
Keesokan harinya sekitar jam 10 pagi, Wei Hong Li dan Qi Xuan akhirnya keluar dari kamar mereka dan keduanya langsung berjalan menuju restaurant di lantai dasar untuk sarapan pagi.
"Kami disini Kakak, Kakak Ipar" panggil Wei Xiu Huan dengan bersemangat sambil melambaikan tangannya untuk menarik perhatian mereka.
Melihat hal itu, Wei Hong Li dan Qi Xuan langsung berjalan ke arah mereka berkumpul.
"Kemarilah Xuan" ucap Nyonya Tua Wei sambil menepuk ringan kursi kosong di sampingnya.
"Baik Nenek" angguk Qi Xuan sambil berjalan mendekat dan duduk dengan penuh kehati-hatian.
Melihat hal itu, Tetua Qi segera menatap ke arah Wei Hong Li dengan tajam dan penuh emosi.
"???" Wei Hong Li yang melihat hal itu bingung.
"Apa kamu baik-baik saja Xuan?" tanya Nyonya Tua Wei perhatian.
"Tentu. Apa Nenek sudah sarapan?" tanya Qi Xuan mengalihkan pembicaraan.
"Sudah" ucap Nyonya Tua Wei sambil mengangguk.
"Bagaimana dengan Kakek?" tanya Qi Xuan lagi.
"Kami semua sudah sarapan" jawab Tetua Qi tegas.
"Iya. Jika Kakak dan Kakak Ipar terlambat datang 5 menit saja mungkin kami sudah berangkat kembali" ucap Wei Xiu Huan dengan nada kekanak-kanakan.
"Kalian bisa kembali terlebih dahulu. Aku dan Xuan akan berangkat kembali setelah kami selesai sarapan" ucap Wei Hong Li dengan santai.
"Oke. Kalau begitu kami kembali dulu ya" ucap Wei Xiu Huan sambil berdiri dengan tidak sabar.
"Mm..." angguk Qi Xuan kecil sambil melambaikan tangannya.
"Mau makan apa?" tanya Wei Hong Li menarik perhatian Qi Xuan. "Aku akan mengambilkannya untukmu" lanjutnya dengan tenang.
"Apapun tidak masalah" jawab Qi Xuan sambil tersenyum.
"Oke" angguk Wei Hong Li lalu berjalan pergi.
Disisi lain, Wei Xiu Huan beserta keluarga Wei lainnya dan Tetua Qi sudah berada di dalam mobil.
"Aku sudah bilang bukan kalau rencanaku ini pasti akan berhasil" ucap Wei Xiu Huan dengan bangga.
"Xiu Huan kita memang yang terbaik" ucap Nyonya Tua Wei dengan bahagia memuji cucunya.
"Semoga tahun depan di keluarga kita sudah ada tambahan orang" ucap Nyonya Wei bersemangat.
"Mm..." angguk Tuan Wei setuju.
"Ada apa? Kenapa kamu terlihat tidak senang begitu?" tanya Tetua Wei penasaran saat melihat Tetua Qi yang duduk disampingnya terlihat kesal.
"..." semuanya terdiam dan tidak dapat berkata-kata.
Di sebuah pulau pribadi yang luasnya kurang lebih 5000km. Terdapat berbagai macam bangunan tinggi dengan fasilitas yang paling canggih dan modern. Meskipun pusat dari pulau ini bisa dibilang sebuah kota kecil modern yang memiliki segalanya tapi kelestarian hutan di sekeliling pulau ini masih terus dijaga dengan ketat untuk menyembunyikan dan merahasiakan isi dari pulau ini.
Alasannya sederhana, karena pulau ini bukan hanya tempat tinggal dari orang kaya biasa melainkan juga markas utama dari salah satu geng terkuat di dunia, Geng Diavolos.
Selain bangunan-bangunan besar dan tinggi yang berfungsi sebagai tempat tinggal semua orang, ada sebuah taman bunga yang indah, rumah kaca yang nyaman, kolam renang yang luas, taman bermain yang lengkap, arena berkuda, lapangan tembak dan lain-lain serta sebuah bangunan modern khusus sebagai tempat parkir berbagai jenis kendaraan baik darat, laut maupun udara.
