
Dari pagi hingga sekarang, sepertinya Kresy berusaha menjauh dari aku. Ada apa ini? Kenapa dia seperti marah gitu. Ah, lebih baik aku tanya langsung saja deh ke orangnya dari pada suasananya nggak enak gini. Aku menghampiri Kresy ke meja depan, lalu aku bertanya kenapa dia cuek sama aku dan ternyata masalahnya ada di Reno. Aku nggak tau pasti sih apa yang terjadi dengan Kresy dan Reno kemarin, tapi aku menjelaskan kepada Kresy bahwa aku dan Reno hanya sahabat kecil. Kami pun tidak pernah ada rasa satu sama lain, karena waktu itu kita berdua juga Zio adalah sahabat kecil. Untungnya Kresy bisa memaklumi apa yang aku katakan tadi, ia pun permisi ke luar kelas untuk menghampiri Reno yang tadi pagi sempat ke kelasnya namun di usir.
Tak lama pak Budi datang ke kelas sambil membawa sebuah penggaris panjang dengan kepala yang di perban. Uhh_ semoga pak Budi tidak mengingatnya! Aku harap sih iya, secarakan dia itu pikunna orangnya. Aku pun langsung menutupi wajahku dengan buku, tapi sialnya teman-temanku malah mengompori pak Budi.
"Pak kepalanya masih sakit ya?"
"pak kemarin kan cuma Arga yang kena hukum, dan sekarang cewenya udah masuk sekolah loh pak!"
"Hukum aja dua-duanya pak biar adil."
"Iya pak, Arga kan bandel banget tuh kenapa nggak di hukum lagi aja."
Pak Budi yang hampir saja lupa akhirnya teringat kembali dengan ulahku dan Arga. Dia melirik ke arahku dengan tatapan seakan ingin menerkam mangsanya. Aku menyeringai, berharap pak Budi tidak menghukumku tapi dia sudah langsung menarikku keluar kelas dan menyuruhku untuk lari maraton ke lapangan. Yaudahlah, berhubung pak Budi mengingatnya aku tidak bisa menghindari hukuman ini. Dasar teman-teman tidak punya perasaan, bisa-bisanya dia menjebloskanku masuk ke dalam hukuman pak Budi.
Arga menahanku, "Biar saya aja pak, Arcyla tidak salah. Kemarin saya yang maksa Arcyla bolos."
"Bagus, karena kamu mengakui kesalahanmu ... bapak akan hukum kalian berdua. Sekarang juga kalian lari ke lapangan," suruh pak Budi.
HAHAHAHAH!
Semua yang ada di dalam kelas, mereka mentertawan aku dan Arga. Huft... menyebalkan, terpaksa deh aku harus segera menjalankan hukuman dan mulai berlari mengelilingi lapangan. Beberapa putaran sudah aku lalui dan tubuhku mulai merasa lelah. Sepertinya dari tadi Arga memperhatikanku, dia segera menarikku ke pinggir lapangan dan menyuruhku untuk duduk sebentar. Arga perhatian banget sih, jarang-jarang loh laki-laki bisa seperti ini. Apa dia suka sama aku? Mmm... kayaknya aku kepedean banget! Sudahlah, mungkin ini hanya perasaan aku saja.
"Lo duduk aja, biar gue yang lanjutin hukumannya." suruh Arga, akupun mengangguk.
Setelah kami menyelesaikan hukuman, dan waktunya istirahat kami langsung kembali ke kelas dan sepertinya kelas kami kedatangan murid baru. Murid barunya tak lain adalah Gibran dan Andrian, sahabat Arga. Ternyata mereka sangat-sangat ingin berkumpul lagi. Mereka berdua pun langsung memeluk Arga dengan raut wajahnya sangat bahagia dengan pertemuan ini. Di dalam kelas pun tidak sedikit orang yang minta foto ke Gibran dan Andrian, mereka seperti sedang mengantri. Tidak heran sih mereka berdua memang tampan. Lalu kenapa tak ada orang yang pengen berfoto dengan Arga? Ya mungkin karena cowonya nyebelin dan jual mahal jadi ciwi-ciwi pun malas mendekati Arga.
Aku ceritain sedikit aja tentang Arga. Sebelum aku mengenalnya, mungkin saat kami pertama kalinya masuk ke Sma ini banyak orang yang terkagum-kagum kepadanya termasuk Anita, cewe kelas sebelah. Saat itu aku sendiri menilai Arga dengan playboy yang mengandalkan tampang, tapi ternyata dia nggak gampangan ngedeketin cewe. Yang ada dia itu songong, nggak perduli sama orang, dan bandel orangnya. Tapi setelah aku mengenalnya, ternyata dia juga bisa sehangat ini.😄
"Hay, Cyl. Gimana lo udah mendingan?" tanya Gibran.
"Ah, udah kok. Aku udah sehat lagi," balasku.
"Cewe, boleh kenalan?" tanya Andrian menggoda Kresy.
