Hold My Hands

Hold My Hands
Ulang Tahun Agra



Tiba - tiba paman dan bibi Jun datang ke rumah Neira. Pada saat itu Neira sedang bersiap - siap untuk berangkat kerja di hari pertamanya.


Apa kalian masih ingat siapa paman dan bibi Jun? Ya. Benar. Paman Jun adalah kakak dari ibunya Agra, karena kecerobohan orang tua Agra. Paman dan bibi Jun pun resmi menjadi orang tua angkat Agra, terlebih lagi paman dan bibi Jun tidak dikaruniai anak dalam pernikahannya.


"Paman dan bibi akan berapa lama tinggal di luar kota?" tanya Neira kemudian.


"Doakan saja ya Nei, semoga paman lekas sembuh dan segera kembali kesini." jawab bibi Jun yang mencoba meyakinkan Neira.


Sejujurnya Neira sangat penasaran perihal sakitnya paman, tetapi paman dan bibi Jun mencoba menutupinya dengan rapat. Neira akan menjadi anak yang kurang ajar apabila mencoba untuk menghakimi privasi orang lain.


"Nei, apa Agra sudah mengirimkan kamu pesan?" tanya bibi Jun kemudian.


"Tidak bi, tidak ada pesan apapun," ucap Neira.


"Kemana ya anak itu? Agra juga belum mengirimkan pesan kepada paman dan bibi. Mudah-mudahan saja anak itu baik-baik saja," ucap Bibi Jun yang terlihat sangat khawatir.


"Bibi jangan khawatir ya, aku yakin cepat atau lambat pasti Agra akan segera menghubungi paman dan juga bibi," ucap Neira sembari mengusap bahu Bibi Jun.


"Iya Nei, bibi hanya sedikit takut saja. Bibi takut anak itu tidak bisa menjaga dirinya sendiri," ucap Bibi Jun sembari memegang lengan Neira.


"Apa bibi tau alamat Agra tinggal? Neira akan mencoba mengirimkan pesan kepada Agra lewat kantor pos, mudah-mudahan saja Agra bisa membalasnya," ucap Neira dengan tatapan penuh harapan.


"Sepertinya ada di ponsel paman, coba tunggu sebentar paman lihat," jawab paman Jun sembari mengecek ponselnya.


"Oh ini Nei, ada," ucap paman Jun kemudian sembari memperlihatkan alamat itu kepada Neira.


"Baik paman, Neira akan mencatatnya dan sesegera mungkin Neira akan mengirimkan Agra pesan!" ucap Neira dengan penuh semangat.


Setelah itu paman dan bibi Jun pun pergi meninggalkan rumah Neira. Neira pun akhirnya langsung bergegas untuk pergi bekerja di hari pertamanya.


2 bulan telah berlalu. Namun, Neira belum sempat mengirimkan pesan kepada Agra dikarenakan kesibukannya bekerja. Karena pada saat itu, karyawan yang baru bekerja selama 2 bulan diwajibkan untuk mengikuti training dihari liburnya. Sehingga tidak ada waktu bagi Nei untuk mengirim pesan kepada Agra.


"Alhamdulillah akhirnya masa trainingku selesai dan aku bisa secepatnya mengirimkan Agra pesan," ucap Neira sembari menyiapkan alat tulis untuk menulis pesan.


Tepat 2 hari setelah hari ini adalah tanggal 18 Juli. Hari itu adalah hari jadinya Agra. Sejak dulu Neira selalu mempunyai tradisi untuk merayakan ulang tahun Agra 2 hari sebelumnya, karena Neira tidak ingin ada orang yang mendahuluinya untuk memberikan ucapan selamat kepada Agra.


Neira pun akhirnya mulai menulis, dan tidak ingin berlama - lama karena takut kantor pos segera tutup.



Sekiranya begitulah pesan yang ditulis oleh Neira untuk Agra. Neira pun langsung bergegas ke kantor pos untuk mengirimkan hadiah ulang tahun Agra.


"Gra, semoga kamu suka ya!" ucap Neira sembari tersenyum.


Setelah selesai mengirimkan hadiah, Neira pun bergegas untuk kembali ke rumah.


Sesampainya dirumah, Neira sangat terkejut ketika mendapati ibunya sedang duduk termenung sembari menangis.


"Bu ada apa?" tanya Neira dengan perasaan yang bingung.


"Ayahmu Nei, ayahmu ditangkap oleh beberapa mafia disana. Ibu takut Nei, ibu sangat takut!" ucap Ibu Neira sembari menggenggam tangan Neira dengan sangat kuat.


"Bu, ibu tau darimana? siapa yang bilang?" tanya Neira sembari memeluk tubuh ibunya.


"Tadi istrinya pak Ahmad datang ke rumah. Dia bilang ayahmu ditangkap saat sedang menampung ikan di pelabuhan. Katanya ayahmu melawan saat mereka meminta uang kompensasi lahan." ucap ibu sembari menangis.


Pak Ahmad adalah sahabat dan juga rekan kerja ayah Neira. Ayah Neira berprofesi sebagai ABK atau Anak Buah Kapal dimana tugasnya mengoperasikan dan memelihara serta menjaga kapal dan muatannya.


"Bagaimana mungkin mereka bisa meminta uang kompensasi? sebenernya apa urusan ayah dengan para mafia itu?" gumam Neira didalam hati.


Bersambung...