The Story Of The Happy Ending Of Olive Life

The Story Of The Happy Ending Of Olive Life
Chapter 7


"Aku melihat di sekitar ku, bukan hanya diri ku saja yang mempunyai masalah dalam hidup ini. Bukan hanya diri ku saja yang terluka"


"Namun masih banyak lagi orang-orang yang lebih menderita hidupnya bahkan kehidupan mereka lebih buruk dari hidup ku"


"Mereka semua seperti motivasi bagi diri ku mereka membantu ku untuk bertahan hidup dan bersabar, aku tidak bisa lebih lemah dari mereka, kenapa aku harus lemah sedangkan mereka kuat dan masalah mereka lebih buruk dari ku"


"Aku pun berusaha untuk bangkit walaupun menyakitkan, tapi jika bukan diri ku siapa lagi yang bisa membantu ku untuk maju dan bertahan dalam dunia yang kejam ini?"


"Aku hanya berdoa dan berharap apa yang ku lakukan sekarang semoga sekarang semoga berbuah yang manis, aku hanya ingin mengejar impian ku"


"Cita-cita ku sangatlah banyak namun impian ku hanya satu, yaitu hidup dengan tenang bahagia tanpa belas kasihan orang lain. Kebahagiaan yang abadi sampai mati adalah impian terbesar ku"


"Semoga kerja keras ku selama ini tidak akan menghianati hasil..."


                                        


                                     *Tertanda*


                                         "Olive anak si pemimpi


Kebahagiaan abadi


                                            


_


_


_


_


_


_


_


_


_


_


*Olive menulis isi hatinya di dalam buku diarynya, ia selalu melakukan hal itu saat ia mengharapkan sesuatu.*


*Olive termasuk anak yang tertutup ia sulit untuk menceritakan kesusahannya kepada orang lain, karena ia tidak mempercayai siapapun.*


*Ia khawatir hal yang ia ceritakan pada orang lain akan tersebar meluas, ia tidak ingin membagi hal-hal pribadinya lebih baik diam dan merenung dari pada di cemoh orang-orang.*


*


*


*


*Pulang dari universitas*


~Eh?~


~Olive... Olive... tunggu sebentar~


"Hm?"


"Kenapa berlari seperti itu?"


~Aku mengejar mu, jalan mu cepat sekali~


"...Oh"


"Hm?"


"Untuk apa mengejar ku?"


~Ini~


"Apa itu?"


~Ini tiket nonton aku membelinya, beli satu gratis satu. Aku tidak punya teman untuk pergi bersama, kalau kamu mau pergi aku akan sangat senang, tapi jika tidak mau ya sudah tidak masalah hehe~


"Sini aku lihat dulu tiketnya"


~Oh iya ini tiketnya lihatlah~


*Melihat dengan fokus*


"Ini...tiket film horor?"


~Iya aku ingin menonton film itu, aku penasaran dengan ceritanya aku lihat ratingnya cukup tinggi jadi aku beli saja~


"Bukannya kakak takut film horor? apakah kakak tidak takut jika di teror nantinya? atau kakak tidak takut dengan tangan yang tiba-tiba muncul dari bawah lantai?"


"Atau dengan penampakan yang seram secara tiba-tiba? apa kakak tidak takut hantunya akan mengikuti mu sampai rumah?"


~Cukup!~


"Ha?"


"Hahaha begitu saja kakak sudah keringat dingin dan ketakutan haha bagaimana jika itu terjadi sungguhan? apakah kakak akan kencing celana karena ketakutan haha"


~Ka..kamu ini! a..aku tidak takut kok~


"Haha yang benar? ya ampun kakak ini aku hanya menggoda mu saja jangan marah ya haha"


~Huh! kamu selalu saja begitu, aku bukannya takut hanya saja aku tidak tahan melihat hantu~


"Itu namanya takut tahu"


"Ya sudahlah aku akan ikut, weekend inikan?"


