Secrets

Secrets
6. Terpengaruh Obat Perangsang


Melihat Qi Xuan yang sedang berdiri di atas panggung bersama Wei Xiu Huan, Tetua Qi menghela nafas panjang.


"Apa kamu khawatir cucumu akan kalah?" tanya Tetua Wei menggoda sahabat baiknya itu.


"Bukan. Aku hanya khawatir akan reputasi Xuan kedepannya" ucap Tetua Wei dengan lelah.


"Tidak apa. Bagaimanapun reputasinya, dia tetaplah Nyonya Muda keluarga Wei kami" ucap Nyonya Tua Wei dengan santai.


"Aku dan Li akan pergi menyapa beberapa kenalan dulu sebentar" ucap Tuan Wei sambil berdiri.


"Pergilah" ucap Tetua Wei dengan santai.


"Ma, ayo temani aku ke toilet sebentar" ucap Nyonya Wei sambil berdiri.


"Oke" angguk Nyonya Tua Wei setuju.


Dalam sekejap, meja yang awalnya ditempati oleh 8 orang hanya tersisa 2 orang saja.


"Sebenarnya kami sedang merencanakan sesuatu untuk Li dan Xuan" bisik Tetua Wei mengumumkan.


"Rencana apa?" tanya Tetua Qi penasaran.


"Kami ingin membuat mereka berhubungan intim" ucap Tetua Wei dengan bahagia.


"Kalian ingin memberi cucu kesayanganku obat perangsang?" tanya Tetua Qi tidak senang.


"Tidak. Kami hanya akan membuat Xuan mabuk. Sisanya akan diberikan pada Li" ucap Tetua Wei sambil menyerahkan sebuah kertas kecil yang terlipat rapi pada Tetua Qi.


Setelah hampir 1 jam bermain, akhirnya pemenang dari permainan telah ditentukan.


"Pemenangnya adalah Nyonya Muda Wei" ucap manajer mengumumkan dengan bersemangat.


"Apa-apaan ini. Kenapa Kakak Ipar hebat sekali" ucap Wei Xiu Huan memprotes seperti anak kecil.


"Kamu terlalu meremehkanku Adik Ipar" ucap Qi Xuan sambil tersenyum dengan bangga.


"Jadi, apa permintaan pertama Kakak Ipar?" tanya Wei Xiu Huan dengan santai.


"Aku ingin kamu menghabiskan semua alkohol yang kita minum saat perlombaan sendiri" jawab Qi Xuan dengan santai.


"Oke. Gampang. Selanjutnya apa?" tanya Wei Xiu Huan lagi sambil tersenyum.


"Aku ingin Adik Ipar memeluk Li dengan erat dan berteriak padanya bahwa kamu mencintainya" bisik Qi Xuan kepada Wei Xiu Huan.


"Oke. Selanjutnya?" tanya Wei Xiu Huan.


"Aku ingin Adik Ipar menjadi asisten Li selama satu hari penuh besok" ucap Qi Xuan sambil tersenyum.


Mendengar hal itu, Wei Xiu Huan langsung menjadi tidak bersemangat dan memohon pada Qi Xuan. "Kakak Iparku yang cantik dan baik hati. Bisakah permintaan ketigamu ini diganti saja? Apapun boleh selain itu" ucapnya dengan manja.


"Tidak boleh. Aku sudah memutuskannya. Kamu tidak bisa menolak" ucap Qi Xuan dengan tegas.


"Baiklah" angguk Wei Xiu Huan dengan putus asa.


Puas dengan jawaban Wei Xiu Huan. Qi Xuan lalu berbalik dan berjalan kembali ke meja makan mereka dengan suasana hati yang baik.


"Kamu menang?" tanya Wei Hong Li tidak percaya.


"Tentu saja" ucap Qi Xuan dengan bangga.


"Apa yang kamu banggakan" ucap Tetua Qi dengan nada ketus. "Apa kamu tidak memikirkan tentang reputasimu sama sekali" lanjutnya dengan kesal.


"Apa yang Kakek khawatirkan? Aku tidak akan pernah kalah" jawab Qi Xuan dengan tegas dan nada sedikit kesal.


"Sombong sekali. Sepertinya kamu sudah terlalu lama tidak diberi pelajaran ya" ucap Tetua Qi marah.


"Aku tidak akan pernah kalah" jawab Qi Xuan dengan yakin dan tatapan membara.


"Ehem... Li, bagaimana jika kamu dan Xuan pergi beristirahat terlebih dahulu?" tanya Tetua Wei dengan nada menyuruh.


