
"Panggil saja kami Bibi, Xuan" ucap Nyonya Mo sambil tersenyum.
"Baik Bibi" angguk Qi Xuan patuh.
"Sejak kapan kamu dan Hong Li sudah menikah? Apa kalian tidak mengadakan pesta pernikahan?" tanya Nyonya Jiang penasaran.
"Kami baru menikah sekitar 2 minggu yang lalu Bibi. Maaf ya kami tidak bisa mengundang para Bibi. Aku dan Li memutuskan untuk hanya mengadakan pesta pernikahan yang sederhana" jelas Qi Xuan.
"Kenapa?" tanya Nyonya Xie bingung.
"Itu... Karena..." ucap Qi Xuan gugup dan ragu-ragu.
"Karena?" tanya Nyonya Wu penasaran.
"Karena mereka tidak mau berlama-lama di pesta pernikahan" sela Nyonya Wei sambil tersenyum mengejek Qi Xuan.
"Berhentilah mengejekku Ma" ucap Qi Xuan dengan malu-malu menutupi wajahnya yang memerah.
"Hahaha" tawa para Nyonya lepas melihat tingkah Qi Xuan yang terlihat sangat imut di mata mereka.
"Asal kalian tau saja ya. Mereka bahkan tidak bisa melakukan malam pertama setelah dengan sengaja mempersingkat semua proses acara pernikahan mereka" ucap Nyonya Wei mengumumkan.
"Kenapa?" tanya keempat Nyonya bersamaan.
"Xuan haid" jawab Nyonya Wei lalu tertawa.
Mendengar hal itu, para Nyonya terdiam beberapa saat lalu tertawa terbahak-bahak.
"Astaga. Betapa tidak beruntungnya Hong Li" ucap Nyonya Jiang disela tawanya.
"Iya. Bagaimana bisa dari 30 hari dia memilih tepat di hari itu" lanjut Nyonya Xie juga disela tawanya.
Disisi lain, Wei Hong Li yang sedang berada di ruang rapat bersama para bawahannya bersin.
"..." semuanya terdiam.
"Apakah saya perlu menaikkan suhu ruangan ini Bos?" tanya Asisten Liu khawatir.
"Tidak perlu. Lanjutkan" ucap Wei Hong Li.
Manajer Lin yang sedang mempresentasikan hasil kerja timnya segera mengangguk dan melanjutkan presentasinya dengan lancar.
1 jam kemudian.
"Manajer Lin, segera perbaiki proposalnya dan berikan padaku besok sebelum jam makan siang" perintah Wei Hong Li.
"Baik Bos" jawab Manajer Lin tegas.
"Rapat selesai" ucap Wei Hong Li sambil berdiri lalu berjalan pergi diikuti oleh Asisten Liu.
"Jadwal selanjutnya?" tanya Wei Hong Li singkat.
"Untuk hari ini tidak ada lagi" jawab Asisten Liu.
Wei Hong Li mengangguk kecil lalu berjalan masuk ke dalam ruangan CEO miliknya. Mendekat ke arah kursi kerjanya, ia langsung merebahkan tubuhnya yang lelah di sana.
5 menit kemudian.
Wei Hong Li mengeluarkan handphonenya yang ada di saku jasnya lalu menekan lama tombol daya agar handphonenya yang dari tadi mati dapat menyala.
Setelah menyala, segera banyak pesan masuk dan panggilan tidak terjawab muncul di handphone Wei Hong Li. Ia membuka daftar kotak pesan masuk di handphonenya dan menemukan ada banyak sekali pesan masuk dan panggilan tidak terjawab dari Qi Xuan.
'Ada apa ini? Tumben sekali dia menghubungiku' ucap Wei Hong Li dalam hati sambil membuka pesan masuk dari Qi Xuan.
[Mama mengajakku untuk bertemu dengan teman-temannya]
[Aku tidak ingin pergi. Bisakah kamu memikirkan sebuah cara untukku agar tidak perlu pergi?]
[Kenapa tidak menjawab? Apa kamu sibuk?]
[Sudahlah. Mau bagaimana lagi. Aku tidak mungkin bisa menghindari ini selamanya]
[Sikap seperti apa yang harus aku tunjukkan di depan teman-temannya Mama ya?]
[Apa aku harus menjadi menantu yang diam dan pemalu atau sebaiknya aku jadi menantu yang riang dan energik saja ya?]
