
♡♡♡
Perlu waktu dan kesabaran untuk menunggumu dipersimpang jalan.
Agar kita bisa bergandeng tangan dikejayaan.
♡♡♡
Autorr😄
...........................................................
Arcyla dan Kresy sedang menyantap mie ayam di pojok kantin. Bagi Kresy, kehadiran Arcyla di kantin itu sangat langka. Mungkin karna Arcyla jarang terlihat dan kebetulan suasana hatinya sedang berbunga-bunga sampai bisa nongkrong bareng Kresy dan Arga.
"Ga, itu si Anita ngapain ke sini?" tanya Kresy.
"Aduh, ngapain lagi sih Nyai Rombeng itu nyamperin gue." kesal Arga.
"Haii Arga!! Gue boleh duduk di sini nggak?" tanya Anita sambil menatap Arcyla seolah meminta persetujuannya.
"Duduk aja, nggak ada yang ngelarang kok." balas Arcyla acuh.
"Gue nggak setuju, Cyl! mending lo cari tempat lain aja, tuh masih banyak meja kosong." larang Kresy.
"Arga, belain aku dong." manja Anita.
"Apaan sih Nit, mending lo sama pacar lo aja tuh si Reno!! gue nggak mau ya kalo harus berurusan sama dia lagi cuma gara-gara cewe kayak lo."
"Iya, gara-gara elo kegatelan, Arga sama Reno jadi berantem." sahut Kresy sedangkan Arcyla tak berkomentar.
"Yaampun sayang, kamu rela berantem sama dia cuma karna aku? Aaaaa... cocwitttt." manja Anita menyender dibahu Arga.
"Ih, ogah banget dah gua harus ngerebutin lo. Minggir, geli gue!!" cibir Arga lalu pergi karena merasa terganggu
"Gue juga nggak mood makan." timpal Arcyla meninggalkan makanannya, begitupun dengan Kresy.
Saat Arcyla hendak masuk kekelasnya, Zio memanggil namanya. Arcyla pun berbalik, lalu tersenyum.
"Udah makan belum?" tanya Zio.
"Kebetulan udah, emangnya kenapa?" tanya Arcyla.
"Aku belum nih, mau nemenin aku kekantin nggak?" ajak Zio.
"Kamu serius?" tanya Arcyla tak percaya.
"Udah sana gih, lo tadikan makannya sedikit. Tau aja bareng Zio jadi napsu makan..." usul Kresy.
Dari dalam kelas, Arga dibuat kesal dengan pemandangan itu."huft menyebalkan" batinnya. Ia lalu keluar sambil menatap Zio tak suka.
"Ngejauh tanpa alasan, mendekat tanpa sebab. Dasar!" cibir Arga sambil menyenggol kasar bahu Zio.
"Apaan sih lo, Arga!" kesal Arcyla.
"Mmm ... gimana, mau kekantin sekarang?" tanya Arcyla.
"Yaudah, ayo." ucap Zio sambil menggandeng tangan Arcyla.
Mereka berduapun menikmati istirahatnya hanya berdua saja. Sungguh tak bisa dijelaskan betapa bahagianya Arcyla sekarang. Dia telah mendapatkan Zio lagi. Semoga ini akan menjadi milik Arcyla selamanya.
*****
Arga menghentakkan kakinya kasar, sepertinya dia sedang kesal dan ditambah lagi dengan Anita yang menguntitnya dari tadi.
"Nit, bisa nggak sih lo jangan ngikutin gue." kesal Arga.
"Aku pengen sama kamu" manja Anita bergelantungan dilengan Arga.
"Lepasin!!" marah Arga.
Dari kejauhan, Reno, Indra dan Bagas menghampiri Arga. Dengan wajah seramnya Reno, ia langsung menghajar wajah Arga.
"Maksud lo apa?" bentak Arga.
"Lo brengsek banget ya ngedeketin cewe gue terus." marah Reno tersulut emosi.
"Brengsek? gue nggak pernah ya ada niatan ngedeketin cewe lo yang lebay ini. Dianya aja yang gatel." cibir Arga sambil mengusap bibirnya yang berdarah karena tinjuan Reno.
