I AM HERE

I AM HERE
22.Bagas pengkhianat?


Reno dan Kresy masih menunggu kedatangan Arga, namun sampai sekarang belum muncul juga. Zio yang baru saja diberitahu pun sudah ada bersama mereka. Sebaiknya mereka bergegas mencari Arcyla. Sebelum Zio naik ke motor, Serina menelponnya untuk segera ke rumah. Tapi sepertinya Zio sangat menghawatirkan Arcyla, ia pun langsung mematikan ponselnya.


Dengan wajah kesal, Serina membantingkan ponselnya. Anita bertanya, lalu ia pun merasa bahwa penculikan Arcyla ada kaitannya dengan pesan misterius yang beberapa hari lalu memintanya untuk bekerja sama.


"Sepertinya orang itu yang merencanakan penculikan." seru Anita.


"Kenapa tidak telpon saja?" usul  Serina.


Anita merogoh saku celananya, lalu menelpon si lelaki misterius itu. Dari percakapan itu benar saja, dia lah yang merencanakan penculikan Arcyla. Dia menyuruh Serina dan Anita untuk bersenang-senang dengan pujaan hatinya masing-masing.


"Bersenang-senang gimana? Arga dan Zio malah sibuk mencari cewe itu." kesal Anita sambil men-loudspeker.


[Satu hari dua hari terkurung dan tidak diberi makan, apakah masih selamat? Tenang saja, mereka tidak akan menemukan wanita ini.]


"Maksdunya, lo bakal bunuh dia?" tanya Serina sedikit panik.


[Bukannya itu yang lo berdua mau?]


"Gue nggak setuju, lebih baik lo lepasin dia. Biar kita aja yang buat kapok tuh cewe." suruh Anita.


[Tenang aja, gue juga nggak seceroboh itu. Nikmati aja permainan gue,]


TUT...TUT...TUT


"Nelpon sama siapa?" tanya Arga yang sempat keluar dan kembali lagi ke kamar Serina.


"Te_ teman gue, Ga." jawab Anita gugup.


"Lo mau pulang kapan?" tanya Arga.


"Sekarang, tapi udah mau magrib. Aku takut di jalannya." ucap Anita.


"Jadi?" tanya Arga.


"Ya kakak antarlah, masa cewe secantik kak Anita dibiarin pulang sendiri sih." timpal Serina.


"Tapi kamu kan_"


"Udah anter dulu, paling juga sebentar. Ntar kakak balik lagi ke sini," suruh Serina.


Arga tidak bisa menolak kemauan Serina dan akhirnya ia pun mengantar pulang Anita.


"Yes! Hari ini gue bisa nempel terus sama Arga." batin Anita.


****


Sudah dua hari ini Arcyla tidak masuk sekolah dan sudah dua hari juga Arga beserta sahabat Arcyla masih belum bisa menemukan keberadaannya sekarang. Sepulang sekolah, Arga menyuruh teman-teman Zio serta Kresy berkumpul di kantin untuk membahas bagaimana cara agar mereka bisa secepatnya menemukan Arcyla. Anita pun sengaja ikut serta dalam mencari Arcyla, padahal jelas-jelas dia pun sudah tahu Arcyla diculik.


"Bagas ke mana?" tanya Arga.


"Gue nggak tau, dari kemarin dia kagak sekolah." jawab Indra.


Entah datang dari mana, tiba-tiba Arga berasumsi bahwa Bagas ada dibalik hilangnya Arcyla. Karna dari tempat menghilangnya Cyla, Bagas tidak ada dan sekarang diapun sudah 2 hari tidak sekolah. Hal itu memicu banyak pertanyaan.


"Maksud lo, lo nuduh temen gue?" sewot Zio.


"Gue nggak nuduh, gue nebak aja!" ketus Arga.


"Udah, sekarang kita mau cari ke mana lagi? Dari kemarin tetap aja hasilnya sama, nggak ketemu!" Lerai Reno.


"Kalo lo nggak maki-maki Arcyla dan nggak cuek sama dia, mungkin dia nggak bakal ilang!" sindir Arga.


