
***
Teruslah bersama
dia yang selalu ada.
karna jika kau melepasnya,
kau tidak akan tahu kapan lagi kau bisa menggapainya kembali
***
Setelah semua orang keluar, Arga segera mengambil bubur yang sudah tersedia di meja dan langsung menyuapi gadis itu pelan. Sedangkan Reno dan Kresy diam-diam mengintip mereka di balik pintu, di mana pintu itu perlahan terbuka dan akhirnya merekapun tertangkap basah oleh Arga dan Arcyla. Dengan cengir kudanya, keduanya pura-pura tidak sengaja.
"Yaudah masuk aja lagi, nggak baik juga kalo gue cuma berduaan sama Arga." suruh Arcyla.
"Iya, lo berdua kagak ada kerjaan banget sih. Terus kenapa tiba-tiba kalian lengket gini?" tanya Arga.
Sepertinya sekarang ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya. Kresy dan Reno pun saling bertatapan, "Emm... sebenarnya dari dua hari yang lalu kita itu udah_" jelas Kresy ragu.
"PACARAN!" lanjut Reno.
Ohok...
Tiba-tiba makanan yang ada dimulut Arcyla mendadak susah ditelan. Argapun langsung mengusap punggung Arcyla sambil menyodorkan air minum. Arcyla menatap Kresy dan Reno bergilir, sepertinya ia sangat terkejut dengan kabar itu. Padahal yang dia tahu sahabat-sahabatnya itu baru kenalan tapi udah jadian aja.
"Kenapa baru ngasih tau gue sekarang?" tanya Arcyla.
"Bukannya waktu di caffe itu keadaannya sangat tegang ya?" timpal Reno.
"Iya juga sih," guman Arcyla.
"Yaudah lo lanjutin aja makannya, kita berdua nunggu di luar." pamit Kresy.
"Iya," jawab Arcyla dan Arga bersamaan.
Setelah suapan terakhir mendarat di mulut Arcyla, Arga meletakan mangkuk itu di sampingnya lalu menarik tubuh Arcyla kedekapannya. Arcyla sempat menjauh karna tiba-tiba saja jantungnya berdebar saat ia berada di dekat cowo itu. Tapi Arga langsung menariknya kembali dan mengancam Arcyla jika dia tidak diam di pelukannya maka tidak ada cara lain, ciuman terpaksa harus di daratkan ke bibir Arcyla. Sontak gadis itupun terpaku karena ia takut Arga macam-macam.
"Gue mau nanya sama lo," ucap Arga menempelkan telinga Arcyla ke dada bidangnya.
"Memangnya lo mau nanya apa sampe harus sedeket ini?" tanya Arcyla kikuk.
"Lo denger nggak suara jantung gue?Gue cuma pengen ngebuktiin apakah jantung lo berdetak kencang saat berada di sisi gue atau enggak. Kayak gue sekarang ini," jelas Arga.
Dengan cepat Arcyla menahan nafas agar jantungnya tidak bersuara. Tapi cara itu malah membuat jantungnya semakin menyahut dan Argapun bisa mendengarnya lalu tersenyum.
"Udah gue duga, lo ada rasakan sama gue?" tebak Arga.
"Apaan sih lo, hari gini masih aja kepedean." tepis Arcyla.
"Terus kenapa lo ninggalin hp di taman pas liat video gue sama Serina?" tanya Arga.
"Gue_ guekan diculik. Jadi ... ketinggalan, eh, maksudnya kelempar." jelas Arcyla.
"Apa sekarang aja ya gue bilang kalo Serina itu adik gue dan mamaya sebenarnya tidak menikah dengan papa?" batin Arga.
"Oh ya, tapi makasih loh ya elo selalu ada disaat seperti ini." sahut Arcyla menikmati nyamannya berada dipelukan Arga.
"Santai aja, oh iya sebenarnya gue sama Serina itu_"
"Kalo lo pikir gue cemburu karna itu, lo salah. Lo nggak usah ngejelasin apa-apa, gue nggak mau tau! Lagian nggak penting buat gue." potong Arcyla sambil membalas pelukan Arga lalu perlahan memejamkan matanya.
"Seandainya lo tau, gue itu suka sama lo." batin Arga.
Arga mengelus rambut Arcyla pelan saat ia menyadari bahwa gadis itu sudah tertidur pulas. Sepertinya dia sangat lelah setelah diculik, Argapun segera membenarkan posisi tidur Arcyla lalu ia keluar kamar.
Setelah keluar dari kamar itu Arga di tarik paksa oleh Kresy menjauh dari Arcyla. Ia meminta penjelasan kenapa Arga bisa dekat dengan Serina. Tak ada pilihan lagi, Argapun mulai menjelaskan semuanya, dari Serina sampai perasaannya kepada Arcyla yang dirinya sendiri masih belum bisa mengatakannya sekarang. Dia tahu, selama ini hati Arcyla hanya untuk Zio seorang. Maka dari itu dia tidak berani untuk mengatakannya.
