The Story Of The Happy Ending Of Olive Life

The Story Of The Happy Ending Of Olive Life
Episode 5


*Ia selalu memimpikan keluarga yang harmonis saudara-saudara yang menyanyanginya dan menyeganinya.*


*Ia juga memimpikan mempunyai uang yang banyak sampai ia bisa mendirikan panti asuhan yang elit.*


*Bukan hanya itu ia juga memimpikan bisa mendirikan penangkaran kucing jalanan jika ia mempunyai uang yang banyak.*


*Ia sangat menyukai kucing dari kecil ia selalu merasa kasihan pada kucing-kucing jalanan yang tidak memiliki rumah.*


*Tapi sekarang ia tidak berdaya karena ia tidak memiliki uang.*


*Maka dari itu sekarang ia berusaha keras untuk belajar dan mendapatkan pekerjaan yang gajinya besar.*


*Karena jika ia mendapatkan gaji yang lumayan ia bisa menabungnya sampai ia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.*


*Namun di novel selalu ada tokoh pria utama untuk menjadi kekasih tokoh utama wanita dan itu selalu di inginkan semua orang.*


*Memiliki kekasih yang ganteng dan kaya itulah hal yang selalu di inginkan semua wanita, namun Olive berbeda.*


*Olive tidak menginginkan hal semacam itu ia menginginkan dirinya lah yang kaya dan cantik dan tentu saja didapatkan dengan usaha dirinya sendiri.*


*Olive tidak pernah berpikir untuk menikah nantinya, ia tidak menyukai pernikahan karena ia takut gagal dalam pernikahan dan juga ia tidak ingin di kekang oleh suatu hal.*


*Lagi pula Olive memiliki suatu penyakit yang membuatnya bertekad untuk tidak menikah karena ia tidak ingin membuat pasangannya merasa sedih karena penyakitnya.*


*Ia lebih memilih hidup sendiri dalam keadaan apa pun dan tekadnya itu sudahlah bulat.*


*Tidak lama kemudian Olive pun tertidur sambil memeluk buku novelnya ia tertidur sampai pagi.*


*


*


*


*


*


*


*


*


*Pagi hari...*


"Hoam hoam aku tidur nyenyak sekali karena aku tidur dalam keadaan kenyang"


"Apakah aku sudah bisa masuk sekolah lagi? apakah tidak masalah ya?"


"Kalau begitu aku mau lihat lukanya dulu jika sudah membaik lebih baik aku masuk sekolah saja, dan mengganti perbannya"


*Beranjak dari tempat tidur menuju dapur.*


*


*


*


"Sepertinya ini sudah kering dan juga dari semalam aku berjalan baik-baik saja tidak merasa sakit, ya tapi apa ini masih perlu di perban?"


*Fokus melihat lukanya dengan wajah yang merasa ngeri.*


"Ahh ku..ku rasa ini masih perlu di perban wujud dari luka ku ini lumayan menyeramkan nanti siswa yang lain melihatnya jadi ketakutan hehe" *Tertawa terbata-bata dan juga suram.*


*Olive membersihkan luka kakinya dengan air hangat lalu ia membuka pil bubuk yang gunanya mengeringkan luka.*


*Setelah itu ia kembali memperban lukanya dengan kain yang bersih dan baru.*


"Ini semua karena bajingan berengsek itu, jika ia tidak ada maka kaki ku tidak akan jelek seperti ini dan juga aku tidak bolos satu hari sekolah"


"Semoga ia tidak di bebaskan dari penjara untuk selamanya"


"Eh sepertinya aku tidak memerlukan tongkat itu lagi aku jalan pelan-pelan saja, jika aku memakai tongkat ke universitas itu akan terlalu mencolok dan orang-orang akan mengira aku terkena musibah yang besar"


"Jadi aku tidak memerlukan tongkat lagi, ya baiklah ayo bersiap-siap untuk sekolah semangat Olive kamu pasti bisa"


*Mengepal tangannya dan memberi semangat untuk dirinya sendiri, itulah Olive tidak memerlukan dukungan orang lain karena ia selalu mendukung dirinya sendiri untuk maju dan semangat terus.*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*Keluar rumah dan mengunci pintu, berjalan pelan-pelan dengan sedikit pincang. Tiba-tiba Olive di sapa oleh tetangganya.*


'Nak!'


