Secrets

Secrets
1. Pernikahan


Di lahan terbuka sebuah bukit yang sangat luas dan sedikit lebih tinggi dari bukit biasa. Terdapat deretan kursi yang berbaris rapi dengan sepotong kain putih dan setangkai bunga mawar putih yang masih segar di ikatan belakangnya. Di tengah deretan kursi tersebut, ada sebuah jalan besar yang ditaburi oleh kelopak bunga mawar putih dengan sederet vas bunga tinggi dan besar yang dihiasi oleh kain putih dan mawar putih setiap 2 meter di setiap sisi jalannya.


Diujung jalan tersebut, berdiri sebuah tenda yang dihiasi oleh kain putih dan bunga mawar putih dengan sebuah meja berwarna putih yang berdiri tepat dibawah tenda tersebut. Diatas meja tersebut, diletakkan sekumpulan bunga mawar putih yang melingkar dengan cantik dan indah serta sebuah kotak perhiasan kecil yang elegan ditengahnya. Di sisi kanan tenda juga berdiri sebuah grand piano berwarna putih yang halus dan kokoh.


Deretan kursi yang sudah penuh diduduki oleh semua anggota keluarga serta seorang pianis dan pastor yang telah siap diposisi masing-masing saat ini hanya tinggal menunggu datangnya kedua pemeran utama dalam acara ini.


"Pengantin pria dan wanita telah tiba" teriak seorang penjaga dengan keras melaporkan.


Terlihat sebuah mobil mewah berwarna putih yang juga dihias dengan kain putih dan mawar putih berhenti diujung jalan.


Di pintu belakang sebelah kanan, keluarlah seorang pria dengan tuxedo berwarna biru navy dengan dasi kupu-kupu berwarna hitam dilehernya. Pria berambut hitam legam itu memiliki bentuk wajah yang tegas dan tampan dengan mata tajam yang memiliki pupil berwarna hitam seperti langit malam serta hidung lurus dan bibir tipis yang menggoda.


Berjalan dengan gagah menuju ke pintu belakang sebelah kiri menggunakan kaki panjangnya itu, ia dengan anggun membuka pintu lalu mengulurkan sebelah tangannya dengan sopan ke arah wanita yang ada di depannya.


Wanita itu dengan elegan mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan pria itu lalu mulai keluar dari mobil dengan gaun pengantin putihnya.


Wanita itu memiliki rambut panjang berwarna hitam yang disanggul dan dihiasi oleh mahkota indah yang memakai diamond berwarna biru langit seperti warna pupil mata wanita itu sebagai hiasan utamanya. Dengan wajah lembut yang mulus dan sempurna itu, ia terlihat seperti dewi kecantikan yang menjelma menjadi manusia.


Memakai gaun pengantin model bahu terbuka, kulit seputih susu yang ia miliki terpampang dengan jelas dan menutupi pinggang langsing miliknya, rok gaun yang sedikit mengembang dengan ekor yang panjangnya sekitar 1 meter terlihat sangat indah dan elegan.


Musik mulai dimainkan dan keduanya berjalan masuk secara berdampingan dengan salah satu tangan pengantin wanita memeluk tangan pengantin pria.


Dengan keanggunan dan kemuliaan yang keduanya miliki, semua orang yang melihat hal itu sangat terpana dan terus menatap keduanya berjalan sampai berhenti tepat dihadapan pastor.


"Saudara Wei Hong Li, maukah saudara menikah dengan saudari Qi Xuan yang berdiri di samping saudara dan mencintainya dengan setia seumur hidup baik dalam senang maupun susah, suka maupun duka sampai maut memisahkan?" tanya pastor dengan serius menatap pengantin pria di hadapannya.


"Ya, saya mau" jawab Wei Hong Li dengan suara berat dan dinginnya.


