik.


"Hey ada apa?" Tanya nya tanpa rasa bersalah sama sekali.


"Apa kau tak sadar?" Aku mencebikkan bibir ku. Dia malah mencium ku.


"Hahaha jadi ini ulah ku?" Tanyanya.


"Ya tentu saja. Memang siapa lagi menurut mu? Dari tadi pagi bahkan kau tak membiarkan ku bernafas lega dan membuat ku melewatkan makan siang"


"Oh benar juga. Jam berapa sekarang?"


"Jam 4 sore" jawab ku ketus.


"Hmm maaf kalau begitu"


"Tunggu apa lagi Aar. Ayo gendong aku ke kamar mandi. Kau harus bertanggung jawab karena membuatku tak bisa berjalan"


Dia hanya terkekeh dan mengangkat ku kamar mandi.


"Apa yang kau lihat? Cepat keluar Aar"


"Tidak ! Aku masih menginginkan mu"


Dia menyeringai kemudian maju mendekatiku dan kalian tau apa yang di lakukan Aar selanjut nya.


Setelah aku di kerjai Aar di kamar mandi hampir 2jam akhirnya kami keluar. Hari sudah mulai gelap. Kami memutuskan untuk memesan makanan. Karena tak mungkin dengan keadaan ku sekarang aku bisa berjalan normal.


Saat ini kami sedng berada di ruang tengah. Aku duduk bersila di depan televisi melihat drama korea yang di tayangkan di tv. Aar entah sedang apa di kamar. Setelah membopongku kemudian menduduk kan ku di sofa dia kembali ke kamar dan belum kembali sampai sekarang.


"besok aku akan mengantar mu pulang" ucap Aar tiba-tiba mengejutkan ku.


"sudah kubilang Aar. Aku tak ingin pulang. Lagi pula jika besok aku pulang apa yang akan di katakan orang tuaku jika mereka mengetahui anak nya tak bisa berjalan karena di hajar seharian oleh pria tampan dan kasar ini" ucap ku sambil mencebikkan bibir ku.


"baiklah. Sampai ************ mu tak sakit lagi aku akan mebiarkan mu disini. Tapi dengan satu syarat"


"apa?" potongku "syarat apa yang kau mau dari ku?" tanya ku bersemangat.


Kemudian Aar mendekat padaku dan membisikkan sesuatu yang membuat ku terbelalak kaget.


"APPA? Apa yang kau katakan itu benar Aar?" aku sungguh terkejut sekali. Tapi aku senang sekali mendengar dia membisikkan itu padaku. Aku tak sabar menunggu 3 hari lagi. 


---------------------------------------