I AM HERE

I AM HERE
12. Tas dan Sepatu


*****


Akan aku buat dirimu tertawa


Dari luka yang pernah kau bawa.


Dan.....


Akan aku jaga dirimu


lebih dari yang pernah kau temu.


Revi.m.n


*****


Nafas yang tersengal-sengal membuat Arcyla memberhentikan langkahnya. Ia menatap kesal Arga. Arga menoleh seolah dia tahu bahwa Arcyla kelelahan, ia langsung membukakan helm yang dikenakan Arcyla. Lalu ia menggantungkannya di spion motor.


Ia menepi dipinggir jalan dan membiarkan motornya terparkir disampingnya.


"Gak guna banget tau motor lo!! Udah abis bengsin, kagak bawa duit lagi." cibir Arcyla sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan.


Arga memincingkan matanya,"Segini juga bisa bawa gaban kayak lo, kan?" timpal Arga.


"Gaban lo bilang? Tubuh seringan kapas ini lo bilang gaban!!" pekik Arcyla.


"Lah terus apa lagi, lo juga kenapa kagak bawa duit? seharusnya cewe itu bisa melengkapi kekurangan cowonya. Ya kali bengsin sama motornya harus dari cowo semua." grutu Arga.


"Apa? Ngomong apa lo barusan, kekurangan cowonya? Eh denger ya gue bukan cewe lo!" jelas Arcyla tak terima.


"Buset dah!! ngomong sama cewe selalu salah artian mulu!!" protes Arga sambil mengacak rambutnya kesal.


Arcyla cemberut, Arga semakin tidak mengerti apa yang diinginkan Arcyla.


Arga beranjak dan langsung menghampiri gadis itu. Arga menatapnya sangat dekat, Arcyla dengan cepat menjauh, namun Arga dengan cepat menarik tangan Arcyla dan membuat Arcyla maju satu langkah kedepannya. Keduanya bertatap muka tidak jauh hanya 5 cm.


"Em_el_lo nga_ngapin sih." gugup Arcyla memalingkan mukanya kesamping.


"Kenapa? Lo nggak bisa tatap muka gue?" tanya Arga seolah menantang.


"Terus loo mau gue liatin?" sewot Arcyla sambil berkacak pinggang namun matanya tidak berani berkontak dengan Arga.


Arga menjauh,"gue gituin doang, muka lo udah merah aja." ledek Arga.


Arcyla langsung membelakangi Arga yang masih menatap dirinya. Arcyla menepuk-nepuk pipinya dan langsung berbalik lagi.


"Pipi gue merah itu kepanasan, bukan kebawa perasaan!!" timpal Arcyla.


Arga terkekeh,"siapa yang bilang? Gue nggak ngomong ya."


Arcyla menepuk jidatnya, "bodoh!" pikirnya.


"Udahlah gue pengen balik, udah siang juga." ajak Arcyla mengalihkan percakapannya.


"Gue gendong mau?" tanya Arga ragu, dia kira Arcyla akan menolaknya. Tapi malah setuju.


"Bagus, gue suka laki-laki yang bertanggung jawab." ucap Arcyla sambil membuka sepatunya.


"Lah kenapa sepatunya dibuka?" tanya Arga.


Arcyla menggabungkan kedua tali sepatunya menjadi terikat lalu ia mengalungkannya keleher Arga. Arga mengernyit, dia tidak tahu apa yang sedang Arcyla lakukan. Arga tidak berkomentar sampai akhirnya saat tas mungil Arcyla ikut dikaitkan kelehernya Arga mulai bertanya.


"Ini maksudnya apa?" tanya Arga sambil memegang tas Arcyla.


"Terus sepatu ini juga apa?" tanyanya lagi.


"Ya bawalah sama lo, termasuk gue juga." ucap Arcyla berancang-ancang dibelakang Arga.


"Eh buset dah, emangnya gue motor apa?" protes Arga.


"Kan lo sendiri yang nawarin, ya yang ditawarin juga bebas-bebas aja." ucap Arcyla menaikki punggu Arga dengan paksa.


Arga menghembuskan napasnya berat, seperti hidupnya saat ini. Tapi Arga tidak menyerah sampai disitu, iapun langsung berjalan dengan kaki yang sangat berat dilangkahkan.


"Semoga_gue enggak_ mati_disini!" Sengal Arga dengan nada suara yang tertahan.


"Lebay banget sih lo, gendong gue segini aja ngeluhnya kayak mau ditabrak truk aja." cibir Arcyla.


"Harus!" balas Arcyla.


