
***
Lantas yang kau lihat dariku apa,
Kesalahan, atau kebencian??
Sampai kau tak percaya kepadaku
Arcyla .C.I
***
Singkatnya aku sedang membenci dia. Aku masih enggan menemuinya, aku masih kecewa kepadanya. Bisa-bisanya dia lebih memilih orang baru dibanding aku yang sudah lama bersamanya. Tapi tanpa sadar, dia selalu membuatku luluh kembali dengan perhatiannya. Menyebalkan!!
Ternyata aku tidak bisa membencinya. Saat aku memasuki gerbang, Zio sudah menungguku di ambang pintu kelasku. Aku menatapnya marah dan kesal, tapi dia segera memelukku dikeramaian. Maksudnya apa coba? Huwaaaaaaa aku tidak bisa menghindari perhatian hangatnya kepadaku!!! dia berbisik dan mengatakan bahwa dia menyesali perbuatannya.
"Maaf untuk kemarin, aku hanya mengikuti perintah mama kamu." lirihnya.
"Nggak papa," balasku sambil melepaskan pelukannya karna dari kejauhan aku melihat Serina sedang memperhatikan kami.
"Jangan marah lagi ya," pintanya.
"Tidak apa, lebih baik kamu urus aja tunangan kamu." suruhku sambil menatap lantai.
"Pertunangan kita diundur sampai Serina lulus nanti." jelasnya.
"Tapi tetap saja, kamu tunangannya." timpalku lalu bergegas masuk.
Saat ini aku tidak memperdulikan apapun!! yang aku mau hanya ingin lenyap dari bumi ini, jika sampai aku melihat Zio dan Serina tunangan atau bahkan sampai menikah.
Aku menatap mejaku, kosong. Dimana Kresy? Tadi saat aku pergi kesekolah, Kresy sudah tidak ada dirumah. Aku kira dia sudah duluan pergi tapi dikelaspun dia tidak ada. Kemana ya? Aku menanyakan keberadaan Kresy kepada salah satu temanku, dia mengatakan bahwa Kresy keluar bersama Reno. Aku segera keluar dan kebetulan aku berpasan dengan Arga yang baru saja sampai. Dia meregangkan otot tubuhnya dihadapanku. Oh aku tahu, dia pasti ingin aku menanyakan soal kemarin. Ngegendong segitu aja, belagunya sedunia!!
"Kenapa lo?" tanya Arcyla ketus.
"Lo nggak tau? Gara-gara gue gendong lu, semaleman gue nggak bisa tidur." jelas Arga.
"Nggak bisa tidur mikirin lo maksudnya" batin Arga.
"Lah siapa suruh lo gendong gue? Bukannya lo sendiri yang nawarin." tanya Arcyla.
"Ya makasih-makasih gitu apa kek, inimah acuh!" sindir Arga.
"Huft ... yaudah mau lo apa?" tanya Arcyla.
"Bebas ya," tawar Arga.
"Terserah lo aja deh, cepetan gue mau cari Kresy!" ucap Arcyla terburu-buru.
"Istirahat kita kantin bareng, titik." seru Arga melengos kedalam kelas.
"Ish belum juga bilang setuju, udah maen pergi aja." grutu Arcyla bodo amat lalu mencari Kresy.
Arcyla mencari Kresy keseluruh penjuru sekolah. Namun, ia tidak bisa menemukan keberadaan Kresy. Arcyla menghampiri Bagas dan Indra yang sedang nongkrong di lorong kelasnya.
"Kalian liat Kresy nggak? Katanya dia sama Reno," tanya Arcyla.
Bagas menggeleng,"Gue juga nggak liat Cyl, yang jelas akhir-akhir ini mereka lagi deket." jelas Indra.
"Itu Reno sama Kresy," sahut Bagas saat melihat Reno dan Kresy berjalan menghampiri mereka bertiga.
Arcyla menoleh lalu melipat kedua tangannya dan menghampiri kedua sahabatnya itu.
"Oh jadi ini yang lagi jatuh cinta?" sindir Arcyla.
"Apaan sih Cyl, gue sama Reno itu cuma ... ngomongin tugas sekolah!" elak Kresy.
"I_ iya kita ngomongin tugas sekolah aja." timpal Reno.
"Lo sama Kresy itu kan beda kelas," sahut Bagas.
"Udahlah, lo berdua jangan cari alasan lagi. Kalo saling suka ya udah tembak aja, Ren." usul Indra.
Arcyla tertawa, begitupun dengan Bagas dan Indra. Sedangkan yang di ceng-cengin, mereka pada salting. Tidak jauh dari tempat Arcyla dan teman-temannya, Arcyla melihat bola basket melambung tinggi kearah Serina yang sedang berjalan dipinggir lapang. Dengan cepat Arcyla berlari dan langsung mendorong Serina agar terhindar dari bola basket itu. Alhasil, kepala Arcyla lah yang terkena timpukan bola keras itu.
Dari kejauhan, Zio hanya melihat adegan dimana Arcyla mendorong Serina. Iapun berlari menghampiri Serina yang terduduk karena syok.
PLAKK!
Tamparan yang cukup keras berhasil mendarat tepat dipipi kiri Arcyla. Sahabat-sahabatnya pun tercengang melihat Zio menampar Arcyla. Lalu mereka berlari ke arah lapang. Begitupun dengan Arga. Arga langsung menghampiri Arcyla yang masih memegang pipinya dengan tubuh yang lemas. Dia menjadi tumpuan Arcyla untuk bersandar karena tubuhnya sudah tidak bisa menahan bobot badannya karena pusing akibat timpukan dan tamparan.
"Tadi lo meluk gue didepan banyak orang, dan sesaat kemudian lo nampar gue didepan banyak orang juga." batin Arcyla lirih sambil menatap Zio kecewa.
