I AM HERE

I AM HERE
14.Antara tergores dan patah


💔💔💔


Antara tergores


dan


patah


💔💔💔


Matanya perlahan terbuka dengan indah, Arga masih memandang wajahnya. Lalu, Arcyla menatap Arga dengan tatapan yang tidak bisa di mengerti. Arga mendekat, Arcyla langsung memeluknya tiba-tiba.


"Gue sakit Arga," lirih Arcyla.


"Gue tau," balas Arga sambil membalas pelukan dari Arcyla.


Dia masih mendekap dipelukan Arga dengan erat. Isakannya memenuhi telinga, air matanya pun membasahi pundak, Arga langsung mengelus pelan rambut Arcyla. Tak lama, Arcyla melepaskan pelukannya. Lalu kembali menatap Arga.


"Lo liat gue nangis," tunjuk Arcyla.


"Nggak papa nangis aja, disini cuma ada gue doang kok," ucap Arga sambil memeluk kembali Arcyla.


Melow-melowan!!


"Gue nggak nyangka aja, bisa-bisanya dia nampar gue. Padahal kita pernah bertukar rasa, bertukar cerita juga. Tapi dengan ringannya dia melayangkan tamparan kewajah gue." Arcyla menumpahkan kekesalannya kepada Arga.


"Gue yakin, dia bukan laki-laki baik buat lo," jelas Arga.


"Sorry, gue malah jadi curhat gini sama lo." ucap Arcyla melepaskan pelukannya.


"Nggak papa, gue kan cowo sejati. Buktinya gue jadi pahlawan buat lo tadi." bangganya sedikit sombong.


"Mulai deh besar kepalanya," cibir Arcyla sambil menghapus air matanya.


"Tapi kepala gue jadi besar nggak? Enggak kan. Lgi pula gue nyaman kok dipeluk-peluk kayak tadi gitu." ucap Arga terkekeh.


"Lah kenapa gue tadi meluk lo?" tanya Arcyla yang baru saja menyadari itu.


"Mana gue tau, lo tiba-tiba meluk gue terus nangis-nangisan kayak bayi!! Dasar labil," cibir Arga membuat Arcyla kesal.


Arga sengaja mengatakan itu karna baginya melihat Arcyla kesal dan marah-marah itu sangat menyenangkan. Nggak papa deh dijadiin bahan pelampiasan asalkan dia bisa semangat lagi, pikirnya.


"Ih lo kali yang lebay!! Kenapa coba tadi meluk balik gue? Cari kesempatan banget sih jadi cowo." tukas Arcyla dengan khas pipi merahnya.


"Kenapa ya kalo dia lagi malu, atau baper mukanya suka Blushing gitu. Bikin gemes aja deh, ditambah pipinya yang cuby itu. Ummmm ... jadi pengen nampol nih, wkwk." batin Arga.


Arga cuma bercanda ya!!


"Gue nggak nyari kesempatan Cyl!!! Ya emang kesempatannya aja yang nyari gue." timpal Arga membuat Arcyla menyeringai.


"Yaudah lo udah sadarkan? kita kekantin," ajak Arga bangkit dari duduknya.


"Lagi keadaan gini lo masih aja nanya gitu?" pekik Arcyla.


"Ini bukan pertanyaan, tapi permintaan."


Arcyla mendengus lalu dengan terpaksanya dia keluar dari ruang uks dan meninggalkan Arga. Arga mengejar Arcyla dan membujuknya untuk menepati janji yang disetujui oleh Arcyla tadi pagi.


Arcyla berbalik dan menatap Arga kesal, ia mendorong pelan Arga. Sedangkan Arga malah semakin mendekati Arcyla. Kresy dan Reno yang sedang berjalan di lorong sekolah pun melihat Arcyla dan Arga. Mereka menghampiri dua kucing betina dan jantan yang sedang bertengkar itu.


"Cyl, kamu udah nggak papa?" tanya Kresy.


"Eh Kresy, nggak papa kok. Malahan gue jauh lebih baik dari sebelumnya__" balas Arcyla.


"Ya iyalah kan ada gue disampingnya," sahut Arga.


"SEBELUM GUE NGELIAT LO!!" teriak Arcyla melanjutkan perkataan sebelumnya tepat di daun telinga Arga.


"Ih lo kok teriak didepan gue? Nggak sopan." protes Arga.


Arcyla tak memperdulikan Arga, ia langsung menarik Kresy menjauh dari tempat itu. Reno menatap Arga sinis, begitupun dengan Arga.


"Ya elo apa!!" timpal Reno.


Untungnya aksi tatap menatap itu tidak berlangsung lama. Mereka langsung bubar. Reno yang menyusul Kresy dan Arga yang memilih untuk bolos lagi. Ya apalagi? Menurutnya jam terakhir itu nggak penting. Seni budaya, huftt ... membosankan!


