
"slamat malam Ray, jangan lupa bangunkan aku besok jam 9.. oke?" ucap Theo sambil mengambil botol minum dari lemari es setelah tiba diapartemennya.. Ray melirik jam yang menunjukkan pukul 12 malam lewat dimana mereka baru saja pulang dari segala jadwal pekerjaan Theo hari ini. " aku akan bangunkan kau jam 7 karena persiapan untuk pemotretan wedding butuh waktu 3 jam" ucapnya sambil meletakkan barang Theo diruang tamu dan bergegas pulang untuk istiraht. " whatt..? jam 7? itu sama saja kau tak memberiku istirahat Ray.." dengusnya kesal karena tak bisa menambah jadwal tidur yang ia rencanankan. "tidurlah dan jangan macam-macam.." ucap Ray sambil menutup pintu dan meninggalkan Theo seorang diri.
"hm... sepertinya aku masih memiliki waktu hingga pukul 3 untuk bersenang-senang" senyum Theo melirik jam di dinding dan langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian seksi dan memakai wig untuk mengubah penampilannya agar tak dikenali saat k klub.
ia segera meraih kunci mobilnya dan segera menuju Club dekat apartemenny itu.
ia dengan perasaan gembira dan berjingkrak mulai memasuki ruangan yang penuh dengan hentakan musik yang keras dan dengn beberapa kelompok manusia yang sibuk dengan berbagai tarian dan yang lainnya sibuk dimasing-masing meja dengan berbagai macam minuman beralkohol.
Theo memilih mendekati bar mini yang terletak di ujung ruangan yang lebih memiliki privasi untuk orang yang datang sendiri seperti Theo. "slamat malam Josh.. aku ingin yang biasa.. ucapnya pada bartender didepannya yang sedang meracik minuman. Josh memicingkan mata sebentar dan berucap " oh.. aku hampir tak mengenalimu Theo.. lama tak kesini membuatmu semakin bersinar memperhatikan penampilan Theo yang sangat seksi. "tunggi sebentar.. aku akan memberimu racikan baruku.. ucap Josh sang bartender yang merupakan teman SMA Theo itu. "apa aku masih seperti Theo yang terkenal meskipun sudah mengubah penampilanku Josh?" tanya theo dengan nada agak keras ditengah dentuman musik yang keras. "hm.. tidak terlalu.. tapi karena aku telah mengenalmu jadi aku langsung bisa melihat yang datang dirimu.. kau lebih menarik perhatian orang dengan pakaianmu itu teman". ucap Josh sambil melirik ke pengunjung pria yang banyak menatap tubuh Theo yang sangat proporsional dibalut dengan pakaian press body sepaha dan agak terbuka dibagain dada memperlihatkan tubuhnya yang sangat seksi dan mulus itu.
" silahkan dinikmati nona cantik" ucap Josh sambil menyodorkan minuman beralkohol ke arah Theo.. Theo dengan segera menenggak minuman itu hingga menyisakan es batu did dasar gelas. " c..argghh.. sangat menyegarkan.. ucapnya menghentakkan gelas k meja bar dan menyodorkannya ke arah Josh sebagai tanda meminta untuk diisikan lagi. "apa kau besok tak ada jadwal?" tanya Josh memastikan agar Theo tak akan mabuk jika besok pagi tak ad jadwal.. "hm.. aku harus bangun jam 7 Josh untuk persiapan pemotretan jam 10" ucapnya nyengir dan kembali meneggak gelas kedua dan menyodorkan lagi didepan Josh. "kau gila Theo.. aku akan dimakan habis-habisan sama managermu jika tau kau kesini... kau cepatlah pulang, aku tak ingin mendapat masalah karenamu seperti dulu".. ucap Josh mengingat kejadian 3 tahun lalu yang membuatnya dipukuli Ray karena membuat Theo mabuk dan berulah.
"hey hey.. tenanglah aku sudh memiliki toleransi yang tinggi saat minum Josh.. tak usah khawatir.. 10 gelas tak akan membuatku mabuk, percayalah.." ucap Theo merebut botol minuman keras dari tangan Josh. "Theo jangan... arghh.. kau benar-benar membuatku dalam masalah" ucap Josh melihat Theo sudah meminum langsung dari botolnya..
Theo mulai merasakan perasaan yang sangat menggelitik dan panas dalam dirinya.. dia mulai bergabung ke arah tengah dimana berbagai tarian mengundangnya ikut berjoget. ia semakin larut dalam hentakan musik yang semakin malam semakin membuatnya ingin terus bergoyang.
"wah.. gadis itu sungguh menggoda.. aku harus turun dan mendapatkannya" ucap laki" berbaju merah yang bernama Brian hendak berdiri untuk turun kebawah lantai 1 ingin menghampiri Theo namun langsung ditahan oleh rekannya disamping. "duduklah Brian, perempuan seperti itu banyak disamping meja.. untuk apa jauh-jauh kebawah" tanya Rocky yang disebelahnya itu. "Bro.. gadis itu sungguh menggoda mataku dari tadi.. semua perempuan yang ad disini membuatku tak berselera setelah melihatnya" ucapnya sambil kembali berdiri dan segera turun menghampiri Theo.
Brian sambil ikut berjingkrak perlahan mendekti Theo yang sibuk bergoyang dengan mata tertutup menikmati musik yang terus bergema diruangan itu. " apa aku boleh menemanimu nona cantik" ucap Brian setengah berteriak ditelinga Theo yang spontan membuat Theo membuka matanya dan mendengus kesal karena ada yang mengganggunya. " tidak.. aku ingin sendiri, pergilah" ucap Theo mendorong Brian dan kembali bergoyang. "oh.. ayolah.. aku ingin menemanimu nona, apa kau tidak kesepian? " ucap Brian tak menyerah " Tuan.. aku tak ingin diganggu.. tolong jangan menggangguku.." ucap Theo dambil melengos pergi dari Brian. "tunggu.. apa aku boleh meminta nomormu? ucap Brian tak menyerah tapi tak dihiraukan oleh Theo yabg tetap berpindah tempat untuk berjoget. teman" Brian sibuk menertawakannya yang ditolak oleh perempuan meskipun berparas tampan. " sialan.. aku kesini untuk refreshing tpi diganggu oleh buaya" ucap Theo kesal dan kembali ke bar tempat Josh berada..
"kenapa sangat cepat Theo.. apa kau ingin pulang? tanya Josh yang mengharapkan Theo untuk pulng secepatnya. "tidk.. aku hanya diganggu tikus kecil.. ucapnya kembali menenggak gelas didepannya..
ia mulai merasakan kepalanya berat 'aku harus pulang sebelum Ray mendapatiku mabuk disini' batin Theo dan berlalu dari meja bar.
sambil berjalan cepat dan setengah sadar ingin menelpon supir pengganti..
"halo.. aaku berada di Club xx.. aku tunggu 10 menit digerbang utama dan jangan telat" ucapnya cepat dan kembali melangkahkan kaki keluar...
ia menunggu selama 20 menit di kursi jalan sambil menopang kepalanya yang terasa semakin berat hingga ad yang menghampirinya. " kau benar-benar pembuat masalah nona Theo.."ucap pria yang berdiri didepannya itu. 'tunggu.. sepertinya aku mengenali suara ini' batinnya sambil mendongak dan memperhatikan wajah yang semakin kabur dihadapannya itu dan ia pun jatuh pingsan.