Hold My Hands

Hold My Hands
Goes to Hongkong


Tidak terasa akhirnya waktu pemberangkatan Neira dan Banda ke Hongkong pun telah tiba.


Neira pergi ke Bandara dengan ditemani Ibu, Tante Young dan juga Aslan. Sejujurnya Neira sangat muak melihat Aslan, apalagi selama tiga pekan terakhir Aslan selalu mengikuti kemanapun Neira pergi.


"Ah syukurlah! paling tidak tiga hari kedepan aku sedikit lega karena tidak melihat wajah laki-laki ini!" ucap Neira dalam hati.


Tak lama kemudian, Banda beserta kekasihnya Chiro datang menghampiri Neira.


"Ah kalian semua sudah berkumpul ya rupanya!" ucap Banda sembari tersenyum.


"Yasudah sayang, aku sepertinya hanya bisa mengantarmu sampai sini. Aku akan ada meeting sebentar lagi, aku pamit dan jaga dirimu baik-baik!" ucap Chiro sembari mencium kening Banda.


"Ehem manis sekali pasangan muda ini!" ucap Neira sembari tertawa kecil.


"Nei apa kau tidak ingin melakukan hal yang sama bersama Aslan?" ucap Tante Young yang mencoba menggoda Neira.


"Tante, sepertinya aku harus membelikan kamu lakban!" ucap Neira dengan cetus.


"Galak sekali ya keponakanku ini!" ucap Tante Young sembari tersenyum manis.


Pengumuman pemberangkatan pun akhirnya tiba.


"Perhatian, para penumpang pesawat Airbus dengan nomor penerbangan A745B tujuan Hongkong dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu A12."


Setelah berpamitan dengan Ibu, Tante dan juga Aslan. Mereka akhirnya langsung bergegas untuk naik ke pesawat. Ibu Neira terlihat sangat sedih, karena ini adalah kali pertamanya Neira pergi ke negara orang.


"Ya Allah, aku mohon lindungilah anakku dan juga kawannya Banda," ucap Ibu Neira sembari menatap kepergian putrinya.


"Nei, kamu gapapa?" tanya Banda yang terlihat sedikit cemas.


"Perutku rasanya mual Ban," jawab Neira dengan wajah yang terlihat pucat.


"Cup.. cup.. cup sini tidur aja ya senderan!" perintah Banda sembari menyenderkan kepala Neira dibahunya.


Mendengar perkataan Banda, seketika Neira teringat akan Agra. Agra selalu menggunakan kalimat itu setiap kali melihat Neira merasa gelisah.


"Gra! aku seneng kamu ada disini! aku kangen banget sama kamu," ucap Neira yang sedari tadi masih memejamkan matanya.


"Hus! Nei bangun! Nei hei bangun! kita sebentar lagi akan mendarat," ucap Banda sembari mengusap kepala Neira.


"Ah.. Banda! Dimana A.. hmm tak jadilah!" ucap Neira yang sedikit terbata-bata.


"Lu mimpiin Agra ya Nei, tadi gua denger lu sebut nama dia?!" tanya Banda.


"Iya Ban, gua tadi mimpi dia ada disini. Kita terbang bareng-bareng," ucap Neira sembari meneteskan air mata.


"Udah, sebentar lagi kita pasti akan bertemu dengan Agra. Sekarang hapus dulu air matanya, trus kita dengerin arahan dari pramugarinya!" perintah Banda yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Neira.


"Bapak dan Ibu yang terhormat, sebentar lagi kita akan mendarat di Bandar Udara Internasional Hongkong. Silahkan mengenakan sabuk pengaman, menegakan sandaran kursi, melipat dan mengunci meja serta menyimpan sandaran kaki dan layar video ke tempat semula. Pastikan jendela disamping anda tetap dalam keadaan terbuka. Laptop dan alat elektronika lainnya kami mohon untuk dimatikan (Bla.. bla.. bla..)," ucap salah seorang pramugara.


Bersambung...