I AM HERE

I AM HERE
11.Serina


Aku mungkin terlihat jahat di mata kak Arcyla sekarang ini, tapi aku harus berbuat apa lagi? Akupun tidak tahu apa-apa. Aku hanya tahu papaku menikah dengan mamanya dan kami hidup bahagia selama 2 tahun. Dan hari ini aku dipertemukan dengan kakak tiriku. Sepertinya dia tidak menyukai kehadiranku, buktinya dia pergi begitu saja.


"Serina ayo naik mobil, kita berangkat sekolah sekarang." ucap Zio sambil membukakan pintu mobil.


"Iya, kak."


Hari ini aku sekolah di tempat kak Zio. Alhamdulillah aku bisa selalu bareng terus dengan dia. Sejak pertama aku melihatnya aku pun sudah menyukainya. Karena cara dia menjagaku, cara dia membuatku tersenyum sungguh sangat unik.


"Kak Zio kenal sama kak Arcyla sejak kapan?" tanyaku.


"Kami bersahabat sejak kecil." sahutnya.


"Apakah kakak tidak mempunyai perasaan sedikitpun kepada kak Cyla?" tanyaku lagi membuat kak Zio memberhentikan lajunya.


"Untuk apa kamu menanyakan itu?"


"Bukannya kak Anita pernah bilang, kak Cyla adalah cinta pertama kakak?"


"Sudahlah, itu hanya masa kecil kami. Kita tidak pernah saling suka. Lagi pula kamu jangan pernah mempercayai orang yang baru kamu kenal, ya." ucap kak Zio, aku mengangguk paham.


*****


Reno celingak-celinguk di depan kelas Kresy. Sedangkan Kresy sendiri tidak menyadari itu.


"Si Reno mau ngapain tuh kesini?" tanya Baban,"tumben banget."


Kresy menoleh," dia ngapain sih disitu?" tanya Kresy lalu menghampiri Reno.


"Kamu ngapain, Ren?" tanya Kresy.


Reno gelagapan,"anu_emm_Arcylanya ada?"


"Kan lo udah tau pas ngejemput gue, gue bilang Arcyla nggak sekolah!!" jelas Kresy


Reno cengir kuda,"hehe"


"Yaampun, Reno. Kalo mau ketemu gue ya bilang aja, jangan cari alasan lain." kata Kresy terkekeh.


"Jadi boleh nih?" tanya Reno.


"Lah, emangnya siap yang ngelarang kita ketemuan? Inikan tempat umum. Nggak masalah juga." ucap Kresy bodo amat.


"Hahaha"


Tiba-tiba Indra dan Bagas tertawa di depan Reno dan Kresy. Mereka sebenarnya sudah membuntuti Reno dari pertama Reno kerumahnya Kresy sampai disekolah. Emang kagak ada kerjaan banget deh dua orang itu.


"Kasian deh lo, cuma di anggap teman. Bhahahaha!!" ledek Indra.


Sedangkan Bagas hanya tertawa renyah.


"Diem lu panci rombeng!!" kesal Reno.


"Eh, itu Zio sama siapa?" tanya Bagas tiba-tiba membuat ketiganya menoleh.


"Dia itu Serina, cewe yang gue maksud." ucap Reno.


"Oh, jadi dia yang dijodohin sama mamanya Cyla. Terus Arcyla gimana?" tanya Indra.


"Ya nggak gimana-gimana." timpal Bagas.


"Kasian banget tau Cyla." sedih Kresy.


"Ya mau gimana lagi? Mereka berdua juga kayaknya saling suka." balas Reno.


"Oh, iya nanti kita kekantin bareng yuk." ajak Reno.


"Boleh, tapi traktir ya." usul Kresy.


"Siap!!"


"Kita berdua juga ya, Ren." timpal Indra.


"Duit sendirilah, lu punya emak kan? Napa minta sama gue?" cibir Reno sambil menyeret kedua sahabatnya itu menjauh dari kelas Kresy.


"Belagu amzing, belum juga jadi pacar." nyiyir Indra.


"Bacot lu, Bagas aja kagak sewot!" balas Reno.


"Udah jangan berantem mulu, kapan masuk kelasnya?" lerai Bagas.


Merekapun masuk kedalam kelas.


*****


Indra dan Bagas hanya berselonjoran di pojok kantin, ditemani dengan secangkir teh pahit. Kek hidupnya!!😁


"Gas, kenapa kita nggak seseru dulu lagi sih?" tanya Indra masih memegang dagu sambil melihat Reno dan Kresy tidak jauh dari bangkunya. Ya mungkin sekitar 5 langkahlah.


"Tanya aja sendiri sama orangnya, jangan tanya gue." ketus Bagas.


"Yaelah, lo sama aja kayak mereka. nggak peduli banget sama gue." kecewa Indra.


"Lah, lu siapa Indroooo? Nggak bakal ada yang perduli kali sama gantungan panci kayak lo." ledek Bagas.


"****!" kesal Indra.


"Wesss tak sabar dong, gue bercanda!!"tahan Bagas.


"Udah duduk jangan emosi, muka lo udah kusut nanti tambah pajeulit." canda Bagas.


*Pajeulit itu diambil dari kata sunda ya, yang artinya sama dengan awut-awutan.*


"Ya elo bercanda kagak pake otak!!"cibir Indra.


