The Story Of The Happy Ending Of Olive Life

The Story Of The Happy Ending Of Olive Life
Episode 6


*Mereka berdua berjabat tangan dan saling meminta maaf walaupun Olive tahu permintaan maaf tante itu tidaklah tulus namun hanya ini cara terbaik untuk menyelesaikan masalah.*


"Kalau begitu tante pulang dan istirahatlah ini sudah malam"


'Iya kamu juga istirahatlah, jangan lupa untuk mampir ke rumah dan bermain dengan anak ku'


"Iya tante terima kasih"


*Si tante pun pulang.*


~Huh, orang yang aneh~


*Tiba-tiba kak Ehsra dan Olive saling bertatapan selama beberapa menit, dan tiba-tiba wajah keduanya memerah.*


"Eh!, ka..kakak mau apa di sini? kenapa belum pulang?" *Memalingkan wajah.*


~I..itu aku hanya ingin memberikan makanan ini untuk mu~ *Memberikannya dan menutup wajahnya.*


"Oh apa itu?"


~Bukan apa-apa ini hanya burger dan choco drink, ini hanya tanda permintaan maaf ku tentang cuti itu~


"Tidak masalah aku sudah melupakannya tidak perlu repot-repot membawakan makanan setiap malam"


~Tidak kok tidak repot, aku senang membawakan mu makanan, tapi jika kamu tidak mau burgernya ya sudah aku bawa pulang saja~


"Ahh tidak-tidak aku mau, kakak sudah membawakannya dengan susah payah tidak mungkin aku tolak"


~Peft~


~Imutnya~


"Apa? kakak mengatakan apa tadi?"


~Ah tidak bukan apa-apa kok~ *Senyum dengan manis.*


"Apa kakak buru-buru?"


~Tidak tu~


"Bagaimana kalau masuk dan minum teh dulu?"


~Oh ya baiklah dengan senang hati~


*Mereka pun masuk ke rumah.*


'Apa-apaan mereka itu kenapa Olive mengizinkan si bajingan itu masuk ke rumahnya, ia itu calon menantu ku'


'Tapi apa yang bisa ku lakukan?!'


*Dari kejauhan si tante melihat mereka berdua dan bertambah marah, ia menganggap sebelah pihak kalau Olive adalah calon menantunya.*


*Sungguh orang yang tidak tau diri si tante ini.*


*


*


*


"Duduklah aku ke dapur dulu dan membuat teh"


~...~ *Duduk*


*


*


*


*


*


*


"Ini tehnya, selamat menikmati"


~Terima kasih ya~


"Apa kakak sudah makan?"


~Sudah, tadi aku makan di kantin sebelum pulang, kamu makanlah~


"Oh sudah toh baguslah"


*Membuka bungkusan burger dan choco drink.*


*Tringgg tringgg*


"Eh? siapa malam-malam menelpon?"


"Eh ini orang rumah, aku ke kamar mengangkat telepon sebentar tidak masalahkan?"


~Iya tidak masalah angkatlah~


*Pergi menuju kamar*


*


*


*


*


*


"Halo?"


#Halo, apa kamu baik-baik saja di sana?#


"Iya aku baik-baik saja bu, bagaimana dengan kabar ibu dan yang lain?"


#Kami baik-baik saja di sini#


"Syukurlah"


#Olive...sebenarnya ibu ingin mengatakan sesuatu pada mu#


"Katakanlah bu tidak usah sungkan"


#Jadi begini, kakak mu ingin menikah tapi uang yang di perlukan masih kurang, apakah kamu bisa membantu kami menambah uang untuk pernikahan kakak mu?#


"...."


"Sudah kuduga satu-satunya alasan mereka menelpon ku hanya untuk memperoleh sesuatu, perhatian mereka kepada ku itu hanya sebuah topeng untuk menutupi kebusukan mereka" *Gumam dalam hati*


#Olive apakah kamu mendengarkan ibu?#


"Ya aku mendengarkan mu, tapi aku..."


