
"Andai saja hujan paham,
Pasti aku tak akan tenggelam.
Andai saja pelangi menetap,
Mungkin aku bisa berharap."
Arcyla Citra Indriani
****
Reno, Indra dan Bagas menghabiskan weekend nya dicaffe. Caffe adalah tempat kedua setelah gudang sekolah.
"Zio kemana nih?" tanya Bagas.
"Dia lagi diundang jamuan ke rumahnya Arcyla." kata Reno.
"Kayaknya, bukan jamuan biasa deh. Jangan-jangan, Zio mau dijodohin sama Cyla?" tebak Indra.
"Bukan Cyla, tapi Serina yang suka di ceritain itu." jawab Reno.
"Lah, terus kenapa Zio kerumah Arcyla?" heran Bagas.
"Karna Serina itu adalah saudara tirinya Arcyla. Mamanya kan nikah lagi." jelas Reno.
"Wah, bahaya buat Arcyla dong." seru Indra.
"Gue juga khawatir." gumam Reno.
Reno menatap ponselnya saat notif dari Zio muncul di layarnya.
Zio Alantara😈
Gue minta bantuan lo!!
Cari Arcyla sekarang juga, gue nggak mau dia kenapa-napa.
Bukannya Arcyla lagi
Sama lo?
Lo taukan Serina itu adalah adik tirinya Arcyla, pokoknya cepetan Ren! Kalo udah ketemu kasih tau gue.
Yaudah, gue sama yang lain
cari Arcyla sekarang
"Udah gue duga dari awal, Arcyla nggak bisa menerima semua ini." kesal Reno.
"Ada apa?" tanya Indra dan Bagas.
"Arcyla pergi dari rumah, sekarang kita harus cari." suruh Reno.
Reno, Bagas dan Indra bergegas meninggalkan caffe untuk mencari Arcyla. Reno yang tahu ceritanya dari awal pun dengan khawatirnya langsung tancap gas, sedangkan Bagas dan Indra berpencar setelah pertigaan. Tanpa memikirkan apapun kecuali Arcyla, Reno hampir saja menabrak seorang wanita.
"ARGHHH!!"
"Astaga!!" kaget Reno langsung turun dari motornya.
Gadis yang meringkuk ketakutan itu langsung mengadah dan melihat Reno.
"Kresy!" pekik Reno.
"Yaampun Reno, kalo naik motor itu pake mata. Kalo tadi lo nabrak gue gimana?" Protes Kresy.
"Sorry ya, gue buru-buru nih mau cari Arcyla." ucap Reno.
"Kebetulan banget, gue juga lagi cari Arcyla." kata Kresy.
"Lo udah taukan apa yang terjadi dengan Arcyla?" tanya Reno.
"Gue tau semuanya, jadi ayo cari Arcyla." suruh Kresy langsung menaiki motor Reno.
"Lo mau ikut gue?" tanya Reno meyakinkan Kresy.
"Iya, buruan!!"kata Kresy tak sabar.
Reno dan Kresy pun naik motor berdua. Tak lama, hujan pun turun sangat lebat dan membuat keduanya harus menghentikan pencariannya.
Reno menepuk-nepuk jaketnya yang basah karena tetesan hujan, sedangkan Kresy mondar-mandir di halte bus.
"Udah, lo duduk aja disini!! Tunggu hujannya reda, kalo maksa nyari Arcyla yang ada lo juga sakit." ucap Reno.
"Tapi Reno, gue nggak tenang. Gue liat jelas wajah Arcyla yang sangat marah, terpukul dan kecewa. Gue takut dia nekad!" cemas Kresy sambil memeluk tubuhnya yang basah oleh air hujan.
Reno menghampiri Kresy yang sedang berdiri, lalu ia memakaikan jaketnya ketubuh Kresy. Reno menyuruh Kresy untuk menunggu sebentar lagi, dan akhirnya Kresy pun mau menunggu dan duduk di halte bus bersama Reno.
"Makasih." ucap Kresy.
"Untuk apa?" tanya Reno.
"Jaketnya," kata Kresy.
"Biar lo nggk kedinginan!" ucap Reno.
*****
Arcyla Pov
Untuk hati, aku mohon berhenti!!
Aku memandang tas yang sedari tadi aku bawa. Di dalamnya ada buket bunga kecil pemberian Zio tadi. Aku meraihnya dengan tangan yang gemetar, gemetar oleh kekecewaan dan luka..
"Kamu berharga saat mekar, tak berguna setelah layu." batinku
Aku hanya bisa memeluk bunga itu, bunga yang sudah layu karena percikan air hujan yang sangat lebat. Ingin rasanya aku tenggelam dalam tangis, Terhapuskan dalam tulisan, dan dilupakan dalam kenangan.
TIDAK!!!!! AKU TIDAK MAU ITU!!
Aku tidak ingin tenggelam dalam luka dan hilang dimasalalu. Aku ingin terlihat, oleh mama dan Zio.
"Lo nggak kapok masuk rumah sakit, terus gue ilerin?" kata itu membuatku mengadah ke atas dan melihat siapa yang ada dihadapanku.