"Saudari Qi Xuan, maukah saudari menikah dengan saudara Wei Hong Li yang berdiri di samping saudari dan mencintainya dengan setia seumur hidup baik dalam senang maupun susah, suka maupun duka sampai maut memisahkan?" tanya pastor dengan serius setelah mengalihkan matanya menuju ke arah pengantin wanita yang berdiri disamping pengantin pria.


"Ya, saya mau" jawab Qi Xuan dengan suara jernih dan lembutnya.


Merasa puas dengan jawaban keduanya, pastor lalu membalikkan badannya untuk memgambil kotak perhiasan yang berada di tengah meja untuk pengantin pria.


Wei Hong Li membuka kotak perhiasaan yang ada ditangannya. Didalam sana, ada sepasang cincin berlian yang terlihat sangat indah dan elegan. Ia mengambil salah satunya lalu memberikan kembali kotak itu ke pastor.


"Wei Hong Li, cincin ini aku berikan kepadamu sebagai lambang cinta kasih dan kesetiaanku yang tanpa awal dan tanpa akhir" ucap Qi Xuan sambil melakukan hal yang sama dengan Wei Hong Li.


Setelah kedua cincin yang indah itu berada di tempat mereka seharusnya berada. Wei Hong Li mengulurkan tangannya untuk memeluk pinggang Xuan dan Qi Xuan mengulurkan tangannya untuk memeluk leher Hong Li. Perlahan-lahan, wajah keduanya semakin mendekat dan bibir manis serta indah keduanya bersentuhan tepat saat matahari terbenam menyinari keduanya dengan lembut seperti berada di dalam lukisan yang mempesona.


"Prok prok prok" suara tepuk tangan yang meriah terdengar tepat setelahnya.


3 jam kemudian di villa pribadi milik Wei Hong Li.


"Kamu bisa menggunakan kamar itu sesukamu" ucap Wei Hong Li dengan santai menunjuk kamar tidur yang berada tepat di depan kamar tidur utama miliknya.


"Oke. Terima kasih Li" ucap Qi Xuan sambil tersenyum.


"Istirahatlah" ucap Wei Hong Li singkat lalu berjalan balik masuk ke kamarnya sendiri.


Qi Xuan berjalan masuk ke kamarnya lalu mengunci pintu. Didalam kamar tidur yang besar itu, terdapat deretan lemari pakaian yang tertempel di sepanjang dinding di depan pintu kamar lalu sebuah kamar mandi seluas 4m2 di samping pintu. Tepat berhadapan dengan pintu masuk kamar, ada sebuah meja rias disudut kamar lalu sebuah ranjang besar tepat dihadapan lemari pakaian. Disamping ranjang, ada sebuah lemari kecil dan tidak jauh dari sana, ada sebuah pintu yang menuju ke arah balkon. Di balkon yang besar itu, terdapat sebuah kursi santai dengan meja kecil disampingnya.


Melihat pemandangan kota yang hidup, Qi Xuan menarik nafas panjang sambil berkata dalam hatinya 'Akhirnya hari yang melelahkan ini berakhir juga'.


Setelah beberapa menit, Qi Xuan berbalik dan masuk kembali ke kamarnya. Ia menutup pintu balkon lalu menjatuhkan dirinya ke kasur dan mengulurkan tangannya untuk mengambil handphonenya yang ada di atas lemari kecil disamping kasur.


Ia membuka daftar kontak di handphonenya lalu menelepon 'Sis Ashe'.


*Percakapan dalam telepon menggunakan bahasa Inggris*


{Halo, Rara. Bagaimana acara pernikahanmu?} segera panggilan dijawab dan suara seorang wanita terdengar.


"Sangat melelahkan" jawab Qi Xuan lelah. "Bagaimana dengan Vin dan Lyn?" lanjutnya bertanya.


{Seperti biasanya. Mereka masih tidur sekarang} jawab Ashelyn. {Jadi kalian menggunakan kamar yang berbeda?} tanyanya memastikan.


"Tentu saja" jawab Qi Xuan tegas. "Ini hanya pernikahan kontrak" lanjutnya mengingatkan.