Hold My Hands

Hold My Hands
Panggilan yang menjengkelkan!


Dret.. dret.. dret.. (suara getaran ponsel)


"Duhilah, nih pasti kerjaan si Banda. Pasti berantem lagi nih sama pacarnya!" gerutu Neira.


"Hmm.. halo! Kenapa lagi sih ban? Gua baru tidur tau!" gerutu Neira.


"Selamat malam Nei! Maaf ya aku udah ganggu kamu!" ucap pria dari balik ponsel.


"Ko lu bisa tau nomor gua sih! Kan gua belum hubungin lu!" ucap Neira dengan nada kesal.


"Ko jadi kasar gini sih Nei, yaudah maaf ya kalau aku ganggu. Aku dapet nomor kamu dari ibu kamu. Yaudah kamu istirahat lagi ya!" ucap pria tadi yang bukan lain adalah Aslan.


"Hmm." gumam Neira sembari memutuskan telponnya.


Tut..


"Astaghfirullah, kenapa aku harus ketemu orang macam itu sih! Lama-lama aku jadi takut sendiri!" ucap Neira sembari menatap langit-langit kamar.


Keesokan paginya...


"Bu, maksud ibu tuh apaansih? Kenapa ibu kasih nomor aku ke Aslan?" tanya Neira dengan nada kesal.


"Sudah-sudah masih pagi sudah marah-marah! Eh tunggu kok kamu sudah rapih sih? Inikan masih jam 5 pagi Nei," tanya Ibu Neira.


"Gapapa aku mau berangkat lebih pagi aja biar gak ketemu manusia itu! Yaudah ah Neira berangkat sekarang aja! Neira pamit ya Bu." ucap Neira sembari mencium tangan ibunya.


30 menit telah berlalu, tiba-tiba saja Aslan pun datang ke rumah Neira.


"Asalamualaikum, Neira!" ucap Aslan.


"Waalaikumsallam, eh Aslan. Neira udah berangkat dari tadi pagi," ucap Ibu Neira.


"Oh yasudah Bu tidak apa-apa, kalau gitu Aslan langsung pamit ya bu. Salam saja untuk Neira!" ucap Aslan sembari mencium tangan Ibu Neira.


Aslan pun langsung bergegas pergi meninggalkan kediaman Neira.


"Gadis ini, lihat saja! Kalau sudah masuk kedalam perangkapku, dia tidak akan mudah untuk lepas!" ucap Aslan sembari mengemudikan mobilnya.


Neira pun akhirnya sampai di perusahaan Yosie. Kantor ini terlihat sangat sepi. Bagaimana tidak? Jam masuk dikantor ini adalah jam 08.00 pagi, tetapi Neira sudah datang sejak jam 06.00 pagi.


"Mbak Neira, tumben jam segini udah dateng?" tanya salah seorang satpam.


"Iya nih pak, Neira abis kedatangan setan rajin soalnya." ucap Neira sembari tertawa kecil.


"Ah mbak Neira bisa saja," ucap satpam tadi.


"Yaudah pak, Neira mau langsung ke atas ya!" ucap Neira sembari bergegas pergi.


Dret.. dret.. dret.. (suara getaran ponsel)


"Uh sial! ternyata dia lagi! sudahlah abaikan saja!" gerutu Neira.


Dret.. dret.. dret.. (suara getaran ponsel)


"Duhilah.. maunya tuh apasih?!" ucap Neira dengan nada kesal.


Kesabaran Neira pun akhirnya habis. Dia pun langsung mematikan ponselnya dan melanjutkan untuk tidur.


Satu jam telah berlalu. Banda pun akhirnya datang dan langsung mengejutkan Neira. Sontak Neira pun langsung bangun dalam keadaan terpaksa.


"Nei lu tau ga?! gua tuh udah nungguin lu satu jam lebih! eh taunya orangnya udah molor disini. Udah malah di telpon juga ga bisa!" ucap Banda dengan nada kesal.


"Ah.. iya maaf Ban, tadi gua ketiduran. Abisnya gua kesel banget sama si Aslan dia nelponin gua mulu, jadi hapenya gua matiin deh!" jelas Neira yang masih sempoyongan.


"Yaudah lu cuci muka dulu sana! kan lu juga harus konfirmasi kehadiran ke Hongkong!" perintah Banda.


"Ah iya bener, yaudah gua cuci muka dulu ya!" ucap Neira sembari beranjak dari kursi kerjanya.


"Nei jangan lupa! lu harus ceritain soal Aslan tadi malam!" ucap Banda kemudian.


Neira hanya menjawabnya dengan anggukan.


Setelah selesai membasuh mukanya dan memperbaiki tampilannya, Neira pun langsung bergegas ke ruangan Bu Merrie guna mengonfirmasikan kehadirannya dalam rangka pemberangkatannya ke Hongkong.


Bersambung...