~Iya, kamu tidak ada kelas atau bekerjakan weekend ini?~


"Iya tidak ada"


~Ya kalau begitu aku akan menjemput mu nanti~


"Ya baiklah, aku pulang ya sampai jumpa"


~Iya sampai jumpa hati-hati di jalan~


"Ya kakak juga hati-hati karena aku melihat trailer film ini di yutube ceritanya lumayan menyeramkan ada begitu banyak hantu dan darah wajah para hantu sangatlah hancur sebaiknya kakak mengunci pintu malam ini atau para hantu itu akan datang menakuti orang seperti mu"


~Ka..kamu mulai menggoda ku lagi~


"Peft, hahaha aku hanya bercanda"


"Aku pergi dulu dada sampai jumpa"


~Huh! dasar, dia yang seperti ini sangat manis. Aku semakin menyukainya, aku tidak ingin pisah darinya~


~Eh apa yang ku katakan, hah ayo sekarang bekerja saja dan mengumpulkan uang yang banyak~


*


*


*


*Weekend pun tiba*


"Eh? oh iya aku hampir melupakan hari ini"


"Ia datang jam berapa ya? apa aku telepon saja?"


*Mengambil handphone dan menelpon*


"Halo?"


~Ya? kenapa kamu menelpon ku? apakah tidak sabar untuk ketemu dengan ku?~


"Apa yang kakak katakan?! aku hanya ingin menanyakan sesuatu"


~Hehe, apa yang ingin kamu tanyakan? katakanlah~


"Jam berapa kita pergi nontonnya?"


~Nanti sore jam 16.00, aku akan menjemput mu~


"Oh begitu ya, baiklah sampai ketemu nanti"


~Ya sampai ketemu nanti~


*Tuttt*


"Aku masih punya waktu yang banyak, aku juga belum makan. Aku pergi ke minimarket saja untuk membeli beberapa makanan"


*Pergi ke minimarket*


*


*


*


*


*


*


*Sampai di minimarket*


'Eh kak? kmu datang ke sini?'


"Hehe iya aku datang hanya untuk membeli beberapa makanan"


'Oh aku kira kakak datang untuk bekerja, bukannya di hari minggu kakak libur, ternyata untuk belanja'


"Iya..."


'Ya sudah kalau begitu selamat berbelanja kak' *Senyum*


*


*


*


"Hm"


"Apa lagi ya? apa aku beli dua puluh mie instan? atau lima saja?"


*Bingung*


"Ah ku rasa lima sudah cukup mie tidaklah begitu sehat lagian aku harus berhemat mulai sekarang"


"Aku beli susu juga, aku sudah lama tidak minum susu"


*Berbalik badan*


*Brakk*


"Eh maaf, maafkan saya, saya tidak melihat tadi maaf. Biar saya bantu"


'Ah tidak ini salah saya'


"Ini barang an.., eh?"


'Hah ternyata kamu hehe tidak masalah terima kasih sudah membantu'


"Ah iya tidak masalah sudah seharusnya"


'Tidak sangka bisa bertemu dengan mu di sini, kamu biasa berbelanja di sini ya?'


"Oh? Iya ya, ya saya biasa belanja di sini karen-"


*Tiba-tiba berhenti bicara*


"Tidak usah ku beritahu, jika ia tahu ia pasti akan sering datang" *Gumam dalam hati"


'Kenapa kamu berhenti bicara? apa ada masalah?'


"Tidak, tidak ada saya berbelanja di sini karena jaraknya lumayan dekat dari rumah"


'Oh begitu toh'


"...Iya"


"Kalau begitu saya deluan ya, saya sudah siap berbelanjanya"


'Oh iya iya silakan'


*


*


*


*


'Terima kasih Kak ini bill dan kembalian uangnya'


"Iya sama-sama"


*Di jalan*


"Kenapa aku bisa bertemu sama orang itu? Mungkin hanya kebetulan saja"


"Ya sudahlah tidak perlu di pikiran ayo pulang dan makan mie yang enak"


*


*


*


*Rumah...*


"Ayo mulai masak perut ku mulai berbunyi"


*Tak tak tak*


*Ctakk*


*Zresss zresss*


*Blup blup blup*


*


*


*


"Tadaa akhirnya siap juga, sepertinya rasanya lumayan enak, aku semakin tergiur untuk memakannya"


"Siapa pun yang melihatnya pasti ingin memakannya, mangkuknya penuh sekali ya ampun"


*Mangkuk mie yang di masak oleh Olive di penuhi dengan mie, sosis, telur, bakso dan sayur. Oh ya ampun itu terlihat sangat enak.*


*Nyam nyam nyam*


"Ahh ternyata benar rasanya enak kombinasi sayur, sosis, dan baksonya enak. Mari kita habiskan dengan cepat tidak perlu malu-malu di rumah sendiri"


*Olive makan dengan lahap dan tidak menyisahkan sedikit pun makanannya.*


"Hahhh puasnya, makan adalah hal yang paling menyenangkan"


"Sekarang apa? aku sudah berbelanja bahan makanan dan sudah makan, jam berapa ini?"