Indra dan Bagas berusaha melerainya karena mereka mengikuti Reno itu bukan mau ngedemo Arga tapi mereka berdua berjaga-jaga saja.
"Hajar aja Ren, buaya kayak dia kebiasaan nantinya kalo nggak ditimpuk." adu Indra.
"Eh, lu mau misahin apa ngadu dombain sih?" pekik Bagas.
"Ya nggak papa dungs" ucap Indra.
"Reno, sorry ya gue nggak mau pacaran lagi sama lo. Gue maunya sama Arga!!" ucap Anita memegang lengan Arga.
"Ihh, ayang....!! Hh, ini semua gara-gara lo Ren. Jadinya gue nggak bisa ngedapetin Arga, kan!!" kesal Anita hendak pergi namun ditahan oleh Reno.
"Kita putus!!" ucap Reno.
"Oke nggak masalah!" acuh Anita berlalu dari hadapan Reno.
Bagas menepuk pundak Reno pelan, "Udahlah Ren, cewe kayak gitumah nggak perlu diperjuangin."
"Iya Ren, kan masih ada gue." kata Indra ala banci perempatan.
"Dikira gue gay apa?" kesal Reno.
"Euh, mulut lo kagak bisa diem banget sih!!" pukul Bagas tepat dibibir monyongnya Indra.
"Aduh, atit bangett." rintih Indra.
"***** jijik gua dengernya," sahut Reno pergi disusul dengan Bagas.
"Ih, tunggu ayang!! kenapa ninggalin Indra sih." ucap Indra berlari ala banci.
"Haduh, ada banci dadakan." cibir Reno.
................
Setelah selesai makan, Zio mengantar Arcyla kekelasnya. Dengan perhatian itu, Arcyla semakin yakin bahwa Zio akan menjadi miliknya seorang. Meski selalu terlintas dipikirannya, pertanyaan tentang cewe waktu itu masih membayangi pikirannya.
"Makasih ya udah mau nemenin aku kekantin." ucap Zio tersenyum manis.
"Harusnya aku yang bilang makasih, makasih ya Zio." balas Arcyla.
"Yaudah aku kekelas dulu ya, nanti pulang sekolah aku antar kamu pulang." ucap Zio.
"Eh, nggak usah, aku bisa pulang sendiri kok. Lagian aku nginep dirumah Kresy." tolak Arcyla.
"Loh, kenapa nggak pulang kerumah?" tanya Zio.
"Mama akukan udah pulang dari Bogor, jadi aku malas aja ketemu dia." ucap Arcyla.
"Tapi saran aku, kamu jangan terlalu berlebihan marahnya ke mama kamu ya." usul Zio.
"Hemm, okey." balas Arcyla.
Arcyla masuk kedalam kelas dengan wajah yang terheran-heran melihat ada Arga di jam mata pelajaran akhir.
"Tumben, kagak bolos?" tanya Arcyla.
"Males, " balas Arga masih dengan wajah kesalnya.
Kresy berbisik, "Dari tadi dia diem terus, kayaknya dia lagi kesal deh gara-gara lo deket lagi sama Zio." Arcyla mengernyit.
"Apa hubungannya sama dia?" tanya Arcyla pelan.
"Peka dong!" cibir Kresy.
"Oh, maksud lo gue harus ngobatin lukanya gitu? Okey." ucap Arcyla menghampiri meja Arga.
"Aish, maksudnya bukan luka bibir, tapi lukq hatinya." gumam Kresy.
"Makannya, jadi orang jangan suka berantem. Udah bonyok kagak ganteng lagi kan." ucap Arcyla membuat Arga terpaku ditempat.
"Jangan baper elah, gue cuma ngasih tau aja." balas Arcyla, sepertinya ia sudah tahu apa yang dipikirkan Arga.
"Si_siapa juga yang baper." gugup Arga.
"Ke uks yuk, obatin luka lo." ajak Arcyla.
"Nggak usah tepos, gue nggak papa." usil Arga sambil menatap Arcyla.
"Ih dasar lo!" kesal Arcyla.
Yang niatnya pengen ngobatin luka Arga malah nggak jadi karena kelakuan Arga yang selalu membuat dirinya kesal.
A*****A
ZIO ALANTARA
ARGA MAHENDRA
RENO ALPANO