#Olive jangan katakan jika kamu tidak bisa membantu kami, ini pertama kalinya aku meminta sesuatu dari mu#


#Dari bayi sampai tamat sekolah aku tidak pernah meminta apa pun dari mu, apakah kamu tidak ingin membantu ku dan kakak mu?!#


#Kenapa kamu selalu bersikap egois Olive? apakah perlakuan ku selama ini tidak cukup untuk mu? sampai keluarga kita di cemoh hanya karena diri mu yang bodoh itu#


#Apakah kamu tidak bisa membalas budi kepada kami? walau hanya sekali? aku tidak meminta banyak dari mu tapi kamu tidak pernah menurut pada ku#


#Apakah saat ini bukannya waktu yang tepat untuk membalas budi kepada kami? selama beberapa tahun kami menderita hanya karena diri mu, kami dihina orang-orang sekitar hanya karena diri mu tidak sama dengan kakak mu#


#Memang wajah mu lebih cantik dari kakak mu tapi itu tidak cukup untuk mendapatkan pujian kalau diri mu itu pintar#


#Apakah kamu tidak bisa membantu kami sekali ini saja?#


*Tes tes*


*Air mata Olive jatuh, Olive sangat lemah jika mendengar ibunya menghina ia, ia tidak sanggung menahannya.*


"Bu..."


"Berapa yang kalian butuhkan?"


#Hahh kamu ini di marahi dulu baru sadar, tidak banyak kami hanya perlu 6 juta#


#Uangnya harus ada sebulan kemudian kamu dengar?#


"Yah baiklah aku akan berusaha mendapatkannya"


*Tuttt*


*Terjatuh dan terduduk di tempat tidurnya.*


*Hiks hiks*


"..."


*Snif snif*


"Hahh ya tuhan, aku membenci ibu ku sendiri maafkanlah diri ku ini"


*Snif snif*


*Menghapus air matanya dan keluar menuju kamar mandi.*


*Olive menyuci wajahnya agar wajahnya tidak terlihat habis menangis di depan kak Ehsra.*


*


*


*


~Kenapa kamu menyuci wajah mu?~


"Tidak bukan apa-apa aku hanya merasa wajah ku kotor, jadi aku menyucinya"


~Oh begitu ya~


~Aku tidak yakin itu hanya karena wajahnya kotor, matanya merah seperti baru menangis. Apakah orang rumahnya memarahinya? aku hanya bisa diam itu privasinya sebaiknya aku tidak ikut campur~ *Gumam dalam hati


~Kalau begitu makanlah kamu pasti lapar~


"Iya aku makan ya, terima kasih"


~Tidak perlu selalu berterima kasih, aku selalu senang melakukannya~


"..."


*Memegang burger dan memakannya.*


*Nyam nyam*


*Minum choco drink.*


*Srupp srupp*


*Nyam nyam*


"Oh ya ampun enak sekali, kenapa ia selalu tahu apa yang ku suka, mood ku jadi lebih membaik karena bisa makan makanan kesukaan ku"


*Olive makan dengan bahagia walaupun tadi ia bersedih namun karena ia makan makanan kesukaan keadaannya jauh lebih baik.*


*Olive tersenyum bahagia dan menikmati burgernya, kak Ehsra merasa senang melihat wajah Olive yang sudah membaik lagi.*


~Hm aku sudah tahu kalau makanan kesukaannya belumlah berubah, mulai aku kenal dengannya ia selalu suka makan burger dan minum choco drink~ *Gumam dalam hati*


~Dan aku tidak salah makanan kesukaan belum berubah, dan sekarang wajahnya sangat bahagia aku akan selalu berusaha membuat mu bahagia walaupun dengan hal yang sederhana~ *Gumam dalam hati dan merasa bangga*


*


*


*


*


*


*


*


*


'Huhuhu kenapa kamu jadi begini, apa yang kamu lakukan kenapa kamu pulang dalam keadaan begini huhuhu'


"Eh apa yang terjadi? siapa yang menangis?"


~Aku tidak tahu ayo kita lihat keluar~


*


*


*


"Eh apa yang terjadi? siapa yang menangis?"


~Aku tidak tahu, ayo kita lihat keluar~


*Mereka berdua pun keluar.*


*


*


*


*


*


*


~Eh?~


"Ada apa? kenapa berhenti?"


~Bukannya itu tante tadi? siapa laki-laki yang bersamanya itu?~


~Aku juga tidak tahu, ayo kita pergi ke sana~


"Iya baiklah"


*


*


*


"Tante apa yang terjadi? kenapa tante menangis?"