*Mengambil handphone*


"Sudah jam 14.00 tidak terasa, aku belajar sebentar saja untuk mengisi waktu luang yang membosankan"


*Fokus belajar*


*Tidak heran mengapa Olive sering sekali belajar saat waktu luang, karena ia sudah terbiasa rajin belajar. Karena hanya belajarlah satu-satunya cara agar ia bisa sukses.*


*Belajar sampai lupa waktu sudah kebiasaannya, karena saat ia kecil ia tidak memiliki teman yang bisa di ajak bermain.*


*Maka dari itu ia hanya menghabiskan waktu dan hari-hari untuk belajar dan belajar. Namun malangnya nasibnya nilai-nilai pelajaran yang ia dapat dari hasil kerja kerasnya sendiri masih tidak diakui oleh keluarganya.*


*Namun Olive tidak menghiraukan hal itu, ia hanya belajar dengan lebih giat lagi. Walaupun ia tahu kemampuannya itu tidak akan pernah diakui oleh keluarganya.*


*Olive hanya berpikir, yang ia lakukan sekarang adalah persiapan untuknya di masa depan bukan untuk keluarganya jadi ia selalu berpikir positif dan sabar.*


*


*


*


*Drtt drtt drtt*


"Eh?"


*Mengangkat panggilan masuk*


"Halo?"


~Kamu di mana?~


"Aku?, aku di rumah. Kenapa?"


~Ha? kenapa?. Apa kamu melupakan rencana kita hari ini?~


"Rencana hari ini?"


*Berusaha mengingat*


"Hmm apa ya?"


"Ah iya aku sudah ingat!"


"Oh ya ampun aku melupakannya, maafkan aku"


~Ya tidak masalah cepatlah aku akan menjemput mu sebentar lagi~


"Ya baiklah"


*Tutt*


"Jam berapa ini?"


"Ahh pantesan ia menelpon ku..."


"Lagi-lagi aku lupa waktu, ternyata sudah sore"


*Olive bersiap-siap untuk pergi*


*


*


*


"Sudah selesai tinggal ambil tas lalu berangkat"


*Bremen brem*


"Eh? sudah datang cepat sekali"


~Tok tok tok~


*Membuka pintu*


~Eh?~


"Ahh sudah datang saja, cepat sekali"


"Hei? ke..kenapa melihat seperti itu? aku sudah pernah bilang jangan pernah melihat ku seperti itu! ak..aku...aku kan jadi malu"


~Ah maaf, hari ini kamu cantik sekali~


*Wajah Olive memerah karena malu, ia berbicara dengan menundukkan kepalanya.*


"A..ap..apa...?" Apa yang kakak katakan?"


~Eh?~


*Tersadar kembali*


~Hehe tidak, tidak perlu di hiraukan ayo kita berangkat~


"Iya baiklah ayo"


"Ada apa dengan ku wajah ku tiba-tiba panas, dan jantung ku berdegup kencang sekali, seperti akan lepas" *Gumam dalam hati*


*Ngeng ngeng brum brum brem bremmm*


~Pegangangan yang erat~


"Baiklah"


*


*


*


*Bioskop kota B*


"Oh sudah sampai"


~Ya turunlah~


*Mereka berdua turun dari motor*


"Waw bioskopnya lumayan besar ya"


~Ya ini salah satu bioskop yang lumayan besar di sini, yang lainnya lebih besar lagi. Lain kali aku akan membawa mu~


"Hm?"


"Ya terserah kakak saja, ayo masuk aku akan beli minum dan popcorn sebelum nonton"


~Ya ayo~


*Masuk ke dalam bioskop*


*


*


*


"Eh, tidak di sangka antriannya cukup panjang"


~Iya ya, kalau seperti ini bisa tertinggal putaran pertama~


"Hm?"