Arga?
"Lo ngapain disini?" tanyaku.
Dia duduk disampingku, lalu memayungiku dengan tangannya. Huft...kalo gitu percuma aja, basah juga😬
"Apaan sih," tepisku.
"Lo tau nggak, gue nggak suka hujan?" tanya Arga sambil menatap langit kelam.
"Kalo lo nggak suka hujan, nggak mungkin sekarang lo ada di bawah hujan." ucapku.
"Benar, kalo elo nggak suka gue, nggak mungkin gue ada dihati lo kan? Tapi kemungkinan gue akan selalu ada buat lo." kata Arga menatapku.
Apa maksudnya itu? Kok dia tiba-tiba ngomong gitu.
"Ikut gue yuk," ajak Arga menarik tanganku.
"Kemana?" tanyaku masih memegang buket bunga pemberian Zio.
"Bunga yang lo pegang, bukan milik lo." ucapnya membuatku semakin tidak mengerti.
Aku hanya mengikuti saja kemana Arga membawaku. Anehnya, dari situ aku tak berkomentar apapun.
Setelah kami berteduh di warung kopi, Arga memakaikanku jaket dan menyodorkan teh hangat. Aku menerimanya.
.........
Arga pov
Setelah aku keluar dari rumah Kresy, diam-diam aku mengikuti Arcyla. Entah kenapa dari pertama aku dan Cyla bolos sekolah sampai sekarang, rasa ingin melindunginya semakin kuat meski aku selalu membuatnya kesal dan marah.
Saat itu, Zio datang membawa buket bunga mawar dan memberikannya kepada Arcyla yang sedang duduk. Aku hanya memperhatikannya dari kejauhan dan tak lama setelah Arcyla dan Zio bermain, Zio melenggang pergi meninggalkan Arcyla. Sepertinya, Arcyla merasa kecewa. Aku tak berhenti disitu untuk mengikuti Arcyla, dan ternyata Arcyla pergi kerumahnya bersama Kresy. Aku menunggu sekitar 20 menit di belakang pohon, tiba-tiba Arcyla keluar dari rumahnya. Dan dari situlah aku mengetahui semua tentang Arcyla, dari siapa itu Zio lalu Serina dan kondisi keluarganya. Sungguh sangat kacau!!
Aku melihat Arcyla berlari dengan luka yang mendalam, karna tak ingin terjadi apa-apa dengan Arcyla, akhirnya aku mengikuti dia sampai taman dan akhirnya hujan turun tiba-tiba dengan lebat.
Mungkin ini saatnya aku menghampiri Arcyla. Semoga saja kehadiranku akan meringankan kesedihannya.
............
Toko Bunga
Setelah hujan reda dan pakaian mereka kering, Arga mengaja Arcyla pergi ke toko bunga. Setelah di depan toko, Arga menyuruh Arcyla untuk menunggu di luar. Arga masuk ke dalam toko bunga. Ia melihat-lihat bunga yang terpajang di keranjang bunga, namun ia kebingungan memilih bunga untuk diberikan kepada Arcyla. Sampai akhirnya, penjaga toko itu mengusulkan buket bunga mawar berwarna putih. Tak pikir panjang, Arga langsung membelinya dan keluar dari toko itu. Dia menyembunyikan buketnya di belakang tubuh. Arcyla menoleh.
"TADAAAA!!" kata Arga sambil menyodorkan bunga cantik itu.
"Buat lo," ucap Arga tersenyum.
"Kenapa lo ngasih ini ke gue?" tanya Arcyla sambil mengambil bunganya dari Arga.
"Emangnya nggak boleh ya?" tanya Arga.
"Boleh kok, makasih ya." kata Arcyla tersenyum sambil mencium mawar putihnya.
"Nah, gitu dong senyum. Karna luka itu nggak selamanya sakit." kata Arga.
Arcyla mendelik, "Sok bijak banget." cibir Arcyla sambil menyiku lengan Arga.
"Seriusan!!" ucap Arga.
"Sejak kapan lo serius kek gini? Biasanya juga otak mesum." kata Arcyla.
"Suttttt!! Ini depan umum tepos, kalo orang lain tau gimana?" ucap Arga sambil menutup mulut Arcyla.
"Ih, Arga mulai deh!!!" kesal Arcyla.
"Hehe, bercanda kok. Yaudah, balik yuk." ajak Arga.
"Kemana?" tanya Arcyla.
"Kerumah Kresy lagi aja, biar setiap hari gue bisa liat wajah lo." ucap Arga senyum-senyum malu.
"Itu muka lo kenapa merah?" tanya Arcyla heran.
"*****, merah!!" batin Arga sambil menyetabilkan emosinya.
"Cuacanya panas," kata Arga, belok.
"Belok kemana bang Arga? Kehati aku mau?" AUTORR
"Panas darimana nya? Orang nggak ada matahari juga." tanya Arcyla heran..
"Udah, ayo balik." suruh Arga berlalu dari Arcyla.
.....