Hold My Hands

Hold My Hands
Mimpi yang ditentukan orang lain


Kring...Kring...Kring


"Ya ampun, berisik banget!" gerutu Banda ketika mendengar alarm milik Neira.


"Nei, cepat kau matikan itu alarm! Lama-lama telingaku bisa pecah dibuatnya!"


"Banda sayang, alarm itu memang ku peruntukan untukmu. Jadi cepatlah bangun dan bersiap sayang!" ucap Neira sembari menarik selimut yang dipakai oleh Banda.


"Huh memangnya jam berapa ini?!" tanya Banda.


"Jam 07.00," ucap Neira sembari menarik tangan sahabatnya agar cepat bangun dan bergegas.


"Serius? Ya ampun kita telat dong!" ucap Banda yang langsung bergegas ke kamar kecil.


Tiba-tiba saja terdengar teriakan dari balik kamar kecil.


"Neira Atmaila! Ini aja tuh baru jam 05.00 pliss becandamu itu nyebelin!" teriak Banda.


"Iya iya iya maaf," ucap Neira sembari tersenyum.


Neira pun langsung bergegas menyiapkan berkas yang harus ia bawa untuk meeting nanti. Ketika Neira sedang sibuk menyiapkan berkas tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu.


Tok...Tok...Tok


"Siapa ya? ko pagi-pagi gini ada yang ketuk pintu,"


Neira pun langsung bergegas membuka pintu, dan benar saja betapa terkejutnya Neira saat membuka pintu.


"Aslan!"


"Hai Nei, gimana tidur kamu malam ini?"


"Ko kamu bisa ada disini?!"


"Aku baru sampe tadi malam, sebenarnya aku mau langsung kesini tapi aku takut ganggu kamu,"


Tiba-tiba saja Banda menghampiri Neira, tanpa sadar bahwa ada Aslan yang sudah disana sedari tadi.


"Nei, lu ngomong sama siapa sih?! Hah Aslan, eh ko lu disini?!"


Banda pun langsung menyenggol lengan Neira dengan sikunya.


"Eh Nei, orang tuh disuruh masuk bukannya disuruh diam di depan pintu." ucap Banda sembari tersenyum.


"Iya, yaudah Aslan ayo masuk!"


"Nah gitu dong! Ah yaudah gua gak mau ganggu kalian, gua tinggal kebawah dulu ya gua mau cari coffe," ucap Banda yang langsung bergegas meninggalkan mereka berdua.


"Ish si Banda ini!" gerutu Neira.


"Nei, aku sama ibumu sudah menentukan tanggal baik kita."


"Apa?! Aku gak pernah bilang aku setuju, jadi tanggal baik apanya?!"


"Kamu jangan marah-marah dulu dong, aku juga gak akan maksa kamu."


"Aku hari ini tuh udah pusing mikirin kerjaan aku, dan kenapa juga kamu harus dateng buat nanya hal yang gak penting!"


"Itu penting Nei untuk aku,"


"Penting untuk kamu, tapi engga buat aku! Aduh udah deh kamu mending keluar aja, aku tuh lagi pusing jadi mending kamu pergi deh!" ucap Neira sembari menarik tangan Aslan agar segera pergi dari hadapannya.


"Oke aku pergi, aku minta maaf kalau udah buat kamu kesel."


"Terserah deh!" gerutu Neira sembari menutup pintu kamar dengan sangat kencang.


"Hidup siapa ini?! Kenapa aku ngerasa mimpiku justru dikendalikan oleh orang lain?! Apa aku gak bisa hidup sesuai keinginanku?!" ucap Neira sembari terisak tangis, ia masih tidak percaya bahwa Aslan adalah laki-laki yang dipilih oleh ibu untuknya. Sedangkan, didalam hatinya Neira hanya terdapat satu nama yaitu Agra Mahendra.


Bersambung...