*****


Setiap istirahat, Serina selalu mengajak Zio ke taman sekolah. Dengan bekal makanan yang dibawa Serina, mereka menikmati makan siangnya. Suasana itu tiba-tiba sangat panas ditubuh Arcyla saat melewati dua makluk yang ia benci. Zio menghentikan aktivitasnya lalu menahan Arcyla yang hendak melewatinya.


"Kamu nggak papa kan?" tanya Zio memegang pipi Arcyla.


"Gue min_"


"Nggak usah, sebelumnya juga gue udah denger kok." potong Arcyla lalu menepiskan tangannya.


"Kak, maafin kak Zio ya." mohon Serina memegang tangan Arcyla.


"Lepas, gue nggak mau." tolak Arcyla.


"Gue nggak tau, Cyl." ucap Zio.


"Gue juga nggak mau tau, Zio. Gue udah terlanjur kecewa sama lo," timpal Arcyla lalu pergi.


"Makannya kalo apa-apa itu mikir dulu!" cibir Kresy lalu menyusul Arcyla.


"Kak aku minta maaf ya, gara-gara aku terlalu lembek. Kakak harus bertengkar dengan kak Arcyla." keluh Serina.


"Hey!! Ini bukan salah kamu, kamu nggak terlibat dalam masalah aku dan Cyla." ucap Zio sambil mengelus kepala Serina lembut lalu memeluknya dengan hangat.


Dari kejauhan, Arcyla masih memandang mereka berdua. Nyeseknya itu loh, sampe ke ubun-ubun.


"Brengsek!!Gue benci sama lo, Zio!!" teriak Arcyla membuat dirinya menjadi pusat perhatian banyak orang.


Arcyla benar-benar menangis saat ini. Teman-temannya yang tak pernah melihat satu kalipun Arcyla menangis, langsung heboh dan merekam kejadian langka itu. Kresy memeluk Arcyla dari samping karna Arcyla merontak dan berusaha melukai dirinya sendiri. Dari menjambak rambutnya sampai memukul kepalanya.


"Arcyla udah!! Kenapa lo nyakitin diri lo sendiri." teriak Kresy panik.


Reno segera menghampiri Arcyla dan Kresy. Ia langsung membantu Kresy untuk menenangkan Arcyla yang berteriak-teriak histeris dan kesakitan. Reno menepuk-nepuk pundak Arcyla dan berusaha menguatkan hati Arcyla.


Reno heran, nggak biasanya Arcyla seperti ini. Dia benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Akibat jeritan dan rontakkan Arcyla, satu sekolah heboh dengan kejadian itu. Begitupun dengan Zio dan Serina yang langsung berlari keasal suara.


Reno menyuruh Zio untuk menenangkan Arcyla tapi Arcyla semakin merontak dan menjambak rambutnya. Reno memegang tubuh Arcyla dan Kresy memegang tangan Arcyla.


"JANGAN DEKETIN GUE!!" jerit Arcyla.


Zio tidak bisa apa-apa lagi, meski berusaha sepertinya itu hanya sia-sia saja. Guru-guru yang ada disekolah pun sepertinya sedang rapat dan tidak mendengar kegaduhan ini.


Arga yang hampir saja berhasil bolos, tiba-tiba mengurungkan diri saat mendengar suara jeritan. Ia berlari kearah suara itu dan melihat Arcyla sedang dikerumuni banyak orang.


"Kenapa sih? Ribut amat," gumam Arga.


Arga menatap Arcyla, sedangkan Arcyla masih berusaha melukai dirinya sendiri. Dengan cepat Arga memasuki kerumunan itu dan langsung berada dihadapan Arcyla lalu memeluknya. Anehnya, yang dipeluk pun tidak memberontak. Malahan dia langsung pingsan dipelukan Arga.


"Ih caper banget!!"


"Liat yang cakep aja langsung nyosor!"


"Untung ada Arga!"


"Zio keterlaluan banget!!"


"Pasti sakit, sampe nangis gitu lagi."


"Iya yah, secara kan dia kagak pernah nangis."


Kurang lebih seperti itulah yang dilontarkan para siswa/siswi yang melihat kejadian itu. Ada yang merasa adegan itu lebay dan ada juga yang merasa kasihan. Begitulah hidup, ada yang mendukung dan ada juga yang menjatuhkan. Kita hanya perlu tutup telinga saja.


Anita semakin kesal, dan dia semakin tidak bisa mendapatkan Arga untuk jatuh ketangannya. Dia mengepalkan tangannya dengan erat. Dia bersumpah akan mengahncurkan siapapun yang mendekati Arga. Sekaligus dia pun akan menghancurkan Serina. Tidak perduli dengan ancaman yang dilontarkan Zio, yang jelas dia sudah sangat muak. Karna apa? Karna sebelumnya Anita dekat dengan Arga saat masih jadian dengan Reno tapi entah kenapa sekarang malah semakin sulit!!


*****