
Jam kerja pun akhirnya selesai. Seluruh karyawan pun bersiap-siap untuk segera pulang.
"Nei, lu langsung balik?" tanya Banda sembari merapikan meja kerjanya.
"Iya kayanya, kenapa?" tanya Neira balik.
"Kita ke cafe dulu yuk! Gua lagi pengen ngopi-ngopi cantik," ajak Banda sembari tersenyum.
"Yuk! gua juga udah lama nih gak ngopi cantik!" ucap Neira sembari tersenyum.
Mereka pun akhirnya bergegas untuk pergi meninggalkan perusahaan Yosie dan berencana untuk bergegas ke cafe.
Ketika mereka sudah sampai di pintu keluar perusahaan Yosie, tiba-tiba saja Banda disambut oleh seorang pria yang terlihat cukup tampan.
Lelaki tampan itu adalah Chiro Atmajaya, Chiro adalah kekasih Banda. Sudah lama mereka menjalin hubungan, bahkan terdengar kabar bahwa mereka akan melanjutkan hubungannya ke arah yang lebih serius. Tetapi sayangnya hubungan mereka terhalang oleh restu orang tua Banda.
"Kejutan!!" ucap pria itu sembari mendekati Banda.
"Sayang, kamu sejak kapan disini?" tanya Banda dengan penuh kegirangan, sambil menatap pria yang ada dihadapannya.
"Mau seribu tahun juga, aku pasti rela ko nungguin kamu," balas pria itu sembari mengusap kepala Banda.
"Ya Tuhan, kenapa aku harus jadi saksi cinta mereka sih?" gerutu Neira sembari memandangi dua sejoli itu.
"Hehe.. Nei, kayanya kita ga jadi ke cafe deh," ucap Banda dengan gaya manjanya.
"Iya aku paham ko, yaudah aku balik duluan ya. Kalian hati-hati," ucap Neira kemudian.
"Iya hati-hati juga Nei," ucap dua sejoli itu secara bersamaan.
Neira pun langsung bergegas untuk pergi menuju halte dengan berjalan kaki. Neira sengaja tidak ingin naik becak ataupun angkutan umum lainnya untuk sampai ke halte karena Neira ingin menikmati indahnya senja di sore itu.
"Gra, kamu kemana sih? Mungkin kalau ada kamu aku pasti gak akan sendirian sekarang!" ucap Neira sembari memandangi senja.
"Nei! Itu kamu kan?" teriak wanita itu dari kejauhan.
Neira pun langsung memberhentikan langkah kakinya. Kemudian wanita itu pun datang menghampiri Neira.
"Ya ampun aku pikir siapa, ternyata kamu Zah," ucap Neira sembari menatap wanita itu.
"Iya, aku tadi ga sengaja liat kamu. Jadi aku panggil deh," ucap wanita tadi.
"Ga nyangka ih bisa ketemu disini, apalagi kamu kan selalu stay di pondok!" ucap Neira.
"Sudah takdir sepertinya Nei," balas wanita tadi sembari tersenyum.
Wanita yang menghampiri Neira adalah Azizah, dia adalah putri dari Pak Ahmad dan Bu Ahmad.
"Nei, pasti ayahmu kemarin membawa banyak oleh-oleh ya?" tanya Azizah.
"Ayahku malah belum pulang Zah, dia malah menambah masa kontraknya," jawab Neira.
"Loh kok bisa? Bukankah cuaca disana sedang buruk? Ayahku juga bilang bahwa semua ABK akhirnya dikembalikan pulang," jelas Azizah.
"Kamu serius Zah?! Ayahmu benar-benar bilang begitu?! tanya Neira dengan wajah yang khawatir.
"Iya aku serius Nei, malah ayahku sudah pulang sejak 3 bulan yang lalu!" jawab Azizah yang mencoba untuk meyakinkan Neira.
Seketika Neira pun langsung terdiam, Neira mencoba bertanya-tanya dalam hatinya. Sebenernya kemana ayah pergi? Apa ayah sudah tidak merindukan Neira dan ibunya?
"Nei, hei kok diem aja! Yaudah kalau gitu aku duluan ya Nei! Soalnya temanku udah nungguin dari tadi," ucap Azizah sembari bergegas pergi meninggalkan Neira.
Perasaan Neira semakin tidak karuan. Rasa cemas, bingung, bimbang semua bercampur menjadi satu.
Bersambung...