"Kalo bercanda kagak pake otak, lu ngomong pake pantat bisa?!"


"Ya kagak."jawab Indra.


Disisi lain, Zio da Serina sedang duduk di bangku taman dekat lapang. Mereka berdua sepertinya sedang menikmati roti selai coklat yang dibawa Serina. Sebagian orang yang berjalan disekitar Zio dan Serina, mereka menatap tak suka, sesekali mereka berbisik. Anita yang baru saja keluar kelas langsung disuguhkan dengan pemandangan itu.


Dia sangat kesal karena dia pikir jika Zio dan Serina terus bersama dan Arcyla dengan Arga semakin dekat, rencananya untuk mendapatkan Arga akan sulit karena terhalang oleh Arcyla. Dia mulai merangkai rencana, dan rencana pertamanya, dia harus membuat Zio dan Serina renggang. Setelah itu, dia akan membuat Arcyla dan Zio kembali dekat lagi. Setelah rencana keduanya berhasil, dengan mudah dia akan mendapatkan Arga.


"Lihat saja pertunjukannya nanti." gumam Anita dengan senyum jahatnya.


*****


Kresy keluar dari kelasnya dan langsung disambut oleh Reno, Bagas dan Indra. Kresy merasa heran karena tidak biasanya mereka menunggu Kresy di depan kelas.


"Ada apa ya?" tanya Kresy.


"Ini Reno pengen nganterin pulang lo, sekalian gue pengen ketemu sama Arcyla. Hehe." ucap Indra menyringai.


"Loh kok Arcyla?" tanya Kresy.


"Tau nih," timpal Reno


"Jangan-jangan lo mau deketin Arcyla ya?" curiga Bagas.


"Ya apalagi? Zio udah punya Serina, dan Reno udah punya Kresy. Bisa dong gue sama Arcyla." celetuk Indra langsung mendapat pukulan dari Kresy dan Bagas, sedangkan Reno hanya tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya.


"Tapi Arcyla juga udah punya Arga!!" balas Kresy.


"******!!" seru Bagas dan Reno bersamaan.


*****


Serina menunduk sambil meneteskan air mata. Zio yang melihatnya langsung menghapus air mata itu dan bertanya mengapa tiba-tiba Serina menangis.


"Aku seperti penjahat, kak." lirih Serina.


"Penjahat bagaimana Serina? hati kamu sudah seperti hati malaikat untukku."ucap Zio membelai rambut Serina.


"Aku telah merebut kebahagiaan kak Arcyla dengan kakak. Aku tahu, kakak cuma kasihan kepadaku. Aku nggak papa kok kakak tinggalin aja, karna kakak lebih pantas bersama Arcyla. Lagi pula waktuku di dunia ini tidak akan lama." racau Serina.


"Kamu kenapa sampai mengatakan ini kepadaku?" tanya Zio lembut.


"Aku_"


"Tidak apa, katakan saja." bujuk Zio.


Serina mulai menjelaskan apa yang terjadi saat dia berada di kelas. Saat itu, Serina disuruh keluar kelas oleh temannya lalu Anita menghampirinya dan mengatakan bahwa dirinya telah membuat hidup Arcyla dan Zio hancur. Anita pun terus mengatakan bahwa Serina hanya akan menjadi beban hidup Zio. Anita menyuruh Serina untuk menjauh dari Zio mulai detik ini dan seterusnya, karena katanya percuma saja menjalin hubungan dengan Zio kalau ujung-ujungnya mati juga. Sebelumnya Anitapun sudah mengetahui penyakit yang diderita Serina dari percakapan waktu itu.


"Serina, aku mencintaimu tulus. Bukan sebab kau tak lama lagi hidup, tapi karna hati ini telah memilihmu. Jadi aku mohon jangan pernah berpikir bahwa kamu akan membuatku menderita. Aku akan sangat menderita jika kamu terluka." jelas Zio sambil memeluk Serina.


"Kenapa harus aku kak? Aku hanya butiran debu yang tuhan tiupkan kepada kehidupan kakak. Aku hanya akan menjadi beban." lirih Serina.


"Tidak Serina, Tuhan telah mengirimkanku bidadari, bukan debu." balas Zio.


"Ini yang kedua kalinya, Anita!! Jika terus mengganggu Serina sekali lagi, gue nggak bakal tinggal diam!!" batin Zio.


"Jujur, jika aku sedang menangis seperti ini, aku teringat ibuku yang sama sekali belum pernah aku lihat." lirih Serina.


"Sebelumnya aku minta maaf, memangnya ibu kamu kemana?" tanya Zio sedikit ragu menanyakannya.


"Saat aku masih kecil, mungkin usiaku masih 5 tahun. Ibu dan ayah bercerai. Dan dari perceraian itu kami terpisah sangat lama. Aku ikut papa dan kakakku ikut dengan ibu. Tapi tak lama saat aku berusia 7 tahun, aku mendapat kabar bahwa ibu sudah meninggal." jelas Serina masih dengan air mata.


"Yang sabar ya Serina. Yaudah lebih baik kita pulang aja ya, soalnya kamu juga butuh istirahat." ajak Zio.


Serinapun hanya mengikut saja apa yang dikatakan Zio.


BERSAMBUNG...


*****