'Huhuhu kalian bantulah aku mengangkat suami ku huhuhu'


"Eh, suami?!"


~Kenapa suami tante pingsan di jalanan?~


'Kalian ini! kalian datang ke sini untuk mewawancarai aku atau menolong ku?!'


"I..iya, ayo kita tolong dulu tante ini"


~Ukh ibu tua ini bukannya berkata lembut kepada orang yang mau menolongnya tapi malah memarahi kami sungguh orang yang tidak tau Terima kasih!~ *Gumamnya*


~Huh! baiklah ayo kita angkat suami tante ini ke dalam rumahnya~


*Memegang badan suami si tante dan mengangkatnya.*


*


*


*


*


~Hosh hosh hosh~


"Hosh hosh hosh"


~Apa yang di makan orang ini?! kenapa ia berat sekali?!~


"Iya ya om ini berat sekali" *Nafas yang terngengah-ngengah*


'Kalian tunggulah sebentar di sini aku mau mengambil air hangat untuk membersihkan wajah suami ku'


"Oh, iya baiklah tante"


*Si tante pun pergi.*


~Kenapa kita harus menunggu di sini?~


"Aku tidak tahu, kita tunggu saja sebentar"


~Hahh ya sudahlah~


*


*


*


*Si tante pun datang dengan membawa air hangat dan langsung membersihkan wajah suaminya.*


"Tante sebenarnya apa yang terjadi?"


'...'


~Kemungkinan suami tante begini itu karena... ia pulang dalam keadaan mabuk?~


'Eh?!'


"Apa yang kakak katakan? menuduh tanpa bukti tidaklah baik" *Bisik-bisik*


~Aku hanya menduganya jika itu tidak benar pasti si tante tidak akan marah, tenanglah~ *Bisik-bisik*


'Hiks snif snif'


'Jadi tadi sebelum aku masuk ke rumah tadi, aku melihat suami ku berjalan dengan tidak stabil dan dia bernyanyi-nyanyi dengan aneh dengan memegang botol minuman alkohol'


"Yang kakak katakan tadi benar" *Bisik*


~Ya tentu saja dugaan ku tidak pernah salah~ *Bisik*


'Aku berterima kasih kepada kalian berdua, jika tidak ada kalian entah bagaimana cara ku membawanya ke dalam'


'Terima kasih banyak atas bantuannya'


"Hehe tidak masalah tante sudah jadi kewajiban kita untuk saling menolong"


~Ya itu tidaklah masalah, ayo sekarang kita pulang tante ini pasti mau istirahat~


"Ah iya ayo, tante kita pamit. Jika ada sesuatu yang terjadi panggil lah kami tidak perlu sungkan"


'Iya baiklah terima kasih'


*Mereka berdua pun pulang.*


*


*


*


*


*


~Hahh tante ini keluarganya ada-ada saja, ia memarahi ku tadi tapi siapa sangka sekarang aku yang menolongnya~


"Ya mau bagaimana lagi"


~Eh sudah larut saja ya~


"Iya ya, tidak terasa waktu berjalan dengan cepat"


~Hehe... kalau begitu aku pulang ya sudah larut kamu pasti ingin istirahat~


"...Iya"


~Aku pamit ya, hati-hati di rumah. Sampai jumpa~


"Iya kakak juga hati-hati"


"Sampai jumpa, bye"


"Hahh ia sudah pergi, lelah sekali aku ingin langsung tidur"


*Olive masuk ke dalam rumah membersihkan alat-alat makan yang ia gunakan tadi, lalu bersih-bersih diri dan langsung tidur.*


*


*


*


*


*


*


*


*


*Keesokan harinya*


*Olive selalu bangun cepat karena ia sudah terbiasa sewaktu tinggal bersama keluarganya, Olive melakukan aktivasinya sehari-hari seperti biasanya.*


*Sampai jam 07.00 ia pun berangkat pergi ke universitas, dan di tengah jalan ia bertemu dengan sesorang.*


'Permisi?'


"Ha?"


*Berbalik badan*


"Maaf anda siapa? apakah ada masalah?"