*Melirik kak Ehsra*


"Kakak masuklah lebih dulu, biar aku yang belikan minumnya"


~Eh, tidak usah biar aku menunggu saja bersama mu~


"Tidak, tidak apa-apa masuklah lebih dulu. Kakak sangat menantikan film ini biar aku yang menunggu antriannya"


~Kamu yakin tidak apa-apa?~


"Ya, pergilah"


~Baiklah, terima kasih ya. Jika sudah selesai masukkan dengan cepat~


"Iya pergilah dan nikmati filmnya"


*Kak Ehsra pun masuk dan menonton film, sedangkan Olive masih menunggu antrian yang cukup panjang dan memakan waktu tiga puluh menit.*


"Hahh akhirnya selesai juga, sudah lama sekali aku mengantri. Apa putaran pertama sudah selesai?"


"Ku rasa belum jika sudah kak Ehsra pasti akan mencari ku ke luar"


"Ruang mana untuk film ini ya?. Oh itu dia"


*Mencari-cari tiket dan tidak memperhatikan jalan.*


*Brukk*


"Ha?! Ya ampun maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja maaf, maafkan aku. Aku..aku akan mengganti ruginya"


'Ah sudahlah tidak masalah aku akan membelinya sendiri' *Dingin*


"Jangan! biarkan aku menggantinya aku merasa tidak enak pada anda"


'Aishh merepotkan, sudahlah aku bisa beli sendiri maaf mu sudah saya terima tidak usah merendah lagi'


*Laki-laki itu pergi meninggalkan Olive begitu saja.*


"Cihh, manusia macam apa ia itu?! aku sudah berbaik hati, tapi ia sombong sekali"


"Ya aku tahu dari penampilannya itu, ia pasti orang kaya. Tapi tidak seharusnya ia bersikap seperti itu pada ku walaupun itu salah ku tapi seharusnya ia merendah sedikit"


"Huft"


"Ya sudahlah aku tidak perduli lagi, aku malah jadi emosi"


*


*


*


*Duduk*


~Kenapa lama? apakah sangat panjang?~


"Ya begitulah"


~Ada apa dengannya? kenapa sikapnya berubah? wajahnya juga merah seperti habis marah. Apa ia marah karena aku masuk lebih dulu? tapi ia tadi mengatakan tidak masalah. Apa ada masalah lainnya yang terjadi padanya baru saja?~ *Gumam dalam hati*


*Melirik Olive*


~Sebaiknya tidak ku tanyakan sekarang~ *Gumam*


~Huffttt~


*Menghela nafas yang panjang*


"Hm?"


*Melirik kak Ehsra*


"Apa kak Ehsra tadi kecewa karena aku sedikit emosi? apa yang ku lakukan kenapa aku bodoh melampiaskan kepada orang lain" *Gumam dalam hati*


"Huft"


*Kembali melihat layar film*


"Apakah filmnya bagus?"


~Eh?~


~Ya filmnya cukup bagus, dan lebih bagusnya adegan menyeramkan belumlah muncul~ *Bangga*


"Peftt, hehe"


~Kenapa tertawa?~


"Hehe, tidak ada fokuslah menonton"


~Iya baiklah~


~Aku tidak masalah kamu ingin menertawakan ku seperti apa, asalkan kamu bahagia~ *Gumam dalam hati dan melihat Olive sambil tersenyum*


*Kembali fokus menonton*


*Tidak terasa sudah setengah film dan sudah seharusnya di pertengahan film terjadi adegan menyeramkan.*


*Dan kak Ehsra mulai berdebar, namun ia tetap berusaha tetap tenang. Namun hal itu tidak bisa ia tutupi dari Olive yang pengelihatannya begitu teliti.*


"Hm?"


*Melirik*


"Apakah kakak mulai takut? Ia memegang tangan kursi cukup kuat, apakah ia sangat ketakutan? kenapa ia suka film horor tapi ia takut? *Gumam dalam hati*


*Suara film yang bergema kuat memenuhi ruang nonton. Kak Ehsra sudah sangat tegang seperti ingin menantikan adegan tersebut dan seperti tidak ingin melihatnya.*


*Deng deng deng*


*Argghhh Aaaaa argghhh*


*Grep*


"Ha?!"


"Tenanglah kak, bukalah mata mu adegannya sudah selesai"


~Benarkah?~


"Ya, aku tidak mungkin membohongi mu"


*Kak Ehsra membuka matanya perlahan, namun wajah Olive sudah memerah karena malu tangannya di peluk oleh kak Ehsra.*


~Ha? benarkah?~


*Membuka mata*


~Huftt~


~Syukurlah sudah selesai, eh?~


*Melihat tangannya yang memeluk tangan Olive, dan melihat wajah Olive yang telah membeku karena malu.*


_____________________________________________