
Setelah beberapa menit, Neira pun keluar dari kamarnya dengan menggunakan setelan jas berwarna coklat yang senada dengan kulit putihnya.
"Sangat cantik!" ucap Aslan sembari menelan ludah.
"Liatin apaan?! tanya Neira dengan cetus.
"Engga ko Nei, jadi udah siap? Ayo berangkat!" ajak Aslan kemudian.
"Ya Tuhan, mahluk apa ini? Mengapa dia sangat lembek seperti jelly? Aku tidak suka laki-laki seperti dia!" gerutu Neira didalam hati.
"Bu Nei langsung pamit ya," ucap Neira sembari mencium tangan ibunya.
"Bu, saya juga izin mengantarkan Neira bekerja dulu!" ucap Aslan kemudian sembari mencium tangan ibu Neira.
"Iya kalian berdua hati-hati ya!" ucap Ibu Neira sembari tersenyum.
Sebelum bergegas pergi, Neira sempat menghubungi Banda bahwa hari ini Neira tidak bisa berangkat bersama Banda dikarenakan ada sedikit gangguan dirumah.
Sesampainya dikantor..
"Eh kamu mau ngapain?!" tanya Neira.
"Aku mau bukain kamu pintu," ucap Aslan.
"Udah gak usah, kamu langsung jalan aja! " ucap Neira sembari membuka pintu mobil dan bergegas masuk ke perusahaan Yosie.
"Nei! Sama-sama," teriak Aslan dari dalam mobil sembari memandangi Neira.
"Ish manusia ini menjijikkan, lihat betapa putihnya dia? Dia sangat mirip dengan seorang gadis daripada pria!" gerutu Neira.
"Nei, pacarmu ya? dia sangat tampan Nei!" ucap salah seorang karyawan.
"Bukan ko! Dia adikku!" ucap Neira sembari tersenyum.
"Wah ternyata kamu punya adik setampan itu Nei!" ucap salah seorang karyawan yang lain.
"Sungguh mimpi buruk!" gerutu Neira.
"Nei, lu kenapa? kaya bete banget?" tanya Banda sembari memperhatikan wajah Neira.
"Gimana gua ga bete coba, gua tuh kesel banget sama cowok yang dikenalin Tante gue!" ucap Neira dengan nada yang sedikit kesal.
"Hah? Akhirnya Tuhan memberikan dia jodoh juga!" ucap Banda sembari tertawa kecil.
"Coba ngomong lagi! ayo ngomong! bikin naik darah aja pagi-pagi!" ucap Neira.
"Nei, lu kenapa sih ga coba buka hati lagi? buat cowo itu misalnya?" tanya Banda kemudian.
"Ban, dihati gua cuma ada Agra. Walaupun gua gak tau dihati dia sebenarnya gua ini ada atau engga," ucap Neira dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tapi Nei, lu ga bisa stay disitu terus. Lu harus bisa keluar dari zona itu. Mungkin Tuhan punya jalan bahwa dengan jalan itu lu bisa lupain Agra!" ucap Banda sembari memeluk Neira.
"Gua yakin ko, gua sama Agra pasti akan ketemu lagi!" ucap Neira.
"Amin, gua pasti doain yang terbaik buat lu!" balas Banda sembari memeluk dan menguatkan Neira.
Hari itu Neira tidak terlihat seperti biasanya, dari matanya terpancar kerinduan yang mendalam pada sosok Agra. Banda yang melihatnya pun akhirnya mencoba memikirkan beberapa ide agar Neira dan Agra bisa bertemu lagi.
"Nei, gimana kalau lu berangkat aja ke Hongkong?" tanya Banda.
"Astaghfirullah Banda! gua lupa bilang sama ibu," ucap Neira.
"Yaudah tenang aja, kan masih ada waktu 1 hari lagi. Jadi masih bisa kasih keputusan besok!" ucap Banda.
"Ah iya bener juga!" ucap Banda sembari tersenyum.
"Lo masih punya alamat Agra kan? Gimana kalau nanti kita coba cari lokasi Agra tinggal?" ucap Banda.
"Ah bener! iya gua mau banget. Lo pokoknya harus bantuin gua ya Ban! Banda gua sayang banget sama Lo!" ucap Neira sembari memeluk tubuh kecil Banda.
Bersambung...