'Ah saya tetangga anda, saya tinggal di sebelah sana bersama ayah dan ibu saya'


"Oh, kamu ini anak tante itu toh"


'Hehe iya, ibu ku sudah memberitahu tentang diri mu. Terima kasih sudah membantu ibu ku semalam'


"Oh itu tidak masalah sudah seharusnya tetangga saling membantu, lagi pula aku tidak membantu apa pun"


'Ah iya tapi saya ingin memberi ini sebagai ucapan terima kasih, mohon di terima saya tulus memberikannya sebagai ucapan terima kasih'


"Seharusnya tidak usah repot-repot, ya sudahlah aku akan menghargai pemberian anda terima kasih kembali untuk hadiahnya"


'Hehe... itu bukanlah apa-apa'


"Ya kalau begitu saya pergi dulu ya, saya mau ke universitas. Sekali lagi Terima kasih atas hadiahnya"


'Iya silakan, hati-hati di jalan. Lain kali kita mengobrol lebih lama lagi ya'


"Iya kita lihat nanti, saya pergi dulu"


'...Iya baiklah'


'Heh! wanita yang menarik tidak salah pilih, mata ibu memang hebat' *Gumamnya dengan senyum yang aneh*


*


*


*


"Hm..."


"Aku malas pergi ke kantin, padahal aku haus tapi ntah kenapa aku malas untuk keluar dari kelas. Aku masih ada kelas nanti, aku tidur sebentar saja tidak masalah bukan?"


*


*


*


*Tuk tuk tuk*


"Hm?"


~Ada apa dengan mu?~


"Ha?"


"Kenapa kakak ke sini?"


~Kenapa? memangnya tidak boleh?~


"Hais, bukan begitu maksud ku"


~Hehe~


~Ini untuk mu~


"Hm?"


"Kenapa repot-repot bawakan ini?"


~Aku hanya ingin memberikannya kepada mu, kamu tidak turun aku khawatir sesuatu terjadi pada mu. Apakah kamu sakit? kenapa tidak ke kantin?~


"Srup srup"


"Ah itu, tidak aku hanya malas saja ke kantin. Terima kasih, milkshakenya lumayan juga"


*Olive menikmati milkshakenya dengan tenang dan kak Ehsra tampak senang melihat Olive.*


"Eh?"


"Ke..kenapa kakak melihat ku terus?" *Wajah memerah*


~Ah maaf jika aku membuat mu terganggu, akh hanya senang melihat wajah mu yang seperti itu hehe~


"Ha, ti..tidak kok tidak, tidak terganggu sama sekali. Hanya saja aku merasa malu"


~Hehe...imutnya~ *Senyum yang manis*


"Ha? apa yang kakak katakan tadi?"


~Ah tidak bukan apa-apa hehe. Nikmatilah milkshakenya itu gratis, aku pergi dulu ya aku hanya permisi sebentar tadi, sampai jumpa bye~


"Iya terima kasih ya kak"


"Aku ingin waktu berhenti sekarang ini, aku selalu ingin waktu berhenti saat aku merasa tenang dan bahagia"


"Jika di katakan aku egois, ya! aku menerimanya aku memanglah egois karena menginginkan hal yang besar untuk diri ku sendiri"


"Apakah itu salah? dari kecil aku tidak pernah merasa bahagia semua yang ku lakukan dengan kerja keras itu tampak tidak berarti di mata keluarga ku"


"Sekarang ini aku sangatlah egois, aku ingin keluarga ku sengsara dan menderita. Dan aku hidup bahagia tanpa mereka"


"Kenapa tidak? apakah aku tidak pantas akan hal itu? bahkan ada kalau aku ingin menyerah saja pada hidup ini dan mengakhiri semuanya"


"Aku merasa hanya diri ku lah yang paling sengsara dan tersiksa di dunia ini, aku sudah lama ingin mengakhiri semuanya"


"Aku ingin bunuh diri dengan minum racun, karena minum racun tidaklah begitu menyakitkan"


"Namun, aku tetap saja tidak bisa melawan rasa takut ku. Aku masih saja takut dengan kematian, mungkin karena aku memiliki impian yang begitu besar"


"Pikiran ku sudah menyerah sejak dulu, namun hati ku bersikeras mendorong ku menjadi kuat dan tabah menjalani hidup yang menyedihkan ini"


"Pikiran ku selalu memikirkan bahwa hanya aku orang yang paling tidak beruntung dan menyedihkan, namun hati mu membimbing ku melihat cahaya di masa depan, aku melihat di sekitar ku"


_____________________________________________