"Ahh ya siapa?...oh tante siapa?"


'Tante tetangga sebelah mu, tadi aku keluar dan kamu juga keluar tapi aku melihat kaki mu di perban dan jalan mu sedikit pincang'


'Kamu baru beberapa hari tinggal di sini kenapa kamu sekarang terlihat terluka? apakah ada yang menyakiti mu?'


"Ahh tidak tante aku baik-baik saja hanya cedera sedikit waktu aku bekerja, itu bukan masalah besar haha" *Senyum dan ketawa kecil.*


'Jadi kamu terluka di tempat kerja toh, ya sudah cepat sembuh ya jika kami perlu sesuatu datanglah ke rumah ku aku senang jika kamu datang'


"Ahh iya tante aku sudah baik kok tante baik sekali tapi tante tidak perlu khawatir, jika aku ada waktu luang aku akan mengunjungi mu" *Senyum yang tidak ikhlas.*


'Iya kamu datanglah aku mempunyai anak laki-laki kamu bisa berteman baik dengannya ia bekerja di perusahaan besar'


"Oh begitukah? ya baiklah tante aku akan datang jika ada waktu luang, tapi tante aku sedang buru-buru pergi ke universitas maafkan aku tante kita tidak bisa bicara lebih lama lagi"


'Iya tidak apa-apa yang penting kamu datanglah ke rumah ku jika membutuhkan sesuatu tidak usah sungkan'


"Iya tante, tante baik sekali lain kali aku akan datang mengunjungi mu, aku pergi dulu ya tante"


*Senyum yang penuh kepalsuan di wajah Olive.*


'Iya baliklah hati-hati ya'


'Anak yang baik dan sangat cantik ia cocok untuk menjadi menantu ku' *Gumamnya.*


*


*


*


*


"Aduhh tante ini memang baik dan rama tapi aku tau apa niat terselubung yang ia sembunyikan, dan aku tidak akan terjerat dalam perkataannya"


*Tante itu menyukai dan menginginkan Olive menjadi menantunya, tapi siapa sangka Olive sudah menyadari niatnya itu dan kita hanya bisa menunggu hal mengejutkan apa yang akan di lakukan Olive untuk menjauhkan diri dari tante itu.*


*


*


*


*


*


*


*


*


"hahh akhirnya sampai juga di universitas, aku lelah berjalan dengan pincang begini semoga kaki ku cepat sembuh"


*Berjalan menuju lift.*


*Tap.*


*Berbalik badan.*


"Ahh?!"


~Kenapa kamu masuk hari ini? bukannya kamu masih sakit?~


"Ahh aku pikir siapa rupanya kakak, ah iya aku masuk hari ini aku sudah tidak apa-apa"


~Apanya yang tidak apa-apa?! kaki mu masih di perban dan di mana tongkat mu?! kenapa kamu tidak memakainya?! jika kamu jatuh bagaimana?!~


"Huh! tidak usah berlebihan aku baik-baik saja, apakah kakak tidak lihat aku baik-baik saja sekarang?"


"Kenapa kakak memarahi ku seperti ibu ku saja? huh menyebalkan!"


~Aku mengkhawatirkan mu dan kamu malah berbicara seperti itu, tidak tahu terima kasih~


"Haiss ya sudahlah terima kasih telah mengkhawatirkan ku, aku pergi dulu ya bye"


*Menahan tas bagian belakang Olive.*


"Eh apa yang kakak lakukan? aku ingin naik kenapa kakak menahan ku? cepat lepaskan"


~Siapa yang memberikan mu izin untuk pergi?~


"Eh, kenapa auranya berubah? tiba-tiba aku merasakan aura yang dingin dan pemaksaan" *Gumam dalam hati.*


"Kak lepaskan lah aku jangan seperti anak kecil banyak orang yang melihat"


*Melepaskan tasnya.*


~Sudah aku sudah melepaskan mu tuh, kenapa kamu tidak istirahat saja di rumah? aku sudah meminta izin cuti selama satu minggu~


"Ha? ap..apa ya..yang kak..kakak katakan?!, sat..satu minggu?!"


