
Pulang sekolah, Serina dijemput oleh Bayu dan Audi. Serina tersenyum bahagia sambil memeluk Audi dan mencium keningnya. Ia benar-benar sangat berharap kalau Audi bisa menjadi istri papanya. Saat di mobil, Bayu menanyakan keberadaan Zio. Tapi, Serina hanya diam saja. Beberapa menit kemudian dia meminta untuk mampir ke rumah Audi. Ia ingin memastikan apakah kakak dan pacarnya itu ada di sana atau tidak.
"Pah, kalau papa mau pulang, pulang aja. Aku mau main dulu di rumah mama Audi." pinta Serina.
"Kok tumben sih?" tanya Bayu.
"Iya, bolehkan ma?" pinta Serina.
Audi mengangguk, "boleh sayang, lagi pula Arcyla ada di rumah kok. Tadi malam dia kecelakaan." balas Audi
"Loh, kok kamu nggak bilang sih? Kalo gitu akukan bisa beli dulu buah untuk Arcyla." tanya Bayu cemas.
"Tidak papa, mas. Lagi pula nggak parah kok." balas Audi.
"Kak Arcyla diantar pulang sama kak Zio?" tanya Serina.
Audi terdiam...
"Aku tahu kok," lanjut Serina.
"I_ iya sayang... Zio tidak sengaja menabrak Arcyla. Jadi, dia bawa pulang Cyla ke rumah." balas Audi.
"Yaudah kita jenguk kak Arcyla."ucap Serina memalingkan wajahnya keluar jendela.
Karena suasananya tidak sehangat tadi, akhirnya Bayu dan Audi tidak berkomentar lagi.
****
Kondisi rumah Arcyla sebelumnya baik-baik saja, sampai akhirnya kedatangan Zio mengundang peperangan. Saat Arcyla membutuhkan istirahat, dua makhluk itu terus saja mengganggunya.
BUBUR!!!
TELOR DADAR!!!
BUBUR!!!
TELOR__
"Eh, lu berdua ngapain ribut-ribut di dapur?" tanya Arcyla.
"Gue mau buatin lo bubur, dia malah pengen buatin lo telor dadar," sewot Arga kesal.
"Arcyla itu nggak suka bubur, dia sukanya telor dadar." timpal Zio tak mau kalah.
"Ya kalo ada bubur kenapa harus ada telor dadar?" tanya Arga.
'Kalo udah ada aku, kenapa harusĀ ada dia' -autorš
"Sumpah deh, lo berdua ribet banget sih. Arga, lo tinggal buat bubur, dan Zio, lo bisa buat telur. Apa susahnya sih, nantikan bisa digabungin." cetus Arcyla.
"Pinter juga ya lo," bangga Arga.
Mereka langsung saja membuat apa yang mereka mau. Setelah beberapa menit kemudian, makanan yang dibuat oleh Arga dan Zio sudah siap untuk disantap. Bubur terur dadar itu disimpan di atas meja dengan rapi dan aromanya pun sepertinya sangat lezat.
"Dapurnya kagak berantakan, kan?" tanya Arcyla curiga.
"Gue sih rapih, nggak tau tuh si Arga." cibir Zio sambil menatap Arga.
"Gue juga rapih," timpal Arga.
Tanpa basa-basi, Arcyla langsung mengambil sendok dan melahap bubur serta telur dadarnya itu, karena dari kemarin dia juga belum memakan apapun. Dahinya mengkerut, mulutnya menahan gumpalan yang disuapnya. Sepertinya, makanan yang dibuat kedua makhluk itu tidak enak.
Dengan cepat Arcyla meletakan sendoknya,Ā lalu ia menyuruh Arga dan Zio mencicipi pasakan mereka masing-masing.
'TIDAK ENAK!!!', Pikir Arga dan Zio.
Arcyla bergegas pergi ke kamarnya, karena dia sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan Arga dan Zio yang membuatnya pusing tujuh keliling. Saat Arcyla bangkit, kakinya tersandung meja.
BRUKK!!!
Arga dan Zio segera membangunkan Arcyla, namun mereka malah debat lagi memerebutkan soal siapa yang akan membawa Arcyla ke kamar. Perdebatan itu akhirnya terhenti saat Serina, Bayu dan Audi datang. Zio langsung menyapa Bayu dan Audi, begitupun dengan Arga. Arcyla heran, kenapa tiba-tiba Arga juga ikutan.
"Apa Arga juga suka sama Serina?" pikir Arcyla.
Arcyla langsung melangkah pergi meninggalkan suasana yang menurutnya sangat membosankan itu. Huft... kedatangan Serina membuat dirinya jauh lagi dengan Zio.
Setelah di kamar, tak ada satupun yang menngejarnya."Benar-benar keterlaluan!!! Lalu tadi mereka nyiapin sarapan buat gue itu apa? Arghh," kesal Arcyla.
Pintu kamar Arcyla terbuka, dia kira yang datang itu Zio atau Arga ternyata hanya sahabatnya, Kresy.
"Baru nongol, lo?" cibir Arcyla.