"Kerja bagus Qi Tua" ucap Tetua Wei dengan bahagia.


"Ini semua demi dapat segera menemui cicitku" ucap Tetua Qi tidak merasa bersalah sama sekali.


Didalam presidential suite.


"Apa kita akan tidur di kamar yang sama malam ini?" tanya Qi Xuan dengan santai membuka botol alkohol dan menuangnya ke dalam gelas.


"Mm..." angguk Wei Hong Li sambil menuangkan dirinya segelas penuh alkohol juga dan langsung meminumnya habis karena merasa haus.


"Apa kamu tidak merasa kalau tindakan Xiu Huan yang mengajakku untuk bermain tadi sangat aneh?" tanya Qi Xuan dengan serius menatap Wei Hong Li.


"Mungkin dia menginginkan sesuatu darimu" jawab Wei Hong Li dengan acuh tak acuh sambil menurunkan suhu ruangan.


"Menginginkan apa?" tanya Qi Xuan bingung.


"..." Wei Hong Li tidak menjawab.


Melihat Wei Hong Li sedang melepaskan pakaian luarnya dengan gelisah sambil terus menurunkan suhu ruangan, Qi Xuan yang mengenakan gaun malam sedikit terbuka mulai merasa kedinginan.


Ia langsung merebut remote control yang ada di tangan Wei Hong Li sambil berkata dengan marah "Apa yang kamu lakukan".


"Apa kamu tidak merasa panas?" tanya Wei Hong Li.


"Tidak. Sepertinya kamu terlalu banyak minum alkohol" jawab Qi Xuan dengan kesal sambil menaikan kembali suhu ruangan.


Mendengar jawaban Qi Xuan, Wei Hong Li mulai bisa menerka tentang apa yang salah dengan dirinya. Ia berjalan mendekati Qi Xuan dan memeluknya.


"Apa?" tanya Qi Xuan yang tiba-tiba dipeluk dengan bingung.


"Sepertinya aku sedang dalam pengaruh obat perangsang" jawab Wei Hong Li dengan yakin saat merasakan panas di tubuhnya mulai menghilang.


Mendengar hal itu, Qi Xuan terkejut. Ia terus berdiri diam seperti patung dengan pikiran yang kacau.


'Apa yang harus aku lakukan? Menolaknya atau menerimanya? Kami memang pasangan suami istri yang sah tapi pernikahan kami hanyalah pernikahan kontrak' ucap Qi Xuan dalam hati.


Melihat Qi Xuan terus berdiri diam dengan kaku, Wei Hong Li lalu melepaskan pelukannya dan berkata "Aku akan mandi air dingin".


Setelah mendengar suara pintu kamar mandi yang tertutup dan air mengalir, Qi Xuan akhirnya bisa merilekskan tubuhnya lagi. Ia mengambil botol alkohol yang masih berisi dan mulai minum.


Setelah menunggu selama setengah jam, Qi Xuan mulai merasa tidak nyaman juga dengan tubuhnya.


'Apa ini? Kenapa aku bisa terkena pengaruh obat perangsang juga? Aku yakin kalau di dalam alkohol ini tidak ada obat apapun. Bagaimana ini bisa terjadi?' tanyanya dalam hati dengan bingung.


Qi Xuan yang sekarang mulai merasa sangat menyesal telah lupa membawa handphonenya mulai mengutuk semua orang yang telah merencanakan hal ini padanya.


Ia berjalan mendekat ke arah kamar mandi lalu bertanya dengan ragu-ragu "Bisakah aku meminjam handphonemu sebentar?".


"Passwordnya 180249" jawab Wei Hong Li singkat.


Mendengar hal itu, Qi Xuan segera mengambil handphone Wei Hong Li yang berada di meja dan membukanya. Ia mengetikkan sederet angka ke dalam handphone lalu membuat panggilan.


*Percakapaan dalam telepon menggunakan bahasa Inggris*


{Rara?} tanya wanita di dalam telepon penasaran.


"Sis Ashe, Aku sedang dalam pengaruh obat perangsang" ucap Qi Xuan dengan nada cemas.


{Apa?!} ucap Ashelyn terkejut. {Pergilah mandi air dingin} lanjutnya dengan cepat memberi saran.


"Apa tidak ada cara lain?" tanya Qi Xuan penasaran.


{Tidak ada. Selain mandi air dingin kamu hanya bisa mengatasinya dengan melakukan hubungan ***} jawab Ashelyn tidak berdaya.


"Baiklah" jawab Qi Xuan menyerah lalu mengakhiri panggilannya.