"Jadi lo sama Serina adik-kakak?" tanya Kresy terkejut.
"Tapi gue mohon sama lo, tolong jangan kasih tau Arcyla. Karna gue nggak mau dia ngejahuin gue karna gue adalah kakaknya Serina, secarakan dia sangat benci banget sama adik gue." mohon Arga.
"Lo suka kan sama Arcyla?" tanya Kresy.
"Iya gue suka sama Arcyla dari pertama gue ngajak dia bolos sampai hari ini gue benar-benar cinta sama dia." jawab Arga.
"Kenapa lo nggak bilang semuanya aja sama Arcyla?" usul Kresy.
"Ada alasan kenapa gue nggak bisa ngejelasin semuanya kepada Arcyla. Pertama, dari satu sisi gue harus ngelindungin dirinya dan sisi lain gue harus membuat Serina bahagia. Kedua, Serina telah mengambil semua milik Arcyla dan kemungkinan besar Arcyla membenci Serina. Terakhir, jika Arcyla tahu gue adalah kakaknya Serina, kemungkinan besar juga dia akan menghindar dari gue. Secara dia sangat membenci adik gue yang memfitnah dirinya di depan Zio. Lo tau kan, dari dulu Arcyla sangat cinta sama Zio. Pasti dia nggak rela kalau digituin sama Serina." jelas Arga panjang lebar.
"Tunggu ... kalau elo kakaknya Serina dan Serina adalah adik tiri Arcyla, berarti lo bertiga sodaraan dong." tebak Kresy.
"Sebenarnya papa gue dan mamanya Arcyla itu nggak nikah, mereka hanya membuat kontrak. Ya ... Semacam perjanjian gitu. " jelas Arga.
"Rumit juga ya masalah kalian. Terus lo mau gimana sekarang?" tanya Kresy.
"Gue cuma minta waktu buat Serina aja, setelah itu gue bakal ngejelasin semuanya." balas Arga.
"Kayaknya lo terlalu memperdulikan Serina, lo tau nggak gara-gara Serina Arcyla semakin jauh dari Zio. Bahkan dia hampir aja mati!" sahut Reno, sepertinya dia mendengarkan semua omongan Arga bersama Kresy.
"Maksud lo apa?" bentak Arga mendorong tubuh Reno dengan keras sehingga Renopun terjatuh.
Sebelum semuanya semakin rumit, Kresy langsung melerai perkelahian itu dan meminta Reno untuk pulang.
"Ingat, gue tau semuanya tentang ini. Jika lo berani nyakitin Arcyla karna adik lo yang selalu mendramatisir keadaan dan jika lo menyalahkan Arcyla atas ulah adik lo itu, siap-siap aja lo bakal mati ditangan gue." ancam Reno, sedangkan Arga hanya menatap Reno dengan tajam.
"Kenapa, kenapa lo ngebela Arcyla segitunya! Lo suka sama dia?" bentak Kresy. Sepertinya dia sangat terluka karna Reno mati-matian membela Arcyla.
"Bu_ bukan gitu!" timpal Reno, namun Serina sudah terlanjur marah kepadanya. Mungkin juga dia akan marah kepada Arcyla.
"Pergi lo!" usir Arga.
Reno memilih untuk tak berkata apapun lagi dan ia langsung pergi dari rumah Kresy. Sepertinya besok dia harus menjelaskan ucapannya barusan agar tidak menjadi kesalah pahaman.
****
Dengan kesal Anita merebahkan tubuhnya di sofa dan mengingat-ngingat kembali kejadian saat dimana dirinya diturunkan di jalanan, lalu Arcyla yang berhasil ditemukan. Itu sungguh membuat Anita semakin kesal, lalu ia menelpon nomor misterius itu.
"Bukannya lo bilang kalo dia nggak bakal muncul lagi, kenapa sekarang malah ada di hadapan gue?" kesal Anita.
[Gue juga nggak tau, tapi untung aja ada temen lo si Adli yang mengalihkan perhatian. Kalo nggak, bisa-bisa kacau rencana kita]
"Bagus, jadi mulai sekarang kalo lo mau main-main harus bilang dulu sama gue. jangan asal lo," protes Anita.
[Tenang aja, besok-besok gue bakal lebih berhati-hati lagi. Oh iya, jangan lupa nanti acara kelulusan kelas 12 lo udah siapkan?]
"Beres itumah," jawab Anita dan langsung saja mematikan percakapannya.
"Liat aja Cyl, lo akan menderita di tangan gue." gumam Anita.
BERSAMBUNG...
****