[Karena aku tidak ingin berlama-lama di sana tolong segera jemput aku setelah kamu membaca pesanku ya]
3 panggilan masuk tidak terjawab.
[Astaga!!!]
[Kapan kamu akan datang???]
[Aku tidak tahan lagi!!!]
[Bagaimana bisa sekelompok Nyonya terus saja membicarakan hal vulgar seperti bukan apa-apa]
[Mereka bahkan terus menjadikan kita sebagai topiknya]
[Apakah Hong Li hebat dalam hal itu? Berapa lama biasanya kalian melakukannya?]
[Sudah berapa kali kalian melakukannya? Apa kalian melakukannya tiap hari?]
[Dia pasti mengeluarkannya didalam kan?]
[Gaya apa yang paling kalian sukai?]
[Bagaimana aku bisa tau!!!]
[TOLONG!!! CEPATLAH JEMPUT AKU!!!]
Qi Xuan mengirimkan lokasinya saat ini.
"Hahaha" Wei Hong Li tertawa lepas membaca semua pesan masuk dari Qi Xuan.
[Tunggu sebentar. Aku ke sana sekarang] jawab Wei Hong Li singkat lalu berdiri dan berjalan keluar.
"Kunci mobil" ucap Wei Hong Li sambil mengulurkan tangannya ke arah Asisten Liu.
"Ada apa? Mau kemana kamu?" tanya Asisten Liu sambil menyerahkan kuncinya.
"Menjemput istriku" jawab Wei Hong Li singkat sambil tersenyum tipis dan berjalan pergi.
'Astaga... Apakah matahari sedang tenggelam ke arah timur?' tanya Asisten Liu sedikit takjub.
Sebenarnya jarak antara perusahaan menuju ke kediaman Mo hanya memerlukan waktu 15 menit dengan santai tapi karena Wei Hong Li mengendarai mobil sportnya dengan kecepatan maksimum. Ia telah tiba di kediaman Mo hanya dalam waktu 9 menit.
"Tuan Muda Wei? Ada apa anda kemari?" tanya kepala pelayan menyambut dengan bingung setelah mendapatkan kabar kedatangannya dari pengawal.
"Bibi, dimana istriku?" tanya Wei Hong Li.
"Nyonya Muda Wei saat ini sedang bersama para Nyonya di rumah kaca" jawab kepala pelayan.
"Tolong antarkan aku ke sana Bi" ucap Wei Hong Li.
"Baik Tuan Muda" angguk kepala pelayan.
Keduanya berjalan menuju ke arah rumah kaca lalu masuk ke dalam bersama-sama. Meskipun didalam sana ada Ibunya serta para Bibinya, Wei Hong Li tidak memperdulikan mereka sama sekali.
"Xuan" panggil Wei Hong Li saat ia melihat Qi Xuan.
Mendengar namanya dipanggil oleh suara laki-laki yang sangat ia nantikan saat ini, Qi Xuan segera melihat ke arah suara dengan bersemangat. Setelah ia memastikan bahwa orang itu benar adalah Wei Hong Li, Qi Xuan segera berdiri dan langsung berlari ke arahnya untuk memeluknya dengan erat.
"Aku merindukanmu Li" ucap Qi Xuan dengan nada bahagia. "Kenapa kamu lama sekali" bisiknya kecil sambil mencekik Wei Hong Li dengan pelukannya.
"Aku juga merindukanmu sayang" ucap Wei Hong Li dengan lembut sambil memeluk balik Qi Xuan lalu mengelus kepalanya ringan, ia berbisik "Maaf ya. Tadi aku sedang rapat".
"Ehem... Apakah kalian lupa kalau masih ada kami disini?" tanya Nyonya Mo menggoda keduanya.
"Maaf Bibi. Setiap melihat Li aku selalu merasa kalau di dunia ini hanya ada kami berdua saja" jawab Qi Xuan dengan malu-malu membenamkan wajahnya di dada bidang Wei Hong Li.
"Maaf Ma, para Bibi. Kami akan berkunjung lagi di lain waktu" ucap Wei Hong Li dengan sopan.
"Mm... Pergilah" angguk Nyonya Wei dengan bersemangat mengusir keduanya.
Melihat punggung keduanya yang berjalan pergi berdampingan, Nyonya Jiang lalu berkata dengan takjub "Aku tidak pernah menyangka kalau ternyata Hong Li adalah orang yang seperti itu".
"Iya. Sudah hampir seperti melihat orang lain saja" ucap Nyonya Xie setuju.