
Di salah satu ruangan VIP di Restaurant Deluxe.
"Sudah lama tidak bertemu CEO Ning. Maaf telah membuat anda menunggu lama" sapa Wei Hong Li dengan sopan.
"Duduklah. Ini bukan salahmu. Aku yang memilih untuk datang lebih awal dari yang dijadwalkan" jawab CEO Ning sambil tersenyum ramah.
"Apa ada masalah lagi di kediaman anda?" tanya Wei Hong Li dengan santai sambil membantu Qi Xuan duduk.
"Begitulah. Siapa ini?" tanya CEO Ning penasaran saat melihat perbuatan tidak biasa dari Wei Hong Li.
"Istriku, Xuan. Xuan, beliau adalah CEO Ning dari perusahaan Ning Corp. Rekan bisnis pertamaku sekaligus guruku saat aku baru saja mengambil alih perusahaan" ucap Wei Hong Li memperkenalkan keduanya.
"Senang berkenalan dengan anda, CEO Ning" sapa Qi Xuan dengan sopan dan ramah.
"Senang berkenalan denganmu juga Nona Xuan" ucap CEO Ning sambil tersenyum ramah pada Qi Xuan lalu menatap Wei Hong Li dengan tajam, ia bertanya dengan nada berat "Sejak kapan kamu sudah menikah? Kenapa tidak mengundangku?".
"Saat itu anda sedang dalam perjalanan bisnis keluar negeri" jawab Wei Hong Li cepat.
"Meskipun begitu, kamu itu seharusnya tetap memberiku kabar atau undangan. Jika aku tidak bisa hadir aku pasti akan tetap mengirimkanmu amplop merah" ucap CEO Ning serius.
"Maaf CEO Ning. Saat itu kami terlalu terburu-buru mengadakan acara pernikahan kami dan karena beberapa alasan pribadi kami hanya mengundang beberapa kerabat terdekat saja" jawab Qi Xuan jujur.
"Rupanya begitu" ucap CEO Ning mengerti. "Baiklah. Kalau begitu aku tidak akan perhitungan denganmu lagi" ucapnya sambil melihat Wei Hong Li.
"Kalau begitu bagaimana jika kita mulai makan malamnya?" tanya Wei Hong Li sambil tersenyum.
"Oke" angguk CEO Ning setuju.
Satu jam kemudian.
"Sebenarnya kenapa anak nakal sepertinya itu bisa lahir di keluarga kami" teriak CEO Ning yang sudah mabuk berat dengan marah sambil menyandarkan kepalanya ke belakang kursi.
"Li, aku pergi ke toilet dulu sebentar ya" ucap Qi Xuan sambil berdiri dari kursinya dan berjalan pergi dengan cepat.
Melihat Qi Xuan tidak ada, CEO Ning bertanya dengan penasaran "Pergi kemana istrimu?".
"Toilet" jawab Wei Hong Li singkat.
"Baguslah. Aku sudah menahan diri dari tadi untuk menanyakan beberapa hal padamu" ucap CEO Ning dengan serius. "Kenapa kamu tiba-tiba menikah?" tanyanya dengan penasaran.
"Jika karena kamu menghamilinya, dia pasti tidak akan minum alkohol disini sekarang demi anak kalian dan aku tau dengan jelas jika kamu bukanlah pria liar yang seperti itu" ucap CEO Ning dengan serius mengungkapkan spekulasinya terlebih dahulu sebelum Wei Hong Li menjawab.
"Atau karena dijodohkan?" tanyanya lagi dengan penasaran. "Itu bisa saja terjadi karena selama ini kamu juga telah mengikuti berbagai perjodohan yang telah disiapkan oleh keluargamu. Tapi kenapa harus melaksanakan pernikahan kalian dengan sangat terburu-buru dan tertutup?" lanjutnya dengan penasaran.
"Apa karena keluarga istrimu memiliki identitas yang sangat luar biasa namun low profil?" tanya CEO Ning dengan mata berbinar penasaran.
"Tebakan anda benar" jawab Wei Hong Li sambil tersenyum. "Xuan adalah cucu kesayangan Jenderal Besar Qi" lanjutnya serius.