Arcyla melingkarkan kedua tangannya dileher Arga dan dengan posisi pundak Arga menjadi tumpuan Arcyla untuk meletakkan dagunya. Sesekali Arcyla melirik Arga dengan rasa kasihan. Saat mendapatkan warung kopi, Arcyla menyuruh Arga untuk menurunkan dirinya dan Argapun nurut.


Arcyla mampir ke warung kopi itu dan kembali lagi dengan membawa dua botol air mineral ke tempat Arga duduk.


"Nih gue cuma bisa beliin lo air minum aja." ucap Arcyla menyodorkan botol air itu.


"Tumben," selidik Arga.


"Jangan salah paham, gue cuma kasihan aja sama lo. Dari sana kesini udah gendong gue itukan cape." jelas Arcyla yang sepertinya sudah tahu dengan maksud Arga.


"Iya juga sih, tapi perhatian kecil lo udah membuat gue besar kepala tau." celoteh Arga.


Arcyla langsung mendekap kepala Arga dikedua tangannya, memastikan bahwa kepala Arga tidak membesar. Arga meraih kedua tanga Arcyla lalu menggenggamnya. Arga tertawa renyah.


"Maksud gue bukan kepalanya yang benar-benar besar, Arcyla." seru Arga.


Arcyla langsung menjauhkan tangannya dan suasanapun berubah menjadi canggung.


*****


Kresy menatap tubuh Arcyla dari atas sampai bawah lalu bergilir memandang Arga yang pakaiannya acak-acakkan.


"Lo berdua berangkat sekolah, tapi nggak nyampe?" tanya Kresy.


Seketika Arcyla memasang wajah kesal kepada Kresy dan menyalahkan dia atas bolos sekolahnya hari ini. Coba saja kalau Kresy membangunkannya tadi pagi, mungkin Arcyla tak akan pernah ber- urusan dengan Arga.


"Ya ini juga karna elo, Kresy. Udah ah gue mau mandi, bau matahari." ijin Arcyla masuk kedalam kamar.


"Menang banyak lo," seru Kresy.


"Gue suka cara lo," kata Arga disela-sela sebelum dia berlalu dari Kresy dengan melempar kedipan genit.



"Jijiw gue," timpal Kresy.


Arcyla keluar dari kamar mandi, Kresy sudah menyuguhkan susu hangat dengan roti tawar kesukaan Arcyla. Arcyla tersenyum lalu mengambil roti itu dan langsung melahapnya.


"Tadi disekolah gue liat Zio sama Serina." ucap Kresy memberi tahu Arcyla yang hendak menelan susu itu namun menyembur ke wajah Kresy.


"Ohok..ohok..,sorry banget Sy!!" sesal Arcyla sambil mengusap wajah Kresy yang dipenuhi dengan susu lengket.


"Kagak ngotak lu muntahin minuman di wajah gue." protes Kresy.


"Ya gue kan udah bilang maaf, nggak sengaja." ucap Arcyla mengacungkan tangannya yang berbentuk V.


"Yaudah abisin susunya, jangan dimuntahin lagi." suruh Kresy sambil mengelap wajahnya menggunakan tisu basah.


Arcyla meletakkan susunya, "Arga setiap hari nginep disini?" tanya Arcyla mengganti topik pembicaraan.


"Iya, katanya sih pembantunya pulang kampung jadi dia nggak berani tidur sendiri." jelas Kresy.


"Orang tuanya?" tanya Arcyla.


"Gue juga nggak tau pasti ya, soalnya gue juga ketemu sama Arga pas mau masuk sma. Kata dia sih papa dan mamanya itu pisah waktu Arga berumur 8 tahunan. Arga juga punya adik perempuan, usianya cuma beda 2 tahun dengan Arga."kata Kresy.


"Terus adiknya sekarang dimana?" tanya Arcyla kepo.


"Gue juga nggak tau, bahkan Arga sekalipun. pokoknya pada saat itu Arga dibawa sama mamanya dan adiknya ikut sama papanya. Terus nggak lama mamanya mengalami kecelakaan dan meninggal." jelas Kresy panjang lebar.


"Yaampun kasian banget adiknya," timpal Arcyla.


"Kasian juga Arganya kali Cyl." seru Kresy.


"Iya sih, gue juga ngerasain kok kalo ada diposisi Arga. Karna keluarga gue jugakan hancur." lirih Arcyla.


"Udah jangan sedih gitu, gue juga paham kok dengan beban yang lo dan Arga rasakan." ucap Kresy menguatkan.


BERSAMBUNG.....


*****