
Jam kerja pun akhirnya selesai. Neira dan Banda pun mengemasi barang-barangnya untuk bergegas pulang.
Betapa terkejutnya Neira saat sampai di lantai bawah. Neira melihat Aslan sudah menatap ke arahnya sembari tersenyum.
"Nei, lu liat deh! Itu cowo ko kaya senyum ke gua ya? Mana ganteng banget lagi!" bisik Banda kepada Neira.
"Ban, lu tau ga dia siapa? dia tuh cowok yang dikenalin Tante gua!" bisik Neira.
"Hah? Lu serius? Eh gila chakeppp banget ini sih!" ucap Banda dengan wajah yang terkejut.
Aslan pun langsung datang menghampiri Neira. Tujuan Aslan mendatangi Neira bukan lain adalah untuk menjemputnya.
"Hai Nei, ayo pulang!" ajak Aslan sembari tersenyum.
"Tuh Nei udah diajakin, sok mangga silahkan! Aku mah gapapa!" bisik Banda kemudian.
"Ish apaansih!" gerutu Neira kepada Banda.
"Yaudah kalau gitu saya duluan ya! Nei hati-hati! Bye!" ucap Banda yang langsung bergegas meninggalkan Neira.
"Ayo Nei!" ajak Aslan untuk kedua kalinya.
"Iya, ayo!" ucap Neira.
"Cie..cie..Neira udah ada yang punya ya sekarang!" ucap karyawan lain sembari memandangi dua sejoli yang sedang berjalan berdampingan.
"Bukan ko mas Denis! Ini temanku!" ucap Neira sembari tersenyum. Padahal didalam hatinya dia sangat kesal dengan tingkah kawan-kawannya.
"Yasudah hati-hati Nei! Ditunggu ya kabar baiknya," ucap karyawan tadi.
Neira hanya membalasnya dengan senyuman dan langsung pergi meninggalkan area kantor.
"Lain kali kalau mau jemput, kamu tuh harusnya hubungin aku dulu!" ucap Neira.
"Berarti aku boleh minta nomor kamu dong!" ucap Aslan sembari tersenyum.
"Ah sial! Iya juga ya.. aku kan belum kasih kontak aku ke dia. Yah kalau udah gini mau gimana lagi, mau gak mau aku kasih daripada dia mondar-mandir di area kantor dan aku malah jadi bahan ledekan." gerutu Neira didalam hati.
"Nei, ko diem aja sih?" tanya Aslan.
"Hmm.. yaudah aku minta nomor kamu aja, nanti aku miss call ke ponsel kamu," ujar Neira.
"Jangan bilang kamu mau bukain pintu?" ucap Neira.
"Iya, kok kamu tau?" ucap Aslan sembari tersenyum.
"Udah gak usah, kamu langsung balik aja. Oh iya besok gak usah jemput! Aku izin gak masuk kerja!" ucap Neira dengan tegas.
"Oh berarti kalau kamu ga kerja, aku bisa main dirumah kamu dong!" ucap Aslan dengan ekspresi menyebalkan.
"Tau ah!" gerutu Neira sembari keluar dari mobil Aslan.
"Asalamualaikum ibu Nei pul..." ucap Neira yang langsung dipotong oleh ibunya.
"Waalaikumsallam, loh Aslannya mana Nei?" tanya ibu Neira.
"Ish apaansih sih Bu! Baru pulang langsung nanyain dia! Gak penting banget asli!" gerutu Neira yang langsung meninggalkan ibunya dan bergegas masuk kedalam rumah.
"Nei, ibu hanya ingin ada laki-laki yang menyayangi kamu. Ibu tidak mau kamu hanya menunggu Agra Nei!" ucap Ibu Neira didalam hati sembari menatap ke arah Neira.
"Bu aku mau berbicara serius!" ucap Neira.
"Apa Nei? Apa soal Aslan?" tanya ibu Neira.
"Duh ibu apaansih! Ini ga ada hubungannya sama Aslan! Jadi gini bu, aku ditugaskan untuk pergi ke Hongkong selama 3 hari. Apa ibu ngizinin aku?" tanya Neira.
"Loh kenapa ibu harus gak izinin kamu? Itu kan memang tugasmu, berarti kamu harus siap berangkat!" ujar ibu Neira.
"Ibu serius? Tapi ibu gapapa sendirian dirumah?" tanya Neira.
"Ibu gapapa kok, lagian kan emang ibu udah biasa sendirian. Jadi kamu jangan khawatir dan fokus saja bekerja! Memangnya kamu kapan berangkatnya?
"Masih 3 Minggu lagi sih Bu, cuma harus konfirmasi kesanggupan dimulai dari hari ini!" jelas Neira.
"Kalau tiga Minggu lagi, berarti perkiraan tanggal 18-20 Agustus ya Nei? Kalau tidak salah tantemu akan menginap disini!" ucap Ibu Neira.
"Wahhh Alhamdulillah, kalau gitu berarti ibu ada yang nemenin. Yaudah Bu aku mau istirahat dulu aku cape," ucap Neira sembari mencium pipi ibunya.
"Nei! kalaupun ibu bilang jangan, apa kamu akan menurutinya? ibu yakin, salah satu tujuanmu untuk berangkat adalah untuk mencari Agra. Mas lihatlah putri kecil kita! Sekarang dia sudah tumbuh menjadi gadis dewasa. Mengapa kamu masih belum kembali juga?" ucap Ibu Neira didalam hati sembari meneteskan air mata.
Bersambung...