"Aku baru saja masuk sekolah ini hanya luka ringan kenapa kamu membesar-besarkannya?! aku masih bisa mentolerin jika kamu mengatakan 3 hari, tapi kamu bilang satu minggu?! apa kamu gila?!"


*Tiba-tiba teriak dengan kencang sampai menarik perhatian orang-orang.*


~Tenanglah ini hanya cuti kenapa kamu begitu


marah?~


*Olive melihat kak Ehsra dengan tatapan dingin dan suram, dan ia berkata.*


"Kamu mengatakan ini hanya cuti?! bagi diri ku jika ingin sukses dan hidup bahagia di masa depan aku harus belajar dan bekerja keras tanpa kata cuti yang tidak di butuhkan"


*Olive sangat marah karena jika sudah mengambil cuti di universitas itu tidak bisa di batalkan begitu saja, Olive tidak pernah bolos sekolah jika itu hanya hal sepele.*


*Guru akan memarahinya karena menukar-nukar izin cuti yang di ambil, Olive berhenti bicara dan berpikir kembali apa yang telah ia lakukan dan apa yang harus ia lakukan sekarang.*


"Apa ini? kenapa aku begitu marah? kak Ehsra benar ini hanya hal sepele, tidak! ini bukanlah hal sepele ia telah melakukan hal yang tidak ku inginkan" *Gumam dalam hati.*


"sekarang bagaimana? apa yang harus ku lakukan? jika aku menemui guru itu mungkin akan sia-sia, ia pasti menyuruh ku untuk pulang dan beristirahat yang banyak" *Gumam dalam hati.*


"Aku tidak bisa bermalas-malasan tujuan ku datang ke kota ini adalah untuk meraih kesuksesan bukan untuk bermalas-malasan, tapi apa yang harus ku lakukan? haiss ya sudahlah aku tidak perduli aku akan tetap masuk sekolah saja" *Gumam dalam hati.*


"Ya sudahlah lupakan saja maaf aku sudah berteriak pada mu tadi"


~Eh kamu tidak marah lagi? kalau begitu..~


*Olive berjalan menuju lift dan tidak mendengarkan perkataan kak Ehsra.*


~Eh kamu mau ke mana?~


*Pats.*


*Olive menepiskan tangan kak Ehsra.*


~!~


*Kak Ehsra terkejut dengan sikap Olive yang baru saja.*


"Kamu! heh kamu pergilah selesaikan pekerjaan mu, tidak usah mengurus diri ku, aku bisa mengurus diri ku sendiri uruslah diri mu"


"Aku tidak ingin bertengkar dengan mu sebaiknya kamu pergi dan lakukan apa yang aku katakan, aku pergi dulu selamat tinggal"


*Kak Ehsra tahu ini adalah salahnya dan ia tidak mengatakan apa pun dan hanya melihat Olive pergi menaiki lift.*


~Hahhh~


Sepulang dari universitas Olive langsung pulang tanpa pergi ke kantin ia melihat kantin lumayan ramai pelanggan jadi itu kesempatan bagus untuk ia pulang tanpa bertemu kak Ehsra.*


*Olive langsung pulang setiba di rumah Olive beristirahat sejenak lalu bersiap-siap untuk pergi kerja ke minimarket.*


*Manajer minimarket merasa kasihan kepada Olive ia menawarkan cuti dan memberikan kompensasi pekerja.*


*Namun Olive tidak mau makan gaji buta, ia tidak mau menjadi spesial seorang diri. Ia tidak ingin karyawan lainnya jadi merasa iri nantinya hanya karena hal sepele.*


*Manajer itu menghargai keputusan Olive dan tidak memaksakannya, namun ia mengatakan jika Olive membutuhkan sesuatu katakan saja itu tidaklah masalah, dan Olive pun menyetujuinya.*


*Sesungguhnya jika kita selalu bersikap baik kepada orang lain maka orang itu juga akan membalasnya dengan kebaikan yang lebih lagi.*


*


*


*


*


*


*


*


*


*Tok tok tok...*


*Tok tok tok...*


'Hei siapa kamu kenapa kamu di situ?!'