Disalah satu rumah besar tersebut, ada 2 orang pria kecil berusia 4 tahun dengan wajah yang sama persis sedang duduk di atas kasur dengan sedih.
Kedua pria kecil itu memiliki wajah yang bulat dan kenyal serta kulit seputih salju. Meskipun keduanya memiliki warna rambut hitam serta bentuk mata tajam dengan hidung mancung dan bibir tipis yang sama, warna mata keduanya berbeda jauh. Pria yang lebih besar memiliki pupil mata berwarna hitam sedangkan yang kecil memiliki warna biru.
"Apa Mommy sudah tidak menginginkan kami lagi?" tanya pria kecil bermata biru tersebut dengan suara kekanak-kanakannya yang sedih.
"Bagaimana mungkin. Rara sangat mencintai kalian" bujuk wanita cantik dan anggun tersebut dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Sebelumnya Mommy tidak pernah pergi lebih dari 2 minggu tapi sekarang Mommy sudah pergi hampir 1 bulan dan tidak ada kabar tentang Mommy akan kembali" ucap pria kecil bermata hitam dengan suaranya yang penuh ketegasan dan keyakinan.
"Itu karena kita yang akan pergi ketempat Rara berada" ucap wanita tersebut mengumumkan.
"Benarkah?" tanya kedua pria kecil tersebut secara bersamaan dengan mata penuh harapan.
"Iya. Jadi berhentilah mengganggu Aunty kalian sekarang dan tidurlah lebih awal karena kita akan berangkat besok" ucap seorang pria yang baru saja datang dengan jubah mandi menyela pembicaraan ketiganya dengan nada sedikit kesal.
"Baik Uncle" jawab keduanya dengan bahagia lalu menjatuhkan tubuh mereka ke kasur untuk tidur.
Melihat hal itu, wanita tersebut segera merapikan selimut keduanya lalu berjalan ke arah saklar lampu untuk mematikan lampu dan menutup pintu kamar.
"Maaf aku terlalu lama. Jangan marah lagi oke?" ucap wanita tersebut dengan manis membujuk lalu mencium bibir pria itu untuk meredakan amarahnya.
"Oke" angguk pria tersebut patuh lalu menggendong wanita itu seperti tuan putri dan berjalan kembali ke kamar mereka.
Setelah pintu kamar tertutup, pria itu segera menaruh wanita tersebut di atas kasur dan mencium bibirnya dengan penuh gairah sambil mengulurkan tangannya untuk membuka baju tidur yang dipakai oleh wanita yang ada dibawahnya.
Wanita itu tidak menolak dan malah mengulurkan tangannya juga untuk membantu pria itu membuka jubah mandinya. Segera pakaian keduanya telah disingkirkan dan suasana didalam ruangan semakin memanas.
"Apa semua persiapan sudah selesai?" tanya wanita itu saat pria diatasnya sibuk mencium lehernya.
"Mm..." gumam pria itu dengan malas tanpa menghentikan tindakannya sama sekali.
Kedua orang ini adalah pasangan suami istri yang bernama Samuel dan Ashelyn.
Samuel adalah seorang pria tampan dengan bentuk tubuh yang bagus. Selain memiliki rambut pirang berwarna kuning keemasan, ia juga memiliki mata berwarna emerald. Sedangkan Ashelyn adalah seorang wanita cantik dengan rambut panjangnya yang berwarna lilac dan mata semerah ruby.
Meskipun tidak memiliki hubungan darah, mereka berdua adalah orang kepercayaan Farrania atau yang biasa mereka panggil Rara yang adalah nama asli dari Qi Xuan. Samuel yang dipercaya sebagai wakil pemimpin geng dan Ashelyn sebagai dokter pribadinya.
Disisi lain, kedua pria kecil yang berumur 4 tahun itu adalah putra kandung Farrania dari hasil hubungan 1 malamnya dengan seorang pria asing. Yang memiliki mata berwarna hitam bernama Rouvin yang merupakan kakak sedangkan yang memiliki mata berwarna biru bernama Rozlyn yang merupakan adik.