
****
Ternyata,
menunggu itu hanya buang-buang waktu saja.
****
Sudah malam seperti ini Arcyla masih mondar-mandir di luar rumah. Sesekali ia menatap kendaraan yang melintas. Berharap itu adalah Arga. Kresy sudah menyuruh Arcyla untuk tidak menunggu Arga karena Arga adalah kelelawar malam. Tapi tetap saja, Arcyla enggan masuk kedalam rumah. Dengan berani, tanpa berpamitan pun Arcyla turun tangan mencari Arga. Entah kenapa, dari tadi hatinya sangat mencemaskan Arga.
"Udah jam segini, dia kemana sih!!" gumam Arcyla sambil melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 12.00 malam.
Tiba-tiba motor yang hilang kendali itu menghantam tubuh Arcyla yang tidak sempat menghindar. Keduanya terjatuh di jalanan yang sepi. Arcyla masih bisa bangkit meski luka goresan dan lumuran darah di jidatnya cukup parah. Sedangkan orang yang mengendarai motor itu sudah tidak bergerak. Jangan-jangan dia udah mati, pikirnya.
"Siapapun, tolong!!!" lirih Arcyla berusaha meminta tolong sambil menyeret kakinya yang terbentur.
"Hey, bangun!!" pinta Arcyla sambil membuka helm itu dan ternyata ...
"Zio!!!" pekik Arcyla, lalu tanpa sadar dia pun pingsan didekat Zio.
Tak lama setelah Arcyla pingsan, Zio pun tersadar. Dan betapa terkejutnya dia saat mengetahui bahwa yang ditabraknya adalah Arcyla. Zio merogoh saku celananya dan menelpon ambulance.
****
Di ruang tamu, Serina masih menunggu seseorang. Meski kantuk itu semakin menghantui matanya, ia tetap terjaga. Papanya sudah mengingatkan Serina untuk cepat tidur, namun ia tetap ingin menunggu kakaknya pulang. Beberapa menit kemudian, Arga pun datang menemui Serina dan papanya.
"Kak Gaga kemana aja sih? Udah malem kok baru datang." tanya Serina memeluk Arga.
"Iya, kamu kemana aja? lihat tuh adik kamu menunggu kepulangan kamu. Tidak sabaran." ucap Bayu sambil memeluk kedua anaknya itu.
"Maaf pah, Arga harus berkemas dulu." jelas Arga.
"Yaudah, sekarang Serina ayo tidur. Kakak kamu juga udah datang." suruh Bayu.
"Papa duluan aja, aku mau ngobrol berdua sama kakak." balas Serina.
"Baiklah, setelah itu kalian langsung tidur ya." ucap Bayu berlalu dari mereka berdua.
Sebenarnya, Serina pun sudah tahu tentang kontrak itu jauh sebelum dirinya mengenal Arcyla dan setelah mengenal Zio. Saat itu, dirinya memang merasa sedih dengan apa yang dilakukan papanya. Tidak menyangka saja, demi membahagiakan putrinya, mereka rela bertukar bahagia dengan orang lain. Saat Serina mengetahui itu semua, ia tidak mengatakan semua itu kepada papanya. Karna menurutnya, apa yang dia dapat saat ini adalah miliknya yang sempat hilang. Arga yang mendengar penjelasan dari Serina pun merasa lebih lega, karena adiknya tahu semuanya. Tapi, dia pun tidak tega dengan penderitaanya yang Arcyla rasakan.
"Aku mohon, cuma kak Gaga yang bisa menolongku kali ini. Biarkan semuanya berjalan semestinya." pinta Serina memelas.
"Berjalan semestinya gimana, Kamu tega mengambil semuanya dari Arcyla?" tanya Arga.
"Aku cuma minta tolong saja, kak. Cuma sampai akhir hayatku. Kakak sudah tahukan, apa yang sedang aku lawan ini? Jadi plis kak, biarkan ini berjalan sampai aku tutup usia." lirihnya.
"Baiklah, kakak akan merahasiakan ini. Tapi kakak tidak ingin siapapun terluka, termasuk Arcyla." pinta Arga.
"Makasih, kak." ucap Serina memeluk Arga.
"Maafkan aku, Cyl. Aku harus mengorbankan kebahagiaan kamu untuk adikku. Aku akan menjagamu, setelah itu aku akan mengembalikan apa yang pernah dipinjam adikku. Tapi tidak untuk sekarang." batin Arga.
