
Arcyla pov
Sudah dua hari ini aku tidak makan dan minum, tubuhku sudah seperti melayang di antara tanah dan langit. Setiap pagi datang aku kedinginan, begitupun saat tibanya malam hari, tubuhku sangat menggigil. Sebenarnya apa yang diinginkan penculik itu terhadapku? Jika aku mati karna tidak makan dan minum, maka aku hanya ingin saat-saat terakhirku ini melihat Arga. Ya, Arga! Aku hanya ingin melihat dia yang selalu ada saat aku terluka.
Tiba-tiba seseorang berteduh di depan gubuk, aku langsung menjatuhkan tubuhku agar dia bisa mendengar. Ia pun lalu menolongku dan membuka solatip dimulut beserta ikatan ditanganku. lalu ia menyuruhku untuk segera pergi. Aku sangat berterimakasih.
"Terimakasih, pak." ucapku.
"Sama-sama, sepertinya berhari-hari kau ada di sini?" tebaknya.
"Iya pak, sebaiknya saya harus pergi sekarang." pamitku.
Aku segera berlari dengan tubuh yang sempoyongan karena lemas, tapi sekuat tenaga aku terus melangkah meninggalkan gubuk itu. Ini di dalam hutan! Pantas saja udaranya dingin, dan sekarang hujan. Aku harus berlari kemana, jika tersesat dan tidak bisa keluar bagaimana?
Tidak! Aku harus tetap berjalan meskipun itu tak akan membuatku keluar dari tempat ini, setidaknya aku bisa lepas dari penjahat itu.
Setelah berjam-jam di bawah hujan, akhirnya aku menemukan jalan raya. Saat aku hendak menyebrang, kepalaku tiba-tiba berdenyut nyeri dan saat aku mendengar suara sahutan klakson, aku merasa pusing dan akhirnya aku tidak mengingat apapun lagi.
****
Arga berpisah di antara teman-temannya, ia kembali lagi untuk membawa Bagas. Sepertinya Arga pun khawatir jika teman-temannya terlalu menyiksa dia, karna Arga pun sempat percaya bahwa Bagas tidak melakukannya. Gibran dan Andrian berhenti ketika mereka menyadari Arga sudah tak mengikutinya,
"Si Arga kemana?" tanya Gibran.
"Mana gue tau, yaudah jalan lagi aja." suruh Andrian kembali melajukan motornya.
Hujan semakin deras, mereka berdua tidak bisa melihat jalan dengan benar. Tiba-tiba seorang wanita melintas dan berhenti di tengah jalan. Mereka berdua beberapa kali memencet klakson, namun wanita itu masih saja belum pergi dan beberapa menit setelahnya ia pun jatuh pingsan. Dengan cepat Gibran dan Andrian menghampiri wanita itu. Saat mereka teliti wajahnya, sepertinya wajah ini adalah wajah yang sedang mereka cari.
"Yan, ini mah cewe yang kita cari-cari," ucap Gibran sambil menyingkirkan beberapa helai rambut yang ada di wajah Arcyla.
"Yaudah telpon Arga," suruh Andrian.
"Ya sama elo lah ****, gue mau bawa nih cewe ke pinggir. Masa gue tinggalin di tengah jalan," sewot Gibran.
"Yee, si monyet ngegas." balas Andrian langsung menelpon Arga.
Tut_
"Kagak aktif bro," ucap Andrian memasukan kembali ponselnya.
"Telpon sepupunya aja," suruh Gibran sambil menutupi tubuh Arcyla dengan jaketnya.
"Pinter juga lo," seru Andrian.
"Hallo, Kresy?"
[Iya halo, ini siapa?]
"Gue Andrian, Arga ada sama lo nggak?" tanya Andrian.
[Nggak ada, emangnya kenapa?]
"Bilangin, gue sama Gibran udah nemuin cewe yang dicarinya."
[Maksud lo, Arcyla?]
"Iya, gue coba nelpon Arga, tapi dia nggak aktif." jelas Andrian.