"Apa!?" ucap CEO Ning terkejut. "Jenderal Besar Qi memiliki cucu perempuan?" tanyanya bingung.
"Rupanya begitu. Pantas saja berita kematiannya saat itu terasa sangat tidak masuk akal" ucap CEO Ning mengerti.
Keesokan harinya.
"Bibi, aku pergi dulu ya" lapor Qi Xuan pada Bibi Xiu.
"Baik Nyonya Muda. Hati-hati dijalan ya" ucap Bibi Xiu dengan ramah mengantar Qi Xuan pergi.
Bibi Xiu adalah ibu asuh Wei Hong Li sejak ia masih kecil dan satu-satunya pelayan wanita yang bekerja di kediaman ini. Meskipun Bibi Xiu mengetahui tentang hubungan keduanya yang masih merasa asing dengan satu sama lain sampai menggunakan kamar yang berbeda meskipun keduanya sudah menikah, Bibi Xiu tidak pernah melaporkan tentang hal itu sama sekali dengan kedua orang tua Wei Hong Li.
Alasannya sangat sederhana yaitu karena ia yakin kalau hubungan keduanya pasti akan menjadi lebih baik seiring berjalannya waktu. Dan alasan ia bisa sangat yakin dengan hal itu adalah karena ia sangat mengetahui sifat Wei Hong Li yang sudah seperti anaknya sendiri. Ia tidak mungkin akan menerima pernikahan ini hanya karena perjodohan saja. Pasti ada sesuatu di dalam diri Qi Xuan yang menarik perhatian Wei Hong Li dan ia yakin kalau hal itulah yang akan membuat hubungan keduanya menjadi semakin harmonis di masa depan.
Masih memakai mobil yang dipinjamkan oleh Wei Hong Li, Qi Xuan sedang menuju ke Dawn Cluster untuk bermain dengan kedua putranya.
Disisi lain, Wei Hong Li sedang berada di ruang rapat dengan para bawahannya.
"Apa aku menggaji kalian dengan sangat tinggi hanya untuk proposal sampah seperti ini?" ucap Wei Hong Li marah sambil melempar kertas proposal yang sedang ia pegang.
"..." semua orang terdiam.
"Sepertinya kalian sangat menganggap remeh proyek kerja sama kita dengan Alfra Group ya" ucap Wei Hong Li sambil menatap tajam pada setiap orang yang ada di ruangan itu.
"Tentu saja tidak Bos" ucap Manajer Lin salah satu bawahan Wei Hong Li segera menyangkal.
"Kalau begitu perbaiki semuanya dari awal dan tunjukkan padaku besok. Rapat hari ini selesai" ucap Wei Hong Li lalu berjalan pergi.
"Baik Bos" teriak semuanya dengan tegas.
1 menit kemudian.
"Terima kasih Manajer Lin. Anda menyelamatkan nyawa kami lagi" ucap Manajer Zheng dengan tulus.
"Aku sangat bersyukur Manajer Lin memilih untuk terus bekerja disini. Seperti biasanya, terima kasih Manajer Lin" ucap Manajer Shen.
"Terima kasih Manajer Lin" ucap para manajer lain bersamaan
"Jangan berkata seperti itu. Kita adalah rekan kerja. Tentu saja kita harus saling membantu" ucap Manajer Lin dengan rendah hati.
"Dasar munafik" ucap Manajer Song sambil berdiri dan berjalan pergi meninggalkan ruangan dengan 2 manajer lain yang merupakan pengikutnya.
"Abaikan saja semua omong kosongnya itu Manajer Lin. Dia hanya iri dengan kinerja kerjamu yang selalu lebih bagus dari pada dia" ucap Manajer Shen jujur mengungkapkan pemikirannya.
"Aku rasa juga begitu" ucap Manajer Luo sambil mengangguk setuju. "Aku sangat bersyukur dia tidak menjadi Nyonya Bos kita" lanjutnya jujur.
"Iya. Aku juga" angguk para manajer lain juga setuju.
"Sudah. Ayo lanjutkan pekerjaan kita sekarang. Aku takut kalau besok Bos akan benar-benar memecat kita jika proposal yang kita buat ini masih belum sesuai dengan keinginannya" ucap Manajer Lin sambil berdiri.