Hold My Hands

Hold My Hands
Tentang Ray


Theo POV


'Theo.. kau tahu aku sangat menginginkanmu kan? aku membutuhkanmu, jangan seperti in padaku.. aku berjanji akan membahagiakanmu...' sosok itu berjalan menujuku namun aku tak dapat melihatnya dengan jelas.. aku meraih tangannya dan mengelus-elusnya dan meletakkan dipipiku.. ah.. sungguh hangat dan lembut.. wangi toscawood dari pria ini sungguh menenangkan dan membuatku semakin rileks.


*suara telpon berbunyi* "arrgghh..."Theo menggeliat memegang kepalanya yang sakit dan terbangun karena suara telpon genggamnya.. ia melihat sekeliling dan segera menyadari bahwa ia berada di sebuah kamar hotel, ia melirik ke arah jam di dinding yag menunjukkan pukul 7.30 AM, "******..." ia dengan segera mengambil tasnya dan mengeluarkan semua isinya untuk mengangkat telpon yang dari tadi berdering,


"halo Ray.. maaf aku baru saja selesai mandi... satu jam lgi kamu datang menjemputku" ucap Theo berbohong karena ia tak ingin Ray mengetahuinya bahwa ia pergi ke Klub dan sekarang berada disebuah kamar hotel.


R : "Kamu mandi dimana?"


T : "apa maksudmu? tentu saja aku mandi di apartemenku"


R : "oh... kau sudah ganti baju? aku ada didepan aprtemenmu sekarang, buka pintumu"


T : "Jangan Ray, aku baru saja akan berpakaian, tolong belikan aku sarapan ya.."


R :"aku sudah membelikanmu.. aku membawanya sekarang, cepat buka pintumu atau kita akan telat.


R : " baiklah.. stengah jam lagi aku kembali.. tapi kau harus sudh siap dan kutunggu di parkiran"


T :" o oke Ray.."


"huff.. ****** aku.. aku berada dimana sekarang? siapa membawaku kesini? apa aku melakukan sesuatu tadi malam? ucap Theo sambil berkeliling kamar mencari orang lain, mungkin ia akan bertemu dengan orang yang membawanya ke hotel tadi malam saat ia mabuk. namun ia tak menemukan siapa pun dikamar itu. ia lalu menarik tasnya saat menyadari ia berada di hotel yang sama dengan tempat bar tadi malam. ia bergegas menuju parkiran dan pulang ke apartemennya dengan terburu-buru.


tit tit tit tit.. suara bunyi pintu depan berbunyi dan Theo segera masuk ke dalam apartemennya dengan segera, namun ia sungguh kaget melihat managernya Ray berada didalam dan menatapnya dengan tatapan penuh tanya dan mengintimidasi.


"Theo, kamu semalam berada dimana? apa kau tahu jadwal kita sangat padat hari ini, aku sengaja mengundur pemotretanmu 3 jam agar tak mengganggu istirahtmu tapi kau malah keluyuran dan pulang dengan bau alkohol" ucap Ray keras yang semakin emosi karena tahu Theo bau alkohol.


"maaf Kak Ray.. aku hanya lelah dan ingin bersenang-senang sebentar, tidak bisakah aku melakukannya?" ucap Theo dengan mata berkaca-kaca. "hhmm... Theo.. jika ingin aku akan mengosongkan jadwal dan menemanimu, tapi bukan begini caranya, kita bisa terkena hukuman jika semua jadwalmu terganggu, kau mengerti?" tolong dewasalah.. kau yang memilih pekerjaan ini, berarti kau harus bertanggungjawab untuk semua yang kau lakukan, aku hanya membantumu untuk melakukan pekerjaan agar berjalan dengan


baik.." ucap Ray lembut dan segera menyuruh Theo bergegas membersihkan diri karena Jadwal mereka sangat padat. Ray sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri karena selama 6 tahun karirnya hanya Ray yang setia menemani dan semua hal mengenai pekerjaan Ray semua yang mengatur, Theo tak akan bisa menyelesaikan pekerjaannya jika tanpa Ray.


Ray adalah pria yang sangat misterius dikalangan rekan kerja Theo, ia akan melakukan apapun untuk Theo agar terhindar dari masalah, ia tak ingin majikannya melakukan kesalahan sedikit pun. Ray bahkan menarik perhatian model bahkan artis yang melihatnya dengan parasnya yang tampan dan dingin itu. bahkan ia beberapa kali ditawari untuk menjadi model namun ia sama sekali tak tertarik. ia lebih memilih mengurus Theo karena menurutnya Theo adalah orang yang sangat berjasa baginya. ia bertemu dengan Theo 6 tahun yang lalu ketika Theo telah kembali dari luar negeri mengikuti ajang miss World.. Theo melihat Ray berada diujung jembatan dan ingin melompat, namun seorang gadis berlari memeluknya dan menangis memohon agar ia tak melompat ke sungai yang dalam itu. "apapun masalahmu, bunuh diri bukanlah penyelesaian namun pelarian tak berujung, jangan membuang waktumu untuk masalah yang kecil, Tuhanmu lebih besar" ucap Theo saat itu. Ray mencurahkan seluruh isi hatinya hingga mengurungkan niatnya untuk melompat dan pada akhirnya Theo mengajaknya untuk bekerja dengannya dan tak terasa ini tahun keenam ia bersama Theo.