
"Kebahagiaan itu dasar hati dan keputusan hati. Kalau hati aku aja udah memilih kamu, berarti seharusnya kamu sudah tau apa keputusanku.
~Aslan Soner~
Setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan. Neira pun akhirnya tiba dirumah.
"Asalamuallaikum, Bu Nei pulang!" ucap Neira.
"Waalaikumsallam, loh kamu kenapa? Ko kaya lemes banget? Kamu sakit?" tanya ibu Neira dengan wajah yang terlihat cemas.
"Engga ko bu, tadi pekerjaan Neira banyak banget. Jadi Neira sangat lelah," ucap Neira. Neira terpaksa berbohong kepada ibunya, Neira hanya tidak ingin ibunya tahu bahwa ayahnya telah membohongi mereka berdua.
"Tunggu deh, ibu ada kejutan buat kamu! Coba kamu tebak!" ucap Ibu Neira sembari tersenyum.
"Apa Bu? Udahlah Bu kasih tau aja! Aku ini kan bukan anak kecil lagi!" gerutu Neira.
"Udah ayo sini masuk dan lihat!" ucap ibu Neira sembari menarik tangan putrinya untuk segera masuk kedalam rumah.
"Tuh liat ada siapa?" ucap ibu Neira kemudian.
"Ahhhhh tante Young... Tante apa kabar? Aku kangen banget sama tante" ucap Neira sembari memeluk wanita itu.
Tante Young adalah adik dari ibunya Neira. Tante Young sendiri adalah wanita karir, sehingga dia belum menikah walaupun usianya sudah cukup matang.
"Eh Nei kenalin! Ini anak temen tante, namanya Aslan Soner. Aslan ini pengusaha muda loh Nei, jadi kamu bisa tanya perihal bisnis ke dia," ucap Tante Young.
"Hai, saya Neira!" ucap Neira sembari mengulurkan tangannya.
"Aslan Soner, panggil saja As. Tante Young banyak bercerita tentang kamu!" ucap Aslan sembari menjabat tangan Neira.
"Apa bisa dilepaskan, kamu menggenggam tangan saya dengan cukup bertenaga," ucap Neira kemudian.
"Ah.. iya bisa! maaf saya tidak sengaja," ucap Aslan sembari melepaskan tangan Neira.
"Kenapa? benar bukan ucapan Tante? dia sangat cantik?" tanya Tante Young kepada Aslan.
"Benar Tante! dia sangat cantik," ucap Aslan dengan wajah yang memerah karena malu.
Neira hanya menjawabnya dengan senyuman. Sejujurnya Neira merasa ada yang aneh dengan maksud tante memperkenalkan dirinya kepada Aslan. Tapi Neira tidak mengambil pusing akan hal itu.
"Loh ga mau nemenin Aslan dulu Nei?" tanya tante Young kemudian.
"Tidak usah tante, Neira pasti sangat lelah," jawab Aslan kemudian.
"Huh baru ketemu saja sudah perhatian," ucap tante Young sembari menggoda Aslan.
Neira tidak peduli dengan percakapan tante Young dan juga Aslan. Dipikirannya saat ini yang ada hanyalah tanda tanya perihal keberadaan ayahnya.
"Siapa Aslan ini? dan apa urusannya denganku? dia terlihat seperti anak manja. Kulitnya saja terlihat sangat terurus, pori-pori saja bahkan tidak terlihat diwajahnya. Apa itu tidak akan membuat aku minder?" gerutu Neira.
Keesokan paginya..
"Nei, kamu bangun sayang! Itu Aslan udah nungguin kamu!" teriak ibu Neira dari luar kamar.
"Hmm... Siapa tadi??" gumam Neira.
Neira pun langsung bergegas untuk ke kamar kecil. Betapa terkejutnya dia saat melihat di ruang tamu sudah ada Aslan yang sedari tadi menunggunya.
"Kamu ngapain?" Tanya Neira.
"Hai Nei, aku mau jemput kamu! Maaf ya.. sepertinya aku kepagian jemput kamu," ucap Aslan.
"Aku gak pernah suruh kamu jemput aku! Jadi mendingan kamu pulang deh, lagian setiap hari aku pasti berangkat sama sahabat aku!" jawab Neira dengan cetus.
"Nei, ko gitu sih bilangnya? Aslan kan niatnya baik. Udah sekarang kamu mandi terus siap-siap!" perintah Ibu Neira.
"Trus Tante kemana? Ko ga keliatan? Dan jangan bilang kalau laki-laki ini juga tidur disini tadi malam?" tanya Neira kepada ibunya.
"Kamu semalem keliatan cape banget, jadi Tante dan Aslan gak tega kalau harus bangunin kamu. Mereka akhirnya pergi begitu saja, lagipula tantemu sudah pergi keluar kota sekarang," jelas ibu Neira.
"Apaansih ini, pagi-pagi udah dibikin kesel aja!" gerutu Neira.
Bagi Neira, laki-laki yang bisa datang untuk mengantar dan menjemputnya hanyalah Agra. Dia sangat tidak rela kalau posisi itu diambil oleh laki-laki lain. Itulah sebabnya mengapa di pagi itu dia sangat marah.
"Sangat lucu! baru kali ini ada seorang gadis yang dijemput tapi malah marah-marah, dia memang menggemaskan," ucap Aslan didalam hati.
Bersambung...