"Ih apaan sih, gue udah punya pacar." ketus Kresy.
"Kapan dong gue dapetin elo, dari dulu lu nggak pernah ngerespon gue." tanya Andrian mendramatisir.
"Nggak bakal! Gue udah ada yang punya, ish." kesal Kresy lalu menarikku keluar kelas.
Aku baru tahu ternyata Andrian itu menyukai Kresy. Ya, kenapa tidak mungkin coba, secarakan Andrian juga sahabat kecilnya Arga otomatis Andrian juga deket sama Kresy.
"Lu kenapa nggak bilang sama gue?" tanya Arga.
"Namanya juga kejutan, ya biar orang terkejutlah." balas Gibran.
"Tapi makasih banget ya, kemarin lo berdua udah bawa Arcyla ke rumah." ucap Arga.
"Sans aja," balas Gibran.
"Memangnya Arcyla itu pacar lo?" tanya indra membuat Arga salting.
"Dia itu ... temen aja," jelas Arga membuat kedua sahabatnya itu terkekeh.
"Gue tau lu lagi boong, yaudah ke kantin yuk gue laper." ajak Gibran sudah terlebih dahulu keluar dari kelas.
Arga merangkul pundak Andrian, "Udah jangan bahas itu, mending kita makan-makan. Gue yang traktir deh."
"Siap,"
****
Saat Arcyla dan Kresy sedang duduk di taman, Zio menghampiri Arcyla sambil membawa sebuah kotak makanan dan memberikannya kepada Arcyla sebagai permintaan maaf. Kresy langsung pamit pergi karena ia mendapat pesan dari Reno untuk membiarkan Zio dan Arcyla berduaan.
Sepertinya Arcyla sangat gugup saat Zio menyuapi dirinya, tapi karena waktu yang memaksanya untuk menikmati itu semua ia pun menikmati makannya.
"Kenapa lo ngelakuin ini ke gue?" tanya Arcyla.
"Gue cuma mau minta maaf aja, nggak boleh?" tanya Zio.
"Bukan nggak boleh, tapi nanti Serina liat lo sama gue gimana?" khawatir Arcyla.
"Lo tau nggak kenapa gue bisa menerima Serina, karna semua itu demi lo. Gue nggak mau lo menderita," jelas Zio.
"Tapi dengan lo menuruti omongan mama, itu membuat gue semakin menderita." keluh Arcyla.
"Yang sabar ya, gue juga bingung harus gimana. Gue suka sama lo, tapi gue nggak bisa ninggalin Serina." keluh Zio.
Arcyla memegang pipi Zio, lalu ia tersenyum hangat. Tanpa sadar, dari kejauhan Anita sudah merekam adegan itu dan langsung memberikannya kepada Serina dan Arga agar mereka berdua membenci Arcyla.
"Aku akan tetap menunggu, jika itu bisa membuatku kembali bersama kamu." balas Arcyla.
Dari kejauhan, Kresy masih memperhatikan Arcyla dan Zio, "Kenapa lo nyuruh gue ninggalin mereka berdua?" tanya Kresy.
"Tadi Zio bilang sama gue kalo dia pengen minta maaf sama Arcyla," balas Reno.
"Tapi Arga suka sama Arcyla," seru Kresy.
Reno menarik Kresy menjauh dari tempat itu dan ia pun langsung memberikan ponselnya. Kresy bingung kenapa Reno malah memberinya ponsel, ia pun langsung menyalakan layar ponsel itu dan di dalamnya terdapat rekaman. Reno menyuruh Kresy untuk melihat video itu. Video Anita dan Serina yang sedang ada di uks, saat itu mereka membahas bagaimana caranya agar Arcyla di benci oleh Arga dan Zio.
"Serina? Kenapa_" tanya Kresy masih tak percaya.
Reno mengabil kesimpulan, "Jadi intinya Serina bukanlah orang baik-baik. Dia hanya mengandalkan penyakitnya untuk membuat Arcyla dibenci Zio." jelas Reno.
"Terus lo ngasih tau ini ke Zio, sampe dia pengen minta maaf?" tanya Kresy.
"Enggak, kita simpan aja video ini berdua. Kita lihat, siapa yang tetap perduli kepada Arcyla. Zio atau Arga," balas Reno.
"Jadi maksud kamu, kita bakal nyembunyiin kebenarannya? Kalo Arcyla kenapa-napa lagi gimana! Kayaknya penculikan itu ada kaitannya dengan mereka berdua," tebak Kresy khawatir.
"Anggap saja ini sebagai ujian untuk Arcyla, kita hanya perlu mengawasinya dan membantunya saat titik dimana Arcyla sudah lelah." ucap Reno.
"Ternyata kita tidak bisa menilai dengan tampangnya saja, perlu hati untuk menbuktikan." gumam Kresy.
"Janji ya jangan kasih tau siapapun, hanya kita. Kita harus ikut serta dalam permainan Serina dan Anita," pinta Reno yang di angguki Kresy.
BERSAMBUNG...
***