
Karna bahagia itu sesederhan kau dan Aku
****
Arcyla duduk di belakang sekolah untuk menenangkan hatinya sambil menatap semak-semak yang terlihat tidak terawat itu menjular ke dinding sekolah. Ia menarik dalam-dalam nafasnya, lalu mengeluarkannya secara perlahan.
"Kenapa sih Serina pake acara fitnah gue segala, Apa yang sebenarnya dia rencanakan?" gumam Arcyla.
"Zio, gue kira setelah kejadian tabrakan itu lo bakal ada di samping gue. Tapi tetap saja kalo Serina terluka sedikit, marahnya kayak iblis!" grutu Arcyla sambil mencabut rumput liar dan membantingkannya ke depan.
"Si Arga juga ngapain ngebantuin Serina, padahal jelas-jelas dia cuma pura-pura!" kesal Arcyla.
"Lu lagi ngedumel apa sih? Sini cerita sama gue." ucap Arga menghampiri Arcyla.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Arcyla.
"Gue percaya kok, lo enggak mungkin ngelakuin itu. Mungkin karena tidak disengaja, jadi Serina pikir lo yang nyenggolnya." ucap Arga memberi pengertian.
"Tapi gue sama sekali nggak nyenggol nggak apa, Arga! Dianya sendiri yang nyamperin gue, terus jatuh sendiri." jelas Arcyla.
"Tapi setidaknya elo bisakan bantuin Serina berdiri, jangan ditinggal gitu." usul Arga.
"Lo sama aja ya kayak Zio, nggak pernah percaya sama gue! Udahlah males gue." kesal Arcyla meninggalkan Arga.
"Dasar, keras kepala! Kalo nggak salah, ngapain juga harus marah." gumam Arga.
Arga bergegas mengejar Arcyla dan memintanya untuk tidak marah-marah. Dengan susah payah Arga mengajak Arcyla bolos bareng, sampai akhirnya ia pun mau. Mereka berdua langsung saja menaiki tembok pembatas sekolah. Dengan lihai, Arga memanjat lalu meloncat. Sedangkan Arcyla masih ragu untuk meloncat meski ia sudah mengambil ancang-ancang.
"Sini gue tangkep," ucap Arga merentangkan kedua tangannya.
"Lu jangan disitu, kalo nimpa elu gimana?" himbau Arcyla menahan loncatannya.
"Nggak papa, ayo loncat nanti keburu ada guru," pinta Arga.
"Ngg__"
"ARCYLA!! TURUN KAMU, NGAPAIN DI ATAS SANA." teriakan itu sudah dipastikan akan terdengar ke penjuru sekolah.
"Pak Budi__ emm... ini pak aku lagi ngambil sepatu. Tadi Arga ngelemparnya ke atas pohon." bual Arcyla.
"Kamu pikir bapak ini bodoh? Lihat, sepatu kamu masih menempel di kaki. Lalu sepatu mana yang dilempar Arga?Ayo turun, jangan bikin bapak pusing. Sudah cukup hanya Arga yang bandel, kamu gadis. Ayok jangan kayak monyet," ucap pak Budi, guru sekaligus wali kelasnya Arcyla.
"Udah jangan didengerin, sekarang loncat!" pinta Arga.
"Dadah bapak," pamit Arcyla sambil melambaikan tangan.
"ANAK INI, AWAS YA BAPAK HUKUM BESOK!"
Pak Budi sepertinya sangat kesal dengan ulah Arga juga Arcyla. Satu murid yang sering bolos aja susah di kondisikan, apalagi ini nambah satu anak, cewe lagi. Dengan kesal, pak Budi melemparkan sepatunya ke arah Arcyla. Untungnya Arcyla segera meloncat, kalo tidak pasti kepalanya sudah benjol.
"Beuh, berat juga ya lo." ringis Arga.
"Gue bilang nggak usah nangkep gue, masih aja pen peluk-peluk." timpal Arcyla kepedean.
"Iya gue pengen peluk lo." ucap Arga memeluk Arcyla, dengan cepat ia pun mendorong Arga dan menjauh darinya.
"OIII!! SEPATU BAPAK NGIKUT," teriak pak Budi.
Arga dan Arcyla tertawa bersama setelah melemparkan sepatu wali kelasnya ke dalam sekolah dan mendarat tepat di atas kepala pak Budi. Sudah dipastikan besok Arga dan Arcyla tidak akan selamat dari hukuman.
"Yaampun Arga, sumpah tadi itu ngakak banget!" tawa Arcyla saat mereka sudah berjalan menjauh dari sekolah.
"Gue pastikan kepalanya pak Budi kagak bakal tumbuh rambut lagi," celetuk Arga, lagi-lagi membuat keduanya tertawa.
****
Kresy menghampiri Reno, lalu ia duduk di sampingnya. Reno menoleh, begitupun dengan Indra dan Bagas saat melihat wajah Kresy yang kesal.