[Alhamdulillah, lo bisakan bawa Arcyla ke rumah gue?]
"Oke gue ke situ sekarang." setujunya.
Andrian langsung memesan taksi untuk membawa Arcyla pergi ke rumahnya Kresy. Dia pun menyuruh Gibran agar tetap bersama wanita itu.
"Lah, motor gue gimana?" tanya Gibran.
"Biar gue yang urus," ucap Andrian meyakini Gibran.
Setelah sampai di rumah Kresy, ia langsung memangku Arcyla ke dalam. Di sana sudah ada Zio, Indra, Kresy, Anita dan juga Reno. Dengan hati-hati, ia membaringkan tubuh Arcyla di kasur dan menyelimuti tubuhnya yang basah. Kresy segera mengambil handuk dan teh hangat untuk sahabatnya. Sedangkan Anita, dia memasang raut muka yang tidak suka.
Beberapa menit kemudian, Arcyla tersadar dan dia sangat bahagia masih bisa melihat teman-temannya itu. Zio langsung memeluk tubuhnya dengan hangat dan mengatakan bahwa dia tidak ingin melihatnya menderita lagi.
"Drama!" batin Anita, ia mengeluarkan ponsel dan hendak merekamnya, namun dengan cepat Gibran menepis ponsel itu hingga terjatuh.
"Masih sempat aja lo ngerekam orang!" cibir Gibran.
Anita mendelik dan segera mengambil ponselnya lalu ia melenggang pergi tanpa pamitan.
"Lo nggak papakan, Cyl?" tanya Kresy sambil meminta Zio untuk memberikan teh hangat kepada Arcyla.
"Gue cuma pusing dan lemes aja, Sy." balas Arcyla sambil tengok kanan dan kiri, " Yang bawa gue ke sini siapa, Arga?" tanyanya.
"Makasih ya," ucap Arcyla, lalu meneguk teh hangatnya.
"Kamu pucet banget, pasti nggak makan ya seharian?" tanya Zio mengelus pipi Arcyla.
Arcyla menatap sekilas Zio, lalu pokus kembali pada gelas. Dia hanya berharap Arga yang memeluknya saat ini.
"Cyla, lo kenapa bisa sampe diculik?" tanya Reno.
"Gue juga nggak tau, pas terakhir di taman gue udah nggak inget apa-apa lagi." jelas Arcyla.
"Pasti penculikan ini disengaja, atau bahkan sudah di rencanakan di hari-hari sebelumnya." timpal Indra.
BRAK!
Tiba-tiba Bagas dan pria bertopeng itu di dorong keras oleh Arga dan Andrian, membuatnya tersungkur di lantai. Semua orang yang ada di dalam pun terkejut dengan itu. Indra langsung membangunkan sahabatnya itu dan menatap marah ke arah Arga.
"Apa? Lo semua mau taukan siapa yang udah nyulik Arcyla, ini orangnya!" tegas Arga.
"GUE MAU NGEJELASIN, *******!" bentak Bagas."Sebenarnya pas gue nggak ikut ke caffe itu karena kemarinnya gue nggak sengaja denger percakapan cowo asing ini nyebut-nyebut nama Arcyla, dan saat gue selidiki ternyata benar saja dia menculik Arcyla tapi setelah itu gue kehilangan jejak. Lalu kenapa gue bisa sama dia? Karena pas hari kedua gue mencari Arcyla tepat di mana gue kehilangan jejak, di situ ada cowo bertopeng dan gue nggak tau itu siapa. Gue langsung aja bawa ke mobil untuk mengintrogasinya, eh, dia malah langsung nuduh gue" jelas Bagas.
Arga hendak memukul wajah Bagas, namun di tahan. "Udah Ga, dia udah ngejelasin semuanya." lerai Reno.
"Lo semua kalo berantem kagak pernah liat tempat ya, lo semua liat nggak sih kalo sekarang ini Arcyla butuh istirahat!" kesal Kresy.