KRING... KRING... KRING!!!
[Eh, lu kagak ada otak apa gimana sih? Jam segini belum balik juga!!]
"Bisa biasa aja nggak sih ngomongnya?" protes Arga
[Biasa aja- biasa aja gimana? Mana bisa gue!! Lu tau nggak, Arcyla nungguin lu berjam-jam terus dia cari lu keluar entah kemana!!! Pokoknya cari Arcyla sekarang juga!! Ini udah malem, ****. Kalo ada apa-apa sama dia gimana? Diakan cewe.]
"Serius? Nekat banget sih." kaget Arga lalu bergegas mencari Arcyla.
"Kak, mau kemana?" tanya Serina.
"Mau cari Arcyla, nanti bilangin aja ke papa. Besok aja kakak kesini lagi." ucap Arga berlalu dari Serina.
"Padahal aku adiknya, tapi kenapa kak Gaga khawatir banget sama kak Arcyla?" gumam Serina.
****
Aku kira ini hanya mimpi, ternyata bukan sama sekali!!! Zio ada disampingku, menemaniku dan berjaga untukku. Meski tubuh ini terasa remuk, aku tetap menikmatinya."Tidak masalah deh kalo aku harus tertabrak beberapa kali juga, asalkan Zio ada saat itu."
Aku mengelus pelan pipinya, membuat ia terbangun dari tidurnya. Menatapku, lalu memelukku khwatir. Aku membalas pelukan itu, mengatakan aku tidak ingin jauh darinya. Meski aku membencinya, perasaan ini tidak bisa dibohongi. Tetap saja aku mencintainya jika dia ada dihadapanku seperti sekarang ini.
"Kenapa kamu keluyuran tengah malam? Membuatku panik saja." Zio masih benar-benar khawatir padanya.
"Aku_ cuma cari angin saja. Tapi, kenapa tiba-tiba kamu menabrakku?" tanya Arcyla.
"Semalem aku kurang enak badan, jadi kepalaku pusing dan tidak sempat menghidar, eh, kamu sudah tertabrak. Maafkan aku ya," kata Zio sambil menggenggam tangan Arcyla.
"Nggak papa, Zio. Aku masih seneng kok." ucap Arcyla tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
"Aneh, jelas-jelas kau terluka karna aku. Tapi kau masih senang-senang saja." timpal Zio, mengelus rambut Cyla.
"Bukannya aku sering terluka karna kamu? Jadi ini bukan pertama kalinya aku terluka."
JLEB!!!
Sudah dipastikan masuk kedalam jiwa Zio yang banyak sekali berbuat salah kepada Arcyla. Sampai-sampai, saat Arcyla mengatakan itu Zio langsung terdiam. Wkwk, bagus, Cyl!! Sindir terossss; )
"Maaf," lirih Zio.
"Tidak perlu minta maaf, aku baik-baik saja." jawab Arcyla.
Untungnya, luka mereka tidak parah. Hanya lecet dan penuh perban saja. Zio pun membawa pulang Arcyla kerumah mamanya. Meski sempat menolak, Zio sudah lebih dahulu memberi pengertian kepada Arcyla.
Arcyla pun masuk kedalam rumah dengan sambutan hangat dari mamanya. Dengan gesit, Aura memapah Arcyla masuk kedalam kamar. Setelah itu, ia menyiapkan susu hangat juga roti tawar kesukaan Arcyla. Tapi sepertinya Arcyla belum bisa memaafkan perbuatan Audi terhadapnya. Ia pun tidak meminum apa yang telah dibawakan oleh mamanya.
"Tidak usah repot, besok lusa aku akan keluar dari rumah ini." di balik selimutnya, Arcyla mengatakan itu kepada mamanya.
"Mama tau kamu benci sama mama, tapi tolong diminum susunya ya." pinta Audi, lalu keluar dari kamar anaknya.
Arcyla hanya memandang susu dan rotinya saja, tidak ada niat untuk ia minum. Di kamar kesayangannya, ia pun langsung tertidur pulas.
.........
Arga tidak tahu harus mencari Arcyla kemana lagi, karna telponnya pun tidak aktif. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk kembali kerumah papanya meski kecemasan kerap melanda dirinya.
*****