
"Bu, apa ibu sudah mencoba menghubungi nomor ayah?" tanya Neira.
"Belum nak, ibu tidak sempat. Ibu tadi cukup lemas mendengar kabar itu," jawab Ibu Neira kemudian.
"Aku akan coba hubungi ayah sekarang. Mudah-mudahan saja ayah masih bisa menjawab telpon," ucap Neira sembari mengambil ponsel di saku celananya.
Tut.. Tut..Tut..
"Huh ayah, ayah kemana sih? Aku akan coba telpon ayah sekali lagi! Aku yakin ayah pasti akan angkat!" ucap Neira didalam hati karena tidak ingin ibunya mendengar jika ayahnya belum bisa dihubungi.
"Halo! Iya Nei ada apa? Ayah sedang sibuk. Nanti ayah hubungi kembali!" ucap ayah Neira dari balik ponsel.
"Ayah! Ayah! Ayah tunggu sebentar. Ayah tadi istrinya pak Ahmad bilang ayah ditangkap, apa itu benar ayah?" ucap Neira dengan tergesa - gesa.
"Tidak Nei, tadi ada kesalahpahaman saja. Pak Ahmad sepertinya sudah salah memberi info kepada istrinya. Kamu tenang aja ya, jaga ibumu disana!" ucap Ayah Neira kemudian.
"Iya ayah, ayah hati-hati ya!" balas Neira dengan wajah yang khawatir.
"Nei, ayah tidak bisa telpon lama-lama. Ayah sedang sibuk, nanti ayah hubungi kamu kembali. Bilang pada ibumu, jangan khawatir!" ucap ayah Neira sembari menutup telponnya.
Tut..
"Gimana Nei? Apa ayahmu baik-baik saja?" tanya ibu Neira kemudian.
"Iya Bu, ibu tenang aja ya. Tadi ayah bilang hanya ada kesalahpahaman saja, dan ibu jangan khawatir," balas Neira sembari tersenyum.
"Alhamdulillah, akhirnya perasaan ibu sedikit tenang Nei," ucap ibu Neira sembari tersenyum.
Pada saat itu Neira masih menggunakan ponsel yang cukup jadul, jadi tidak bisa menggunakan speaker. Sehingga ibunya tidak bisa ikut mendengar apa yang Neira bicarakan dengan ayahnya.
Selama ini Neira hanya tahu ayahnya menjadi ABK di Jepang, ayahnya sudah 3 tahun tidak pulang karena tuntutan pekerjaan. Biasanya ayah Neira pasti rutin mengirimkan kabar dan juga uang untuk kebutuhan Neira dan ibunya.
Namun, sejak 2 tahun terakhir ini ayahnya hanya mengirimkan kabar 2 kali dalam setahun. Setiap kali Neira mencoba menghubungi ayahnya, ayahnya selalu berusaha untuk secepat mungkin menutup telponnya.
Sudah 2 tahun terakhir ini juga, ayahnya sudah jarang mengirimkan Neira dan ibunya uang. Ayah Neira bilang bahwa ia masih sibuk dan tidak sempat untuk pergi ke Bank.
Rasa curiga semakin bertambah didalam diri Neira. Neira akhirnya berusaha untuk pergi ke warung internet yang lokasinya cukup jauh dari rumah Neira. Neira hanya ingin tau apa yang sebenarnya terjadi.
"Bu, Neira pamit keluar dulu ya. Neira mau cari udara segar," ucap Neira kepada ibunya.
"Tapi Nei ini sudah mau magrib!" ucap ibu Neira.
"Cuma sebentar aja ko bu, Neira janji!" balas Neira sembari meyakinkan ibunya.
Neira pun langsung bergegas untuk pergi ke warung internet menggunakan sepeda paman Jun. Sebelum paman Jun pergi, ia menitipkan sepeda tua miliknya kepada Neira dengan harapan Neira bisa pergi kemanapun dengan mudah.
Neira pun menggoes sepeda dengan cukup cepat, Neira berharap untuk segera sampai ke warung internet. Sesampainya disana Neira langsung bergegas untuk membayar sewa komputer, dan langsung mencari informasi melalui web.
Alhasil Neira tidak mendapatkan informasi apapun. Tidak ada berita mengenai penangkapan ABK ataupun yang lainnya.
Sudah 1 jam Neira mencari informasi, tapi tidak ada yang bisa Neira dapatkan. Neira pun akhirnya mencoba untuk percaya dengan perkataan ayahnya dan kembali ke rumah.
"Ada apa sebenarnya? Bukankah ibu bilang bahwa istri pak Ahmad datang dan memberitahukan bahwa Ayah ditangkap oleh mafia? Lalu kenapa Ayah bilang hanya salah paham? Dan kenapa tidak ada berita soal itu? Jadi apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Neira sembari menggoes sepeda tua milik paman Jun.
Bersambung...