Arga menatap Arcyla, begitupun dengan yang di tatapnya. Karna Kresy pun tahu dengan kecemasan Arga, ia menarik tangan Zio untuk menjauh dari Arcyla. Argapun langsung memeluk tubuh Arcyla sambil meneteskan air mata.
"Gu_ gue nggak papa, Ga." ucap Arcyla membalas pelukan dari Arga.
"Gue khawatir," lirih Arga.
"Kenapa, kenapa saat Arcyla di peluk Arga ... rasanya hati gue itu sakit." batin Zio.
Reno membuka topeng itu dan ternyata dia adalah Adli, teman satu kelasnya. Semua yang ada di sana terkejut atas apa yang dilakukan Adli terhadap Arcyla.
"Bukannya lo yang nggak sengaja ngelemparin bola ke arah Serina? Oh, tidak! Lebih tepatnya mungkin disengaja," cibir Kresy.
"Lo kenapa ngelakuin ini ke Arcyla?" bentak Zio.
"Hh, ternyata lo masih bisa selamat. Padahal udah di kucilkan di tengah hutan." cibir Adli.
BUGH!
Andrian memukul perut Adli cukup keras, membuatnya tergeletak di lantai. Arcyla bangkit untuk menolong Adli, namun ia malah di dorong kasar olehnya.
"Brengsek lo!" sentak Arga sambil membangunkan Arcyla.
"Kenapa, kenapa lo culik gue? Nampar gue lalu ngurung gue tanpa kasih makan dan minum." tanya Arcyla.
Adli bangkit, "Itu belum seberapa, Cyl. Gue belum membuat elo merasa kehilangan." sambil menyeringai, ia merentangkan otot-ototnya.
Zio dan Reno yang tersulut emosi itu langsung di tahan oleh Kresy dan Gibran.
"Lo semua mau tau kenapa gue ngelakuin ini? Cyl, lo sadar nggak sih... nyokap gue yang kerja keras nyekolahin gue, pergi begitu saja karena serangan jantung ngurusin elo! Anak mana yang bisa menerima semua itu? Jika elo nggak manja, mungkin nyokap gue nggak bakal meninggal!"
"Lo anaknya bi Hanum?" tebak Arcyla, sedangkan yang lainnya hanya mendengarkan.
"Tepat, dia adalah satu-satunya orang yang gue punya saat ini dan elo membuatnya pergi. Setelah dia ngurus lo di rumah sakit, dia terkena serangan jantung. Apa bisa lo ganti nyawa nyokap gue? Nggak kan! Maka dari itu gue pengen buat lo menderita." jelas Adli.
Arcyla tidak menyangka bahwa bi Hanum telah pergi untuk selama-lamanya. Tapi kenapa tidak ada yang memberi tahunya? Bukannya kata Arga bi Hanum pulang kampung.
Ya, waktu itu Arga sengaja tidak memberi tahu Arcyla karna dia tidak ingin melihatnya terbebani dengan kepergian bi Hanum.
"Kenapa Arga, kenapa lo nggak ngasih tau gue?" tangis Arcyla pecah di dekapan Arga.
"Sorry, gue hanya menjalankan amanah dari beliau bahwa jika terjadi apa-apa pada dirinya, jangan kasih tau lo, Cyl." jelas Arga.
"Adli, seharusnya lo jangan nyalahin Arcyla juga. Mungkin ini udah takdri," balas Kresy mengelus pundak Adli.
Semuanya merasa sedih atas apa yang telah menimpa Adli, tapi perlahan amarahnya mereda saat Zio, Reno dan Kresy memberi pengertian kepadanya dan akhirnya Adli mau memaafkan kesalahan yang tidak di sengaja oleh Arcyla itu.
"Maafin gue, Ad, gue benar-benar nggak tau apa-apa." keluh Arcyla dengan penuh penyesalan.
"TIDAK! TIDAK SEMUDAH ITU ARCYLA, LO JUGA HARUS MERASAKAN APA YANG GUE RASAKAN!" batin Adli.
Adli tidak menjawab permohonan maaf dari Arcyla, ia langsung pergi begitu saja.
***