Zio membangunkan Serina, Kresy langsung mendorong Zio kebelakang. Matanya menyorot tajam dan tangannya sudah berancang-ancang untuk memukul tapi ditahan oleh Reno.
"Sy," tahan Reno.
"Maksud lo apa, Zi. Lo tadi baru aja nampar Cyla, kenapa?" tanya Kresy tak terima.
"Tadi dia dorong Serina," tegas Zio masih memegang pundak Serina.
"Ngedorong? Jelas-jelas dia mau menolong Serina dari bola basket itu, Zio!!!" tukas Kresy.
"Iya Zio, kenapa lo malah nampar Cyla? Padahal kita juga liat kok Cyla mau nolong Serina." timpal Bagas.
"Gue nggak nyangka, lo bisa sekasar itu sama cewe," ucap Arga emosi dan langsung mengangkat tubuh Arcyla yang sudah tidak sadarkan diri.
"Bro, lu kenapa hah? Lo liat nggak apa yang lo lakukan sama Cyla. Dia jadi terluka karna lo!!" protes Indra.
"Gue tau lo cemas dengan kesehatan Serina, tapi jangan buat kecemasan itu menjadi bomerang buat lo sendiri. Lo liatkan, Arcyla pingsan karena timpukan dan tamparan." tutur Reno sambil memegang pundak Zio.
"Kalo dari awal Arcyla mau nyelakain Serina, nggak mungkin dong dia bela-belain kepalanya kena bola basket itu." kesal Kresy.
"Iya kak, mereka benar. Tadi kak Arcyla cuma mau nolong aku kok. Tapi karna aku terkejut, akhirnya aku terjatuh." jelas Serina tertunduk.
"Kenapa lo baru ngomong!!" bentak Kresy.
"Kresy udah," lerai Reno.
Reno pun mengajak Kresy untuk menjauh dari sana. Zio mengusap wajahnya kasar, sepertinya dia sangat menyesali perbuatannya. Dia pun langsung menyusul Arcyla dan meninggalkan Serina tanpa pamit.
Karna hanya ada Bagas dan Indra, Serina pun diajak untuk menepi dan meminum air putih agar syoknya menghilang.
"Kamu jangan mikirin yang tadi ya!" seru Bagas.
Serina mengangguk lalu meneguk air putih yang diberikan Indra. Dengan nafas yang tersengal, Serina mengusap air mata yang turun dari matanya.
"Kak Arcyla nggak bakal kenapa-napakan, kak?" tanya Serina khawatir.
"Nggak papa, Arcyla orangnya kuat kok." balas Bagas meyakini Serina.
"Syukurlah," timpal Serina.
****
Dengan langkah yang dihentakkan, Anita masuk kedalam toilet sambil bercermin. Dia membasuh wajahnya yang masam, lalu mengusapnya dengan tisu kering.
"Si Adli nggak becus banget sih kalo disuruh. Kenapa malah Arcyla yang kena bola!!Huft ... gagal deh gue bikin sakit si Serina. Terus apa-apaan coba tadi, kenapa Arga memangku Arcyla gitu!!! Sebaiknya gue hancurin aja dulu si Serina, Zio dan Arcyla. Lalu, menjauhkan Arcyla jauh dari Arga. Setelah itu, dengan mudahnya gue bisa mendapatkan Arga." sumringah Anita sambil mengibaskan rambutnya.
Anita keluar dari toiletnya lalu melihat Serina sedang sendirian. Pasti bakal seru, pikirnya. Serina terkejut saat mendapati Anita yang sudah duduk disampinya. Ia berusaha menjauh dari Anita. Namun, Anita mencengkram lengan Serina dan membuatnya meringis kesakitan.
"Gimana, sakit?" tanya Anita dengan penuh penekanan.
"Sa_ sakit kak," lirih Serina.
"Lu bandel sih kalo dikasih tahu, gue kan minta lo buat ngejauhin Zio. Ini malah bikin Cyla sama Arga deket!!" kesal Anita mendorong Serina.
"Ma_ maaf kak, kalo misalkan kakak cinta sama kak Arga. Kenapa aku yang harus ... tidak, maksud aku kenapa aku harus menjauh dari kak Zio yang jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan hubungan kakak dan kak Arga." tutur Serina.
"Apa hubungannya?" beo Anita.
"Ya elo ngaruhlah, kalo misalkan lo sama Zio terus. Kapan Zio sama Arcylanya!!" bentak Anita mengayunkan lengannya untuk menampar Serina.
Zio segera menjauhkan tangan Anita dan menarik kasar Anita. Zio sudah mendengar semuanya, dan dia sudah sangat muak dengan perlakuan Anita kepada Serina sebelum-sebelumnya.
"Hubungan gue dan Serina nggak ada hubungannya sama lo!! Gue minta, lo jangan pernah ngeganggu Serina lagi. Kalo sekali lagi lo menyentuh Serina, lo akan tau akibatnya." bentak Zio.
Anita menepis kasar tangan yang dipegang Zio. Ia tersenyum sinis lalu menepuk pundak Zio, Zio mendelik.
"Salut gue sama lo, lo rela berkorban demi Serina. Tapi lo nggak pantes disebut cowo!! Karna apa? Karna lo udah nampar Arcyla." tekan Anita tersenyum simpul.
Zio termenung, Anita berlalu darinya. Sepertinya Zio sangat-sangat menyesali perbuatannya kepada Arcyla. Serina yang mengerti akan situasi itupun langsung menggenggam tangan Zio agar dia bisa tersenyum. Meski senyuman itu palsu, Zio berusaha membuat Serina tidak memikirkan apapun.
BERSAMBUNG...
****