"Dih, galak bener dah. Gue kan harus sekolah dulu, ya kali gue harus bolos." jelas Kresy.
"Baguslah, lo ada di sini. Gue mau curhat nih. lo liatkan tadi di bawah? Si Arga ngapain juga caper sama papanya Serina! Pake salim segala lagi," kesal Arcyla.
"Zio juga lagi sama Serina," ucap Kresy.
"Iya kalo itu gue juga tau, ya aneh aja gitu tiba-tiba keduanya akrab banget sama Serina." ucap Arcyla, sepertinya dia sedang kesal.
"Lah, lo kenapa malah kesalnya sama Arga ? Jangan-jangan ... lo suka ya?" tebak Kresy.
"Kalo ngomong jangan ngaco deh," kesal Arcyla.
Ia langsung menyembunyikan wajah merahnya di balik selimut. Kresy yang melihat itupun hanya cekikikan tak bersuara.
****
Serina berjalan ke arah Arcyla, ia sengaja menjatuhkan tubuhnya. Berteriak dan merintih kesakitan, membuat semua orang yang melihatnya merasa kasihan. Arcyla yang melihat Serina hanya diam, karena dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan wanita itu. Dia berlalu dari Serina tanpa memperdulikannya. Zio berteriak, meminta Arcyla agar berhenti di situ.
Arcyla membalikan tubuhnya dan dengan gerak tubuh, Arcyla bertanya 'ada apa?'.
"Lo buta?" sentak Zio menghampiri Arcyla.
"Tapi dia jatuh sendiri, gue nggak ngapa-ngapain." bela Arcyla.
"Nggak kak, kak Arcyla sengaja nyenggol aku. Aku salah apa kak Cyla? Selama ini bukannya aku baik sama kakak. Aku tidak pernah berbuat salah kepada kakak." lirih Serina.
"Apa? Eh, maksud lo apa ngomong gitu. Gue sama sekali nggak nyentuh elo!" timpal Arcyla tak terima karena dia memang tidak merasa menyentuhnya.
"Gue nggak nyangka lo bersikap gini. Cyl, lo harus tau, meskipun mama lo sama papanya Serina nikah... bukan berarti lo bisa seenaknya nyakitin Serina." marah Zio.
"Tapi gue sama sekali nggak nyakitin Serina. Meskipun gue benci, gue nggak pernah MUNAFIK!" tekan Arcyla berlalu dari Zio.
"Serina, kamu nggak papa?" tanya Arga langsung memangku Serina.
"Turunin Serina, biar gue yang bawa!" pinta Zio.
"Gue bakal bawa Serina ke rumah sakit" ucap Arga, namun Zio terus memaksa agar Serina bersamanya. Tapi tetap saja ia tidak mendapatkannya.
Dari kejauhan, Arcyla melihat jelas bagaimana Arga memangku Serina. Seperti waktu di mana dirinyapun diperlakukan seperti itu. Entah kenapa, tiba-tiba hatinya terasa sesak melihat itu. Bukan karena dia dibentak oleh Zio, tapi ia melihat perhatian Arga kepada wanita lain.
"Lebih licik dari yang gue duga, baguslah. Biar dia sendiri yang menyingkirkan Arcyla." batin Anita.
"Arcyla, sampai kapanpun lo nggak bakal dapet Zio apalagi Arga." sahut Anita.
"Siapa sih lo? Ganggu hidup gue mulu!" cibir Arcyla.
"Cyl, lo nggak papa?" tanya Kresy khawatir.
"Nggak papa, gue mau ke toilet dulu." pamit Arcyla.
"Eh, Kresy. Lo liat bukan, liciknya Serina itu gimana?" tanya Anita.
"Sebelas, dua belas sama lo!" sindir Kresy berlalu dari Anita.
"Sialan! Kalo bukan Kresy yang berkhianat, siapa lagi dong?" gumam Anita.
****
Arga bertanya kepada adiknya apakah benar Arcyla melakukan itu? Serina berbual seolah Arcyla lah yang bersalah. Arga pun percaya dengan ucapan Serina, lalu ia sedikit kecewa kepada Arcyla, tapi dia tidak bisa langsung membenci gadis itu. Gadis yang perlahan membuat hatinya bergetar saat melihat wajahnya.
"Kakak mau nyamperin Arcyla, kamu tunggu di uks dulu. Nanti kalo ada petugas, kamu bakal di bawa ke rumah sakit untuk diperiksa ya." ucap Arga.
"Iya kak," balas Serina.
Arga semakin menjauh dari Serina, ia tersenyum puas dengan drama yang ia buatnya berhasil. Ternyata membuat orang percaya itu sangat mudah, pikirnya.
"Gue nggak bakal biarin apa yang udah jadi milik gue jatuh ketangan lo Arcyla!" gumam Serina.
Dia sudah memikirkan cara agar Arcyla menjauh dari apa yang membuatnya bahagia. Dia tidak ingin semua yang ia punya hilang lagi karna satu wanita. Jujur, awalnya dia pun tidak pernah berpikir. Tapi karena ucapan Anita yang terus membayang-bayanginya ia pun mengambil tindakan seperti ini.
****