
"Mengharapkan seseorang yang bahkan punggungnya saja sudah tidak terlihat ibarat menunggu senja di siang hari."
~Neira Atmaila~
Setahun telah berlalu. Neira akhirnya mencoba untuk terbiasa tanpa adanya kabar dari Ayah dan juga Agra.
Seharusnya tahun ini Ayah Neira akan pulang. Namun, takdir berkata lain. Ayahnya menghubungi Neira bahwa ia akan memperpanjang masa kontraknya selama 3 tahun ke depan, dan selama itu pula Ayah Neira belum menghubungi Neira dan juga ibunya kembali.
Sedangkan perihal Agra. Agra bagaikan sosok yang ditenggelamkan bumi, hilang begitu saja.
Biasanya setiap kali Neira merindukan Agra, Neira akan pergi mengunjungi paman dan bibi Jun. Namun, paman dan bibi Jun akhirnya memutuskan untuk menjual rumahnya dan pindah ke kota Yunan.
Sekarang sudah tidak ada lagi tempat bagi Neira untuk melampiaskan kerinduannya kepada Agra, yang tersisa adalah sepeda tua yang ditinggalkan oleh paman Agra untuk Neira.
"Gra, kira-kira kamu masih inget gak ya sama sepeda itu?" ucap Neira sembari menatap sepeda tua itu.
Bagi Neira, sepeda tua itu bukanlah sepeda biasa. Banyak kenangan Agra yang tertinggal disana. Bahkan setiap kali Neira sedang bosan, Agra pasti akan membawa Neira pergi berjalan-jalan dengan menggunakan sepeda tua itu.
"Nei, sini makan. Jangan diluar terus, angin malam tidak baik untuk tubuh," teriak ibu Neira dari dalam rumahnya.
"Iya Bu, Neira masuk," balas Neira sembari bergegas masuk ke dalam rumah.
"Udah sini makan dulu!" ucap ibu Neira sembari menyiapkan makan malam.
"Bu, kan sekarang aku udah punya kerjaan tetap. Bagaimana kalau ibu mulai sekarang berhenti berjualan kue?" ucap Neira.
"Kalau ibu berdiam diri saja, ibu pasti akan bosan Nei. Apalagi kalau kamu sudah berangkat kerja, rumah ini rasanya sepi sekali," ujar ibu Neira dengan mata yang terlihat berkaca - kaca.
"Ko jadi melow begini sih, ayok! ayok! makan nanti keburu dingin," perintah ibu Neira sembari tertawa kecil.
Dari percakapan di malam itu, Neira mulai memahami satu hal. Bahwa uang dan segala kemewahan tidak akan pernah bisa mengobati kesepian dihati seseorang.
Keesokan paginya..
"Nei bangun sayang, tumben kamu jam segini masih tidur. Udah sholat subuh belum?" tanya ibu Neira.
"Hmm.. ah iya belum Bu," jawab Neira yang masih setengah sadar.
"Yaudah sekarang bangun, terus ambil wudhu. Memangnya semalam kamu begadang?" tanya Ibu Neira sembari membangunkan tubuh anaknya.
"Iya Bu, biasa Banda lagi butuh temen cerita," jawab Neira sembari bergegas ke kamar kecil.
"Huh dasar anak muda, kalau sudah telponan tidak tau waktu. Tapi gapapa lah paling tidak Neira jadi tidak merasa kesepian lagi," ucap ibu Neira didalam hati.
Banda sendiri adalah sahabat baru Neira, dia juga merupakan rekan kerja Neira. Sejak kepergian Agra, gadis cantik itulah yang akhirnya menemani hari-hari Neira.
"Bu, Neira berangkat dulu ya. Banda katanya udah nungguin Neira di jalan besar," ucap Neira sembari mencium tangan ibunya.
"Kamu hati-hati, ingat tengok kanan kiri dulu kalau mau nyebrang," perintah ibu Neira kemudian.
"Iya ibuku sayang." ucap Neira sembari mencium pipi ibunya.
Neira pun langsung bergegas untuk pergi menemui Banda, mereka selalu bertemu di jalan besar sebelum akhirnya berangkat bersama untuk pergi ke kantor.
Bersambung...