"Lo kenapa?" tanya Indra.
"Lo tau nggak, temen lo yang bernama Zio itu emang kagak pernah punya perasaan ya! Kesel gue." grutu Kresy.
"Dia kenapa lagi?" tanya Reno.
"Yang tadi rame-rame itu? Gue kira apaan, ternyata Zio sama Arcyla." tanya Bagas.
"Iya, Serina itu jatuh dan katanya sih disenggol sama Arcyla. Tapi ... kayaknya nggak mungkin deh. Arcyla juga tadi sempat bilang kalo dia sama sekali nggak nyentuh Serina." Cerocos Kresy.
"Udah, biar itu urusan mereka. Kita harus diam dan jangan pernah ikut campur, simpelkan?" usul Indra.
"Mungkin nggak sih kalo Serina pura-pura?" tebak Kresy.
"Atas dasar apa dia memfitnah Arcyla?" tanya Indra.
"Bisa jadi tuh, kan lo tau sendiri kemarin Serina ada di rumah Arcyla dan kebetulan di sana ada Arga sama Zio. Mungkin aja tuh dia cemburu, jadi dia buat Zio benci sama Cyla." timpal Reno.
"Selagi nggak ada bukti, kita nggak boleh asal tuduh gitu." ucap Bagas, lalu melenggang pergi.
"Terus, Cylanya kemana?" tanya Reno.
"Gue juga nggak tau," jawab Kresy.
"Droo, ngapain lu masih disini? sana lo ikut sama Bagas." usir Reno.
"Sekarang berani ya lo ngusir-ngusir gue, awas aja lo!" cemberut Indra, iapun bergegas mengejar Bagas.
"Bodo amat!"
Reno menarik tangan Kresy menuju ke taman sekolah. Mengajaknya duduk menikmati indanya tumbuhan yang hijau. Tangannya mendekap pipi Kresy, mengatakan cinta itu sudah pasti. Reno menembak Kresy, dan mengajaknya untuk pacaran. Kresy yang terkejut dengan perkataan Reno hanya bisa melongo tak percaya.
"Gimana, lo mau nggak nerima gue?" tanya Reno. " kalo lo nggak mau nggak usah dijawab," lanjutnya.
Dengan malu-malu, Kresy akhirnya menerima cinta Reno. "Iya, aku mau jadi pacar lo."
"YES!"
Merekapun jadian pada tanggal 15 Agustus 2020. Reno meminta agar Kresy tidak dulu memberi tahu sahabat-sahabatnya. Ini hanya menjadi rahasia mereka berdua.
KRING... KRING... KRING..
Bel masuk pun berbunyi, semua murid masuk kedalam kelasnyanya masing-masing. Saat pak Budi masuk ke dalam kelas 11 Ipa-2, ia uring-uringan dan membuat Kresy dan teman-teman yang lain terkena imbasnya. Mereka menjadi sasaran amukan pak Budi karena ulah Arga dan Arcyla.
"Sebagai gantinya, sekarang juga kalian harus berlari 10 putaran." pinta pak Budi sambil mengelus kepalanya yang menjendol.
"Lah, yang salahkan Arga sama Arcyla. Kenapa jadi kita yang dihukum pak?" protes Kresy.
"Iya nih pak, besok aja hukum merekanya. Kitakan nggak tau apa-apa" balas yang lain.
"Nggak adil nih si bapak!"
"Kalau kalian masih protes, hukumannya bapak tambah. Mau?" tawar pak Budi.
Karena mereka tidak ingin hukuman itu ditambah berkali-kali lipat, akhirnya mereka segera pergi kelapangan.
Reno yang melihat pacar barunya itu dihukum, langsung menghampiri Kresy di lapangan.
"Yang_ eh maksudnya Kresy, lo sama temen lo kenapa pada lari di lapangan?" tanya Reno.
"Gara-gara ulah si Arga sama Arcyla, nih. Pas mereka pada bolos, mereka bikin kepala pak Budi benjol. Jadi kita deh yang kena imbasnya." jelas Kresy.
Reno tertawa,"Lucu?" ketus Kresy.
"Enggak! Enggak kok, mmm... gue masuk kelas dulu ya." pamit Reno berlari terbirit-birit.
"Dasar," gumam Kresy.
"Awas aja ya kalo besok gue ketemu sama dua makluk laknat itu, abis sama gue"
"Gue nggak bakal ampunin tuh bocah dua!"
"Dasar!! Dua sejoli tak punya hati, gue udah kurus gini disuruh lari. Yang ada tinggal tulang deh yang keliatan!"
Begitulah sumpah serapah yang teman-temannya ucapkan. Sudah dipastikan besok Arga dan Arcyla akan diamuk masa oleh teman-temannya. Mereka berdua yang salah, sekelas yang dihukum. memang nasib!
*****