
*Tidak lama kemudian Olive pun tertidur sambil memeluk buku novelnya ia tertidur sampai pagi.*
*
*
*
*
*
*
*
*
*Pagi hari...*
"Hoam hoam aku tidur nyenyak sekali karena aku tidur dalam keadaan kenyang"
"Apakah aku sudah bisa masuk sekolah lagi? apakah tidak masalah ya?"
"Kalau begitu aku mau lihat lukanya dulu jika sudah membaik lebih baik aku masuk sekolah saja, dan mengganti perbannya"
*Beranjak dari tempat tidur menuju dapur.*
*
*
*
"Sepertinya ini sudah kering dan juga dari semalam aku berjalan baik-baik saja tidak merasa sakit, ya tapi apa ini masih perlu di perban?"
*Fokus melihat lukanya dengan wajah yang merasa ngeri.*
"Ahh ku..ku rasa ini masih perlu di perban wujud dari luka ku ini lumayan menyeramkan nanti siswa yang lain melihatnya jadi ketakutan hehe" *Tertawa terbata-bata dan juga suram.*
*Olive membersihkan luka kakinya dengan air hangat lalu ia membuka pil bubuk yang gunanya mengeringkan luka.*
*Setelah itu ia kembali memperban lukanya dengan kain yang bersih dan baru.*
"Ini semua karena bajingan berengsek itu, jika ia tidak ada maka kaki ku tidak akan jelek seperti ini dan juga aku tidak bolos satu hari sekolah"
"Semoga ia tidak di bebaskan dari penjara untuk selamanya"
"Eh sepertinya aku tidak memerlukan tongkat itu lagi aku jalan pelan-pelan saja, jika aku memakai tongkat ke universitas itu akan terlalu mencolok dan orang-orang akan mengira aku terkena musibah yang besar"
"Jadi aku tidak memerlukan tongkat lagi, ya baiklah ayo bersiap-siap untuk sekolah semangat Olive kamu pasti bisa"
*Mengepal tangannya dan memberi semangat untuk dirinya sendiri, itulah Olive tidak memerlukan dukungan orang lain karena ia selalu mendukung dirinya sendiri untuk maju dan semangat terus.*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*Keluar rumah dan mengunci pintu, berjalan pelan-pelan dengan sedikit pincang. Tiba-tiba Olive di sapa oleh tetangganya.*
'Nak!'
"Ahh ya siapa?...oh tante siapa?"
'Tante tetangga sebelah mu, tadi aku keluar dan kamu juga keluar tapi aku melihat kaki mu di perban dan jalan mu sedikit pincang'
'Kamu baru beberapa hari tinggal di sini kenapa kamu sekarang terlihat terluka? apakah ada yang menyakiti mu?'
"Ahh tidak tante aku baik-baik saja hanya cedera sedikit waktu aku bekerja, itu bukan masalah besar haha" *Senyum dan ketawa kecil.*
'Jadi kamu terluka di tempat kerja toh, ya sudah cepat sembuh ya jika kami perlu sesuatu datanglah ke rumah ku aku senang jika kamu datang'
"Ahh iya tante aku sudah baik kok tante baik sekali tapi tante tidak perlu khawatir, jika aku ada waktu luang aku akan mengunjungi mu" *Senyum yang tidak ikhlas.*
'Iya kamu datanglah aku mempunyai anak laki-laki kamu bisa berteman baik dengannya ia bekerja di perusahaan besar'
"Oh begitukah? ya baiklah tante aku akan datang jika ada waktu luang, tapi tante aku sedang buru-buru pergi ke universitas maafkan aku tante kita tidak bisa bicara lebih lama lagi"
"Iya tante, tante baik sekali lain kali aku akan datang mengunjungi mu, aku pergi dulu ya tante"
*Senyum yang penuh kepalsuan di wajah Olive.*
'Iya baliklah hati-hati ya'
'Anak yang baik dan sangat cantik ia cocok untuk menjadi menantu ku' *Gumamnya.*
*
*
*
*
"Aduhh tante ini memang baik dan rama tapi aku tau apa niat terselubung yang ia sembunyikan, dan aku tidak akan terjerat dalam perkataannya"
*Tante itu menyukai dan menginginkan Olive menjadi menantunya, tapi siapa sangka Olive sudah menyadari niatnya itu dan kita hanya bisa menunggu hal mengejutkan apa yang akan di lakukan Olive untuk menjauhkan diri dari tante itu.*
*
*
*
*
*
*
*
*
"hahh akhirnya sampai juga di universitas, aku lelah berjalan dengan pincang begini semoga kaki ku cepat sembuh"
*Berjalan menuju lift.*
*Tap.*
*Berbalik badan.*
"Ahh?!"
~Kenapa kamu masuk hari ini? bukannya kamu masih sakit?~
"Ahh aku pikir siapa rupanya kakak, ah iya aku masuk hari ini aku sudah tidak apa-apa"
~Apanya yang tidak apa-apa?! kaki mu masih di perban dan di mana tongkat mu?! kenapa kamu tidak memakainya?! jika kamu jatuh bagaimana?!~
"Huh! tidak usah berlebihan aku baik-baik saja, apakah kakak tidak lihat aku baik-baik saja sekarang?"
"Kenapa kakak memarahi ku seperti ibu ku saja? huh menyebalkan!"
~Aku mengkhawatirkan mu dan kamu malah berbicara seperti itu, tidak tahu terima kasih~
"Hah? aku kan tidak menyuruh mu untuk mengkhawatirkan ku"
"Haiss ya sudahlah terima kasih telah mengkhawatirkan ku, aku pergi dulu ya bye"
*Menahan tas bagian belakang Olive.*
"Eh apa yang kakak lakukan? aku ingin naik kenapa kakak menahan ku? cepat lepaskan"
~Siapa yang memberikan mu izin untuk pergi?~
"Eh, kenapa auranya berubah? tiba-tiba aku merasakan aura yang dingin dan pemaksaan" *Gumam dalam hati.*
"Kak lepaskan lah aku jangan seperti anak kecil banyak orang yang melihat"
*Melepaskan tasnya.*
~Sudah aku sudah melepaskan mu tuh, kenapa kamu tidak istirahat saja di rumah? aku sudah meminta izin cuti selama satu minggu~
"Ha? ap..apa ya..yang kak..kakak katakan?!, sat..satu minggu?!"
"Aku baru saja masuk sekolah ini hanya luka ringan kenapa kamu membesar-besarkannya?! aku masih bisa mentolerin jika kamu mengatakan 3 hari, tapi kamu bilang satu minggu?! apa kamu gila?!"
*Tiba-tiba teriak dengan kencang sampai menarik perhatian orang-orang.*
~Tenanglah ini hanya cuti kenapa kamu begitu
marah?~
_____________________________________________
Ada apa dengan Olive? kenapa ia sangat marah? tunggu cerita selanjutnya, jangan ke mana-mana tetap di sini bersama saya. Jangan lupa Vote Save and Comen, oteh bye bye sayonara 👋