*Berbalik badan.*


~Oh selamat malam saya temannya yang tinggal di rumah ini, maaf jika ketukan pintu saya mengganggu anda maafkan saya~


'Jadi kamu ini temannya anak yang tinggal di rumah ini toh'


~Iya saya temannya, salam kenal tante nama saya Ehsra~


*Mengulurkan tangan untuk bersalaman.*


'Heh! aku tidak butuh nama dan salam perkenalan mu! pergilah dari sini ia pasti sudah tidur jangan menggangu orang yang sedang istirahat'


~Eh istirahat tapi..~


'Sudahlah kenapa kamu bersikeras menggangu orang, sekarang pulanglah'


*Kak Ehsra tidak bergerak sama sekali dan hanya menatap kosong tante itu.*


'Apakah kamu tidak mengerti bahasa! aku bilang cepat pergi sekarang juga, jika tidak aku akan meneriakkan mu maling?!'


~Haiss tante ini kenapa sih? aku hanya mau mengunjungi teman ku kenapa tante yang marah? memangnya tante siapa sampai mau melarang ku bertemu dengan teman ku?~


'Kamu ini anak yang kurang ajar ya kamu melawan perkataan orang tua, kamu dan ia tidak bisa bertemu malam-malam'


'Itu hanya akan membuat kalian buruk di mata masyarakat!'


*Dengan santai dan tidak perduli kak Ehsra menjawab.* ~Oh kalau begitu...aku..tidak perduli~


*Si tante semakin marah dan ingin memberi pelajaran untuk kak Ehsra.*


'Apa yang kau katakan?! kenapa kau ini tidak memiliki sopan santun kepada orang yang lebih tua dari mu?!'


'Apakah orang tua mu tidak mengajari mu dengan baik?! kalau begitu biar aku yang memberi mu pelajaran yang tidak bisa kau lupakan seumur hidup mu!'


*Kak Ehsra hanya menatap kosong tante itu ia tidak menghiraukan perkataan tante itu.*


'Kau ini benar-benar'


*Swess*


*Tangan si tante melayang ingin memukul kak Ehsra.*


*Tap*


'Eh?! siapa yang menahan ku?!'


"Apa yang tante lakukan padanya?"


'Ahh kamu rupanya lepaskan tangan ku, biar ku jelaskan apa sebenarnya yang terjadi barusan'


"Baik, sudah ku lepaskan"


'Tadi anak ini bersikeras untuk bertemu dengan mu, aku melarangnya karena ini sudah malam aku pikir kamu sudah tidur'


'Karena itu aku menyuruhnya untuk pulang tapi ia menolak, aku hanya tidak ingin kamu buruk di mata masyarakat'


'Karena kamu menerima tamu laki-laki di malam hari, aku menjelaskan itu padanya tapi ia tidak memperdulikannya dan malah bersikap kurang ajar pada ku'


"Lalu, tante ingin memukulnya? begitu?"


'Ahh aku tidak bermaksud kasar, aku hanya marah tadi jadi aku tidak memikirkan hal lain'


"Hahh ya sudahlah aku menghargai keperdulian tante kepada ku, tapi memukul seseorang tanpa alasan yang kuat itu tidaklah benar"


"Itu termasuk tindakan kriminal, jadi aku ingin masalah ini sampai di sini saja"


"Kak Ehsra minta maaflah kepada tante ini, dan tante minta maaflah kepadanya"


'Eh? kenapa aku juga harus meminta maaf?'


"Karena tante ingin memukulnya tadi"


"Lagi pula meminta maaf tidak membuat harga diri seseorang menjadi rendah, minta maaf adalah hal terbaik untuk menyelesaikan masalah"


'Ah baiklah aku meminta maaf kepada untuk pertama dan terakhir kalinya dan ini hanya karena kamu yang menyuruh ku jika tidak aku tidak ingin'


*Mereka berdua berjabat tangan dan saling meminta maaf walaupun Olive tahu permintaan maaf tante itu tidaklah tulus.*


_____________________________________________