Hold My Hands

Hold My Hands
Perintah yang mengejutkan


Sesampainya di kantin, mereka pun langsung memesan makanan dan menghabiskannya dalam waktu yang singkat.


"Ayo Nei cerita! makanan juga udah pada habis!" bujuk Banda dengan penuh semangat.


"Jadi gini! (bla.. bla.. bla..)" ucap Neira.


Hehe author cepetin ya teman-teman, intinya dipercakapan itu Neira menceritakan semua kenangannya bersama Agra dari awal bertemu hingga akhirnya berpisah.


"Nei, ko gua baper ya.. terus berarti sampe sekarang lu ga tau kabar Agra dong!" ucap Banda kemudian.


"Hmm!" gumam Neira sembari menganggukan kepalanya.


"Eh udah yuk langsung balik! Tugas gua belum selesai," ucap Neira kemudian.


Setelah itu mereka langsung bergegas untuk membayar makanan yang mereka pesan dan langsung kembali ke meja kerja mereka masing-masing.


"Eh tadi namanya siapa Nei? Ag.. Ag siapa Nei?" tanya Banda dengan terbata-bata.


"Agra, Agra Mahendra. Kenapa?" tanya Neira kemudian.


"Dia kira-kira punya akun weiwei gak ya?" tanya Banda.


"Hah? Akun apaan tuh?" tanya Neira balik.


"Ituloh akun yang lagi banyak dipake orang - orang, jadi mereka yang punya akun bisa pasang wajah mereka," jelas Banda.


"Hmm.. gak tau deh!" balas Neira.


"Lo ada foto Agra? Jadi nanti pas gua buka akun weiwei, gua bisa tau dia yang mana," ujar Banda.


"Ga ada.. gua aja ga mampu buat beli kamera, gimana kita bisa foto?!" jelas Neira.


"Ah iya bener juga. Tapi ko gua penasaran ya dia tuh cowok kaya apasih, sampe buat temen gua gak bisa lupa," ucap Banda.


Ketika sedang asik mengobrol, tiba-tiba saja seorang wanita datang menghampiri Neira.


"Hei masih ngobrol aja ya, jam istirahat udah selesai sejak 5 menit yang lalu loh!" ucap wanita itu.


"Maaf Bu!" ucap Neira dan juga Banda secara bersamaan.


"Nei, bisa ke ruangan saya sebentar?" tanya wanita tadi.


"Baik bu, bisa. Saya akan segera kesana," jawab Neira sembari beranjak dari kursi kerjanya.


"Nei jangan-jangan karena kita ngobrol tadi," bisik Banda kemudian.


Neira pun langsung bergegas mengikuti arah wanita itu pergi. Wanita itu adalah atasan Neira di perusahaan Yosie, khususnya dalam proyek desain.


"Silahkan duduk Nei!" perintah wanita itu.


"Baik, Bu!" ucap Neira sembari menggeser kursi yang ada didepannya.


"Jadi gini Nei! Anggota yang masuk kedalam tim desain dan dipercaya untuk mengurus proyek desain adalah saya, kamu, Banda dan juga Nensi. Kebetulan, saya dan Nensi ditugaskan oleh direktur untuk pergi ke Yunan dan kami sudah menandatangani kontrak untuk proyek yang baru. Tetapi, tiba-tiba saja sekertaris donzou mengabari saya bahwa mereka meminta beberapa anggota tim desain untuk pergi ke Hongkong. Jadi saya akan memberikan perintah kepada kamu dan juga Banda untuk mewakili tim desain di Hongkong. Bagaimana?" Tanya wanita tadi.


Neira tetap diam, dan tidak menjawab apapun. Neira sangat terkejut mendengar perintah itu.


"Nei? Gimana?" Tanya wanita itu untuk kedua kalinya.


"Maaf bu, saya sedikit terkejut tadi. Apa saya boleh meminta izin kepada ibu saya dulu?" tanya Neira kemudian.


"Tidak masalah, waktu penerbangan kamu masih 3 Minggu lagi ko. Jadi masih bisa dipikirkan. Tetapi kalau kamu tidak bisa, saya akan coba mencari pengganti kamu. Saya akan kasih kamu waktu untuk berpikir selama 2 hari, jika dalam 2 hari belum ada konfirmasi. Maka saya akan memberangkatkan Banda dengan orang pilihan saya. Bagaimana?" tanya wanita itu.


"Baik Bu, saya sepakat dengan itu," ucap Neira.


"Yasudah, kamu bisa kembali bekerja sekarang!" perintah wanita itu.


"Baik Bu! Saya permisi dulu," ucap Neira sembari meninggalkan ruangan itu.


Banda yang sedari tadi sudah menunggu Neira pun akhirnya tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Nei! Nei! Kenapa? Gara-gara ngobrol ya? Iya kan?" tanya Banda dengan tergesa-gesa.


"Tenang! Tenang aku tarik nafas dulu. Jadi.... Kita dapet tugas untuk pergi ke Hongkong!" ucap Neira sembari tersenyum dengan manis.


"Hah? Serius? Hongkong? Nei lu bisa ketemu Agra dong!" ucap Banda dengan wajah yang serius.


"Ah entahlah! gue ga bisa kalau harus ninggalin ibu lama-lama. Kasian, ibu pasti kesepian," ucap Neira dengan wajah yang berubah menjadi lesu.


"Terus gimana? Lo tadi jawab apa?" tanya Banda kemudian.


"Bu Marrie kasih gue waktu 2 hari buat mikir. Kalau selama 2 hari itu gua belum kasih konfirmasi ya terpaksa dia cari pengganti gue. Jadi nanti lu pergi sama orang pilihan Bu Marrie," jelas Neira.


"Ih ga mau ah! Gua maunya sama lu Nei! Pokonya harus sama lu!" ucap Banda dengan nada memaksa.


"Udah lanjutin kerjaannya, nanti diomelin lagi!" perintah Neira kepada Banda.


Sejujurnya Neira sangat bingung dengan pergi atau tidaknya ia ke Hongkong. Jika pergi, maka ia harus meninggalkan ibunya. Tetapi jika tidak, ia merelakan kesempatan emas, apalagi kesempatan ini bisa menjadi peluang bagi Neira untuk mencari Agra.


Bersambung...