Zio menatap Arga dengan tatapan penuh emosi. Kresy langsung menyuruh Zio untuk tenang dan pokus dengan pencarian Arcyla.


"Sebaiknya Serina jangan ikut, kalau dia kambuh lagi gimana? Nanti pencarian Arcyla bakal terhambat." usul Indra.


"Iya bener juga, jadi si Zio sama Arga aja." setuju Reno.


"Emm ... aku aja yang sama Arga, biar Zio sama Indra, secarakan mereka nggak terlalu akrab." tawar Anita.


"Mmm ... yaudah deh atur aja. Kita berangkat sekarang." suruh Reno.


Merekapun langsung menaiki motornya masing-masing. Sedangkan Serina terpaksa harus pulang meski sebenarnya ia sangat ingin ikut.


Hujan tiba-tiba mengguyur kota Jakarta, membuat jalanan basah dan licin. Anita yang mengambil kesempatan dalam hal ini, ia perlahan melingkarkan tangannya di pinggang Arga.


"Nggak papakan? Gue dingin." tanya Anita.


"Yaudah kita menepi dulu," balas Arga.


Merekapun duduk di warung pinggir jalan untuk meneduh sebentar. Arga merogoh ponselnya di celana, lalu ia menelpon Gibran.


"Gimana Bran, udah ada tanda-tanda?" tanya Arga.


[Anak-anak udah nyari hampir keluar Jakarta, tapi kita belum bisa menemukannya]


"Tetap cari!" suruh Arga.


[OKE, kita kabar-kabari saja]


"Yaudah, gue juga mau lanjut nyari." ucap Arga memutuskan sambungannya.


"Tadi itu siapa?" tanya Anita.


"Temen," singkat Arga.


"Gue rasa lo di sini aja deh, gue nggak mau ngebonceng cewe manja kayak lo." suruh Arga sambil meninggalkan Anita dan menerobos hujan.


Dengan mata menyala, Anita menatap motor Arga yang semakin menjauh darinya. Bisa-bisanya Arga meninggalkan dirinya di pinggir jalan seperti ini!


"Awas aja ya kalo Arcyla ketemu, gue bakal bikin dia lebih menderita dari ini," ancam Anita.


****


Arga menghampiri teman-temannya untuk mencari keberadaan Bagas, ia  masih curiga dengan laki-laki itu. Setelah itu, mereka langsung pergi ke rumah Bagas tapi di rumahnya tidak ada orang. Saat mereka memutuskan untuk kembali, tiba-tiba Bagas dan seseorang bertopeng datang dengan wajah menegang sekaligus cemas.


Arga dan teman-temannya langsung menyeret Bagas dan lelaki bertopeng itu saat ia melihat ada gelang milik Arcyla sedang di pengangnya.


"Lo sembunyiin Arcyla di mana?!" bentak Arga sambil menjambak rambut Bagas.


"Gue nggak tau," jawab Bagas.


"Terus gelang ini, kenapa bisa ada di cowo bertopeng itu?" tanya Gibran.


"Justru gue ngebawa dia untuk menanyakan keberadaan Arcyla." balas Bagas.


"Udahlah jangan bohong, buruan kasih tau kita kalo kalian masih sayang dengan nyawa." ancam Andrian.


Sedangkan laki-laki bertopeng itu santai-santai saja. Andrian yang sangat jengah dengan gerak-gerik cowo itu langsung menendangnya dengan keras. Arga terus mendesak Bagas agar bisa mengaku. Tapi tetap saja, Bagas mengatakan perkataan yang sama.


"GUE NGGAK TAU! GUE JUGA LAGI BERUSAHA MENANYAKAN ITU KEPADA DIA, TAPI DIA NGGAK MAU NGEJAWAB."


Karna Arga tidak ingin bertele-tele, ia pun mengerahkan teman-temannya untuk membuat Bagas dan pria bertopeng itu mengaku. Sedangkan dia, Gibran dan Andrian meninggalkan tempat itu untuk mencari Arcyla lagi.


****